Kemala "Kepakan Bidadari dari Surga"

33
points
"

Alhamdulillah rampung juga cerpen pertamaku.

"

Ku kebut motorku melintasi waktu, rasa rinduku pada wanita yang ku cintai semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, selama dua tahun ini aku tek pernah berjumpa dengannya.

Suasana waktu itu terasa aneh bagiku, orang-orang terlihat tak banyak yang beraktifitas, hanya ada beberapa orang yang kujumpai dan wajah mereka seakan menampakan kebencian padaku.

Ku coba mengingat-ingat jalan kecil yang menuju kerumahnya, “Gang Plamboyan” gumamku. Akupun masuk ke gang tersebut dan alangkah terkejutnya aku setelah masuk ke gang itu yang aku temui hanyalah satu rumah yang terlihat sangat usang, dan di sekitarnya terdapat ratusan kuburan. “Ya Tuhan, ada dimana aku?” tanyaku di dalam hati.

Setelah ku pastikan bahwa rumah itu adalah rumah dari kekasihku, akupun mulai mengetuk pintu “ Assalumualaikum, ada orang di dalam?” tak lama pintu itu terbuka dan dihadapanku berdiri seorang nenek yang sama sekali tidak aku kenal. Raut mukanya mengisyaratkan rasa tidak senang melihatku.

“cari siapa?” hardiknya. “ maaf bu, ini benar rumahnya Nia, Nia nya ada?” tanyaku.
“maap kamu salah rumah” jawabnya sambil hendak menutup pintu, tapi dengan replek ku dorong pintu itu hingga terbuka. “ Tunggu bu, bolehkah aku titipkan motorku disini, sepertinya aku telah tersesat, dan aku akan berjalan saja dekat sini untuk mencarinya” alasanku. Mataku liar mengamati keadaan didalam rumah itu, aku yakin ini adalah rumah Nia, tapi kemana dia, kemana orang tuanya.

Mataku terpaku pada dipan yang ada di ruang tamu tersebut, kulihat seorang bayi sedang tertidur dengan nyenyak di dipan itu tapi di sampingnya tergeletak kain kafan. “Bayi siapa itu bu , dan kenapa ada kain kafan di dekatnya?” tanyaku. “ bayi ini adalah cucuku, dan kain ini adalah hadiah dari ayahnya, sekarang pergilah kamu orang yang tidak punya malu” usirnya. Akupun memutuskan keluar dari rumah itu dengan penuh tanda tanya berkecamuk didalam dada.

Akupun mulai menstarter motorku, dan bermaksud untuk menelusuri Gang Plamboyan yang terasa sangat asing. Tiba-tiba seorang kakek yang lewat di dekatku berkata : “ Nak, pulanglah tidak baik kau lama-lama disini, pergilah ke keluargamu sebelum terlambat”.
Seperti terhipnotis akupun membalikan motorku dan kembali kearah jalan raya, di jalan raya aku sangat bingung karena aku tak lagi menemukan jalan pulang. “Pak, bapak tahu jalan menuju kampung sawangan” tanyaku kepada kakek-kakek yang aku temui, diapun menunjukan arah tanpa berkata apa-apa dan ternyata jalan yang dia tunjukan adalah benar jalan menuju ke arah tempatku. Akupun menoleh kearah kakek itu untuk berterima kasih tapi kakek itu telah pergi entah kemana.

Belum sempat aku bergerak tiba-tiba jalan itupun kembali menghilang dan berubah menjadi jalan raya yang membentang menuju langit, aku benar-benar ketakutan dan kebingungan. Dalam kebingungan itu aku beranikan diri untuk meneruskan perjalananku. Baru beberapa meter motorku berjalan, aku telah dihadang oleh segerombolan masa,.

“anak muda, belum waktunya kau ke tempat kami” katanya sambil merampas motor yang aku bawa. Kemudian mereka membakar motor tersebut sambil melemparkannya kesamping jalan.

Asap pekat mengepul dari motor itu dan samar-samar kulihat istriku sedang menangis ketakutan sambil memeluk bayinya. Dengan nekat ku terobos asap hitam itu dan kupeluk anak istriku yang sedang ketakutan didalam kamar tidur. Ku raih anakku dan ku bopong istriku yang sudah lemas tak berdaya, keluar dari rumah kami yang terbakar.

Satu bulan setelah kejadian itu kulihat keadaan kami sudah mulai membaik, dan luka di kepalaku telah sembuh total. Dan akupun cukup beruntung karena aku telah mengasuransikan total risk rumahku, sehingga saat ini rumahku sudah mulai direnovasi oleh pihak asuransi. Dan untuk sementara aku putuskan untuk tinggal bersama orang tua istriku sambil menunggu rumah kami rampung.

Akupun memutuskan untuk menemui Nia, karena rasa rindu dan juga rasa was-was tentang keadaannya sekarang. Sesampainya di depan rumahnya, ku beranikan mengetuk pintu “ Assalamualikum”. “Waalaikum salam” terdengar suara Nia dari dalam rumah. Tak lama pintupun terbuka. “ Mas, kamu…” dengan ternganga dia melihatku. Akupun terkejut melihat Nia sedang menimang bayi, aku perkirakan bayi itu seumuran dengan anakku atau mungkin juga lebih. Akupun masuk ke rumahnya. Kulihat keadaannya sekarang terlihat lebih kurus dari pada dua tahun yang lalu saat aku tinggalkan, tapi pesona kecantikannya masih sangat terlihat sungguh mengagumkan buatku. “Nia, bagaimana kabarmu ?” tanyaku. “baik Mas, Mas bagaimana Nia dengar Mas sudah beristri sekarang? “ dia balik tanya “ Iya, sekarang mas sudah mempunyai istri namanya Kemala, dan seorang putera Ibnu namanya, sekarang umurnya sekitar 1 tahun” akupun mulai menceritakan keadaanku padanya sejak aku mulai dijodohkan oleh orangtuaku sampai musibah yang baru-baru ini menimpa pada keluargaku.

“Nia, ini siapa” tanyaku sambil menunjuk bayi mungil di pangkuannya yang sedang tertidur pulas. Nia beranjak pergi menidurkan bayi tersebut ditempat ayunan yang terbuat dari kain, dan segera kembali menemuiku.

“Mas, namanya Rani, Ia anak kita” Nia pun mulai berurai airmata. “ dua tahun yang lalu ketika Nia menyadari kalau Nia sedang mengandung, Nia, Ayah dan juga Ibu mencoba untuk mencari Mas ke tempat tinggal Mas, tapi ketika kita sampai disana mereka kami melihat Mas sedang bersanding dengan gadis lain. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah, aku sakit hati Mas, tapi aku juga tak mau menghancurkan pernikahan Mas, aku wanita, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, cukup aku saja yang menderita, aku menerima nasibku sebagai orang yang ditinggalkan”.ujarnya terisak “sebenarnya anak kita kembar, tapi saat ia lahir, ia meninggal” tangisnya semakin menggeras dan akupun tak kuasa untuk memeluknya, dan ikut tenggelam dalam kesedihan yang ia rasakan.

Ketika malam semakin mencekam,
Semakin pekat pula ku larut dalam kesedihan,
Tiada ku rasa canda,
Tiada ku rasa tawa,
Semua sirna…
Karena dosaku padanya,
Pada dia yang pernah kupuja.

“Kanda, dinda lihat beberapa hari ini, Kanda terlihat sedih, apakah gerangan yang membuat sedih, tak baik kalau ada masalah Kanda pendam sendiri, walau bagaimanapun dinda ini istrimu”. Bertanya Kemala Istriku. “Dinda sebenarnya berat hatiku untuk menyatakan masyalah yang sedang Kanda hadapi sekarang, tapi..” ku hela napasku untuk meringankan rasa sesak yang mulai menggumpal di dada.

“Dinda, beberapa hari yang lalu Kanda berjumpa dengan mantan kekasih Kanda, dan sekarang Ia telah mempunyai putera, dan kanda rasa kanda harus jujur..” ucapku tertahan. “Dia puteraku, darah dagingku” akupun terdiam, tak sanggup lagi berkata-kata. Tiba-tiba tangisannya meledak, tangannya mulai memukul-mukul dadaku, dan akupun mulai memeluknya, berusaha menenangkannya, lebih dari setengah jam Ia terisak dipelukanku.

“Kanda kenapa Kanda tak pernah berterus terang kalau kanda sudah mempunyai seorang kekasih, kalaulah dulu Kanda jujur, tentu Dinda tak akan bersedia dijodohkan dengan Kanda, walaupun Dinda sangat menyukai Kanda”. Tanyanya. Aku hanya terdiam mendengar penuturan dari Istriku, karena sejujurnya aku juga sangat menyukainya. “Ah, aku juga tak mengerti arti cinta sejati, kenapa aku sebagai seorang pria bisa mempunyai dua cinta, dua belahan jiwa” gumamku dalam hati. Terdengar tangis buah hati kami, mungkin dia ikut merasakan kesedihan yang sedang orang tuanya alami, pikirku. Istrikupun beranjak meninggalkanku menemui buah hati kami yang sedang menangis..

Sudah seminggu rasanya istriku mendiamkanku, hidupku seperti di dalam kuburan. Tak lagi kulihat senyuman manis yang selalu tersungging di bibirnya, senyuman yang selalu mendamaikan jiwaku ketika gundah. Saat itu aku sedang duduk termenung di teras rumah, menatap langit sambil menghitung bintang satu persatu, sambil anganku menerawang meraih kebahagian menjejak bumi dan melesat mengangkasa dan mencoba menyerap segala pesona langit nan bercahaya.

“Hey” aku terkaget, dan tersadar dari lamunanku, aku tengok kebelakang, ternyata Kemala Istriku tercinta, ku lihat wajahnya dan akupun tersenyum melihat bidadariku tersenyum padaku, ku coba dendangkan syair untuk melunakan hatinya, karena aku yakin saat itu dia sedang ingin manja.

Dinda,
Lamunanku akan keindahan langit dan bumi,
Seketika sirna,
Setelah melihat keindahan mu
Tak pernah ku lihat mahakarya sempurna
Selain pahatan tubuhmu.

Dinda,
Pabila tujuh bidadari turun kebumi
Tak akan ku berpaling darimu.

Kulihat senyumnya semakin mengembang, dan akhirnya diapun memelukku dengan penuh sayang. “ Kanda, Kanda tak perlu bersedih lagi, bawalah Nia kesini, Dinda rela untuk di madu” ujarnya. Akupun terbengong-bengong mendengar penuturan istri tercintaku. “ Kemarin tanpa sepengetahuan Kanda, Dinda mencoba menemuinya, Dinda lihat dia baik, cantik, dan dinda rasa dinda rela membagi kebahagian ini, Kanda, Dinda tidak enak melihatnya tak pernah merasakan kebahagia semenjak Kanda tinggalkan. raihlah dia, hibur dan bahagiakan dia, Dinda rela”. “tapi..” jawabku tertahan, ketika jari telunjuknya menyentuk bibirku. “Kandaaa, gak ada tapi-tapian” ujarnya sambil tersenyum diselingii cubitan manja yang selama ini selalu menemani kemanjaannya.

Hari yang dinanti pun tiba, hari yang sangat seremony, ketika hidupku dihiasi dengan dua senyuman yang menentramkan hati, ketika tak kurasakan lagi gundah gulana dalam hidup karena hari itu aku bersanding dan didampingi oleh dua wanita yang sama-sama aku sayangi Kemala dan Nia, juga dua buah hati yang lucu dan menyejukan jiwaku, Ibnu dan Rani Walaupun tak dirayakan dengan mewah tapi aku atur agar resepsi pernikahannya meriah, aku tak mau kalau hanya Ijab Kabul, karena menurutku ini adalah pernikahan bagi kekasihku dan bukankah ini yang pertama dan juga yang terakhir baginya jadi aku ingin memberikan yang terbaik untuknya.

Setelah resepsi pernikahan kucoba berbicara kepada Istri-Istiku “ Bidadari-bidadariku” ucapku sambil tersenyum dan mereka berduapun ikut tersenyum. “Kanda sebagai kepala keluarga ingin memberikan beberapa wejangan-wejangan yang harus kalian patuhi, dan semoga apa yang Kanda ucapkan adalah sesuatu yang adil menurut hukum sara, tapi apabila kalian merasa ada yang kurang berkenan silahkan berujar” akupun mulai membeberkan beberapa cara dan aturan tentang hubungan antara suami dengan istri yang aku anggap adil, dan tentu saja aku coba sesuaikan dengan syareat dari hukum islam, mulai dari gilir sampai pembagian nafkah diantara mereka. Dan alhamdulillah merekapun setuju dengan catatan mereka berdua harus tinggal serumah sesuai dengan keinginan dari Kemala istri pertamaku yang sangat aku sayangi. Sebenarnya aku kurang enak kalau harus menyatukan mereka dalam satu atap, tapi entah kenapa Kemala tetap pada keinginannya untuk membolehkan Nia tinggal bersamanya.

Bulan pertama adalah bulan yang sangat melelahkan buatku, karena aku harus membagi kasih sayangku dengan mereka berdua, tapi kemudian aku merasa mulai bisa berbuat adil diantara mereka. Dan syukurlah aku tak pernah melihat wajah murung ataupun cemburu diantara mereka berdua.

“Kring, kring, kring” suara line telpon berbunyi di ruang kantorku, “ Halo, ada apa yati” ujarku “ Bapak, ada telepon dari rumah, katanya mendesak” akupun segera mengangkat telepon itu “ Kanda, cepet pulang kanda, Ka Kemala muntah darah, sekarang kita ada di Rumah Sakit Sari Asih, Blok Kenanga kamar 34”, akupun menuliskan alamat tersebut di secarik kertas dan segera ku masukan ke saku kemeja. “Baik, baik Kanda segera kesana, Sayang jaga Kemala yach?” pesanku. “Iya” jawabnya.

Akupun bergegas meninggalkan kantorku, sesampainya disana kulihat Nia sedang mengaji sambil menangis terisak, ibu bapak Kemala dan juga orang tua Nia sudah datang lebih dahulu dariku..Akupun segera menghampiri Kemala yang sedang tak sadarkan diri. Aku tak kuasa menahan kesedihan ini, memeluk Kemala istri ku yang berhati mulia, wanita yang selalu ikhlas menemaniku dan yang paling dekat denganku. sambil berkaca-kaca ku kecup keningnya dan mencoba melantunkan ayat-ayat suci yang aku bisa berharap agar Allah cepat memberikan kesembuhan padanya.dan ku kumandangkan adzan berharap agar kesadarannya kembali:

“Allahu Akbar ..Allahu Akbar 2x”
“Asyhadu an La illaha Illalah 2x”
“Ashadu anna Anna Muhammadur Rasulullah 2x“
“Hayya ‘alash-shalat 2x”
“Hayya ‘alal-falah 2x”
“Allahu Akbar 2x “
“La Illaha Illallah”

ku lihat matanya yang indah mulai terbuka.Dengan berkaca-kaca .aku meraih kedua tangannya dan mengecup tangannya sambil tersenyum, diapun membalas dengan senyuman, senyuman manis yang biasanya membuat hatiku berbunga, tapi saat itu yang aku rasakan adalah kesedihan yang menyayat hati.

“Dinda kenapa ?” tanyaku. “Aku baik-baik saja Kanda, Kanda tidak perlu terlalu sedih, Dinda baik-baik saja” jawabnya, ku kecup lagi keningnya dengan penuh perasaan sayang. Akupun menoleh kepada Nia, sambil aku bertanya “ Sayang, bagaimana kata dokter keadaan Dinda Kemala?” tanyaku. Tapi istriku tak mau menjawab, kemudian berlari keluar ruangan sambil terisak-isak. Akupun mengikutinya tak lupa ku titipkan Kemala kepada orang tuanya yang sedang di ruangan tersebut.

