Putih untuk kesucian... Hitam untuk keteguhan...
"Tanah cahaya terletak di antara tiga benua. Di tengah-tengahnya berdiri sebuah menara, yang bersama dua menara lainnya pernah berkilau menerangi seluruh dunia. Tapi sejak keruntuhan kerajaan utama, menara itu tak pernah lagi bersinar. Di antara puing-puing peradaban, manusia cahaya hidup merdeka di sana berharap suatu saat menara itu akan kembali memancarkan kilaunya.
Maka ketika serombongan bayang-bayang di atas kuda besi mereka tiba-tiba saja berdatangan dari seberang lautan, tak pelak manusia cahaya bertanya-tanya apa yang telah terjadi.
"Kesalamatan untukmu wahai saudaraku, apa yang membawa kalian kembali kemari?"
Bayang-bayang itu berpandangan satu sama lain sebelum akhirnya dengan angkuh menjawab.
"Perang telah berakhir. Dan kami kemari untuk mengambil apa yang telah di janjikan pada kami."
"Dan apakah gerangan itu?"
"Menara itu... dan tanah ini..."
Kali ini para manusia cahaya benar-benar terkejut. Mereka tak ingat mendiang Raja yang terakhir pernah menjanjikan hal semacam itu bahkan di saat-saat terakhir krtuntuhan kerajaan utama. Maka merekapun kembali bertanya.
"Maafkan kami wahai saudaraku, tapi setahu kami mendiang Raja tak pernah menjanjikan tanah ini pada siapapun. Dan untuk menara itu... pemimpin kami yang mulia telah menitipkannya pada kami agar suatu saat jika Tuhan berkehendak, Dia yang terpilih dapat menyalakannya kembali."
Para bayang-bayang terdiam sesaat.
"Kami adalah putra Cahaya. Tanah ini dulu diberikan oleh Tuhan sang pembebas pada kami agar kami dapat berkuasa di atasnya. Namun sayang sekali, kami adalah bangsa yang lemah yang oleh bangsa-bangsa yang lebih berkuasa selalu ditindas dan dijajah."
"Sungguh malang nasib kalian. Maka marilah kita bersama-sama tinggal di tanah ini, dan marilah kita jaga menara ini, agar Tuhan memberkati kita semua."
Para bayang-bayang pun menyeringai, memandang manusia cahaya dengan perasaan jijik lalu berkata lantang.
"Tidakkah kau dengar? Tanah ini milik kami, menara itu pun demikian. Maka pergilah kalian dari tanah ini agar kami bisa berkuasa di atas tanah ini."
"Mengapa demikian hai saudaraku?"
"Kami adalah putra cahaya. Kami berbeda dengan kalian. Sudah takdir kami untuk berkuasa dan untuk itu kami menginginkan tanah ini dan menara ini."
Para manusia cahaya berbisik satu sama lain. Dan akhirnya salah seorang berseru.
"Jika demikian, kami tak bisa menerimanya!"
"Mengapa begitu? Perang telah berakhir dan kerajaan utama telah runtuh. Saat ini kekuasaan dunia ada ditangan para pembawa palang, dan mereka menjanjikan tanah ini pada kami atas bantuan yang kami berikan pada mereka."
"Kami tak tahu itu dan kami tak ingat pernah sekalipun menundukkan kepala kami pada para pembawa palang."
Para bayang-bayang menunjukkan ekspressi seolah-olah mereka sedang terpukul lalu mulai meratap.
"Oh... betapa malangnya kami, dihinakan oleh manusia-manusia yang lebih rendah, disiksa dan diusir bahkan dari tanah yang seharusnya menjadi milik kami... maka matilah kalian semua!"
Kuda-kuda besi para bayang-bayang mulai meringkik, menyemburkan api menginjak-injak para manusia cahaya. Wajah mereka menunjukkan duka cita tapi mereka yang tidak buta tentu kan melihat betapa para bayang-bayang sama tertawa, ketika darah tertumpah, ketika kepala terpisah dari tubuh, ketika satu persatu nyawa para manusia cahaya terpisah dari jasad mereka. Pun demikian ketika salah seorang diantara mereka roboh, mereka mulai berseru pada dunia.
"Oh betapa malangnya kami... lihatlah bagaimana kami dibantai hanya karena ingin hidup bebas di tanah ini!"
Dan alangkah terkejutnya para manusia cahaya, ketika raja-raja dunia, bahkan penguasa dua menara malah mengutuki mereka, manusia cahaya, karena hal itu. Sementara itu kuda-kuda besi milik para bayang-bayang tanpa henti membakar tanah itu.
Waktu berlalu, dan tembok-tembok sang bayang-bayang satu persatu mulai berdiri. Tak terhitung berapa banyak manusia cahaya yang telah terbunuh. Tapi menara itu masih tegak berdiri. Bayang-bayang dan kuda-kuda besi mereka belum menguasai seluruh tanah cahaya. Api masih menyala dan tanah masih merah membara. Para manusia cahaya masih setia pada janji mereka, bahwa mereka akan menjaga tanah cahaya selamanya, bahwa selama mereka masih ada menara itu takkan pernah runtuh. Maka lihatlah, batu-batu yang mereka lontarkan berubah menjadi pijar-pijar cahaya yang menghapuskan bayang-bayang sementara di belahan dunia yang lain bendera-bendera hitam telah kembali di kibarkan.
dikirim 145 8 minggu 6 hari yang laluTag:







