O.S. ~ Intermission

53
points
"

Special 4 Aniki, keep Flying !!! Being Older mean you must be Better than before

"

Di sepanjang lorong itu ada puluhan pintu. Dari balik pintu tersebut sesekali terdengar gelak tawa. Namun begitu ia membuka pintu-pintu tersebut tak seorangpun berada di dalamnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

Ketika ia berbalik tampak di hadapannya sesosok laki-laki berseragam hitam. Lelaki tersebut berkulit putih nyaris pucat, rambutnya yang pirang telah memutih di beberapa tempat. Satu yang menarik perhatiannya ialah mata kanan lelaki tersebut yang putih sama sekali.

Lelaki itu tersenyum lalu memegang lengannya, "Kita harus bergegas, Mathew."

Mathew memandang lelaki itu lalu tanpa sadar menganggukkan kepalanya. Mereka berdua lalu berjalan menuju ujung lorong tersebut.

"Kau sudah siap ?" Sesampainya di ujung lorong lelaki itu kembali berbisik pada Mathew. Mathew menganggukkan kepalanya. Sang lelaki tersenyum kemudian menyerahkan sebilah belati pada Mathew, "Masuklah! Tunjukkan kepada mereka bahwa kaulah yang terbaik."

Pintu di ujung lorong terbuka. Di dalamnya kegelapan pekat menyambutnya. Terdengar riuh tepuk tangan. Dari dalam kegelapan ratusan pasang mata memperhatikan gerak-gerik Mathew.

Dari sisi lain terdengar suara pintu terbuka. Sesosok bayangan dengan tenang memasuki ruangan, langkahnya tegas dan berat. Namun kali ini tak ada riuh tepukan tangan. Ratusan pasang mata yang tadinya tenang berubah tajam. Mathew bersiap dengan belatinya.

Bayangan itu makin mendekat dan akhirnya Mathew bisa melihat dengan jelas sosok tersebut. Mathew terkesiap. Sosok tersebut sama sekali tak asing baginya. Rambutnya yang kelabu, sorot matanya yang lembut, bekas lebam di pipi kirinya, bahkan senyumannya, semuanya sama dengan terakhir kali Mathew bertemu dengan anak laki-laki itu.

"Hei Mathew," suara anak itu terdengar begitu lirih.

"Johan, kaukah itu?"

"Siapa lagi?" Johan kembali tersenyum. Mathew terhenyak, itu jawaban yang sama yang ia dengar setiap kali ia menanyakan hal tersebut pada Johan.

"Itu tidak mungkin."

"Kenapa begitu?" Johan balik bertanya.

"Kau harusnya sudah mati," suara Mathew bergetar.

"Mati ? Bagaimana ?"

"Aku tak tahu ... Mereka bilang kau sudah mati."

"Kau bohong." Senyuman Johan berubah menjadi seringai. Ia berjalan mendekati Mathew.

"Aku... Aku..." Belati di tangan Mathew terjatuh begitu saja ke lantai.

Johan membungkuk mengambil belati itu lalu menyerahkannya kembali pada Mathew. "Lakukanlah, " bisiknya.

Semuanya berubah gelap. Kembali terdengar riuh tepuk tangan. Ratusan pasang mata itu memandang Mathew dengan puas. Namun Mathew sama sekali tak mempedulikannya. Tangannya berlumuran darah. Di hadapannya Johan tebaring dengan belati tertancap di jantungnya.

Terdengar langkah kaki. Lelaki yang tadi mengantarkan Mathew berjalan menghampiri Mathew lalu membersihkan darah yang menempel di lengan dan Baju Mathew. Ia tersenyum lalu mengucapkan selamat pada Mathew.

Seketika Mathew terbangun. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Jantungya berdegup kencang. Ia tak lagi berada di dalam ruangan gelap tersebut. Sinar matahari yang hangat, angin yang bertiup sepoi-sepoi, kicauan burung, Mathew mendapati dirinya terbaring di antara puing-puing. Sambil tersenyum ia memandang awan yang berara perlahan di angkasa.

"Kau sudah bangun Tuan Mathew ?" terdengar suara gelak tawa riang.

"Ayolah sampai kapan kau mau tertidur?" seorang lelaki menimpali. Suaranya terdengar tidak sabar.

Mathew segera bangkit dari tidurnya. Di hadapannya seorang lelaki berdiri sambil berkacak pinggang. Di pundak lelaki tersebut sebuah robot yang lebih mirip boneka masih tergelak menahan tawa.

"Ryan? Alice?"

Lelaki yang di panggil Ryan menghela napasnya lalu mencubit pipi Mathew. "Kau masih tidur?"

"Awww... Lewwpawskan..." Ryan melepaskan cubitannya sambil menggelengkan kepalanya. Alice kembali tertawa, lalu melompat ke pundak Mathew.

"Ayo kita pulang, tuan Mathew?" Alice menepuk-nepuk kepala Mathew.

"Pulang?"

"Yups, urusan kita di sini sudah selesai. Semoga saja semuanya berjalan lancar" untuk pertama kalinya Ryan tersenyun.

"Yah semoga saja," Jawab Mathew pada akhirnya.

"..." Ryan memandangi Mathew dengan tatapan aneh.

"Ada apa Ryan?"

"Tuan tampak tak bersemangat hari ini," Alice menyahut dari pundak Mathew.

"Maafkan aku."

Ryan tiba-tiba duduk di samping Mathew. Untuk beberapa saat tak seorangpun yang berbicara. Yang terdengar hanyalah semilir angin dan kicauan samar burung-burung yang bersarang di antara puing-puing bangunan.

"Tempat ini dulu katanya adalah sebuah kota yang cukup damai," Ryan mengarahkan pandangannya ke langit.

"Dan kami dengan mudahnya menghancurkannya" jawab Mathew lirih.

Ryan kembali menghela napasnya, "Kau menyesal meninggalkan mereka ?"

"Tidak, tentu saja tidak, hanya saja..."

"Kau tahu? Kami mungkin bersikap dingin saat kau tiba, tapi sekarang Aku yakin bahwa saat itu mungkin adalah salah satu saat yang akan kami kenang selamanya." Wajah Ryan memerah, "Saat ini Aku err dan yang lainnya sangat gembira dengan keberadaanmu bersama kami."

"Alice juga gembira !" Alice kembali tergelak.

"Geeh, lihatlah kau membuatku mengatakan hal semacam itu. Aku tak tahu bagaimana seandainya dia melihatku saat ini." Ryan bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Mathew. "Ayolah kita sudah terlambat!"

Mathew tersenyum lalu menyambut uluran tangan Ryan. "Yay Ryan kereen !!!" Alice berseru lalu melompat ke pundak Ryan.

"Hei... hei... hati-hati, bagaimana kalau kau jatuh."

Mathew kembali tergelak. Samar-samar terdengar olehnya bisikan lirih Johan,kali ini sama sekali tak terasa kebencian di dalamnya, "Sampai jumpa Mathew ..."

"Ya, sampai jumpa lagi, Johan"

Your rating: None Average: 6.6 (8 votes)
dikirim 145 15 minggu 13 jam yang lalu
Tag: