Langit pagi Surabaya terlihat enggan memamerkan cerah sinarnya ke permukaan bumi. Layaknya sederetan gerbong tua yang terlihat kusam tampak memenuhi jalur-5 stasiun Gubeng pagi ini. Bunyi derit laju kereta ekonomi yang baru saja datang dari stasiun Wonokromo begitu memiriskan hati, disaat bagian sambungan gerbongnya berbenturan satu sama lain. Serupa dendam yang menggumpal dari kecipak sisa percintaan bulan dan bintang semalam. Seperti tangis Airin yang pecah berderai, serupa amarah dan birahi yang tak terpuaskan!
ide ceritanya oke, keren, dan menarik. tentang kritik sosial yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita. aku pun heran padahal dimata Allah derajat manusia itu sama yang membedakannya hanyalah IMTAK dan mereka tahu itu tetapi mengapa mereka menganggap rendah pelacur apalagi pelacur itu mau bertobat.
entah kenapa aku lebih suka kamu memulai cerita ini dari paragraf tiga itu. sepertinya dua paragraf awal menurutku gak penting, terlalu bertele-tele bahkan membingungkan tujuan alur cerita.
saranku jika kamu mau memainkan setting cerita, buatlah setting itu untuk memperkuat alur cerita.
Ceritanya bagus. Hanya saran secara teknik paragraf saja, untuk paragraf kedua dan paragraf terakhir perpindahan fragmen, sebaiknya dipecah dalam beberapa paragraf. Untuk memeberikan kesempatan pembaca menarik nafas hehehe.
dulu sempat menjadi tren, menulis tentang kesan atau apa yang kita dapat dan rasakan ketika melakukan sebuah perjalanan. demikian juga aku memandang tulisan ini. tapi aku mengakui, tulisan ini layak di baca
bagi aku yang berulang kali melipat jarak surabaya-jogja (juga naik sancaka lho. hehe) merasakan imagi dan banyak kenangan akan gubeng, tugu, rel, pramugari kereta,mi rebus restoran kereta, dan banyak lagi.aku suka itu
Dhongkel gelang daning bung alang-alang
Wis sakjege wong lanang gedhe gorohe
Lisus kali kedhung jero banyu mili
Meneng soten atine bolar-baleran
... lanjut baca
Semakin lama suara roda kereta yang bergesekan dengan rel yang melintas sepanjang jalan terasa semakin memekakkan telinga. Tak seperti biasanya, diman ... lanjut baca
Kita masih saja berjalan menyusuri hari-hari panjang tanpa peta. Dan kau tahu ini terlalu melelahkan untuk sebuah perjalanan. Disana tak lelah berkeja ... lanjut baca
adakah pamrih di balik perjalanan panjang ini?
luka ini telah merobek lembar demi lembar catatanku yang lusuh
pena yang tertatih-tatih terus saj ... lanjut baca
Sepeninggal ibu, kubulatkan niatku untuk kembali mengunjungi kampung halamannya. Sebagai anak tunggal, tak ada salahnya sekali waktu kusinggahi kembal ... lanjut baca
tak satupun rumah aku tuju dalam kepulangan kali ini
mungkin juga termasuk rumahmu, lengkap dengan aksesori kayu dan sebuah taman kecil tanpa bunga, ... lanjut baca
mari bersama,
menunaikan jama’ah tarawih sembari memperbaiki relasi dengan kolega dan mertua
dengan beraneka model terbaru pernak-pernik pelengkap ... lanjut baca
Kutemukan bayangmu tak lagi menjelma riuh gemericik hujan
Seperti seringkali kau menangkap kerinduan di balik rinainya
Dan semilir yang setia meng ... lanjut baca
Cinta, kemana lagi diri kau kembara
Menyusuri lelikuan panjang nan gelap?
Menagih seribu janji pada cerahnya bulan?
Atau mengasingkan diri ke datar ... lanjut baca
O, apakah mulutku terlalu lancang
Memberimu tawa setiap pagi
Dan nafasku terlalu pahit
Untuk kau cium aroma kesahnya
O, apakah tanganku terlalu ... lanjut baca
Sinergi lembayung udara begitu menggigit hingga ke rusuk
Satu letupan asa tanpa pewarta kalbu memaksa menusuk
Menyapa dengan satu hangat yang tak ma ... lanjut baca
[b]cinta, suatu ketika [/b]
kabut tipis mengambang di atas stupa pura
memaksa pelangi menunduk lebih dalam
seolah kau turun
ahh.............. ... lanjut baca
Suatu...
(Pagi, jemarimu hinggap di dadaku), Kita ada di bilik
dengan halus kau berbisik
"Aku sangat bahagia semalam"
(Siang, telunjukku men ... lanjut baca
Aku masih tergelak duduk disampingnya, gadis belia yang kini sedang cemberut menatapku yang masih tertawa.
Tadinya kukira semua orang menyukai malam ... lanjut baca
kutuliskan sajak resah ini
dari balik gelisah malam tadi
dari redupnya bulan purnama
dari gelisahnya sunyi
kuliskan sajak gundah ini
untukmu ya ... lanjut baca
hujan tapaki lusuhnya rindu
dalam guratan senyum
yang menipis pada
rintik air terakhir
(embun tercipta)
dibalik kotak kaca ini
rindu dan nafsu ... lanjut baca
Kalimat pengiring menjadi sorotan
Lainnya?
Kamu jauh lebih baik dengan sudut emosi cerita. Dan tetap jalan dengan pesan yang dibawa. Konsisten, satu hal yg susah bagi saia.
Bener-bener cerita yang dahsyat
Saia akan anjut sebelum pergi kuliah
kip nulis
suka! filosofisnya bagus, flow ceritanya enak, setting yg kamu buat juga udah kena
aq cuma sedikit terganggu dengan paragraf2 yang terlalu panjang, bikin ngos-ngosan bacanya.
Ada perpndahan sudut pandang yah??
dari fragmen satu ke fragmen selanjutnya...
trus juga detil-detilnya Okeh,, hanya saja jangan terlalu detil untuk informasi yang tak perlu.
Mengalir.. nice...full of nilai..
aih aih, bolehlah.renyah, sedap, kayak makanan di rumah. ada lagi yang gini, akan kusantap habis hingga aku menjilati jari tanganku
hai hai hai kembali aku membaca karyamu...
ide ceritanya oke, keren, dan menarik. tentang kritik sosial yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita. aku pun heran padahal dimata Allah derajat manusia itu sama yang membedakannya hanyalah IMTAK dan mereka tahu itu tetapi mengapa mereka menganggap rendah pelacur apalagi pelacur itu mau bertobat.
entah kenapa aku lebih suka kamu memulai cerita ini dari paragraf tiga itu. sepertinya dua paragraf awal menurutku gak penting, terlalu bertele-tele bahkan membingungkan tujuan alur cerita.
saranku jika kamu mau memainkan setting cerita, buatlah setting itu untuk memperkuat alur cerita.
Semangat ya....
Mohon baca dan komen ceritaku juga:
My Hope 1.2 - Katakan Cinta
Ceritanya bagus. Hanya saran secara teknik paragraf saja, untuk paragraf kedua dan paragraf terakhir perpindahan fragmen, sebaiknya dipecah dalam beberapa paragraf. Untuk memeberikan kesempatan pembaca menarik nafas hehehe.
dulu sempat menjadi tren, menulis tentang kesan atau apa yang kita dapat dan rasakan ketika melakukan sebuah perjalanan. demikian juga aku memandang tulisan ini. tapi aku mengakui, tulisan ini layak di baca
bagi aku yang berulang kali melipat jarak surabaya-jogja (juga naik sancaka lho. hehe) merasakan imagi dan banyak kenangan akan gubeng, tugu, rel, pramugari kereta,mi rebus restoran kereta, dan banyak lagi.aku suka itu
=D> =D>