Alternate ending i wrote for NARCISSU, its actually a good story but i dont like the ending...
"Di hadapannya lautan luas terbentang. Angin bertiup kencang, membawa parau suara camar dan lirih nyanyian paus ke telinganya. Ia hanya perlu terus melangkah, membiarkan sang ombak memeluk tubuhnya yang bertambah rapuh setiap harinya. Setelah itu mungkin ia akan bisa tertidur dengan tenang di dasar samudra.
Ia hanya perlu terus melangkah.
"Bukankah masih terlalu sore untuk tidur?"
Dia benar. Matahari masih membara di cakrawala, dari celah tirai awan sinarnya yang kemerahan menerpa lautan.
"Katakan, apakah kau akan menghentikanku?"
"Entahlah, mungkin... jika memang itu yang kau inginkan."
Ia terus saja berjalan menyusuri pantai, meninggalkan ratusan jejak kaki yang dalam sekejap saja hilang ditelan ombak. Ia mulai bertanya-tanya apakah nanti dirinya pun akan menghilang begitu saja, tanpa jejak sedikitpun yang menandai keberadaannya di dunia.
Angin bertiup makin kencang.
Kedinginan, ia mencoba menghangatkan tubuhnya ketika sebuah mantel dipakaiakan padanya.
"Terima kasih...," gumamnya perlahan nyaris tak terdengar.
"Katakan, apakah kau tak ingin berfoto bersamaku?"
Ia tertawa, ya tentu saja beberapa lembar foto bisa menjadi tanda bahwa ia pernah hidup di dunia ini, maka dengan senyumannya yang paling manis ia membiarkan kamera itu mengabadikan kepingan-kepingan terakhir dirinya.
"Semuanya berakhir, dengan ini aku bisa tidur dengan tenang."
"Umm."
"Jadi... sampai jumpa."
Dengan itu ia kembali melangkahkan kakinya ke arah lautan. Berapa langkah yang ia butuhkan? Entahlah, tapi pada setiap langkahnya seakan-akan satu per satu bagian dari kenangan yang ia miliki pun ikut menghilang.
Pada mulanya adalah kertas putih, lalu tiap detik menitik, dan kini titik-titik itu menghilang. Meskipun begitu ia tahu, ia takkan kembali menjadi sehelai kertas putih.
Untuk terakhir kalinya ia menolehkan kepalanya. Tak ada seorang pun di pantai.
"..."
Memejamkan kedua matanya dibiarkannya kegelapan memeluk jiwanya.
***
"Kita sudah sampai."
Dari pintu mobil, seorang anak kecil melompat turun. Pakaiannya cerah, di wajahnya sebuah senyuman tampak begitu manis.
Di ufuk timur, matahari baru saja terbit, sinarnya dipantulkan kembali oleh lautan yang kini tampak begitu berkilauan laksana permata.
"Hei, bibi apakah ini pantai yang diceritakan oleh ibu?"
Wanita setengah baya di samping sang anak hanya tersenyum kecil. Kejadian itu masih membekas di dalam ingatannya. Untuk pertama kalinya sang kakak menangis berusaha sekuat tenaga mempertahankan hidupnya. Untuk pertama kalinya sang kakak tersenyum mensyukuri bahwa ia telah terlahir ke dunia ini. Dan daripada lembaran foto yang telah usang, ia meninggalkan sesuatu yang lebih indah. Bukti bahwa ia, dan pria itu pernah ada di dunia ini. Sesuatu yang untuknya sang pria telah menukarkan jiwanya.







