setelah khitan, selepas khatam,
kuberanikan diri membentang sajadah di tanah seberang
berteman kawan berbeda iman
menjalani hari disetir masehi
dimana kamariah bersembunyi
aku tak seperti Raden Sesuruh di Gunung Kombang,
yang bergandeng seratus orang bisa bertanya pada Cemara Tunggal
"Wahai pertapa, penguasa jin tanah Jawa, kemanakah hendaknya kami berlari?"
"Luruslah ke Timur.
Dibawah pohon maja yang berbuah tunggal dan berasa pahit, kalian boleh berhenti."
yang kemudian disanalah Majapahit tegak berdiri
disini aku hanya berteman hilal,
yang dalam diam setia ku rukyat
dan akhirnya mengingatkan
agustus ini, satu ramadhan sejengkal lagi
Rating
146
points
Views: 32 reads
Comments: 18
Rating:
Comments: 18
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
aku keturunan jawa,, dengan membaca ini,, ingatan ku di semburatkan,, beginilah kalo dari kecil tumbuh di bali,,hikss,, malah gag tau jawa lebih dalammmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
mungkin sekalipun hilal sang kawan suatu hari harus kamu lepaskan,untuk mencicipi secuil rasa esa. nice poem...
ada karakter penulisan yang gak biasa kutemui disini, kebanyakkan kau menyangkutkan klenik sejarah dalam tulisan2mu..
Raden Sesuruh di Gunung Kombang>>> beneran ada yach ???
nice poem
ya, sejengkal lagi engkau menjadi [/i]fitri[i]. benar kan?
Salam.
Prismatis dan cukup berisi, namun perhatikan penulisan imbuhan yang kurang tepat.
Ketika isi dan kemahiran dalam berpuisi atau merangkai makna dalam kata itu telah mampu menjadi sebuah kekuatan, maka polesan kebiakan akan tulisan tersebut (kosa kata dan penulisan) pun harus diperhatikan.
bagus puisi religinya
nice.. ramadhan tinggal sejengkal lagi, yang udah khitan marilah mengkhatam..
nice..
aku suka..