Study of Fear - Dog Days

27
points
"

The Heat... It drives us crazy...

"

Madley baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 65 beberapa hari yang lalu. Anak-anak dan cucunya berdatangan, memberikan ucapan selamat padanya. Teman baiknya pun ikut hadir, memuji betapa ia masih terlihat tegap di usianya itu. Namun disinilah ia sekarang terbaring dengan leher dan perut bersimbah darah. Di hadapannya beberapa sosok berdiri, menatapnya, menanti dengan sabar saat-saat kematiannya.

"kenapa kau lakukan ini Sam? bukankah selama ini aku adalah orang tua yang merawatmu?"

Yang ditanya hanya mendesis sambil menyeringai. Tak ada tanda-tanda belas kasihan di wajahnya.

"dan siapa mereka? ukh... pasti kalian yang membuat Sam seperti ini..."

Panas...

Sementara kesadaran Madley perlahan menghilang, ia seakan-akan mendengar beberapa suara bergema di kepalanya.

Itu mambuat kami gila...

"..."

***

Libur musim panas telah tiba. Namun tak berarti Aru dapat berleha-leha karena kedai yang dikelola pamannya justru jadi lebih sibuk daripada biasanya. Ia sendiri baru tahu sekarang, bahwa khusus musim panas kedai itu menjual Es Serut yang ternyata lebih populer daripada yang ia bayangkan.

"Kami pesan dua!"

"Ya! Segera... wa wa wa!!!."

BRAKKK

Para pengunjung tergelak sementara Varna memegangi kepalanya yang sakit. Aru menghela napasnya, ia tak tahu kenapa pamannya belum memecat Varna pada hari pertama ia bekerja sambilan di sana. Sementara itu di sisi lain seorang wanita dengan sigap melayani pesanan para pelanggan.

"Ini pesanan anda!"

"Baik akan segera kami siapkan!"

Contoh yang tepat untuk peribahasa bagaikan langit dan bumi. Tapi bukan berarti Aru gembira dengan keberadaan gadis itu. Semuanya karena kejadian beberapa hari yang lalu.

Ketika ia mengira pada akhirnya ia bisa menjauh dari Varna (dan untuk beberapa lama Varna memang sama sekali tak mencoba membuka percakapan dengannya seperti yang biasa ia lakukan, entah sekedar menyapa, atau menanyakan hal-hal aneh semisal "Apa menurutmu bumi benar-benar mengelilingi matahari?" untuk pertanyaan terakhir Aru menjawab bahwa hal itu tergantung dari sudut pandang si pengamat karena seluruh pergerakan yang terjadi bersifat relatif.), hari itu ia mendapati, ketika ia baru saja pulang dari supermarket, pamannya sedang mewancarai Varna yang setelah ia klarifikasikan sebenarnya datang ke sana untuk mengembalikan sapu tangan miliknya. Dan entah bagaimana Varna bisa diyakinkan untuk bekerja sambilan disana.

"Bukankah ini bagus, tak kusangka kau sudah punya teman di sekolahmu yang baru ha ha ha. Nah Varna baik-baiklah dengan Aru ya!"

Jika orang saja orang itu bukan pamannya...

"Ah... aku... mohon bantuannya..."

Dengan canggung Varna menyapa Aru. Wajahnya terlihat tegang mungkin karena tidak tahu bagaimana Aru akan bereaksi.

"Terima kasih sudah mau membantu."

Namun Aru sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun. Aru sendiri berpikir ini bukanlah hal yang patut disesali, karena setidaknya ia tak harus bekerja dengan orang yang belum ia kenal. Dan melihat keseharian Varna hanya tunggu waktu sampai pamannya menyesali keputusannya. Ia hanya merasa sedikit tidak nyaman.

"Ah Aru kemarilah!"

Ia baru saja selesai mandi ketika Pamannya memanggilnya. Seingatnya tadi Pamannya sedang mengajarkan hal-hal dasar yang dibutuhkan untuk melayani para pelanggan. Maka Aru benar-benar terkejut ketika mendapati seorang gadis di sana.

"Se..selamat sore Arafuru."

Wajah gadis itu memerah ketika menyapa Aru yang saat itu belum mengancingkan kemejanya.

Benar-benar menyebalkan. Maka dengan isyarat ia memanggil pamannya ke koridor.

"Err seingatku kita hanya membutuhkan satu pekerja sambilan."

"Begitulah, tapi rasanya tidak ada salahnya kita mempekerjakan seorang lagi. Ia teman sekelasmu kan? Dan lagi.."

"Ya?"

"Gadis itu sepertinya menyukaimu ha ha ha."

Aru menghela napasnya. Ini akan jadi libur musim panas yang melelahkan.

"Ah Ruri..."

Sedikit bertaruh ia mencoba mempengaruhi gadis itu untuk mengurungkan niatnya.

"Na... Namaku Riru..."

"Ah ya maafkan aku. Err Riru, katakan padaku apa kau yakin mau bekerja disini?"

"Te..tentu saja!"

"Kuberitahukan padamu... gaji disini kecil, pekerjaannya melelahkan, kadang ada pengunjung yang sangat galak dan... Ouchh."

Pukulan pamannya menghentikan Aru melanjutkan kata-katanya.

"A.. Aku akan berusaha!!!"

Dengan itu tahun ini ada dua pekerja sambilan di kedai yang dikelola oleh paman Aru.

Tiba-tiba saja sebuah pecakapan membuyarkan lamunannya. Ia menolehkan kepalanya dan di salah satu sudut tiga orang pelanggan tampak sedang berbincang-berbincang. Dan benar-benar tertarik dengan apa yang mereka bicarakan.

"Soal kasus itu! bagaimana menurutmu?"

"Entahlah! Tapi siapapun pelakunya pasti bukan manusia."

"Ha ha ha tentu saja, tidak ada orang waras yang mencabik-cabik korbannya!"

"Tunggu dulu bukankah jenazah korban belum ditemukan?"

"Ya ya ya tapi bayangkan genangan darah sebanyak itu, aku malah heran kalau korbannya belum mati."

"Jadi daerah itu ditutup ya?"

"Untuk sementara ini begitu. Padahal bukit itu daerah favorit untuk berpiknik atau sekedar jalan-jalan."

"Tapi bayangkan tiga orang hilang dalam satu minggu! Memang sih baru Pak Madley, orang yang terakhir dilaporkan hilang yang diduga terbunuh, tapi aku bertaruh yang lainnya juga."

"Ini karena polisi lamban bertindak!"

"Ya begitulah, kebetulan saja pak Madley itu orang kaya. Hmm apa yang dia lakukan di sana?"

"Mungkin olahraga? Katanya ia biasa lari pagi bersama kawan-kawannya di rute yang melewati bukit itu!"

"Olahraga sambil mengajak jalan-jalan hewan peliharaan, benar-benar khas orang kaya."

"Hei Aru berhentilah melamun dan bantu Varna mencuci gelas!!!"

Seruan pamannya membuyarkan lamunannya.

"Biar aku saja paman!"

"Tidak perlu, kau lebih berguna disini."

Beberapa pelanggan kembali tertawa. Dasar gadis menyebalkan dan sejak kapan ia jadi pamanmu? Aru ikut tertawa lalu berjalan ke dapur. Di sana Varna sedang mencuci gelas sambil bersenandung perlahan. Akhir-akhir ini ia tampak lebih gembira.

"Hei Varna kau ada waktu besok siang ?"

"Eh..."

Dengan sigap Aru mengambil gelas yang terlepas dari tangan Varna.

"Maaf... maafkan aku..."

"Tak masalah ini salahku mengagetkanmu."

Aru kemudian ikut membantu Varna mencuci gelas-gelas itu. Varna tak tahu mengapa ia merasa gugup, akhir-akhir ini Aru entah kenapa bersikap baik kepadanya. Tidak, bahkan sebelumnya Aru satu-satunya orang di sekolah yang pernah menawarkan bantuan padanya secara suka rela. Mungkin saja karena ia sama sekali tak merasakan kesan dingin yang biasa Aru tunjukkan ketika berbicara dengannya. Namun ia bersyukur karena selama ini, tak banyak yang mau bicara dengannya hanya karena mendengar rumor itu, meskipun ia harus mengakui bahwa rumor itu sama sekali tidak salah.

Varna gembira bekerja disini. Semua orang bersikap ramah padanya, hampir semua orang. Riru, salah satu teman sekelasnya, ia bisa merasakan bahwa gadis itu sama sekali tidak suka ia bekerja disini. Bukan berarti Riru gadis yang jahat, sebaliknya secara objektif ia adalah salah satu gadis paling baik yang ia temui. Setidaknya ia tak pernah melihat Ruri ikut serta saat teman-teman yang lain menggunjingkan dirinya. Semuanya hanya karena rumor itu.

"Jadi apakah kau ada waktu besok siang?"

"Eh tentu saja ada..."

"Baguslah ada satu tempat yang ingin kukunjungi."

Varna nyaris tak mempercayai pendengarannya. Besok kedai ini tutup dan ia memang sama sekali tak punya rencana apapun. Tapi ia sama sekali tak menyangka hal semacam ini bisa terjadi.

"Maaf.. tapi bukankah sebaiknya kau mengajak Riru?"

Ini adalah yang terbaik untuk Aru. Riru adalah gadis yang baik, dan ia akan turut gembira jika pada akhirnya mereka berdua bisa terus bersama.

"Tapi aku ingin mengajakmu. Kau tahu... hmm ada beberapa hal yang ingin kukatakan padamu..."

Wajah Varna berubah muram. Ia takut. Selama ini ia menjauhi Aru karena ia tak sanggup mendengarkan hal itu keluar dari mulut Aru. Kata-kata yang diucapkan orang yang dulu menjadi kawannya setelah mengetahui kebenaran rumor itu: Jangan Dekati Aku!

"Baiklah..."

"Baguslah kalau begitu. Kutunggu kau di perempatan jalan menuju Bukit! Hmm bagiamana kalau jam sebelas"

Aru tersenyum puas. Semuanya berjalan sesuai rencana.

Malam itu, Riru sama sekali nyaris tak bisa memejamkan matanya. Percakapan antara Aru dan Varna yang tanpa sengaja ia dengar terus terngiang-ngiang di kepalanya. Apa sebenarnya hubungan di antara mereka berdua?

Ia tahu ia tak seharusnya menguping pembicaraan itu. Tapi ia tertarik pada Aru, yang pertama karena sikapnya yang periang lalu karena kebaikan hatinya. Karena hanya Aru yang memperlakukan Varna selayaknya, hal yang ia sendiri tak bisa melakukannya. Lalu apa berarti ia mencintai Aru? Tentu saja belum. Untuk saat ini ia hanya ingin mengenalnya lebih jauh.

Riru memejamkan matanya. Ia harus segera tidur. Ia tahu ini salah tapi ia benar-benar ingin tahu apa yang ingin dikatakan Aru pada Varna.

Di saat yang sama Varna juga tak bisa memejamkan matanya. Aru baru saja menelponnya, memastikan bahwa ia benar-benar bisa hadir. Hanya saja kali ini kesan dingin dan ketus yang biasa Aru tunjukkan kembali terasa. Varna benar-benar takut. Setelah seorang diri sekian lamanya, untuk pertama kalinya ia berharap seseorang benar-benar mau menjadi sahabatnya.

***

Pukul 10.30 .

Setelah memastikan bahwa Aru dan Varna tidak ada di sekitarnya, Riru turun dari bis yang ditumpanginya lalu masuk ke sebuah kios tak jauh dari situ.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Riru benar-benar terkejut saat entah darimana seorang nenek menepuk pundaknya. Ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

"Begitukah? Silakan melihat-lihat kalau-kalau ada yang anda inginkan."

Nenek itu tampak sedikit kecewa, tapi tujuan Riru kemari bukan untuk berbelanja.

Sepuluh, lima belas, tiga puluh, enam puluh menit. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Aru dan Varna. Apa mereka membatalkan rencananya?

"Kau sedang menunggu seseorang?"

"Tidak, eh maksudku iya!"

Rupanya nenek penjaga kios itu memperhatikannya sejak tadi. Jadi sebisa mungkin ia menggambarkan sosok Aru dan Varna pada sang Nenek.

"Aku tak melihat pemuda yang kecil, tapi tadi ada seorang pria baik dan sopan yang mungkin saja orang yang kau tunggu, hmm namanya..."

"Arafuru!"

"Ya ya ya, Arafuru... ia benar-benar pemuda yang baik... hu hu hu... ia bahkan mendengarkan ceritaku bahwa sejak kasus itu kios ku benar-benar jadi sepi dan kau tahu ia juga membeli beberapa barang di sini. Kuharap ia baik-baik saja."

"Maksud nenek?"

"Ia pergi menuju Bukit, dan sampai sekarang ia belum kembali..."

"Terima kasih!"

Tanpa basa-basi Riru bergegas berjalan ke arah bukit. Di belakangnya sang nenek hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.Kali ini Riru benar-benar khawatir. Ia harus cepat. Sesuatu mungkin saja terjadi pada Aru. Tak lama kemudian ia sudah berada di antara pepohonan yang tumbuh di bukit.

Entah sudah berapa lama Riru berjalan berputar-putar di sana. Udara yang panas, serangga yang berisik, ia akhirnya memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon. Tempat ini benar-benar cocok untuk jogging, tapi pada siang hari di musim panas bahkan bayang-bayang tak mampu menahan udara yang gerah.

Riru mengutuki kebodohannya, ia tak seharusnya hilang kendali hanya karena khawatir. Lihat sisi positifnya, mungkin saja Aru sudah kembali. Berbeda dengannya Aru adalah seorang laki-laki.

Sampai titik ini perasaan khawatir yang sebelumnya muncul, menghilang hanya untuk digantikan oleh rasa takut. Meskipun sekilas, Riru juga mendengar berita itu. Tiga orang pria menghilang dalam satu minggu dan bercak darah seorang diantaranya ditemukan berceceran di mana-mana.

Serangga-serangga terus menjerit. Udara yang pengap, bau darah yang pekat...

Riru tersentak. Bau darah? Itu pasti hanya khayalannya saja. Polisi pasti sudah menghapusnya.

Drap Drap Drap

Terdengar beberapa langkah kaki. Riru menahan nafasnya. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata tengah mengawasinya. Dari balik semak-semak beberapa sosok berjalan menghampirinya. Di mata Riru mereka tampak bagaikan manusia yang terbuat dari bayang-bayang.

"Apa yang kalian inginkan?"

Panas... Itu membuat kami gila...

Kepala Riru tiba-tiba terasa begitu pening, tapi ia tahu ia harus segera melarikan diri.

Lari...

Lari... ...

Lari... ... ...

Riru terus berlari tanpa mempedulikan bagaimana semak-semak menggores tubuh dan bajunya, ia tahu sosok-sosok itu terus mengejarnya. Bukan lebih tepatnya memburunya, menanti saat dimana ia kehabisan tenaga. Tapi ia harus terus berlari.

Ia nyaris berhasil mencapai jalan utama ketika salah satu sosok meloncat, menerjangnya lalu kemudian menjatuhkannya. Ia akan mati.

Seseorang... siapa saja... tolonglah...

Riru mulai terisak. Sosok yang menerjangnya memandangnya sambil menyeringai. Makhluk itu kemudian membuka mulutnya lalu menggigit lengan Riru.

Riru menjerit.

Tepat saat itu terdengar suara Varna.

"Lepaskan Dia !!!"

Setelah itu semuanya berubah gelap.

***

Saat Riru membuka matanya ia mendapati Aru sedang membawanya di punggunnya. Di sampingnya Varna tersenyum.

"Riru sudah sadar!"

"Hmm baguslah..."

Wajah Riru seketika memerah.

"Dimana orang-orang itu?"

Varna tampak bingung mendengar pertanyaan Riru.

"Apa maksudmu?"

"Orang-orang err bayang-bayang yang mengejarku?"

Varna tampak makin bingung.

"Aru menolongmu, tapi bukan dari manusia... kau tadi diserang beberapa ekor anjing. Mungkin anjing liar yang ada di gunung itu. Meskipun setahuku hal seperti ini jarang sekali terjadi. Daripada itu apa lenganmu baik-baik saja?"

Riru melihat lengannya yang tadi digigit. Tampak sebuah sapu tangan melingkar di sana. Tapi ia benar-beanr yakin ia tadi melihat manusia.

"Umm Varna... terima kasih."

"Bukan aku, itu sapu tangan Aru, ia yang merawat lukamu."

Karena Aru nyaris tak bicara sama sekali, Riru hampir melupakan keberadaannya. Dan saat ia kembali sadar akan hal itu wajahnya kembali memerah.

"Jaket ini?"

"Itu jaketku, tapi kurasa kau boleh memilikinya. Err akan sangat mencurigakan kalau aku mnggendongmu jika pakaianmu compang-camping."

Jaket milik Aru...

"Nah kalau tak salah ini rumahmu ya?"

Tanpa sadar mereka sudah sampai di depan rumah Riru.

Itu berarti... Aru menggendongnya sepanjang jalan...

Riru tak sanggup membayangkan jika seseorang yang ia kenal melihatnya tadi.

"Kau bisa jalan? Hmm kami sempat ragu apakah kami harus membawamu ke rumah sakit, tapi sepertinya kau hanya pingsan karena kelelahan."

Riru perlahan turun dari gendongan Aru.

"Terima kasih Aru..."

"Tidak masalah he he he, akan merepotkan jika saat ini kita kehilangan karyawan sepertimu, ah maaf aku hanya bercanda."

Riru ikut tergelak. Ia lalu berpaling ke arah Varna.

"dan kau juga Varna... maafkan sikapku padamu selama ini..."

"Eh ah tidak, menurutku kau adalah gadis yang sangat baik..."

Varna tersipu malu, ia tak mengira ia bisa mengatakan hal semacam itu.

Aru tiba-tiba menyeringai.

"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disana?"

"A... aku harus pergi..."

Riru menutup wajahnya, mungkin Aru tahu ia menguping pembicaraan mereka berdua.

***

Sepanjang perjalanan ke rumah Varna. Aru hampir tak mengucapkan kata satu pun. Dari wajahnya tampaknya ia sedang kesal.

"Kau tahu apa yang kau lakukan tadi?"

Akhirnya Aru memecahkan keheningan itu.

"Aku hanya ingin menolongnya..."

"Aku tahu itu, tapi kau seharusnya tahu bahwa tak ada yang bisa kau lakukan."

"Maafkan aku..."

"Dan apa yang kau lakukan di sana? Bukankah tadi malam kuberitahukan bahwa aku menunggumu jam satu."

"..."

"Sudahlah."

Mereka kembali berjalan dalam diam. Varna tahu apa yang dikatakan Aru benar, bahwa ia tak seharusnya melakukan hal-hal semacam itu. Tapi ia bersyukur ia datang lebih awal, entah apa yang terjadi jika ia datang terlambat. Bukan, tak akan ada yang berubah jika Aru tak datang menolong mereka berdua. Tanpa sadar mereka berdua telah tiba di depan rumah Varna.

"Hei Aru, menurutmu apa yang membuat anjing-anjing itu jadi buas?"

Aru menatap matahari yang telah berubah kemerahan.

"Mungkin karena panas..."

***

Malam pun tiba. Sambil memandangi bulan, Aru mengingat kejadian tadi siang.

Semuanya sesuai perkiraannya. Riru yang menguping pembicaraannya. Anjing-anjing yang menyerang majikannya sendiri. Riru yang mengikutinya ke bukit. Semuanya sempurna hingga Varna tiba-tiba muncul. Ini semua salahnya.

Tunggu dulu, bukankah ia bisa saja membiarkan anjing-anjing itu menyerang Varna juga?

Rencananya gagal sudah. Seharusnya hari ini ia bisa menunjukkan suatu hal yang menarik pada Varna.

Tapi sudahlah, setidaknya sekarang ada hal baru yang cukup menarik.

"Riru... mungkin aku bisa menyukainya..."

Your rating: None Average: 5.4 (5 votes)
dikirim 145 13 minggu 4 hari yang lalu
Tag: