Bagian ketiga dari Ode of The Air, terima kasih atas masukan2nya. PS: 'Everyone is Connected' -SELain
"Malam kelabu kini telah terbit
Kegelapan dengan lantang menjerit
Dalam keheningan mimpi-mimpi kembali terjaga
Di angkasa sebilah sabit memanggil para pemburunya
***
Pria itu berdiri di antara puing-puing. Angin bertiup cukup keras. Dengan sia-sia ia mencoba menyalakan korek apinya.
Lalu seseorang berseragam hitam berjalan menghampirinya.
"Kami tak bisa menemukannya..." ucap orang itu dengan suara bergetar, "Sangat mungkin dia..."
"Dia sudah pergi kalau begitu" sang pria dengan cepat memotong.
"Itu tidak mungkin." orang itu bersikeras, "Daerah ini bermil-mil luasnya, semuanya sudah menjadi puing-puing. Orang-orang kita sudah memindainya." Orang itu berhenti sejenak, "Tak ada seorangpun disini. Kami bahkan tak menemukan sepotong tubuh pun."
"Mungkin kau benar," sang pria tampak acuh tak acuh. Dengan sigap ia menangkap beberapa helai bulu yang diterbangkan angin, "Tapi sayang sekali, kau salah."
***
Sinar matahari senja kemerahan menerobos masuk melalui jendela kamar.
Sebuah ruang baca yang tidak terlalu besar.
Menempel di dinding, rak-rak besar yang di penuhi oleh buku. Seluruh lantai di tutupi oleh karpet kelabu. Di tengah ruangan tak jauh dari jendela ada sebuah sofa yang cukup besar. Duduk di sana seorang wanita berpakaian merah.
Wajah wanita itu tersembunyi di balik bayang-bayang. Rambutnya yang putih menjuntai sampai ke pinggangnya. Di pangkuannya sebuah buku, cukup besar tapi tidak terlalu tebal, terbuka. Sesekali ia membalik halamannya.
Perlahan matahari tenggelam. Sinarnya yang kemerahan perlahan mulai memudar.
Malam telah tiba.
Namun sang wanita sama sekali tak beranjak dari tempat duduknya. Sesekali masih terdengar suara gesekan kertas ketika sebuah halaman dibalik.
Terdengar suara ketukan.
Sebuah pintu terbuka.
Seseorang masuk ke dalam ruang baca. Langkahnya tegap dan berat.
"Kami akan segera berangkat," ujar pria yang baru masuk.
Tak ada tanggapan dari sang wanita, dalam kegelapan ia masih terus membalik halaman buku di pangkuannya.
Pria tersebut kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan.
Pintu kembali tertutup.
***
Di antara bintang-bintang sang purnama bersinar temaram. Awan-awan kelabu berarak mengikuti arah angin.
Dalam keheningan, sayup-sayup terdengar suara kepakan sayap.
Di kejauhan samar-samar terdengar suara roda berputar.
Burung-burung malam menyanyikan nada-nada kematian.
Senja baru saja berlalu, tetapi perburuan sudah dimulai.
***
Di angkasa sebilah sabit memanggil para pemburunya
Dalam keheningan mimpi-mimpi kembali terjaga
Kegelapan dengan lantang menjerit
Malam kelabu kini telah terbit
Tag:







