Maybe on Earth, Maybe in The Future -Blame
""Jadi beginilah pada akhirnya..." Rea meraba perutnya yang terluka, "Cih... Kematian... aku tak pernah tahu sebelumnya kalau kematian bisa sangat membosankan." Dan semuanya berubah menjadi kegelapan.
***
Tetesan air hujan membangunkan Andrea dari tidurnya. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya, lalu dirabanya lagi perutnya. Tak ada darah, tak ada luka, apakah tadi dia hanya bermimpi?
"Akhirnya kau bangun huh?" terdengar sebuah keluhan dari atas pohon tempat Andrea tidur bersandar. Ketika dia mengangkat kepalanya tampak disana, duduk di salah satu dahan, seorang bocah laki-laki -- dari ukuran tubuhnya seharusnya ia masih anak-anak-- dengan rambut merah menyala.
"Kaukah itu... Johan?" entah darimana nama tersebut muncul di kepala Andrea.
"Siapa lagi..." bocah itu menggerutu lalu melompat turun.
Untuk pertama kalinya--seharusnya ini pertama kalinya Andrea bertemu dengan bocah bernama Johan itu, tapi ia sendiri sama sekali tak yakin--Andrea dapat melihat keseluruhan bocah itu dengan jelas.
Rambutnya yang merah menyala cukup panjang untuk bocah seukurannya, dan mencuat diantara rambutnya dua buah tanduk kecil berwarna merah tua. Sepertinya warna merah mendominasi bocah itu, warna bola matanya, rompi kain yang dikenakannya--pakaiannya berwarna putih, celana pendeknya, bahkan kulitnya pun kemerahan. Andrea penasaran apakah darah bocah itu juga berwarna merah.
"Kau baik-baik saja ? Ayo kita cari tempat yang lebih terlindung, aku tak pernah menyukai hujan," Johan kembali menggerutu.
"Tapi aku suka hujan," gumam Andrea.
Johan memandangi Andrea dengan tatapan aneh lalu berjalan menghampirinya. Dengan tangan kanannya dia memegangi kening Andrea, "Kau baik-baik saja?" kali ini ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
"Aku tak apa-apa," ujar Andrea sambil berusaha berdiri. Namun belum sempat dia melangkah rasa sakit yang amat sangat menyerang kepalanya. Dia kembali terjatuh, sebelum kesadarannya menghilang terdengar olehnya suara Johan memanggil-manggil namanya.
***
"Rea!Rea!" diantara kebisingan terdengar seseorang memanggil namanya. Suara tersebut terdengar lagi, makin lama makin nyaring.
Andrea membuka matanya lalu menyambar radio panggil yang tergeletak di dekatnya.
"Andrea disini...", Andrea terbatuk beberapa kali sebelum meneruskan kalimatnya, "kami butuh...", dia kembali terbatuk, "kami butuh bantuan."
"Bertahanlah! Kami akan segera kesana..." tiba-tiba terdengar sebuah ledakan. Kesadaran Andrea kembali menghilang.
***
Sunyi.
Lalu tiba-tiba saja terdengar suara tetesan air. Suara itu menggema berkali-kali hingga suatu ketika semuanya kembali sunyi.
Andrea menemukan dirinya berdiri seorang diri di sana, sebuah tempat suram yang seakan-akan tiada akhirnya.
"Namaku Andrea..." gumamnya, kalimat itu menggema berkali-kali di tempat tersebut.
Setiap kali Andrea melangkahkan kakinya suara tetesan air itu kembali terdengar, hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia kini berada di atas semacam danau raksasa. Tepat di bawahnya dia bisa melihat pantulan dirinya.
"Namaku Andrea..." gumamnya lagi.
Tubuhnya perlahan memudar sebelum akhirnya menghilang. Lalu hanya kesunyian yang tersisa di sana.
dikirim 145 17 minggu 5 hari yang laluTag:







