“Maaf, Mas. Mas tahu alamat ini dimana?”
“Oh, maaf, Mbak. Saya juga tidak tahu,” jawab yang ditanya seraya melambai dan mempercepat langkahnya.
Juni tercengang selama beberapa detik.
Akhirnya setelah menatap kembali kertas kecil yang ada di tangannya, ia kembali bertanya. Kali ini pada segerombolan ibu-ibu di depannya.
“Maaf mengganggu, saya sedang mencari alamat ini, Bu. Sudah hampir satu jam saya cari-cari, tapi…”
Read more (1417 words)
“Oh, ini rumahnya Ibu Teni. Itu loh, Neng, kira-kira rumah ketiga di gang itu, yang pagarnya warna kuning,” ucap salah satu diantara mereka.
“Mari saya antar, kebetulan saya mau ke arah sana. Ayo, Neng,” sembur ibu berbadan dua itu.
“Terima kasih, Bu,” ucap Juni tulus.
Diikutinya wanita itu sampai ke sebuah rumah kecil dengan pagar berwarna kuning dan sebuah pohon jambu besar di halamannya.
Sepanjang perjalanan yang singkat itu, Juni berusaha menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita hamil di sebelahnya. Tidak lebih dari lima menit, ia telah memberi informasi seperlunya tentang dirinya kepada wanita yang berbaik hati mengantarkan Juni ke tempat kos barunya di Jakarta.
Ketika mereka sampai di depan rumah kecil itu, Bu Etty, nama wanita ramah tersebut, telah tahu bahwa gadis cantik berkulit putih di sampingnya itu bernama Juni.
Bu Etty juga tahu bahwa Juni berasal dari Bandung, datang ke Jakarta karena ingin mengadu nasib dan mencari sekedar nafkah untuk membiayai adik-adiknya yang masih kecil.
Bu Etty tahu bahwa Juni tidak memiliki saudara satupun di Jakarta dan tahu tempat kos barunya ini dari iklan baris di Kompas.
Mereka pun berpisah setelah Juni mengucapkan terima kasih kepada Bu Etty yang meneruskan perjalanannya.
---
Juni tidak terlalu merasa betah tinggal di tempat kos barunya ini.
Ia harus berbagi kamar dengan Ratih dari Jember. Juni terpaksa melakukan itu karena dengan berbagi kamar, sewa kos yang harus dibayar per bulan hanya setengah dari sewa kos penuh. Itu artinya ia dapat lebih menghemat uang gajinya yang memang sudah sangat minim.
Sebulan setelah sampai di Jakarta, Juni diterima bekerja sebagai sekretaris pada salah satu perusahaan sekuritas di kawasan Senen.
Juni sadar dirinya telah cukup beruntung bisa mendapatkan pekerjaan secepat itu di kota yang kejam ini, apalagi untuk seseorang seperti dirinya yang hanya berbekal gelar diploma dari akademi sekretaris tak terkenal di Bandung.
Juni sendiri tidak tahu pasti mengapa dirinya begitu nekat untuk datang ke Jakarta dan mengadu nasib tanpa pegangan di kota besar ini. Juni hanya tahu bahwa ia harus mencari uang sebanyak-banyaknya agar bisa menyekolahkan ketiga adiknya dan menyenangkan ibunya.
---
Tiga bulanpun berlalu sejak ia pertama bekerja di kantor Pak Yanto ini.
Makin lama Juni makin merasa terhimpit oleh sumpeknya kota Jakarta dan mahalnya biaya hidup sehari-hari.
Jangankan untuk mengirim uang ke Bandung, untuk keperluan hidupnya saja Juni selalu kekurangan. Segala cara telah dicoba untuk dapat menghemat gajinya yang tidak sampai satu juta rupiah per bulannya.
Juni hanya makan sekali sehari, itupun dengan lauk yang sama setiap hari.
Ia juga mencoba menghemat dengan pulang berjalan kaki dari kantor setiap sore walaupun itu berarti ia harus berjalan selama setengah jam lebih.
Juni tidak pernah mengeluarkan uang kecuali untuk membeli makanan sehari sekali di warung Mpok Suti, biaya kos dan transportasi sekedarnya.
Sebulan sekali ia harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli keperluan lainnya seperti sabun, odol, shampo, dan softex.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan, pikirnya bingung dalam hati.
“Jun, Juni, tolong ke sini sebentar.”
Dialihkannya tatapan kosongnya, yang selama beberapa menit sempat terpatri di langit-langit kantor, ke arah sumber suara.
“Oh, Pak Yanto, maaf Pak, saya tadi tidak sadar Bapak ada di situ,” ujarnya gugup.
“Ya sudah tidak apa-apa. Coba ke ruangan saya sekarang ya, saya mau bicara.”
Hati Juni serasa terlepas dari rongga dadanya. Ia sungguh yakin bahwa hari ini adalah hari terakhirnya bekerja karena kelalaiannya tadi.
Ya Tuhan, tolong aku, batinnya.
Dengan lunglai, diikutinya Pak Yanto memasuki ruangan besar itu. Diamatinya sosok tubuh jangkung di hadapannya itu berjalan pelan, duduk, lalu diam.
“Begini Juni, saya perhatikan, berat badan kamu turun banyak sejak pertama kali bekerja di sini.”
Juni terkejut. Tak disangka, atasannya, yang sekaligus pemilik perusahaan itu, akan membahas hal tersebut.
“Maksud Bapak?” tanya Juni jujur.
“Ya, saya perhatikan, kamu sekarang makin kurus. Apa ada masalah? Masalah pekerjaan atau pribadi? Jangan sungkan-sungkan, Juni. Saya sebagai pemilik perusahaan ini tidak pernah menutup mata akan masalah pegawai-pegawai saya. Mengapa? Karena semua itu akan mempengaruhi produktivitas kerja kalian. Jadi, coba terus terang saja sama saya. Ya?”
Juni tak tahu harus berbuat apa.
Intuisinya mengatakan, ini sesuatu yang tidak pada tempatnya, atasan menanyakan permasalahan pribadi pegawainya. Sementara akalnya berpikir bahwa apa yang dikatakan Pak Yanto tersebut ada benarnya juga. Sebagai atasan, ia sangat berkepentingan dalam hal produktivitas perusahaan dan wajar saja jika ia ingin mencoba membantu.
Pada saat bersamaan, perasaan Juni seakan mau meledak.
Beban berat yang dirasanya selama ini seolah mendapat tampungan baru dan ia pun luluh lantak.
Tak terasa air mata menetes satu demi satu di pipinya yang putih, ke bibir, dan ke lehernya yang semakin mengurus. Ia berusaha mengatakan sesuatu, tapi tenggorokannya terasa sakit dan tidak ada suara apa pun yang keluar kecuali sedu sedan kecil.
“Ya sudah, sekarang kamu tenangkan diri dulu, nanti sore baru kita bicara lagi,” ucap Pak Yanto seraya bangkit dan membuka pintu untuk Juni.
Tanpa bisa berkata apa-apa, Juni mengangguk dan tergesa-gesa keluar sambil berusaha menghilangkan bekas air mata di pipinya.
---
Tak seperti biasanya, Juni tetap di kantor meskipun waktu telah menunjukkan pukul enam sore. Memang jam kerjanya berakhir setiap pukul lima sore, tapi tadi secara khusus Pak Yanto berpesan supaya ia tidak pulang dulu dan menunggu beliau sore ini.
Dengan sedikit gelisah, ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya sambil sesekali melirik jam kecil di atas meja kerjanya.
Terus terang, Juni ingin sekali pulang. Badannya terasa penat, hatinya gundah, dan ia pun lapar sekali. Tadi pagi Juni hanya makan roti coklat yang dibelinya di warung pinggir jalan dekat kantor. Apa boleh buat, perintah atasan sebaiknya tidak dilanggar, kalau tidak mungkin ia akan dipecat.
Kadang tanpa sengaja didengarnya suara Pak Yanto yang sedang berbicara dengan klien di telepon, dan entah mengapa jantungnya terasa berdebar-debar.
“Juni, ayo, saya antar kamu pulang.” Juni terkesiap.
Dilihatnya Pak Yanto, yang telah siap dengan kunci mobil di tangan kirinya, berjalan ke arah pintu keluar.
“Tidak usah Pak, saya pulang sendiri saja.”
“Jangan begitu, kamu sudah menunggu saya, sekarang sudah kewajiban saya mengantar kamu pulang.”
“Tapi, Pak,” Juni berusaha menolak.
“Sudah, ayo, ikut saya,” tukas Pak Yanto tegas.
---
Di dalam mobil, Juni hanya bisa diam.
Hatinya gelisah, pikirannya bertanya-tanya.
Apa kata orang nanti, mengapa Pak Yanto tiba-tiba berbaik hati mengantarnya pulang, sebaiknya turun dimana, pikir Juni.
“Alamat kamu masih sama seperti yang tertera di CV, Jun?” tanya Pak Yanto di tengah keheningan mereka.
Juni mengangguk kecil.
Ia tidak tahu persis apa Pak Yanto melihat anggukannya itu, yang jelas atasannya itu kembali diam dan berpaling ke jalan raya di depan mereka.
“Setahu saya, daerah kamu itu macet sekali jam-jam pulang kerja seperti sekarang ini. Kebetulan saya juga lapar, jadi kita makan dulu, ya,” kata Pak Yanto sambil melihat ke arah Juni.
Kembali Juni hanya bisa mengangguk, karena ia juga merasa lapar sekali, bahkan perutnya sudah terasa sakit.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah berada di sebuah restoran kecil yang sepi pengunjung. Hanya ada mereka berdua dan beberapa pelayan yang siap sedia menunggu pesanan.
“Kamu makan yang banyak ya. Tenang saja, saya yang bayar,” ucap Pak Yanto lembut.
Hampir dua jam mereka berdua di restoran itu, dan seketika itu pula hidup Juni berubah.
---
Setiap bulan, Pak Yanto memberi uang yang jumlahnya dirasa Juni sangatlah besar. Setiap bulan pula, Juni mengirim hampir seluruh uang yang didapat itu kepada ibunya di Bandung.
Dengan uang tersebut, ibunya yang janda sekarang bisa membuka warung kecil-kecilan di rumah dan membiayai ketiga adik Juni. Bahkan dalam suratnya bulan lalu, ibu Juni juga mampu membeli televisi baru dan sepeda motor dengan hasil tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari uang kiriman Juni.
Juni juga sudah tidak tinggal di tempat kos lamanya. Ia dikontrakkan sebuah rumah mungil di daerah pinggiran Jakarta oleh Pak Yanto. Di rumah itulah, Pak Yanto datang beberapa malam dalam seminggu mengunjungi Juni.
---
Tak terasa, sudah tepat dua tahun berlalu sejak pertama kali Juni diantar pulang oleh Pak Yanto dan makan di restoran kecil yang sepi pengunjung.
Juni pun menangis.
Kali ini bukan dalam hati lagi.
Juni menangis sambil menulis surat terakhir untuk ibu tercinta dan ketiga adiknya tersayang.
Dipandanginya lamat-lamat surat itu, sambil terus meminum pil tidur ilegal yang dibelinya di Glodok.
Juni merasa mengantuk sekali.
Ia ingin tidur.
Ibu, aku ingin pulang, aku lelah, aku mau tidur, tak usah bangun lagi, lelah sekali, pikir Juni sesaat sebelum dirinya melayang-layang di alam tak berbatas.
---
Esoknya, Pak Yanto menemukan Juni sudah tak bernyawa.
Perempuan muda dan cantik yang telah membuatnya jatuh cinta itu kini terbujur kaku dan pucat.
Di dekat tubuhnya yang dingin tergeletak sepucuk surat bertinta hitam.
“Ibu, maafkan Juni. Juni seorang pelacur, Bu.”
*Untuk semua Juni-Juni di dinginnya dunia ini.*
weweew
hampir nangis aku ah
setuju sama komen temen2
ceritanya ngena banget
ending yang menawan^^
spoiler yaaah
kelemahanku, hiks.. hiks...
nice story...
setuju sama komen sebelumnya..
rapi nulisnya....simple...
keep writing ya
seperti ini udah berkali2 ditulis/dikisahkan kembali. tapi tulisan ini pas dan nggak terlalu klise. Selain judul yang terlalu menjelaskan endingnya, tulisan ini rapi sekali. keep writing.