Kulihat Nia duduk di kursi tunggu sambil terisak, ketika melihatku datang Ia menangis sejadi-jadinya dan kemudian berlari memelukku. Ku peluk dia erat-erat, kubiarkan air matanya tertumpah ruah di bahuku. Setelah agak tenang aku Tanya dia “ Sayang apa kata dokter ?” , “dokter bilang Kak Kemala mengidap penyakit Tumor otak dan sekarang dokter bilang dia sedang kritis” meledak kembali tangisnya sambil memelukku, aku pun tak kuasa menahan kesedihan. Sambil menangis kupapah dia untuk kembali menemani Kemala.

Kemala melihatku sambil berlinang air mata, tapi kulihat dia masih berusaha untuk tersenyum, senyum yang tetap manis, semanis cintanya padaku. Aku pun duduk disamping Kemala, sambil kukecup keningnya lagi untuk kesekian kalinya. Dengan suara yang lemas Ia pun mulai berujar “ Kakanda, aku..” belum sempat dia bicara ku menempelkan telunjukku di bibirnya. “Dinda, jangan banyak bicara dulu ya ?” ujarku. “Kanda, dinda mohon maaf kalau mungkin selama dinda bersama Kanda, kanda merasa dinda kurang mengabdi untuk mencintai kanda, tapi yakinlah kalau dinda telah berusaha sebaik-baiknya untuk melayani dan mengabdi terhadap kanda”.

“Kanda, mana buah hati kita” tanyanya. Kemudian orang tua Kemala mendekati kemala sambil menangis memeluk dan menyerahkan Ibnu di pelukan ibunya. Kemalapun dengan berlinang air mata mulai menciumi seluruh wajah putera tersayangnya, dan kembali menyerahkannya kepada Ibu-nya

“Kanda, Dinda tahu umur dinda sudah tak lama lagi, karenanya dinda selalu berdoa, agar Allah memberikan yang terbaik untuk keluarga kita. Dulu dinda sedih ketika ada pihak ke tiga di antara kita, tapi setelah dinda renungkan, dinda yakin De Nia adalah jawaban dari doa dinda. Dinda mohon maafkan dinda karena menutupi rasa sakit yang dinda rasakan selama ini”. “De Nia” ujarnya sambil melambaikan tangan. Nia segera mendekat dan menggenggam tangan Kemala sambil tersedu. “ Kakak melihat kamu sudah dekat dengan Ibnu, dan Kakak titipkan Ibnu padamu, rawat, pelihara, dan didiklah Ia seperti merawat anak sendiri, berjanjilah..”. “Iya Nia Janji”. Jawabnya.Setelah mendengar jawaban dari Nia. Kemala kembali tersenyum.

“Kanda” sambil menoleh kearahku, “cium aku” pintanya. Akupun mencoba mencium bibirnya, bibir termanis didunia, bibir yang tak pernah menjelek-jelekan manusia, bibir yang selalu tersungging, bibir yang selalu membuatku sempurna.

Kurasakan hawa hangat menggelora ketika kulit bibirku menyentuk bibir indahnya, semakin lama- semakin hangat diliputi cinta, tapi kemudian mendingin terus mendingin sedingin salju, dan diam dalam kebisuan dunia.

Ku dengar Nia menangis sejadi-jadinya ketika mata yang penuh kesejukan mulai tertutup dalam kedamaian, akupun mempererat dekapanku dan menciumi raga yang telah kosong karena ditinggalkan pemiliknya sambil berusaha mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”.

Kemala,
Ku relakan kau pergi dariku,
Bukan untuk meninggalkanku
Tapi untuk menjadi bidadariku.

Terbanglah Kemala,
Terbanglah kelangit keabadian,
Dengan kepakan sayapmu yang penuh cinta
Dengan senyuman yang selalu ku puja
Tunggulah kami disana…

Kemala,
Tersenyumlah…
Karena kami selalu mengenang senyummu…

== T H E E N D ==

Your rating: None Average: 6.6 (5 votes)
dikirim bunghatta_crb 20 minggu 1 hari yang lalu
Tag: