di lapang gerbang rumahmu. tengadah kotak kami, nyalakan sekeping senyum. mata kami cekung, entah ke mana harus berkiblat. tak lagi peduli mengapa kami hadir di sini. selimut kami selalu terbaca iblis, yang menyemai ragu ke setiap hati. hingga redup api yang baru saja kuncup.
di pinggir jalan. senyum kami berdebu, setia mengerami nasib. puisi yang mungkin tak seberapa, tapi selalu kami puja sebagai hari esok. suara adzan bertalu-talu, tak membuyar khusyuk kami. menyimak setiap deru klakson bertikai. karena kami yakin, di sana ada sumbu bagi terang senyum kami.
di dalam megahluas rumahmu, gerah wajah kami memelas. di antara pembicaraan kami tentang jalan langit. jalan yang terus berdebu oleh malas kami. atau terkikis oleh angkuh kami. pembicaraan yang kian lama kian melankolik, pengantar tidur di sela iman dan nafsu kami. (11 April 2008)
dikirim andi tafader 24 minggu 6 hari yang laluTag:








