Pemandangan yang sungguh indah. Dipenuhi dengan warna hijau dan berlapiskan langit biru bak permadani. Suara angin yang berhembus sepoi-sepoi disambut kicauan burung yang bernyanyi bersaut-sautan. Sungguh menakjubkan. Udara yang begitu segar dan bersih. Begitu indah mata memandang. Dada terasa lapang dan bibir ingin selalu tersenyum. Disanalah tanah kelahiran Meiska. Gadis desa yang masih lugu tapi begitu ayu.
Read more (1975 words)
Seperti siang itu saat Meiska mengayuh sepedanya menuju ke halte bus. Di perjalanan kebun teh Meiska melihat segerombolan orang mengenakan seragam hijau-hijau sedang mengadakan gotong royong. Mereka adalah TNI. Dan semuanya berawal dari sana. Prambudi, salahsatu pemuda yang ada digerombolan seragam hijau-hijau itu. Pemuda yang berhasil memikat hati Meiska. Awalnya Meiska takut karena ia berpikir kalau tentara itu pasti orangnya keras dan kasar. Tapi Meiska tidak menemukan itu pada diri Prambudi. Prambudi cowok bersuku Jawa yang benar-benar bertutur bahasa sangat lembut dan sopan santun. Itu menandakan bahwa lingkungan keluarganya menanamkan nilai-nilai yang berbudi luhur. Meiska memanggilnya dengan sebutan Mas. Pacaran yang sangat singkat. Hanya dalam tempo 1 bulan. Waktu itu Prambudi langsung datang ke rumah Meiska dan menyampaikan maksud hatinya kepada keluarga Meiska. Bahwa dia bersungguh-sungguh kepada Meiska. Meiska sangat terkejut dan ada rasa takut juga karena dia belum begitu mengenal Prambudi. Dengan sikap bijaksana orang tua Meiska memberikan segala keputusan kepada Meiska.
“ Nak Pram…semua berpulang kepada Meiska, kalau Meiska memang mau,bagi Bapak dan ibu tidak masalah” jelas orangtua Meiska
“ Terimakasih Pak,Bu atas kepercayaannya kepada saya” jawab Prambudi mantap
Mereka terlihat sangat akrab. Prambudi sudah seperti bagian keluarga mereka. Prambudi anak yang baik dan mudah bergaul dan membawa diri.
Prambudi menanyakan kembali kepada Meiska perihal keseriusannya saat Meiska mengantarkannya ke pintu depan
“Mas serius…apakah kamu bersedia menjadi istri Mas” tanya Prambudi tanpa ada keraguan
“Tapi Mas…” ucap Meiska terhenti
“Kenapa kamu ragu memilihku sebagai pendamping hidupmu” Prambudi mencoba menyakinkan Meiska
“Menikah itu bukan hal yang mudah Mas, itu butuh persiapan” coba Meiska menjelaskan
“Ya Mas tahu..bahkan pernikahan bagi kita adalah ibadah dan seumur hidup”
“kasih aku waktu 1 minggu untuk memikirkannya” jawab Meiska mantap
“Terimakasih karena kamu masih mau mempertimbangkannya” ucap Prambudi sambil
melangkah pulang.
Tepatnya pukul 19.00Wib setelah satu minggu. Prambudi datang kembali menagih janjinya kepada Meiska. Dan Meiska telah memiliki jawabannya. Meiska menganggukan kepalanya tanda setuju dengan permohonan Prambudi. Prambudi sangat senang dan tertawa lepas.
Sabtu, 1 Juni 2006
Resepsi pernikahanpun di gelar. Meiska telah syah menjadi nyonya Prambudi setelah acara pemberkatan di gereja. Semua teman-teman Meiska seolah tak percaya dengan keputusan Meiska. Cewek lugu, pendiam dan belum pernah sama sekali pacaran telah berani mengambil l keputusan yang begitu sulit.
Meiska menangis meminta restu kedua orang tuanya. Ibunya mengusap pipi Meiska dengan lembut.
“Kamu harus hormat kepada suami ya nak…” Ibu Meiska berkata sambil menangis
“Ayah bahagia sekali karena putri Ayah sekarang sudah dewasa dan menikah” ucap Ayah Meiska menahan tangisnya bercampur senang
“Kamu harus selalu ingat akan Tuhan ya nak…biarlah kiranya kasih yang senantiasa menyelimuti hati kalian berdua” nasehat orangtua Meiska
Meiska sendiri bingung. Ia juga menangis. Ada perasaan sedih, ada juga perasaan senang. Meiska sedih kalau ia tidak akan bersama keluarganya lagi. Tidak boleh lagi bermanja-manja kepada ibu. Tidak boleh lagi merengek kepada Ayah.
Satu bulan menjalani bahtera rumah tangga, semua terasa menyenangkan. Mereka tinggal
dirumah dinas. Rumah dinas yang tak jauh dari tempat tugas Prambudi. Keluarga yang sangat harmonis. Setiap pagi selalu bangun bersama dan berdoa. Meiska sangat beruntung menjadi istri Prambudi. Hingga Prambudi mendapat tugas untuk pergi ke Aceh.
Sepulang dari kerja Prambudi memberikan amplop yang berisikan surat dinas keluar kota. Meiska membaca surat dinas yang diberikan Prambudi. Meiska hanya terdiam.
“Kenapa?” tanya Prambudi lembut
“Mas akan ditugaskan ke Aceh? Disanakan?” Meiska mulai sedih
“Iya..Mas mengerti. Tapi itu adalah tugas dan tanggungjawab Mas” Prambudi berusaha menjelaskan
“Meiska tahu Mas tapi…” Meiska semakin memburu percakapan
“Mas juga tidak ingin berpisah..tapi Mas harus bagaimana?”
“Seorang tentara itu harus siap tempur. Mas telah bersumpah untuk membela Negara ini”
Setelah mereka berbicara lama dan Prambudi berusaha menenangkan Meiska, akhirnya Meiska merelakannya.
“Mas akan berangakat 1 minggu lagi. Kamu mau Mas antar kerumah Ayah?”tanya Prambudi
“Tidak..ini rumah kita Mas. Aku akan tetap menunggu Mas disini. Dirumah kita” kata Meiska sambil bersandar manja di bahu Prambudi
“ Kamu menyesal menikah dengan Mas…”tanya Prambudi
“ Tidak..setidikitpun aku tidak menyesal. Karena Mas adalah jodoh yang Tuhan tentukan buat aku” jawab Meiska mantap
“ Terima kasih…” ucap Prambudi sambil mengecup dahi Meiska
Meiska merasakan ada air yang hangat mengalir diwajahnya. Airmata. Yah…airmata Prambudi. Meiska segara mengangkat wajah Prambudi.
“Kamu kenapa Mas..”tanya Meiska begitu lembut
“Mas pasti sangat merindukanmu”ucapnya sambil mengusap rambut indah Meiska
“Merindukan suaramu saat bernyanyi di pagi hari, merindukan senyumanmu saat Mas akan berangkat kerja, merindukan pelukmu saat Mas pulang kerja” ucap Prambudi sambil mengusapkan tangannya pada rambut hitam Meiska lagi.
“Ya…Meiska juga pasti akan merindukan Mas”
Senin, 9 Juli 2007
Meiska bangun lebih awal. Ia berdoa kepada Tuhan menyerahkan segalanya kepadaNya. Prambudi melihatnya dan ikut berdoa. Mereka berdoa bersama. Airmata Meiska mengalir membasahi pipinya. Ia terus berdoa untuk keselamatan Prambudi saat bertugas. Hingga suaranya hampir tak terdengar. Kemuadian mereka menaikkan pujian dan bersalaman. Prambudi menghapus wajah Meiska.
“Mas sangat beruntung punya istri seperti kamu” katanya sangat lembut
“Mas berharap kita akan panjang umur dan hidup bersama sampai kita tua nanti”
“Mas…jangan ngomong seperti itu. Kita pasti panjang umur, bersama-sama mendidik dan membesarkan anak kita” ucap Meiska dengan airmata yang tak dapat dibendung lagi
“oh ya Mas…kamu pengen anak kita yang pertama ini laki-laki atau perempuan” tanya Meiska
“Mas pengen laki-laki agar saat Mas pergi tugas keluar kota ada anak kita yang jagain kamu” jawab Prambudi sambil memencet hidung mancung Meiska lembut
“Kalau Meiska terserah sama Tuhan saja Mas” ucapnya masih bermanja-manja dipelukan Prambudi
“Oh ya sudah pukul 06.00Wib Mas…” ucap Meiska seakan tersadar
“Iya, Mas bersiap-siap sekarang ” Prambudi berdiri dan mengambil handuk menuju kamar mandi
Meiska menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi bagi suaminya,Prambudi. Meiska sengaja memasak makanan kesukaan Prambudi. Mereka makan bersama. Meiska menyiapkan seragam Prambudi.
“Tolong kancingkan baju Mas” pinta Prambudi manja
“Siap komandan, perintah dilaksanakan” ucap Meiska meniru seorang angkatan
Mereka tertawa. Kebiasaan Prambudi begitu senang memencet hidung mancung Meiska. Meiska menggantungkan tangannya di lengan Prambudi saat Prambudi menuju pintu.
“Mas…” panggil Meiska
“Ya..”
“Jangan lupa doa ya..”
“Iya..terimakasih, kamu juga jangan lupa doa y”
“Kalau kamu merasa kesepian pergilah sesekali kerumah Ibu” saran Prambudi
“Iya Mas” angguk Meiska
Lagi-lagi airmata itu ikut ambil bagian. Airmata Meiska jatuh. Meiska berusaha untuk tetap tersenyum. Prambudi memandanginya. Mereka saling berpelukan. Prambudi mengecup dahi Meiska begitu hangat
“Terimakasih karena telah mau mendampingi Mas”
“Mas pergi y…jaga diri baik-baik” ucap Prambudi sambil melambaikan tangannya
Meiska balas melambaikan tangannya. Prambudi terus melihat kebelakang sampai ia jauh. Meiska menangis sejadi-jadinya. Ya Tuhan..berkati suamiku. Pinta Meiska dalam hatinya.
Rabu, 11 Juli 2007
Meiska terasa mual dan pusing. Ia segera pergi kedokter. Meiska pergi sendiri tanpa ada yang menemani. Meiska harus bisa sendiri. Setelah ia memutuskan untuk menikah Ia telah berjanji tidak akan menyusahkan oranglain. Meiska sangat gembira setelah ia tahu kalau ia ternyata hamil. Alangkah bahagianya hati Meiska.
“Aku harus merahasiakan hal ini sampai Mas Prambudi pulang,kan..tidak lama lagi. Hari Sabtu Mas sudah pulang. Aku mau kasih supries. Sama orang Ibu juga. Biar kami sekalian berkunjung kerumah Ibu” ucap Meiska sendiri sambil menuju pulang
Meiska sangat gembira. Ia menjalani harinya dengan doa. Dan tidak lupa Ia panjatkan doa kepada Tuhan agar senantiasa melindungi suaminya, Prambudi.
Kamis, 12 Juli 2007 11.59WIB
Suasana di Aceh begitu kacau. Para GAM turun ke tempat kediaman penduduk. Baku tembakpun tak dapat dielakkan lagi. Prambudi sebagai ketua regu mau tak mau harus ikut terjun ke lapangan. Suasana begitu menegangkan. Prambudi melihat arah senjata salah seorang GAM kepada bocah yang melintas di depan mereka. Tanpa berpikir panjang lagi Prambudi segera berlari kepada bocah tersebut. Suara letupan senjata api mengeluarkan peluru yang menancap tepat kekepala Prambudi. Darah merah kental seketika muncrat seperti air. Seketika dunia begitu gelap. Tubuh tegap Prambudi tumbang seketika menyentuh tanah yang bersimbah darah. Bocah kecil itu menangis karena ketakutan.
Setelah situasi aman. Teman-teman Prambudi segera melarikannya ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Tapi…Tuhan berkehendak lain Prambudi meninggal di perjalanan menuju Rumah sakit.
Para anggota regu segera melaporkan kejadian itu kepada komandan satuan regu yang lainnya. Suasananya begitu mengharukan. Mereka kembali ke posko mereka. Mereka mengadakan upacara sebelum Prambudi diantarkan ke rumahnya. Begitu hening dan hikmah. Salah satu komandan regu melaporkan kejadian tersebut kepada atasan mereka. Atasan mereka menugaskan untuk menghubungi pihak keluarga Prambudi terutama istri Prambudi.
Jumat, 13 Juli 2007
Meiska terbangun oleh suara dering handphone Samsung miliknya.
“Kau ku tunggu….dirimu…hingga akhir hidupku”
“Kau ku tunggu dirimu…”
Meiska berdiri berjalan menuju meja dimana Meiska meletakkan handphonenya. Meiska segera mengangkat handphonenya
“Selamat pagi..” ucap suara lelaki
“Ya…selamat pagi” jawab Meiska masih belum sadar sepenuhnya. Ia melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 02.00 WIB pagi
“Dengan Nyonya Meiska Prambudi”
“Ya..benar”
“Diharapkan Ibu dapat berbesar hati karena Letnan Prambudi Hananto telah meninggal dunia saat menjalankan tugas”
“Apa????” seketika kaki Meiska lemas
Meiska tak tahu harus berkata apa. Meiska hanya terdiam tak bergeming.
“Ya terimakasih atas pemberitahuannya” ucap Meiska
Dengan tubuh gontai Meiska segera menuju ke sofa dan terduduk lemas. Meiska hanya diam seperti tak bernyawa. Para tetangga berdatangan kerumah Meiska mereka segera memberikan kata penghiburan kepada Meiska. Tangisan Meiska keluar saat ia melihat orangtuanya dan keluarga Prambudi datang. Meiska segera memeluk Ibunya dan menangis sejadinya. Ibunya berusaha menenangkannya.
“Sabar…sabar nak…ada rencana Tuhan yang indah bagimu” ucap Ibu Meiska dengan bijaksana sambil menangis.
Keluarga Prambudi membantu menyiapkan keperluan yang diperlukan untuk penyambutan jenajah Prambudi. Keluarga Prambudi memboyong Meiska dan keluarganya kerumah kediaman orang tua Prambudi. Setibanya dikediaman orangtua Prambudi Meiska langsung memeluk Ibu mertuanya. Mereka menangis bersama
“Maafkan Prambudi…ya nak” ucap Ibu Prambudi sambil memeluk Meiska
“Maafkan Prambudi yang tidak dapat menemani sisa usiamu”
“Yang tidak menjagaimu” ucap perempuan yang sudah tampak tua itu sambil menangis se
Suara ambulance telah terdengar. Peti diturunkan dari mobil ambulance. Mereka mengadakan upacara dan melepaskan tembakan keudara sebagai tanda penghormatan. Prambudi diserahkan kekeluarganya. Meiska menjerit sekuatnya.
“Mas….Mas Prambudi” jerit Meiska memanggil nama Prambudi
“Anak kita Mas….”jerit Meiska lebih kencang lagi. Seakan ingin mengeluarkan segala kesesakan yang ada didalam hatinya
Sampai Meiska tak sadarkan diri dan pingsan. Suasana begitu riuh. Tangisan terdengar dimana-mana.
Pukul 17.00 WIB
Acara sakramen gereja dimulai untuk acara pengkebumian Prambudi
“sampai bertemu….bertemu
Sampai lagi kita bertemu…sampai bertemu..bertemu
Tuhan Allah beserta engkau”
Setelah acara selesai peti Jenazah Prambudi di tutup. Meiska melihat hanya terdiam sambil airmata yang berurai di pipinya. Orangtua Prambudi menjerti tak kuasa. Meiska memeluk ibu mertuanya. Meiska tahu betapa sedihnya hati perempuan setengah baya itu. Sebagai acara terakhir atasan Prambudi menyerahkan piagam penghargaan beserta tanda kenaikan pangkat kepada Prambudi atas pengorbanannya yang telah meninggal saat menjalankan tugas. Lagi-lagi Meiska menangis menerima penghargaan itu.
Meiska teringat saat acara pemberkatan nikah mereka di gereja.
“Meiska Utama Apakah kamu bersedia mendampingi Prambudi Hananto saat senang,saat sedih,seumur hidupmu tanpa ada paksaan dari pihak lain sampai mautlah memisahkan kalian”
“Ya saya bersedia” ucap Meiska mantap
Kehidupan yang begitu cepat yang harus dilakoni Meiska sendiri.
Meiska diberikan kesempatan untuk memberikan kata-kata perpisahan terakhir.
“Terima kasih atas segala dukungannya kepada semua pihak. Aku tidak menyesal menikah dengan Mas Prambudi…sedikitpun aku tidak menyesal. Karena sebelum menikah dengannya aku berdoa kepada Tuhan meminta petunjuk padaNya dan aku percaya Mas Prambudi adalah pasangan yang disediakanNya bagiku. Doakan aku agar aku dapat menjalani hari-hariku dengan anak yang masih didalam kandunganku, buah cinta kami yang dianugerahkan Tuhan. Terimakasih Mas Prambudi karena telah menjadi ayah dari anakku. Selamat jalan” ucapnya dengan suara yang serak karena kebanyakan menangis
Setelah itu suara terompet mengiringi jenajah Prambudi ke tempat peristirahatannya. Para petugas mengangkat peti jenajah Prambudi dan memikul salib Prambudi. Suara tangis masih saja terdengar. Karena tidak kuat Ibu Prambudi tidak dapat ikut mengantarkan jenajah Prambudi. Meiska berusaha untuk tetap tegar. Dan berusaha untuk dapat menerima segalanya . Meiska bersyukur meskipun hanya singkat tapi Meiska merasa sangat bahagia. Terima kasih Tuhan buat segala sesuatu yang Kau rencanakan bagiku. Semua baik…semua baik apa yang Engkau perbuat didalam hidupku…semua baik ….Selamat Jalan suamiku Tercinta
Be the first person to continue this post
=D>
kayaknya kecepatan, deh...
tapi gak tau deh....
btw, mesra amat mereka...
jadi iri...
...menurutku ada masalah dengan kata depan di-. Selebihnya oke..^^
Keep writing, Bunda.. :D
---------------
----
Read and give your comments..
SEFRY'S STORIES & POEMS AT K.COM
cuma mau nambahin komentar yang lain. Mungkin akan lebih enak kalo antar percakapan juga dikasih spasi, jadi sebagai paragraf baru. Dengan itu akan lebih enak dibaca.
Yah, saran aja loh, bunda.
Among the Clouds Part 2 is released! Guys, please check it out while it's still hot! (click on this message)
Guys, please read my stories & poems at K.com ^_^Bunda, plot ceritanya menarik, tapi setuju sama komentar yang lain, rada kepanjangan.....
SIAPA TUHAN? SEKUATKAH ADEGAN DIALOG DENGAN TUHAN? TERLALU PANJANG BUNDA, BISA ATUR IRAMA GA BIAR GA BOSAN?
ya...gitu deh
tulis lagi yach
Bunda Ery..... kok sedih sih cerpenna..?
ditunggu ya yang lain cerpennya...
keep writing
bunda, tulisan' Di penuhi' gak usah pake spasi duung, biar jadi satu arti.... okk?>?? BAng!!
BAng!!