”Apa kabar dengan Adi-mu, sudah berapa bulan ini aku tidak pernah melihatnya berkunjung ke sini?”
” Dia sedang sibuk.” Jawabku singkat ketika Gita teman satu sekamarku menanyakan kabar pacarku yang memang beberapa bulan terakhir tidak memberikan kabar apapun kepadaku. Walau hanya sekedar sms pelepas rindu.
” Sibuk apa... jangan-jangan dia sudah punya gandengan baru diluar sana.”
” Kalau jodoh tidak akan kemana.” sahutku singkat.
Read more (1536 words)
Terakhir kali aku berkomunikasi dengan Adi melalui sms yang menyatakan kalau dia memang sedang sangat sibuk dan memintaku untuk tidak menghubunginya dulu. Adi juga bilang kalau dia sedang fokus terhadap sesuatu yang teramat sangat menyita waktu dan pikiran sehingga dia tidak dapat menemui atau lebih tepatnya tidak mau terganggu dengan hal-hal sepele, itu akan sangat mengganggu konsentrasinya. Aku menyetujui untuk tidak mengganggu konsentrasi pikirannya dulu.
Rasa rindu selalu menggelayuti hatiku. Photonya yang kurangkai berdampingan dengan photoku menjadi pendamping tidurku. Sebelum tidur aku selalu memandangi wajah tampannya, mata sayu dengan hidung mancung..... ya Tuhan aku sangat merindukannya.
Adi bukanlah pacar pertamaku, tapi aku berharap dia akan menjadi pacar terakhirku dan menjadi suamiku. Setidaknya itu adalah impianku.
Malam hari ketika aku tidak dapat memejamkan mata, aku keluar dan menatap langit. Bintang-bintang di atas mengingatkan aku akan Adi, aku membayangkan Adi juga sedang berdiri menatap bintang-bintang itu. Adi suka sekali malam cerah penuh bintang, titik demi titik disatukannya membentuk rasi bintang. Satu-satunya rasi bintang yang aku tahu dan yang paling mudah dilihat bagiku adalah rasi scorpio.
” Itu rasi leo, sagitarius, libra...” Adi menunjuk ke berbagai arah ke atas langit di kaki gunung Gede. Aku hanya terkagum-kagum memandang wajahnya yang sangat serius dan begitu terkesan dengan bintang-bintang itu. Aku juga terkesan, tapi lebih terkesan dengan kemampuannya membaca rasi-rasi itu. Bagiku semua itu tampak sama saja, hanya titik-titik bintang yang bertaburan di hamparan langit luas.
Di kaki gunung itulah pertama kali Adi mengecup keningku, tanpa mengatakan apa-apa aku tahu bahwa aku adalah miliknya dan dia saat ini sudah menjadi milikku. Saat itulah kami resmi berpacaran walau tanpa sepatah kata yang mengungkapkan demikian. Yang aku tahu aku menyayanginya dan aku merasakan hal yang sama darinya.
” Aku akan ditugaskan ke Bandung.”
” Ke Bandung?”
Tanpa jawaban dari Adi.
” Kita kan baru saja memulai hubungan ini, memangnya tidak ada pilihan lain agar kamu tetap di Jakarta?”
” Ini hanya berbeda tempat, lagi pula Bandung tidak terlalu jauh.”
” Tapi kalau aku kangen kamu bagaimana?” kataku lirih.
” Masih banyak cara untuk bisa berkomunikasi. Lagi pula aku kan bekerja bukan untuk main-main.”
” Baiklah, terserah kamu. Yang penting kamu jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatan, jangan terlalu keras bekerja ingat keadaanmu juga, jangan lupa makan, jangan lupa sholat, jangan.....”
” Sudahlah aku bukan anak kecil lagi. Aku akan berangkat minggu depan.”
Hatiku terasa luruh, darahku berdesir, dan aku tidak bisa bernafas. Ingin aku mengatakan ’Jangan pergi, aku membutuhkanmu disini.’ Tapi aku sadar betul bahwa ini adalah masa depan Adi yang nantinya akan menjadi masa depanku juga, jika aku bersamanya.
” Kamu akan datang ke sini tiap minggu kan?” Tanyaku sedikit merengek, berharap dia tahu aku berat untuk melepaskannya, walau hanya untuk tinggal di Bandung. Aku tidak sanggup untuk berjauhan dengannya.
” Aku akan datang sayang.”
Itu pertama kalinya Adi memanggilku dengan sebutan sayang.
Tiga bulan pertama sejak kepindahan Adi ke Bandung dia selalu pulang setiap minggu untuk mengunjungiku dan pulang kerumah orang tuanya, dan baru kembali ke Bandung minggu malam atau senin pagi.
Setelah tiga bulan berlalu Adi mulai jarang kembali ke Jakarta, komunikasi hanya melalui telepon atau sms. Dua bulan kemudian hubungan kami semakin menurun tidak ada lagi komunikasi melalu telepon, yang ada hanya sms dan itupun seperlunya.
Adi pasti sangat sibuk.
” Sebenarnya kamu dan Adi masih jalan ngga sih?” Tanya Gita penasaran.
” Aku mencintainya.”
” Kamu mencintainya? Hmmmm itu tidak menjawab pertanyaanku.”
” Aku mencintainya tanpa mengharapkan hubungan apapun. Apapun yang menurut Adi tentang hubungan ini, itulah arti hubungan kami, dan aku akan tetap mencintainya.”
” Bagaimana kalau di Bandung dia telah menikah dengan mojang Bandung? Enno....... mojang Bandung teh geulis-geulis pisan.“
” Adi akan mengatakannya padaku kalau dia akan menikah. Sudahlah aku tidak apa-apa kok menjalani yang seperti ini.”
” Maaf bu Enno..... aku hanya kasihan melihat kamu selalu melamun dan tidak bisa tidur dan aku tahu kamu sedang memikirkannya.”
” Aku bilang sudahlah... aku tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja. Dia sedang sibuk.”
” Tapi kan kamu juga butuh konsentrasi pikiran untuk menyelesaikan studimu. Apalagi kamu kerja sambil kuliah. Itu butuh konsentrasi yang penuh.”
” Maka dari itu jangan racuni aku terus dong dengan hal-hal negative tentang Adi.”
” Baiklah terserah kamu saja, asal untuk semester ini kamu anjlok lagi aja.” Gita mengingatkanku tentang nilai-nilai mata kuliahku yang hampir rata-rata mendapat nilai C.
” Terlalu alasan yang dibuat-buat mengambing hitamkan seorang Adi karena nilai-nilai itu, memang aku yang belum bisa mendapat nilai bagus. Lagi pula otakku sudah mulai lelah, ingat aku sudah tidak muda lagi.”
Gita tidak memberikan komentar apa-apa lagi, dia berlalu.
Aku memang bukan wanita yang sempurna bahkan jauh dari sempurna. Aku berasal dari keluarga biasa-biasa saja, berpendidikan biasa saja, dengan taraf hidup sederhana. Berbeda dengan Adi yang berasal dari keluarga yang cukup, berpendidikan tinggi dengan kualitas taraf hidup jauh diatasku. Sejujurnya aku takut untuk berhubungan dengan Adi, kalau dari keluargaku dengan sangat senang hati menerima Adi untuk menjadi bagian dari keluarga. Tapi dari sisi keluarga Adi aku tidak yakin kalau mereka akan merestui hubungan kami, malah mungkin akan menolakku mentah-mentah.
Tapi kubuang jauh-jauh pikiran yang menakutkan itu, selama Adi ingin bersamaku, tidak akan ada yang menghalangi hubungan kami kecuali tanpa restu dari ayah dan ibunda Adi. Aku hanya bisa berharap kedua orang tua Adi merestui hubungan kami.
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah satu tahun berlalu tanpa kabar dari Adi.
” Git, hari ini tante Rita menjalani operasi pengangkatan rahim. Rahimnya tidak dapat ditolong lagi, kankernya sudah menyebar dan ganas.”
” Di operasi di rumah sakit mana?”
” Di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung.”
” Wah.. kalau begitu kamu ke Bandung dong, sekalian cari Adi ya dan tanyakan tentang hubungan kalian.”
Kalau memang takdir dia menjadi suamiku aku pasti akan dipertemukan kembali dengan caraNya tersendiri.
Aku berangkat dengan kereta jam 06.00 pagi. Kereta begitu lengang dan tidak terlalu banyak penumpangnya, sengaja memang aku memilih kereta ekonomi karena hari kerja biasanya tidak terlalu padat seperti di hari-hari libur atau akhir pekan. Suasana kereta ekonomi itu sangat khas, berbagai karakter bisa ditemukan didalamnya.
Sepanjang jalan aku memandangi hamparan sawah yang masih hijau sambil membayangkan seperti apa Adi sekarang. Aku masih meletakkan photonya di samping bantalku, aku masih melakukan rutinitas memandanginya sebelum tidur.
Kereta berhenti di beberapa stasiun kecil, aku sempat melihat beberapa penjaja makanan kecil naik dan menawarkan jajanannya kepadaku.
Aku tiba di Bandung pukul 11 pagi, seperti biasa kereta ekonomi memang selalu lambat dan sering sekali berhenti, tapi aku sudah terbiasa.
Di stasiun kereta aku dijemput oleh kakak sepupuku yang selama ini kuliah di Bandung dan tinggal bersama tante Rita. Karena pernikahan yang sudah hampir 15 tahun tanpa kehadiaran seorang anak tante Rita sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.
Aku tiba di rumah sakit hampir jam makan siang. Aku sempat menemui tante Rita sebelum dia masuk kedalam kamar operasi. Aku, Indra kakak sepupuku dan suami tanteku om Ridwan menunggu di depan kamar operasi. Tiba-tiba perutku yang memang belum terisi sejak keberangkatanku ke Bandung sudah memulai konsernya.
” om sudah makan?” tanyaku berbasa-basi berharap mereka mengerti kalau aku sedang kelaparan.
” Ya ampun om sampai lupa, jangan-jangan kamu dari Jakarta belum makan ya Enno. Ya sudah sana Indra temani Enno cari makanan di cafe, disekitar sini banyak cafe yang enak-enak kok. Atau kalian bisa keluar sebentar ke kota untuk cari makan dulu.”
” Tidak usah om Enno makan di kantin rumah sakit ini aja. Indra temani om disini saja, Enno tahu kok kantinnya ada dimana. Enno pergi sebentar ya om.”
” Ya baiklah, nanti kalau lupa jalan kesini hubungi om saja ya...”
Om Ridwan masih saja memperlakukanku seperti anak kecil. Hmm aku tersenyum.
Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu. Mataku terpaku pada sosok lelaki yang sedang mendorong kursi roda seorang wanita muda. Wajah wanita itu pucat tapi terpancar rona kebahagiaan.
Aku mengenali sosok lelaki itu. Itu Adi, dan dia pun melihat kearahku. Adi membisikkan sesuatu kepada wanita muda itu, wanita itu mengangguk dan memutar kursi rodanya sendiri sambil berlalu. Adi berjalan kearahku.
” Assalamu’alaykum.“ Sapa Adi
” Wa ’alaykumsalam.“ Aku bergetar, keringat dingin mengucur didahiku, aku tidak berharap bertemu dengan Adi disini, tidak dengan tanpa persiapan seperti ini.
” Apa kabar?“ Suaranya masih sama, tenang dan berat. Adi masih sama seperti dulu.
” Sakit apa?” Tanyaku.
Adi sempat gugup sebelum menjawab. ” oh.. sakit jantung, baru menjalankan operasi kemarin. Itu istriku.” suaranya lirih.
Hatiku tidak lagi luruh melainkan bagaikan dihujani meteor panas yang melubanginya, sakit sekali lebih sakit dari penantian itu sendiri.
” Dia sakit dan aku tidak dapat meninggalkannya, maafkan aku, aku tidak mengatakannya kepadamu. Dokter telah memvonis tidak akan lama lagi, dia ingin aku menikahinya.”
Aku hanya bisa tersenyum.
” Hanya Allah yang dapat menentukan kematian seseorang. Kalau memang kita berjodoh, tidak menjadi istrimu di dunia ini mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan bersama.”
Aku kembangkan senyum termanis untuknya.
..............................................................................
Kemampuan seseorang untuk mencintai karena mungkin hanya itulah setitik keabadian yang bisa dimiliki.
.
oke nih cerita nya..^^
awalnya datar, tapi akhirnya... hiks
wah, kurang dalam terakhirnya tuh.pengungkapan perasaan enno kurang emosi..
but nice...
endingnya kurang greget yah...
tapi bagus ko ide critanya...
ditunggu crita brikutnya yaaaaa