RIAK, REMBULAN, SALJU, dan MATAHARI (serial version) - 1

80
points

MERESAPI RIAK

Bagiku keindahan hanyalah menatap ke atas Meresapi pantulan sesuatu yang akan kupantulkan lagi Tiada saat n'tuk kuberpikir kelayakan uji Segala hal kuterima karena fitrah adalah hakiki Termasuk kau

Namaku Rian Akbar, seorang lelaki berusia dua puluh tahun yang hidup di dunia ini bersama seorang ayah. Kemana dia melangkah, di situ aku mengikuti. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki... hanya dia. Ibu terbang dibawa bidadari ke atas langit saat aku tujuh tahun. Kakak perempuanku serupa kupu-kupu putih yang menembus awan tiga tahun kemudian. Aku dan ayah tertinggal di muka bumi dengan gelombang tinggi kepedihan di dalam hati. Lalu berkelana...

Gelombang kehidupan datang beruntun. Ayah hanyalah pengrajin rotan yang bertahan hidup dengan membanting tulang. Aku mau tak mau harus membantu dan menomor-duakan sekolah. Namun gelombang-gelombang pasang-surut ini tak membuat semangatku menjadi luntur. Adalah Rembulan menjadi penyemangat kehidupanku...

Bagiku keindahan hanyalah menatap cita-cita yang kupajang dibingkai awan di atas langit.
"Aku ingin menjadi seorang sastrawan," ucapku suatu ketika di saat Rembulan, teman sepermainanku semenjak kecil, bertanya.
"Cita-cita yang indah. Hihihi..." ucapnya sembari menghisap lollypop yang ada di tangannya.
Saat itu usia kami dua belas tahun. Sebentar lagi kami akan meninggalkan bangku sekolah dasar. Di keluarga Rembulan yang bertaraf hidup jauh lebih tinggi daripada aku, pertanyaan mengenai cita-cita adalah hal yang selalu dikumandangkan setiap saat. Sangat berbeda dengan diriku, bercita-cita dengan keraguan. Apakah akan sampai...

Cita-cita hanyalah apa yang aku impikan. Meraihnya hanya mimpi di tengah kenyataan. Tiga tahun sesudah ku bercita-cita...
"Kau boleh pilih! Sekolah di SMA murahan atau berhenti bersekolah!!" bentak ayah mencoba tegas.
"Aku ingin sekolah di SMAN satu, Yah!"
Aku ingin berada selalu dekat dengan Rembulan

"Aku tau kau punya nilai bagus. Tapi di sekolah itu gudangnya anak orang kaya, Rian!"
"Tapi..."
Suaraku tercekik. Aku ingin menangis namun tangisan tak pernah lagi bisa keluar dari mataku. Terlalu banyak kepedihan sehingga menangis tak mampu kutumpahkan.
"Sudahlah! Kau tak usah lagi sekolah, bantu aku mencari uang saja!"

Aku berlari dari rumah...
Terus berlari...
Seminggu...
Tiadakah yang mencari...?

Tiada tempat kutinggalkan sosok tubuh Berkelana tanpa ada yang aku cari Akankah jiwaku hidup memaknai abadi? Pun ku tak mengerti

Your rating: None Average: 7.3 (11 votes)
dikirim RIAK 16 minggu 6 hari yang lalu
Tag: