Seorang gadis muda belia yang kira-kira berumur 16 tahun membaca sebuah majalah lokal Australia yang total keseluruhan isinya menggunakan bahasa Inggris, begitu asyiknya dia seolah tidak dapat diganggu oleh siapapun.
Namun tangannya tetap gatal untuk meraih satu per satu keripik kentang kesukaannya yang tergeletak begitu saja di sisi sebelah kanannya, di atas ranjang bersprei merah muda motif hati kecil-kecil. Sementara musik di ipod-nya tak kunjung berhenti memenuhi indera pendengarannya.
Read more (7385 words)
Sesekali dia menyenandungkan nada musik itu, sebuah musik klasik kesukaan ibundanya, yang juga dia sukai.
Hingga sebuah halaman membuatnya terbatu di tempat, musik seolah berhenti menggema di telinganya, lidahnya terasa kaku untuk mengunyah sisa keripik kentang yang memenuhi mulutnya.
Majalah itu berisi tentang profil ibundanya tercinta yang diperuntukan bagi orang-orang yang ingin mengenang kembali jasa ibundanya semasa hidup, seorang astronom kenamaan asal Prancis yang menikah dengan seorang dokter asal Indonesia. Kemudian melahirkannya, sesosok gadis yang sangat sulit untuk menerima dirinya memiliki kesamaan dengan orang lain sehingga dia selalu mencari cara untuk terlihat berbeda, juga gadis yang selalu mencari arti dari cinta-kasih yang pernah didapatkannya bertahun-tahun silam dari seorang wanita paruh baya yang kini profilnya sedang dibacanya.
Dibaliknya halaman itu sekilas lalu, sudah cukup, dia tidak ingin mengingat kenangan itu lagi, tidak sama sekali.
Air mata mengalir di pipinya, tepat menetes di atas paragraf bertuliskan:
Lubang hitam muncul ketika sebuah bintang yang besar dan padat (masif, berukuran 8-100 kali massa matahari) di sebuah supernova meredup dan mati dengan membakar seluruh tenaga nuklirnya. Gaya gravitasi menarik berat maha besar dari lapisan-lapisan luar bintang itu untuk ikut meluruh ke arah inti.
Dia terngiang-ngiang masa tujuh tahun silam, ketika dia masih berusia 9 tahun. Ibundanya mengatakan tentang sesuatu yang terdengar seperti “lubang hitam”, iya, dia masih mengingatnya.
“Ma.... kenapa ayah tidak pernah pulang?” tanya seorang gadis kecil kepada ibundanya, seraya lalu menggelayut manja lengan ibundanya yang tidur terlentang di sebelahnya menyanyikan lagu nina bobo untuknya.
Ibundanya tersenyum, “Ayahmu hanya belum menemukan tujuannya, sayang.” Jawab Ibundanya kemudian membelai rambut putri semata wayangnya itu dengan kasih.
“Kapan Ayah akan menemukan tujuannya, Ma?” tanya gadis kecil itu lagi, begitu ingin tahu.
“Saat Ayahmu bisa keluar dari lubang hitam yang memenjarakannya.” Jawab Ibundanya singkat, dengan tangannya dia menyandarkan kepala putrinya di bahu sebelah kanannya lalu kemudian membelai rambut putrinya lagi dengan penuh kasih.
Dia rindu sosok ibundanya yang terakhir menciumnya enam tahun silam, ketika dia masih berusia 10 tahun.
“Ma, ayah mau kemana? Kenapa Mama menangis? Kenapa Ayah berteriak-teriak, Ma?” tanya gadis kecil itu pada Bundanya, bersimpuh di sebelah Bundanya yang sedang menangis.
Ibundanya lalu mencium kening putri pelangi kesayangannya itu.
Sang gadis tersenyum bahagia, namun tetap tak kunjung menghentikan pertanyaan-pertanyaannya, benar-benar gadis kecil yang sangat kritis.
“Ma, Ayah kenapa nggak pernah peduli pada kita? Ma? Ayah kenapa tak pernah pulang? Ma..”
Panggil gadis kecil itu, Ibundanya menangis semakin keras.
“Mama.. jangan menangis lagi. Ada Dewi di sebelah Mama.” Ucap gadis kecil itu, begitu tulus. Ibundanya mendekap putri kecilnya itu dengan sekali waktu, kemudian mengecup ubun-ubunnya.
Semakin gadis belia 16 tahun itu mencoba memikirkannya, semakin tak menentu juga arah pikirannya. Dia kemudian tertidur, sangat pulas.
***
Mimpi. Dan seorang gadis muda terkaget karena mengalaminya lagi, untuk kesekian kalinya. Mimpi yang terulang kembali. Mimpi yang mengambil memori nyatanya, seolah tak bersedia membuang memori itu ke alam bawah sadarnya.
Sinar mentari masuk melalui celah kaca jendela pesawat yang pecah tak beraturan. Puing-puing pecahan kaca menusuk bagian-bagian kursi tempat duduk penumpang dan sebagian lagi mengenai kulit orang-orang yang masih tak sadarkan diri kala itu. Gadis itu beranjak dari tempatnya tertidur sebelumnya, dia memeriksa seluruh tubuhnya, tidak ada satupun belahan kaca melukai permukaan kulitnya. Dia kemudian melangkahi tubuh-tubuh pria dan wanita yang memenuhi lantai ruangan itu, ruangan kokpit pesawat. Kepalanya pusing, dia berjalan tak menentu, seolah ingin menepati janjinya, dia mencari dan terus mencari sesosok pria yang begitu dia kenal selama bertahun-tahun belakangan.
Dia berjalan terus ke arah sayap pesawat sebelah kanan. Ditemukannya sesosok pria tampan yang dikenalinya dan menjadi pendamping hidupnya selama dua tahun terakhir. “Bayu..” gumamnya.
Hampir sebagian tubuh Bayu terluka terkena pecahan kaca, lututnya basah oleh darahnya sendiri.
Bayu terbangun. “Dewi...” ucapnya pelan, kemudian menatap ke arah sekeliling.
Ia terus menatap tak percaya, melihat ke sekeliling pesawat berulang-ulang, kemudian menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan tidak percaya, hanya satu kalimat saja yang tersirat dari wajah ketakutannya itu, “Dimana kita? Di dunia lain?”
Dewi mengangguk, Dewi memang terkadang dapat menjadi seorang mind reader, pembaca pikiran, namun hal ini terjadi hanya pada masa-masa tertentu saja dan pada orang-orang tertentu saja. Tiap orang dapat melakukannya jika mereka memiliki ikatan yang tak kasat mata, seperti Bayu yang memiliki ikatan benang merah tak terlihat di ujung kelingkingnya yang terhubung dengan kelingking Dewi.
Mereka berpelukan erat, degup jantung mereka berpadu, seirama. Begitu erat, takut kehilangan. Belum cukup dunia memporak-porandakan kehidupan pribadi mereka selama ini sehingga kini mereka menjadi terkait, dan kini... dunia lain justru menanti mereka...
Mereka tidak berkata-kata kemudian, Bayu bangkit, memaksakan dirinya untuk memijakkan kakinya di lantai pesawat lalu berdiri tegak, berhadap-hadapan dengan kekasihnya yang bertinggi badan beda 2 senti dengannya. Dia bertinggi badan 172 sentimeter sementara kekasihnya itu hanya 170 sentimeter.
Mereka melihat sekeliling, pecahan kaca, darah, dan bau minyak.. bau minyak bahan bakar. “Sepertinya ada yang nggak beres di sini.” Ucap Bayu, kemudian mereka berlarian ke arah penumpang lain yang masih tertidur tak sadarkan diri.
Dengan segenap usahanya, Bayu walau dengan lututnya yang berdarah-darah berlarian menuju ke arah seorang wanita yang posisinya paling dekat dengan mereka. Seorang wanita, cantik dan muda, berambut coklat mengkilat dengan potongan rapi tergolek lemah tak berdaya, Bayu mencoba membangunkannya. Sementara Dewi berlarian ke arah kokpit pesawat, tempatnya pingsan sebelumnya.
Melinda, Carlo, Gineva, dua co-pilot, pilot, dan dua orang yang tak dia ketahui namanya, masing-masing terbujur kaku di tempatnya masing-masing, bersimbah darah yang tumpah ruah dari tancapan kaca yang menancapi bagian tubuh mereka.
Dihampirinya sosok gadis itu, rambutnya yang hitam kecoklatan dan sedikit terlihat kemerahan karena darah yang mengalir dari dahinya dan sebagian kepalanya, matanya tertutup, Dewi tak dapat lagi menyelami mata itu, bola mata hitam pekat yang tadi begitu bercahaya dan berkilat-kilat, bola mata yang begitu jujur, sirat yang menunjukkan ketertarikan yang tidak ingin ditutup-tutupi, semua itu milik Gineva. Dan kini..
“Gineva..” Panggil Dewi, dengan halus dia menggerakkan tubuh Gineva.
Dia masih tak sadar, “Gineva...” teriaknya, Gineva masih tak sadarkan diri. Dewi berteriak semakin kencang.
Bau minyak bahan bakar yang begitu pengat mencapai indera penciumannya lagi, ini saat genting, keadaan darurat. Entahlah, mungkin beberapa menit lagi pesawat ini akan meledak dan terbakar, tak menyisakan apapun lagi.
Dia kemudian menuju ke arah seorang pria berkebangsaan Jerman dengan rambut ikal coklatnya yang juga nampak kemerahan, kepala pria itu bersandar di sebelah tiang besi yang menyangga tempat duduk pilot dan co-pilot, rupanya kepala pria itu terbentur sehingga berdarah-darah seperti itu. Carlo..
“Carlo... wake up...” teriak Dewi, tangisnya menghambur. Dia takut semua teman-temannya yang baru dia kenali itu, meninggal. Dia takut sekali.
“Melinda, anyone.. Please, wake up!!” teriakannya menggema, hingga ke luar ruang kemudi.
“Dewi..” Bayu memegang bahunya, kemudian tersenyum, “percaya padaku, semua akan baik-baik saja.” lanjutnya, Dewi menatap kekasihnya itu begitu lekat, terkesima atas tatapan magnetisnya itu.
Kemudian, Bayu menggotong satu per satu orang yang ada di ruang kemudi itu ke luar pesawat, ke sebuah tanah lapang yang jaraknya cukup jauh dari pesawat, dia sangat khawatir pesawat akan meledak kapan saja, Dewi takjub, kekasihnya ini begitu mempesona, dia adalah wujud dari seorang mahasiswa yang terbiasa dengan rumus “bertindak” dibandingkan “berteori”, semua hal yang tak terpikirkan oleh Dewi itu dilakukannya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Setelah itu, dia memindahkan ransel dan backpack serta beberapa barang bawaan yang terlihat di pesawat ke sebelah orang-orang yang terselamatkan itu, begitu tenang dan tanpa mengeluarkan sepatah kata.
“Tolong bantu aku untuk menyadarkan mereka.” ucap Bayu kalem, setelah itu dia tak berkata-kata. Sekeras-kerasnya Dewi berusaha, yang dia dapatkan hanyalah kata percuma, karena tak ada satupun dari mereka terbangun, maka dia putuskan untuk mencari air di sekitar daerah itu dengan ember yang Bayu temukan di dalam pesawat. Sebuah ember ternyata bisa menjadi begitu berarti di saat seperti ini.
Dengan ember penuh dengan air yang begitu jernih di dalam sebuah ember dan keringat yang mengalir deras di tubuhnya dan sekitar pelipisnya, Dewi kembali dan ketika itu dia melihat keuletan calon dokter yang ada di hadapannya kala itu, Bayu menuju ke arah penumpang yang terluka, ke arah Gineva, memperhatikan kondisi tubuh gadis sintal ini, hampir sebagian tubuhnya penuh luka, terutama kulit bagian atas kepalanya, serta di leher dan kepala bagian belakang. Bayu kemudian menekan nadi di samping kepala tepat di bagian telinga Gineva untuk menghentikan pendarahan di bagian atas kepalanya dan lalu mengarahkan tekanannya ke arah leher di bawah telinga, kemudian Ia mengambil beberapa helai kaos dalamnya dan dia ikatkan pada nadi dekat bagian tubuh Gineva yang terluka.
Hal yang sama dia lakukan pada penumpang yang lain, pada Carlo, Melinda, dan lima orang lainnya.
Dewi menatap Bayu terus menerus, tak henti-henti, inilah sosok calon dokter yang tak pernah dia jumpai di rumah sakit manapun ketika dia sakit dan sekarang justru dia jumpai di sini, inilah sosok dokter yang serupa seperti dokter yang terdapat di majalah-majalah dan literatur penuh inspirasi yang pernah dia baca, seorang dokter yang begitu tulus mengobati pasiennya bahkan di daerah pedalaman sekalipun dan tanpa upah selembarpun. Inilah sosok dokter itu dan dokter itu adalah orang yang dia cintai setengah mati, Bayu.
Bayu menatap ke arahnya, kelelahan tapi sirat matanya begitu tulus, senyumnya merekah dan begitu manis, pria ini sangat tidak pantas untuknya, pria ini lebih pantas ditujukan kepada seorang gadis yang lebih sempurna dibanding dirinya.
“Ini baru awal, wi.. akan ada banyak hal yang kita lalui bersama, seumur hidup kita.. seperti ini, penuh pengorbanan kepada dunia kita. Ini wujud cinta kita.” Ucap Bayu, senyum masih tak surut dari wajah tampannya itu. Dewi tak mampu berkata-kata karena jika ada satu kalimat saja yang ingin dia sampaikan pada Bayu, kalimat itu adalah “aku benar-benar nggak layak mendapatkan pria sesempurna kamu.”
“Kamu pasti nggak akan percaya kita ada di mana.” Jawab Dewi, iya hanya itu yang dia jawab karena tak pernah sekalipun dia mampu melontarkan kalimat yang begitu bergelora di seluruh jiwanya itu, sebuah kalimat sederhana, “aku benar-benar nggak layak mendapatkan pria sesempurna kamu.”
Bayu menatap Dewi lekat, gara-gara sejak tadi dia begitu sibuk mencurahkan jiwa dokternya, dia bahkan tak sadar mereka sejak tadi sedang berada di mana. Dia menatap ke sekeliling, ke atas.. ke arah langit. Langit yang biru, awan yang sama dengan awan yang dia lihat selama ini, awan sirus itu.. seperti awan yang dilihatnya di pojok langit ketika dia terduduk di loteng kamarnya dan memainkan gitar ayahnya, ketika dia menyanyikan lagu-lagu yang dicurahkan dari hatinya dan menjadi sebuah syair bernada, lagu-lagu dari seseorang yang berhati dingin, lagu-lagu dari dirinya.
Perlahan awan itu membentuk sebuah wajah, wajah Dewi. Iya, tak salah lagi, awan itu masih awan yang sama. Lalu apa yang berbeda? Di mana sebenarnya mereka berada?
Ditatapnya tanah yang dipijaknya, tanah berumput hijau yang potongannya tak beraturan jika tak bisa disebut semrawutan. Persis lapangan rumput tempat dia bermain bola bersama teman-temannya ketika dia kecil, lalu apa yang berbeda dari tempat ini.
Dia menatap Dewi dengan penuh tanda tanya. Dewi tersenyum dan menarik tangan Bayu ke arah tempat dia menimba air beberapa menit yang lalu, mereka meninggalkan tubuh-tubuh yang masih berbaring tak berdaya itu. Mereka berlarian jauh menuju sebuah tempat.
Sebuah dunia, persis dunia bumi berjuta-juta tahun silam.
Betapa takjubnya Bayu melihat berbagai bentuk pohon berduri yang aneh menjulang tinggi hampir 250 kaki, burung-burung besar berwarna menarik seukuran truk pengangkut batu beterbangan di atas mereka, insekta seukuran sepeda motor balap pun tak mengurungkan niat mereka untuk melihat-lihat lebih luas.
Mereka berada di dunia purbakala. Dewi tersenyum, Bayu menarik nafas, untunglah tidak ada hal buruk menimpa mereka, dan akhirnya mereka melewati waktu, bergerak menuju masa lalu bumi. Dewi tahu benar dia sedang berada pada masa mesozoikum.
Dia menatap ke sekeliling, begitu terkesima. Di sudut sebelah utara tempatnya berdiri, dilihatnya tyranosaurus yang memiliki tinggi sekitar 12-30 meter. Ini menakjubkan.
“Mesozoikum. Kita sedang berada pada masa itu.” ucap Bayu pelan, Dewi mengangguk dan tersenyum, perlahan mengingat kenangannya.
Masa Mesozoikum atau disebut juga masa tengah, berlangsung kurang lebih 180-185 juta tahun. Selain terdapat binatang menyusui yang tingkatannya rendah, jenis reptil dalam ukuran amat sangat besar mengalami perkembangan pesat, misalnya dinosaurus, atlantosaurus, dan jenis branchiosaurus atau tyranosaurus yang panjangnya sekitar 12-30 meter.
Seisi kelas bertepuk tangan riuh, gadis itu tersenyum bangga, menatap ke arah seorang pria yang tetap tak bergeming, jangankan niat memberikannya tepuk tangan seperti teman-temannya yang lain ketika dia presentasi di depan kelas, niat meliriknya walau sekejap pun tidak dilakukan pria itu. Tapi gadis itu tetap melanjutkan presentasinya.
Seperti masa-masa yang lain pun, masa mezosoikum ini pun berlalu. Digantikan oleh masa Neozoikum atau dikenal juga dengan masa baru. Saya yakin teman-teman semua sudah mengetahui sejarah penyebab dari pergantian masa mezosoikum menjadi masa neozoikum. Ada banyak teori mengenai hal ini dan teori yang paling dipercaya hingga saat ini. Para ahli menduga bahwa kepunahan dinosaurus terjadi 65 juta tahun silam.
Dihentikannya sejenak, diurutnya kertas-kertas coretan yang berhamburan di meja tempatnya melakukan presentasi. Kemudian diambilnya secarik kertas.
Diperkirakan, pada masa itu kepunahan tidak hanya dialami oleh dinosaurus, nasib tragis yang sama secara bersamaan juga menimpa sejumlah besar makhluk hidup lainnya di udara, laut dan daratan di atas bumi. Yang punah dalam bencana waktu itu termasuk binatang laut, juga ada Pterodaktil, binatang melata yang bisa terbang, amonit, belemnit, dan binatang laut yang tidak bertulang belakang. Tumbuhan plankton pun ikut disapu bersih oleh bencana itu.
Seisi kelas makin antusias. Gadis itu menarik nafas sejenak, seolah apa yang akan disampaikan selanjutnya akan begitu panjang sehingga ia mungkin tidak akan sempat menarik nafas walau hanya sekejap. Sebelum melanjutkannya, dia tersenyum ke arah teman-teman sekelasnya, ciri khas gadis ini tiap melakukan presentasi, memberikan perhatian kepada penyimak.
Ini benar-benar sebuah kepunahan dashyat, tak tanggung-tanggung. Dalam sebuah diskusi pada tahun 1980, seorang ahli Geologi Amerika, berdasarkan penelitian mereka telah menjelaskan wujud yang hidup tentang sepotong kisah mendebarkan pada 65 juta tahun silam.
Suatu senja dengan sinar matahari yang masih terang benderang, di hutan tropis di bawah sorotan sinar mentari yang terik, sejumlah besar dinosaurus yang berbeda spesies dan bentuk dengan tenang menjalankan kegiatan sebagaimana biasanya, berjalan santai di pinggir danau atau mencari makanan di air dan tempat lainnya.
Tiba-tiba sebuah gemuruh memecahkan keheningan dunia itu. Sebuah meteor yang berdiameter beberapa kilometer besarnya dengan keras menerjang bumi. Akibat satu benturan ini sangat mengerikan, setara dengan kekuatan ledakan ratusan senjata nuklir yang terjadi dalam sekejap, setara dengan energi 1015 ton TNT. Gulungan debu membumbung ke angkasa, menyebar, dan akhirnya membuat segenap bumi tertutup.
Seisi kelas menahan nafas, ada kepedihan di dalamnya, perasaan kehilangan makhluk sejenis dinosaurus yang begitu menakjubkan, yang tinggi besar tak tertandingi. Guru yang mengajar di kelas itu pun menyadari, ada atmosfer tak kentara di kelas itu, seperti biasanya, guru itu tahu benar, muridnya itu memberikan sentuhan, bukan hanya teori belaka, tapi di dalam tiap presentasinya, selalu terdapat jiwa. Jiwa yang mengajak segenap penyimak larut di dalam isi presentasinya.
Hal ini menyebabkan fotosintesis tumbuhan terputus, karenanya sejumlah besar tumbuhan layu dan mati. Karena itu, dinosaurus pemakan tumbuhan pun mati satu per satu, disusul oleh dinosaurus karnivora, dan makhluk lainnya. Sumber penjelasan saya ini berasal dari situs www.erabaru.or.id , cukup akurat.
Gadis itu tersenyum, ada gelora kekaguman tersendiri di dadanya ketika melihat seisi kelas begitu memperhatikan apa yang disampaikannya, dan yang disampaikan olehnya adalah sesuatu yang juga begitu menarik minatnya. Melihat ketertarikan teman sekelasnya, dia menyadari, dia tidak sendiri. Ada banyak orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengannya.
Bukan tidak mungkin juga hal ini bisa terulang. Jadi, mari kita perhatikan bumi kita ini, kita masing-masing sebagai generasi muda harus memperhatikan pergerakan bumi kita semasih kita memiliki kesempatan. Saya percaya tiap masa akan menciptakan suasana baru dan peradaban yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, kita dikaruniai akal oleh Yang Di Atas, supaya kita tidak mengalami hal yang sama seperti yang dialami dinosaurus berjuta-juta tahun yang lalu, kita bisa menghindarinya. Hanya sekian yang dapat saya sampaikan kali ini, terima kasih.
Seisi kelas bertepuk tangan dengan riuh, dan ini bukan yang pertama kalinya. Gadis itu memandang ke arah pria yang tidak henti-hentinya mencoreti buku yang ada di hadapannya. Gadis itu tahu benar pria itu penggemar berat komik dan sejenisnya. Yang membuatnya tak habis pikir, betapa presentasinya tak pernah menimbulkan kekaguman di mata pria itu, karena itu di mata gadis itu, pria itu selalu terlihat begitu misterius dan terkesan angkuh.
“Hei, kenapa melamun?” tanya Bayu kemudian,
“Aku ingat kejadian dulu waktu aku presentasi tentang masa mezosoikum ini.” jawab Dewi,
“Pelajaran Sejarah ‘kan?” jawab Bayu,
“Aku pikir kamu nggak ingat.” Jawab Dewi,
Bayu tersenyum sekilas, menatap ke arah langit yang begitu cerah.
“Kamu kelihatan nggak memperhatikanku waktu itu.” lanjut Dewi,
“Caraku memperhatikan kamu beda dengan cara orang lain memperhatikan kamu. Seperti juga cara aku mencintaimu, nggak akan ada yang menyamainya.” Jawab Bayu seraya tersenyum dan merangkul Dewi.
Hati gadis mana yang tidak akan bergetar jika diperlakukan seperti ini. Apalagi setelahnya, Bayu menggenggam erat tangan Dewi.
“Dewi...” terdengar suara seorang pria dari arah lapangan rumput tadi, “Dewi..” semakin keras, seolah pemilik suara itu semakin mendekat ke arah mereka, “Dewi..” kali ini suara seorang wanita, sedikit parau.
Dewi menoleh dan kemudian mendapati Melinda berada di belakangnya, “Kami mencarimu kemana-mana.” Ucap Melinda, Dewi tersenyum, lilitan kaos milik Bayu masih terikat di lengan dan kaki Melinda.
“By the way¸ thank you..” ucap Melinda malu-malu, “untuk pertolongan pertamanya..” lanjut Melinda buru-buru.
Sebuah ledakan keras terjadi, begitu memekakan telinga mereka. “Bayu.. jangan bilang..” mereka kemudian berlarian menuju ke arah lapangan rumput. Beberapa meter dari lapangan rumput itu pesawat mereka melahap dirinya sendiri, api-api yang berasal dari tubuh pesawat memakan pesawat itu sendiri, begitu mengenaskan. Sementara itu, beberapa orang yang sudah sadarkan diri kemudian mengambil ransel dan barangnya masing-masing seolah tak rela membuang barang-barang mereka di tempat kejadian.
“Hai... sobat! Terima kasih atas bantuan kalian!” teriak Carlo bersahabat, dia melambai-lambai bersemangat ke arah Dewi dan Bayu yang mendekatinya dan mengambil ransel dan barangnya masing-masing.
“Kami tahu kalianlah yang membantu kami, kau ‘kan calon dokter yang beken, kawan.. sejak di bandara, aku sadar itu..” lanjut Carlo dengan penuh antusias sambil menepuk-nepuk bahu Bayu dengan sok dewasa.
Satu per satu dari mereka mengucapkan terima kasihnya kepada Bayu walau sekedar dengan cara memberikan senyuman termanis mereka yang pertamakali Dewi dan Bayu lihat setelah beberapa hari berlalu, setelah kejadian heboh di bandara***......*** kala itu.
“Kalian dari mana sih?” tanya Carlo kemudian, “Kami dari tadi mencari kalian. Oh ya, Bayu... aku Carlo. Fisikawan Jerman.” Carlo tersenyum, mengulurkan tangannya dengan penuh ajakan persahabatan ke arah Bayu, “Bayu. Ahli Kedokteran.” Jawab Bayu antusias.
Asap yang ditimbulkan dari kebakaran pesawat mereka semakin tinggi melambung, beberapa di antaranya justru menuju ke arah mereka, asap hitam dan begitu mengganggu indera penciuman mereka.
Mereka –ketiga belas orang yang terselamatkan– pun memutuskan untuk berjalan menjauh. “Apa kau tahu kita sedang berada di mana, Vinetta?” tanya Carlo di tengah perjalanan mereka, Vinetta, seorang ahli geologi. Seorang gadis kecil mungil penggemar es krim yang dilihat Dewi di keramaian bandara **...** beberapa hari yang lalu.
Vinetta menggeleng, tak berniat berspekulasi terhadap kemungkinan-kemungkinan.
Dewi ingin ambil suara, tetapi karena tatapan Bayu, dia mengurungkan niatnya. Tak bijak rasanya jika dia mendahului ahli geologi ataupun para petualang alam lainnya hanya untuk mengatakan mereka sedang mengalami dan mungkin berada di “dunia mesozoikum”, dunia yang sudah terkubur berjuta-juta tahun silam, dunia yang begitu mengenaskan bagi para dinosaurus.
Bayu menggenggam tangan kanan Dewi selama perjalanan, inilah wujud nyata janjinya kepada Prof. Agus Sastrawan Handoko, ayah Dewi. Janjinya kepada mahaguru yang dikaguminya selama ini, seorang dokter yang begitu menginspirasinya, dengan jiwa profesionalitas dan solidaritasnya yang begitu tinggi.
Udara begitu segar, dan begitu menyenangkan berada di dunia sealami ini. Tak ada polusi udara dari zat-zat kimia beracun yang berkali-kali diwanti-wanti dapat merusak atmosfer bumi terutama ozonnya itu. Mereka tersenyum dalam hati, dan seolah bergumam, “Akhirnya...”
Dewi dan Bayu adalah salah satu dari sekian orang di negaranya yang sangat gencar memperkenalkan mengenai cara-cara penjagaan lingkungan agar tetap alami supaya mereka dan semua orang yang berada di dunia merasakan kealamian bumi yang dulu, namun hal ini tetap saja gagal, entah karena apa. Hal itu sempat membuat mereka merasa wajib kehilangan satu mimpi terbesar mereka itu. Dan ketika mereka melihat hal ini, mereka seolah merasa mimpi mereka terwujud. Dunia ini begitu sempurna.
Air mengalir di bebatuan, begitu jernih sehingga mereka dapat melihat dasar dari tempat air itu mengalir tenang.
Bayu merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Dewi, dunia ini begitu teduh, menyejukkan mereka. Ia terus menatap sekeliling, ini seolah fatamorgana, karena dunia inilah yang selama ini diimpi-impikannya untuk dilihatnya secara nyata.
Indah, warna-warni yang begitu cerah. Bukan hanya warna abu seperti warna asap yang biasa menghiasi kota Jakarta, tempat tinggalnya. Bukan hanya warna hitam seperti warna jalanan beraspal yang selalu dilalui mobil-mobil besar penghasil polusi dan penyebab kemacetan.
Beraneka jenis pepohonan menjulang tinggi, pepohonan dengan daun yang berwarna hijau segar dan cabang-cabangnya yang begitu kuat, batangnya begitu kokoh untuk berdiri tegak setinggi itu, hampir 300 kaki.
Dunia ini begitu sempurna.Tak pernah dibayangkannya bisa senyata ini, padahal baru beberapa hari yang lalu dia hanya bisa memperhatikan mengenai hal ini di museum, dan sekedar memperhatikan fosil-fosil yang ada di tempat itu.
Dia tidak ingin kehilangan pengalamannya di dunia ini, hanya itu.
Dewi menatap ke arah Bayu.
“Kubilang saja, ya? Memang sih hanya dugaan, tapi apa salahnya..” ucap Dewi kemudian. Bayu menggeleng.
Hingga kemudian, “Dunia mesozoikum....” gumaman kecil itu berasal dari seorang wanita, Carlo mencela, “Apa katamu, Virginia?”
“Dunia Mesozoikum.. tempat dinosaurus tinggal dan hidup.. gambaran ini terlalu nyata buatku, keberadaan sebuah dunia berjuta-juta tahun silam..” ucap wanita itu layaknya orang kerasukan, hasratnya menggelora.
“Lihat pepohonan yang kita lalui, perdu dan pohon-pohon menjulang tinggi. Selintas aku lihat Archaeopteryx melayang-layang di atas kita, begitu cepat, kukira hanya halusinasi. Tapi ini nyata.. ini dunia itu, dunia mesozoikum.” Lanjut Virginia.
“Ngarang! Meracau! Kepalamu berdarah sampai otakmu kacau begitu? Burung yang lewat tadi hanya sejenis merak.. Kelewatan kau, Virginia.. Nggak mungkin!” sanggah Carlo.
“Carlo, aku ahli sains, ahli biologi, aku kenal betul dunia ini. Fosil-fosilnya persis seper..” Carlo memotong telak, “Iya, itu hanya fosil. Tahu apa kau tentang dunia berjuta-juta tahun silam? Kamu bahkan baru lahir dua puluh lima tahun yang lalu!”
“Carlo, dengar, ini bukan masalah perdebatan kita selama ini, permasalahan kita di luar ini harus kita kesampingkan, kalian harus percaya, Carlo. Ini masa mesozoikum..” Jawab Virginia tak mau kalah.
Dewi menengahi, “Iya. Dari tadi aku merasa begitu. Hanya aku nggak berani menyampaikannya pada kalian.”
“Nggak mungkin, Dewi.. Ini terlalu ajaib untuk terjadi.” Jawab Carlo.
“Lalu kamu mau menyanggah hukum-hukum fisika itu? Postulat-postulat yang kamu pelajari? Teori relativitas Einstein dan hubungannya dengan ruang dan waktu? Berdasarkan teori relativitas, kita tahu ada dunia yang lebih lambat gerak waktunya daripada dunia kita, ada juga yang lebih cepat, jadi mungkin saja di suatu tempat masih terjadi keadaan yang persis sama seperti masa mesozoikum yang sudah lebih dahulu berlalu di keadaan dunia kita namun masih terjadi di saat ini. Kau mau menolak kesemua teori beken itu?” tanya Virginia, pertanyaannya begitu matang.
Carlo diam seribu bahasa, apalagi beberapa saat kemudian dia terang-terangan melihat segala jenis binatang yang kemarin-kemarin hanya bisa dia tonton di film Jurassic Park ataupun buku-buku bertema “dinosaurus”.
Bulu kuduk mereka merinding ketika mereka lihat Tyranosaurus rex, jenis dinosaurus karnivora yang mungkin mampu melahap mereka bertiga belas sekaligus, dinosaurus itu berdiri angkuh beberapa kilometer di sebelah timur mereka, begitu besar dan kokoh, mengalahkan ukuran apapun yang mereka pernah lihat terkecuali gedung pencakar langit yang berdiri anggun di pusat-pusat kota besar dunia.
“Apa aku bilang..” ucap Virginia dengan nada kemenangan yang jelas kentara di wajahnya, seringai wajahnya tak dia tutup-tutupi.
“Aku rasa, cepat atau lambat, mereka akan menyadari keberadaan kita dan terganggu oleh keberadaan kita, apapun yang kita lakukan.” Ucap Virginia lagi, Dewi menatap kagum ke arah wanita itu, seorang wanita yang dari penampilannya menunjukkan bahwa dia berkebangsaan Rusia.
“Mereka hanya memiliki insting, tidak seperti kita. Mereka tidak tahu apa yang benar dan apa yang salah. Sejauh kita memiliki bentuk fisik yang berbeda dengan mereka, mereka akan menolak keberadaan kita di sini, walaupun kita tidak berniat mengganggu mereka.” lanjut Virginia.
Iya, kali ini lagi-lagi Dewi mengangguk setuju dengan apa yang disampaikan wanita itu.
”Itulah sifat mereka. Jangan tanya apakah mereka berdarah dingin atau berdarah panas, karena itu nggak penting. Mereka mudah terganggu, hanya itu yang perlu kita ketahui saat ini. Oleh suara sekecil apapun, atau asap yang nanti kita timbulkan ketika kita membutuhkan api untuk penghangat ataupun sarana memasak.” Lanjut pria di sebelah wanita itu. Dewi mengingat-ingat, mereka berdua –virginia dan pria itu– adalah orang yang ditemui Dewi ketika dia dipanggil ke kokpit pesawat beberapa saat yang lalu, sebelum mereka memasuki dunia yang belum bisa mereka percaya hingga kini.
Tiba-tiba saja seekor Pterosaurus –reptil laut raksasa yang dapat terbang dan merupakan pemakan ikan serta memiliki lengan seperti dayung– terbang di atas mereka, mengeluarkan suaranya yang begitu memekakan telinga, “Mereka sudah menyadari keberadan kita. Dan mereka sudah saling memberi tahu satu sama lain. Kita tinggal menunggu saat untuk mereka beraksi.” Lanjut pria itu lagi.
Ketakutan menyelimuti mereka,
“Kami percaya apa yang kalian bilang..” Ucap Carlo kemudian, mencoba mengembalikan suasana.
“Masalahnya, kita sudah terlanjur berada di sini. Kita nggak bisa pergi ataupun keluar dari dunia ini. Nggak cukup waktu sejam, sehari, ataupun sebulan untuk memikirkan bagaimana kita bisa keluar dari sini, karena kita bahkan nggak tahu kita berada di mana.” Lanjutnya tegas.
“Dan mengetahui dimana kita berada saat ini adalah tugasmu sebagai fisikawan, Tuan Carlo..” ujar Virginia tenang, sangat kentara dia ingin memulai perang dengan Carlo.
“Yang lebih penting, mengetahui bagaimana caranya kita menghindari perang dari para dinosaurus itu adalah merupakan tugasmu, Nona Virginia, sebagai ahli biologi tentunya...” tukas Carlo tak kalah menantang. Dua ahli dengan kubu yang berbeda saling bersitegang, tak ada satupun yang berani meredang.
“Cara menyelesaikan masalah bukan dengan menghindarinya ataupun berlari sejauh mungkin dari masalah itu. Tetapi cara yang terbaik adalah dengan menghadapinya.” Ujar seorang lainnya, nampaknya dia adalah seorang ahli agama yang disebut-sebut diikutsertakan dalam misi ini karena selain dia memiliki keahlian di bidang agama, dia adalah salah satu agamis yang memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap perkembangan fisika ataupun dunia yang menyerupainya.
“Sebelum kita dimakan mereka, aku rasa, lebih baik kita cari tempat berlindung yang aman. Kita sudah nggak memiliki perbekalan makanan apapun, semuanya sudah musnah terbakar. Kita harus mengisi perut kita dulu, baru kita bisa berpikir tenang.” Lanjut pria itu yang sama seperti wanita dan pria sebelumnya, seolah tidak ingin memperkenalkan dirinya dan membiarkan identitasnya diketahui seiring dengan berjalannya waktu.
Serombongan orang yang terselamatkan dan masih bisa melihat dunia masa mesozoikum yang begitu menakjubkan itu pun menyetujuinya, ketiga belas orang itu pun berjalan tak tentu arah mencari tempat yang aman untuk mereka tinggal selama berada di dunia ini.
Mereka melalui pepohonan yang menjulang tinggi, sikad dan konifer menghiasi jalan setapak sepanjang perjalanan mereka. Bermacam-macam jenis makhluk hidup yang sebelumnya tak pernah mereka jumpai di kehidupan nyata berlalu-lalang di hadapan mereka. Apatosaurus, dinosaurus pemakan biji sikad dan konifer tak hanya sesekali mereka jumpai, begitu pula dengan stegosaurus yang merupakan dinosaurus herbivor yang paling digemari untuk dipelajari oleh Virginia, salah seorang ahli biologi yang berjalan berombongan di bagian tengah.
Caudipteryx sesekali melayang-layang di atas pepohonan yang menjulang setinggi hampir 30 meter, dinosaurus setipe burung itu seolah mengikuti perjalanan mereka, makhluk itu terus beterbangan di atas mereka, ketika Dewi menoleh, bulu pada lengan dan ekor makhluk itu terlihat sedikit berjatuhan karena sedemikian cepatnya ia terbang. Untung saja bukan Tyranosaurus rex yang terkenal sebagai karnivor unggul itu yang datang menghampiri mereka.
Dewi tak habis pikir, entah kekuatan macam apa yang mendorong mereka semua untuk tabah menghadapi semua ini dan setenang ini berada di dunia semenakjubkan ini. Untuknya pribadi, mungkin dia mampu menjawabnya dengan satu kalimat, tiap manusia memiliki ketertarikan terhadap apa yang serasa tiada namun dipercayainya ada dan dia tahu pasti, ketertarikannya begitu berkembang di dunia ini. Entahlah, dia tidak tahu apakah keduabelas orang yang lain dan kini akan diajaknya menjalani hidup di dunia ini memiliki pemikiran yang sama dengannya, tapi dia percaya, semuanya akan baik-baik saja.
Akhirnya mereka menemukan sebuah gunung yang bagiannya sedikit berlubang, seperti goa yang cukup besar. Carlo mencoba untuk masuk.
“Berhenti, Carlo. Jangan..” ucap Virginia dengan nada cemas,
Carlo menoleh ke belakang, menatap sebal Virginia.
“Ini tempat yang bagus untuk kita berlindung. Apalagi yang perlu kita cemaskan?” tanya Carlo geram.
“Kita harus berhati-hati di dunia seperti ini. Dari beberapa sumber yang kutemukan selama ini, dinosaurus selalu bertelur di dalam lubang. Aku takut jika ternyata ada dinosaurus berbahaya di dalam goa ini.” ujar Virginia, tak mempedulikan seberapa dilecehkannya ia oleh tatapan mematikan Carlo.
Dewi menatap mereka bingung, sepertinya ada hubungan rahasia di antara kedua orang ini, sejenis lanjutan perang dunia mungkin.
“Iya, Carlo. Virginia benar. Ada Jeholodens di dalam goa itu. Memang hanya seekor mammalia, tetapi cukup berbahaya. Apalagi di masa-masa seperti ini, ketika dia baru melahirkan anaknya. Mereka pasti akan sangat ganas.” Ujar Dewi kemudian, lagi-lagi, dia menggunakan bakat paranormalnya, kali ini menggunakan penglihatan tembus pandangnya.
“Begitukah menurutmu, Dewi?” tanya Carlo lembut, tak pernah disangkanya lagi-lagi dia akan menerimas respon seperti ini dari Carlo, dia menemukan ketertarikan yang luar biasa terhadap dirinya, berbeda jauh dari perlakuan Carlo terhadap Virginia. Ia tidak berani berpikir apa yang sedang terjadi di antara kedua orang itu sehingga Carlo bisa-bisanya memperlakukan Virginia dengan cara tak lazim seperti ini.
“Oke, aku menurut saja. Lalu, di mana kita harus menetap? Bukankah kau memiliki indera khusus? Aku yakin kamu bisa membantu kami untuk melihat di mana kita bisa tinggal..” ucap Carlo lembut, Dewi tersenyum, sejenis kewaskitaan lagi,
“Tidak, Carlo. Tempat kita bukan di sini, bukan juga di dunia yang beberapa saat sesudahnya akan kita jumpai, atau tempat yang lainnya. Tempat kita di bumi yang nyata. Kita tidak akan mendapatkan tempat di sini.” Ucap Dewi.
“Begitu, ya? Dunia yang beberapa saat sesudahnya akan kita jumpai? Bagaimana dengan dunia lainnya? Apakah akan ada dunia lain yang kita jumpai, Dewi?” tanya Carlo antusias,
Dewi mengangguk, “Iya seperti itulah.” Ucap Dewi singkat.
“Ah, sudahlah jangan pikirkan itu. Yang jelas, kita harus menemukan tempat berlindung sebelum gelap atau kalian siap-siap saja menyerahkan tubuh kalian untuk ditelan mentah-mentah oleh Tyranosaurus rex si karnivor unggul masa ini...” ucap Virginia menengahi, tidak ingin kalah suara.
Bayu hanya bisa diam dan menggenggam erat tangan kekasihnya, Dewi. “Tetap berada di sisiku, ya..” gumam Bayu pelan, Dewi mengangguk dan tersenyum.
Mereka berjalan terus, kali ini dengan dipandu oleh kekuatan penglihatan paranormal Dewi yang lebih mudah membantu mereka untuk menemukan tempat yang aman untuk berlindung.
Pepohonan perdu mereka lalui, paku ekor kuda yang begitu banyak menyelimuti daerah itu, juga terdapat banyak tumbuhan-tumbuhan mirip seperti tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada masa siluria ketika era paleozoik. Lagi-lagi beragam jenis burung melintas di atas mereka, kali ini Carlo begitu bersemangat mengenali kesemua jenis burung itu.
“Dewi, apa kamu tahu? Burung yang melintas di atas.. struktur tubuhnya seperti Archeopterix lithografis yang fosil-fosilnya ditemukan di daerahku, Jerman Barat.. Aku suka sekali melihat fosil mereka di museum. Aku nggak membayangkan kita bisa melihatnya senyata ini, Dewi..” ucap Carlo berapi-api, Bayu terganggu akan ketertarikan pria ini untuk menjelaskan hal tak penting itu pada Dewi juga karena begitu akrabnya Carlo dengan kekasihnya.
“Oh.. hanya sekedar Archeopterix lithografis, burung yang masih memiliki sifat reptilia.. dapat dikenali karena dalam rongga mulut masih terdapat gigi, sayapnya masih memiliki sisa-sisa kait kuku panjang yang menunjukan asalnya dari extermitas arterior yang pada reptilia biasanya digunakan sebagai anggota badan untuk berjalan. Kaki belakangnya bersisik seperti reptilia, terdapat ekor yang cukup panjang. Begitu ‘kan?” ujar Virginia panjang lebar, benar-benar ahli biologi yang tak pernah mau kalah suara.
“Aku nggak butuh teorimu..” ucap Carlo kesal.
“Masih banyak lagi jenis burung yang belum kamu lihat..” lanjut Virginia, tak mempedulikan respon Carlo sebelumnya, seperti biasa yang dilakukannya.
“Seperti Super Ordo Odotognathae, Super Ordo Palaeognathae.. burung yang hanya dapat berjalan dan tidak bisa terbang..” ujar Virginia bangga dengan pengetahuannya yang begitu luas terhadap makhluk-makhluk itu.
“Sudah aku bilang, aku nggak peduli dengan teori-teorimu itu.” jawab Carlo ketus.
Mentari bergerak semakin tinggi, kali ini matahari sudah berada di atas ubun-ubun mereka, kalau di dunia nyata, pasti sudah dikenali sebagai siang pukul 12.00, tapi mereka tidak bisa mengenali waktu lagi di daerah ini.
“Kita istirahat sebentar, ya.. Sudah lama kita berjalan terus dan terus.. tapi tetap nggak menemukan apapun. Gimana kalau kita duduk sebentar di padang rumput itu..” ujar Gineva kemudian.
“Tempat ini aman. Kita bisa membangun tenda di sini.” Timpal Dewi.
Rombongan yang berjumlah tiga belas kepala itu pun menyetujuinya.
Mereka duduk di hamparan rumput seluas 22 are, dikelilingi hewan-hewan herbivor. Begitu kagumnya mereka melihat beberapa jenis hewan yang strukturnya mirip dengan sapi, kambing, ataupun anjing yang ada di dunia nyata mereka, yang membuat kesemua hewan herbivor itu nampak janggal adalah karena sebagian tubuh mereka yang bersisik ataupun tidak berdaun telinga. Fantastis.
Virginia tak henti-hentinya menjelaskan kepada mereka mengenai makhluk-makhluk janggal yang ada di hadapan mereka.
“Sub Klas III Theria.. Panthotheria, sudah punah di masa kita. Mereka merupakan mammalia yang berkantong ventral, kemungkinan besar seperti marsupilami. Hampir semua mammalia ini berkembang biak dengan cara vivipar.” Ucapnya ketika dia melihat makhluk berbulu begitu menarik sedang memakan rumput-rumputan di hadapan mereka.
Sementara itu, Gineva asyik sendiri bermain-main di sekitar danau di dekat rerumputan bersama dengan pria bergaya pakaian harajuku di sebelahnya, “Wah, tangkap terus, Andrew..” ujar Gineva senang, pria yang bernama Andrew itu mengarahkan kayu panjang yang diperolehnya di sekitar danau ke arah air, seolah ingin menombak ikan-ikan yang lewat.
“Kita seolah kembali ke zaman purba saja.” ucap seseorang yang sedari tadi hanya berdiam diri, sang pilot, ketika memperhatikan keasyikan Andrew, Gineva, dan beberapa orang lainnya mencari ikan di pinggir danau.
“Sudahlah kapten.. Kita sudah berada di sini, jalani saja semampu kita..” jawab Carlo,
“Biasanya kita hanya mengambil ikan-ikan segar di supermarket, lalu kita membersihkannya sebentar, dan meletakkannya di microwave. Sementara itu kita asyik duduk di depan layar televisi untuk menonton film kesukaan kita, di tempat lain, mesin cuci kita sedang berputar sedemikian rupa untuk membilas pakaian kotor kita. Banyak hal dapat kita lakukan dalam sekejap waktu. Dan sekarang...” barisan kalimat Melinda itu terhenti, seolah ia tidak dapat melanjutkannya. Gadis yang begitu menawan, ucapannya pun begitu anggun.
“Setidaknya di sini kita hidup tanpa polusi.” Jawab Virginia.
“Untuk kali ini aku menyetujui pendapatmu, Virginia..” jawab Carlo.
Virginia tersipu malu. “Tapi yang aku herankan, Carlo.. berapa perbedaan waktu di sini dengan dunia kita? Sehingga di sini kita mengalami lagi masa ini, masa mesozoikum..”
“Aku nggak berani menyimpulkannya, karena menurutku, semenit kita di sini sama dengan sejam ataupun sehari kita di kehidupan nyata. Berarti mungkin jika kita pulang nanti, orang-orang yang kita kenal sebelumnya sudah meninggal karena kita sudah pergi dari dunia kita selama beratus-ratus tahun walaupun kita hanya berada di sini selama sebulan.” Jawab Carlo.
“Aku nggak berani membayangkannya.” Ujar Virginia berbarengan dengan wanita di sebelahnya yang sedari tadi hanya diam, seseorang yang dilihat Dewi ada di ruang pilot dan co-pilotnya, Vinetta.
“Cukup kita nikmati saja tempat ini..” ucapnya pelan, “Benar Vinetta.. Aku setuju.” Jawab Carlo.
Waktu begitu lambat berjalan, Andrew dan Gineva terlihat sibuk mengurusi ikan tangkapan mereka sementara Carlo dan Bayu berusaha menyusuri hutan untuk mencari kayu bakar, lain halnya Virginia, Melinda, serta Vinetta yang asyik mencari batu-batu di sekitar sungai dan kemudian digesek-gesekkannya, berharap percikan api tersembul keluar dari pergesekan batuan tersebut. Dewi bersama Gregory mendapatkan bagian membangun tenda dari kayu-kayuan serta dedaunan yang dikumpulkan oleh Bayu dan Carlo sebelumnya.
Pilot pesawat itu menatap ke sekeliling, sudah berkali-kali dia melakukan hal serupa, bersama-sama dengan kru penyelamat, para ahli, dan petualang lain menyusuri kehidupan natural di seluruh dunia. Dia memang secara pribadi sangat tertarik dengan alam dan karena itu petualangan terhadap alamlah yang menjadi salah satu pemuasnya.
Tapi kali ini berbeda, dia tidak tahu apakah dia sudah melewati zamannya dan kembali ke masa lampau atau dia hanya terdampar di sebuah pulau yang sebelumnya tak pernah disinggahi warga dunia sehingga beragam jenis dinosaurus masih dapat bertahan hidup.
Co-pilotnya bergerak mendekatinya, “Mereka sudah menyiapkan segalanya, Tuan Hume..” ucap pria tegap gagah itu,
“Iya.. terima kasih, Schiller...” jawab Hume, pilot pesawat penyelamat Kapal Fessenden itu. Ketika Hume bergerak menjauhi tempatnya berdiri sebelumnya ¬¬¬–di sebelah selatan sungai tempat Andrew dan Gineva serta beberapa orang lainnya sibuk bercengkrama– suara serak terdengar sayup-sayup, terdengar seperti suara kunyahan, diiringi isak tangis seperti eluan anak anjing kelaparan. Hume menoleh, Schiller mengikutinya dari belakang.
Seekor berang-berang terluka, menggelapar di atas bebatuan. Hume mendekatinya, “Berang-berang?” gumam Hume, Schiller menatap sang pilot dengan tatapan bingung.
Schiller mengarahkan pandangannya ke arah seekor makhluk kecil, serupa dengan tikus kecil, bukan, semakin ia mendekat, makhluk itu nampak menyerupai mammalia dengan ekor pipih bersisik seperti berang-berang, tulang belakang seperti lingsang, dan gigi-gigi seperti anjing laut. Makhluk itu basah kuyup, tubuh kecilnya dibanjiri darah yang berasal dari perutnya, sebagian isi perutnya terburai keluar, tetapi dia masih hidup.
Hume menyentuhnya, makhluk itu menggeliat, terengah-engah. “Kapten, kita tinggalkan saja. Tak ada gunanya kita terus berada di sini, nanti justru kita yang tidak aman.” Ucap Schiller di sebelah Hume.
Hume menggeleng, diambilnya hewan itu dengan lembut, kedua telapak tangannya digunakannya sebagai alas makhluk kecil itu, begitu lembutnya perlakuan Hume kepada makhluk itu. Schiller tak bisa melarang, dia tahu benar bahwa kapten yang selama enam tahun belakangan ini selalu menjadi pemimpinnya merupakan seorang pria yang begitu lembut, gemar berpetualang, dan begitu mencintai hewan dan tumbuhan.
Hume dan Schiller tiba di tenda yang didirikan oleh Dewi, Ivan, dan Gregory. Hume lalu meletakkan hewan yang lemas tak berdaya itu di atas padang rumput di sebelah tenda, Dewi dan beberapa orang yang berkumpul di sekeliling tenda mengamati dengan seksama.
“Ibu.... aku rindu..... ibu....” suara itu menggema begitu keras.
Dewi menatap sekeliling, begitu heran dengan dirinya sendiri, orang-orang di sekitarnya seolah tak mendengar suara tadi, lalu apa hanya dia yang bisa mendengar suara itu?
“Ibu.......... aku terluka.... Ibu...” suara itu bergema semakin keras di telinganya.
Tidak ada yang membuka mulut di sekelilingnya, mereka semua sedang terpana memperhatikan makhluk yang menyerupai tikus kecil itu. Dewi menatap Bayu, seolah tak terjadi apa-apa, seolah hanya dia yang bisa mendengar suara itu. Apakah itu suara yang berasal dari lubuk hatinya? Perasaan rindu kepada Ibundanya yang telah tiada sepuluh tahun silam?
“Ibu.....”
Dia tak habis pikir, apa yang sedang terjadi dengan indera pendengarannya sehingga dia bisa mendengar suara itu, bergema begitu keras.
Dia mengamati sekeliling untuk kesekian kalinya. Hingga akhirnya dia menyadari, itu suara dari makhluk kecil itu.
“Ibu...”
Dibelainya bagian kepala makhluk kecil itu, sementara Virginia bergumam di sebelahnya, “Castorocauda lutrasimilis. Fosilnya diletakkan di Museum Sejarah Alam Nasional Smithsonian.”
“Jangan menangis, kami di sini,” Ucap Dewi dengan sayang, “kami akan mengobatimu.” Lanjutnya, suaranya begitu pelan bagai sebuah bisikan, Bayu beserta rombongan lainnya yang berada di sekitar Dewi menatapnya terpana, entah mereka harus mengagguminya atau menakutinya, Dewi berbicara dengan bahasa yang sama sekali asing, bahkan bisa dikatakan dia hanya mendecit seperti suara tikus. Apa dia sedang berkomunikasi dengan hewan itu?
“Aku ingin pulang. Ibuku tenggelam di sungai itu, Ayahku dimakan oleh troodon, si karnivora.. Aku takut..” terdengar suara lagi, suara makhluk kecil itu.
“Baiklah, sebelum kamu pulang, kamu harus sembuh, kamu harus bertahan. Perutmu hancur, aku akan mengobatimu, sayang.. kamu ingin kupanggil apa?” tanya Dewi lembut.
“Aku nggak punya nama. Ayah ibuku sering memanggilku toro..” jawab makhluk itu.
“Toro? Kalau begitu, kamu istirahat sebentar, aku akan mengobatimu. Jangan tegang. Kami akan menyembuhkanmu. Percayalah..” jawab Dewi.
Bayu memegang bahu Dewi, Dewi menoleh, “Kamu lagi ngapain sih? Suaramu seperti tikus berdecit nggak karuan.. Kamu sedang bicara sama makhluk ini?” tanya Bayu.
Dewi mengangguk, “Teman-teman, nama makhluk ini Toro. Induk jantan dan betinanya sudah tewas, kita harus membantu Toro untuk tetap hidup.” Ucap Dewi kemudian, disusul suara ribut sebelas kepala selain Bayu.
“Kau sangat hebat, Dewi. Baru kali ini aku mengetahui secara nyata ada orang yang bisa berbicara dengan hewan!” ucap Carlo senang, “fantastis!” lanjutnya.
Kesepuluh orang ahli lainnya mengangguk setuju. Setelah itu mereka semua tidak membuang banyak waktu, Bayu yang merupakan seorang ahli medis berusaha mengobati makhluk itu, “Dia mirip berang-berang, ya? Kupikir kurator museum itu salah mengidentifikasi, ternyata.. mereka benar.” ucap Virginia di sebelah Bayu, sementara Bayu begitu sibuknya menjarit lubang besar menganga di perut Toro dengan jarum dan benang jahit yang dibawa oleh Vinetta di dalam ranselnya.
“Padahal dia sudah menjadi fosil..” lanjut Virginia lagi,
“Iya, dan jika kau mati di sini sekarang. Maka nanti fosilmu akan ditemukan dan diidentifikasi sebagai manusia pertama yang hidup di zaman mesozoikum.” Jawab Carlo ketus.
***
“Apa kamu mempelajarinya di tempat kuliahmu dulu?” tanya Gineva, menghampiri Dewi yang terduduk di pinggir sungai, mencoba menenangkan dirinya. Gineva duduk di pinggir danau di atas bebatuan, di sebelah Dewi.
Dewi menggeleng, “Aku belum pernah melakukannya sebelumnya. Ini kali pertama aku bisa melakukannya.” Jawab Dewi sendu, mendekap semakin erat lututnya yang gemetar hebat.
“Lalu, menurutmu, hal apa yang menyebabkan kamu dapat melakukan itu, berbicara dengan hewan?” tanya Gineva sangat ingin tahu.
“Aku rasa, hanya karena aku dan dia memiliki perasaan yang sama. Dia merindukan ibunya, begitu juga denganku.” Jawab Dewi, sesungguhnya dia juga sama sekali tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya, mengerti bahasa hewan adalah hal yang sama sekali tidak mungkin bisa dilakukan olehnya, bahkan hal ini tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
“Perasaan cinta benar-benar hebat.” Ujar Gineva kagum, cinta... Dewi menatap langit biru di atasnya yang diselimuti oleh awan-awan putih yang bergerak dengan sangat cepat, berputar terus menerus. Cinta.. biasanya jika dia sedang memikirkan tentang cinta, awan-awan putih di atas itu akan membentuk lambang hati atau wajah seseorang yang sama sekali tak asing baginya, wajah Ibundanya.
“Aku suka fisika terutama teori relativitas Einstein, karena aku percaya aku bisa menemukan Mamaku di masa lampau, setidaknya walau seperti teori Einstein, aku kembali ke masa lampau tapi aku tak dapat mengubah kejadian di masa lampau, aku tetap ingin kembali ke masa lampau, menemukan Mamaku bahagia di sebelah gadis kecil kesayangannya. Aku terus mencari dunia itu, aku bahagia jika orang-orang di sekelilingku mencari-cari dunia yang sama denganku.” Ucap Dewi sendu.
“Cinta.. di dunia manapun nggak pernah kutemukan cinta. Aku terus mencarinya. Bagiku cinta adalah Mamaku yang mampu memberikan kasih tulusnya padaku. Aku suka parapsikologi karena aku berharap aku memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan jiwa Mamaku yang telah tiada. Tapi apa yang kutemukan? Nihil.” Lanjutnya lagi.
Gineva memegang bahu Dewi erat, “Kamu sudah memiliki cinta yang lain, Dewi. Ada Bayu di sisimu. Aku percaya dia sangat mencintaimu.” Ujar Gineva pelan.
“Nggak, Gineva. Itu bukan cinta, cinta nggak pernah mengharapkan sesuatu, cinta adalah pengorbanan dan rela mati demi orang yang dia cintai, cinta adalah perasaan paling mengerikan jika dimiliki oleh seseorang karena orang itu akan memberikan seluruh nyawa dan kehidupannya bagi orang yang dicintainya. Aku nggak pernah berharap Bayu memiliki rasa cinta itu padaku, aku nggak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi.” Jawab Dewi.
“Cinta nggak sepesimistis itu, Dewi. Cinta cukup berarti saling memberi kasih sayang. Cinta nggak perlu menanti kematian dari orang yang dia cintai. Apa artinya kita saling memberi kasih sayang jika hal itu tidak kamu artikan sebagai cinta?” tanya Gineva.
Dewi menatap mata Gineva lekat, Gineva seperti sesosok kakak yang tak pernah dia miliki karena Dewi adalah seorang anak tunggal.
“Cinta.. aku takut untuk mengartikannya.” Ucap Dewi kemudian, melempar batu kecil ke dasar sungai yang arusnya mengalir dengan begitu tenang.
“Kita di sini akan saling mencintai, kami semua mencintaimu dengan sepenuh hati kami, sebagai seorang teman, saudara, bahkan kekasih. Kami di sini akan saling memberi kasih denganmu. Itulah cinta. Jangan artikan cinta, karena cinta justru nggak berarti jika kamu artikan. Cukup rasakan saja..” jawab Gineva seraya tersenyum manis ke arahnya.
“Hei, aku mencari kalian dari tadi. Toro sudah sembuh, aku takut dia membutuhkan sesuatu tapi nggak mampu mengutarakannya pada kami. Jadi aku mencarimu, Dewi..” ucap Carlo seraya tersenyum manis padanya, berdiri di hadapan mereka.
“Terima kasih, Carlo.” Ucap Dewi dan Gineva bersamaan. Mereka pun kembali ke tenda mereka.
Di tenda itu, Dewi menemukan Toro sedang tertidur pulas dan bergumam kecil, “Ibu.. aku punya teman baru. Ibu.. aku bahagia.” Dan dipikirkannya Toro hanya mengigau, Dewi tersenyum kecil, teman baru? Begitu naifnya makhluk kecil ini.
“Hamlet pernah melukiskan kematian sebagai tidur abadi, tidur dengan pulas seperti ini sepanjang sisa masa kehidupan.” Ucap Bayu di sebelah Dewi kemudian merangkul Dewi dengan sayang.
“Shakespeare, tokoh kebanggaanmu..” ucap Dewi kemudian, diam-diam ada yang memperhatikan nama besar yang diucapkannya, seorang gadis di pojok tenda.
***
dengan Villam, totally... haha..
dirimu sudah okey loh kalo bikin cerita...saya kasih point sajah...sambil menunggu riset selesai hehe 
hoho...
ya, michel. butuh banyak editan nih. banyak banget kalimat yang gak efisiennya. beberapa kalimat yang terlalu panjang juga sebaiknya dipotong.
hihihi... kayaknya pas kamu nulis ini, masih polos banget ya?
trus...
haiyah... masak gak takut sih ngeliat kecoak segede motor balap? hihihi... kalo aku sih bakal panik berat dan pingsan kali...
secara logika, tentunya manusia harus mencoba mengatasi dulu rasa takutnya, berurusan dulu dengan orang2 yang pingsan atau mati, darah dan mayat, obat-obatan, komunikasi, konsumsi, dll dsb, sebelum bisa menikmati keindahan dunia barunya.
satu hal mengenai riset, michel, betapapun sudah susah payahnya kita melakukan itu, sebaiknya kita harus berhati-hati memasukkannya dalam cerita. satu dua paragaraf singkat tentang ilmu itu sudah cukup. jangan sampai terlalu banyak, jangan sampai hal itu malah membuat pembaca kehilangan fokus terhadap emosi yang sudah susah payah dibangun sebelumnya.
cobalah sedikit irit mengeluarkan ilmu-ilmu ini, dan tetap konsentrasi pada emosi dan plot cerita ini. jika memang informasi2 tersebut penting, coba jabarkan melalui dialog secara natural, atau dijelaskan sedikit demi sedikit nanti seiring berjalannya cerita. atau bisa juga melalui catatan kaki. intinya, jangan sampai mengganggu 'tubuh cerita'.
akhir kata, sebenarnya kamu hebat kok, michel, dengan riset-risetnya. kukasih nilai sembilan untuk ini. tinggal perhatikan aja hal2 yang sudah dikomentari para pembacamu ini.
sip.
Waah, komen saya dah diambil sama nanasa ;P
Lanjut aja deeeh
Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^
ya ampun posting byk bgt jml katanya ? gak capek ngetiknya ya? tapi pasti lebih capek risetnya.sekarang topiknya lebih ke biologi ya. sebelumnya kan fisika.
eh dunia dinos ini beneran atau cuma halusinasi akibat masuk ke segi3 bermuda ya ? jd pengen tau...
Waduh Michell, kok jadi menurun gini ya..
Ternyata Segitiga Bermudanya tembus ke Lost World ya? Ga masalah sih, tapi jangan sampai kemisteriusan Segitiga Bermuda menjadi hilang tertutup popularitasnya Jurassic Park n The Lost World lho
Dan mungkin karena belum kamu edit, jadi ada beberapa yang janggal nih, misalnya :
Satu. si Dewi manggil nyokapnya Mama, tapi manggil bokapnya Ayah. Tapi memang ada beberapa yang kayak gitu sih
Dan adegan pertama itu rasanya kepanjangan, jadi bisa dibuang adegan yang ga perlu, misalnya Dewi makan keripik kentang, atau bisa juga digabung jadi satu antara mimpi tentang ucapan Ibunya di masa kecil dengan ketika umurnya 16 tahun.
Dua. banyak awak pesawat yang terkena pecahan kaca, semua perbekalan terbakar, tapi Dewi, Bayu, dkk kok nggak terluka sedikitpun. Kayaknya lebih bagus kalo dikasih sedikit luka di kaki ato di tangan gitu.
Terus bagaimana mereka bisa setenang itu keluar dari pesawat yang rusak ato terbakar, bahkan ada beberapa orang yang tidak selamat kan? Disini kayaknya perlu ditambah sedikit kepanikan.
Tiga. Waktu Dewi ingat tentang presentasinya, terasa adegannya lompat. Gimana kalo dikasih kalimat penghubung, misalnya ‘ Dan tiba-tiba saja Dewi teringat ..bla bla bla’ baru setelah itu masuk ke adegan di dalam kelas.
Mmm, waduh udah kepanjangan nih koment-nya, itu dulu aja deh. Oh ya, ‘agamis’ bukan ‘agamais’
But, its nice Sist,
Sorry kalo kepanjangan, menunjukkan kalo aq pembaca setia nih.. he..he..
Semangat ya Non
hasil riset yang bagus sist...
panjang amat yach ternyata ne cerita,kemaren waktu baca draftnya ga kerasa,hihihi...
ne masih bersambung???