Di tanah sendiri, kami kehilangan kiblat. Maju atau mundur, ke kiri atau ke kanan, nafas kami semakin sesak. Televisi, satu-satunya kompas yang kami punya, tak henti mengajak kami ke mal dan kamar pribadi tetangga. Hingga kami terhipnotis keindahan etalase dan nikmatnya keremangan. Kami lupa membeli peta, untuk membaca hari esok. Kami lupa jalan kembali.
Seharusnya ini tidak terjadi, jika kami mau berbagi peran. Sayangnya, kami sangat percaya diri, sehingga selalu meminta beban melebihi daya kami. Kami beli semua televisi, lalu kami tempel gambar kami di sana. Agar seluruh warga kami percaya betapa mulia niat kami. Hanya dengan melihat sorban atau peci kami. Atau tampang kami yang innocent.
Begitulah watak kami. Kami serahkan seluruh nasib kami pada peci dan wajah. Tak pernah kami sadari, di dalam peci dan sorban itu, ada binatang pengerat, yang mengintai tali gantungan nasib kami setiap saat. Juga tak pernah kami pahami, di balik wajah itu, ribuan rupa menuntut pemerah bibir, uang jajan, asap dapur, dan penyegar mata.
(22 April 2008).
Tag:







