Pada zaman dahulu kala...
"Pagi itu di sebuah sudut pasar, sesosok tubuh, tua renta, tergeletak tanpa nyawa. Dan jika kau sering berbelanja di sana, besar kemungkinan kau akan mengenali seraut wajah itu. Banyak yang menyebutnya "Gelandangan", beberapa menyebutnya "Pemulung", orang yang pernah menggunakan jasanya untuk membawakan barang belanjaan mereka memanggilnya dengan sebutan "Pak Tua", tetapi anak-anak yang biasa berkeliaran di pasar lebih tahu siapa lelaki itu.
Rambutnya putih, kulitnya coklat, badannya kurus namun tegap berisi. Ia hanya memiliki tiga helai pakaian, dua potong celana dan selembar kain sarung. Dua pakaiannya hanyalah kaos putih kekuningan yang dipakainya bergantian, yang entah bagaimana diupayakannya selalu dalam keadaan bersih. Sepotong pakaian lainnya adalah kemeja kusam yang hanya dipakainya, bersama sebuah peci bututnya, ketika sholat jumat. Tempat tinggalnya hanyalah sehelai tikar tua di sebuah bekas pos keamanan yang atapnya sudah bocor di sana-sini.
Tak seorangpun ingat sejak kapan lelaki tua itu ada di sana, dan tak seorangpun yang tampaknya peduli. Toh lelaki tua itu bukan seorang pengemis, dan lagi ia masih cukup kuat untuk dimintai tolong. Maka dengan itu lelaki tua itu menghabiskan hari-harinya di sana hingga pagi ini jasadnya ditemukan tanpa nyawa.
Lelaki tua tak bernama, demikian tertulis di sebuah kolom berita sebuah surat kabar murahan yang sepertinya tak punya berita lain untuk dituliskan. Tetapi ia memiliki nama dan anak-anak yang biasa berkeliaran di kolong-kolong pasar lebih tahu akan hal itu.
Pada suatu ketika hiduplah seorang putri, indah parasnya dan bersih hatinya. Maka berdatanganlah padanya puluhan pangeran dari berbagai kerajaan. Semua pangeran itu meminta sang putri untuk menikah dengan dirinya tapi tak satupun lamaran itu diterima sang putri. Rupanya sang putri telah jatuh hati pada seorang pemuda dari kalangan rakyat jelata.
Seorang raja, dari sebuah negeri di seberang lautan, mengetahui hal itu. Dengan licik raja itu meminta sang putri menikah dengannya dan mengancam akan membunuh si pemuda jika sang putri menolak lamarannya. Maka dengan berat hati sang putri menerima lamaran sang raja. Sementara sang pemuda yang tak tahu alasan sang putri merasa begitu terpukul kemudian menghilang entah kemana.
Pernikahan sang raja dan sang putri berlangsung meriah sebelas hari sebelas malam, dan pada hari kedua belas sang raja membawa sang putri kembali ke kerajaannya. Namun tak lama kemudian, sang putri yang hancur hatinya pun jatuh sakit. Puluhan tabib datang silih berganti namun tak satupun yang berhasil menyembuhkan sang putri.
Semakin hari tubuh sang putri makin lemah dan saat sang raja mulai putus asa datanglah seorang kakek tua yang mengatakan bahwa ia bisa menyembuhkan sakit sang putri, dengan satu syarat. Tanpa basa-basi sang raja menerima persyaratan itu dan setelah berpamitan pada sang putri ia pun pergilah, berkelana ke seratus kota menciptakan seribu dongeng.
Tetapi rupanya hal itu hanyalah tipuan sang kakek tua. Segera setelah sang raja pergi ia pun membuka penyamarannya, rupanya ialah sang pemuda yang dulu dicintai sang putri. Sambil tersenyum sang pemuda itu mengajak sang putri pergi bersamanya.
Mengetahui hal itu sang putri pun menangislah. Pemuda yang dulu ia cintai kini tak lebih dari seorang penipu. Dan betapa ia tahu pengorbanan sang raja berkelana seorang diri tanpa bekal, maka luluhlah hatinya. Sambil terisak sang putri mengusir sang pemuda lalu bersumpah bahwa ia akan menunggu sampai sang raja kembali.
Namun sang raja telah pergi begitu jauhnya dan ingatannya tentang sang putri pun perlahan memudar. Seiring makin banyak dongeng yang ia ciptakan ia pun mulai melupakan jati dirinya sebagai seorang raja. Dan kini sementara orang-orang dewasa menganggapnya gelandangan biasa, anak-anak mengenalnya sebagai sang pendongeng.
Demikianlah dongeng terakhir yang diceritakan sang lelaki tua pada anak-anak yang setiap sore berkumpul mengelilinginya. Tetapi kini si pendongeng telah mati, dikuburkan tanpa nama di sebuah pekuburan di samping sebuah pasar. Seratus kota telah ia datangi dan seribu dongeng telah ia kisahkan. Dalam sekejap orang-orang melupakan sang lelaki tua. Namun jika kau tanyakan pada anak-anak yang biasa berkeliaran di gang-gang pasar mereka pasti akan mengatakan bahwa sang putri telah datang menjemput sang raja dan mereka berdua pun hidup bahagia untuk selama-lamanya.
dikirim 145 10 minggu 2 hari yang laluTag:







