MALAM sudah semakin larut. Mentari sudah sejak tadi meninggalkan tempatnya, sementara jarum jam kini menunjukkan pukul 11.40 malam. Kantuknya datang menggiringnya ke pembaringannya. Fandi baru akan merebahkan tubuh di atas ranjang empuknya, tatkala suara dering ponselnya itu berbunyi.
Sambil mengumpat kesal, karena merasa terganggu, ia dengan sangat terpaksa menganggkat ponsel tersebut.
“Halo!” sahutnya memulai pembicaraan.
“Ini Andi...” ternyata suara seorang wanita. Suaranya lembut, tenang tetapi sedikit agak kaku.
Read more (3006 words)
Sepertinya wanita ini memang sedang tertimpa masalah yang begitu berat, sehingga mengharuskan dirinya untuk mengambil sebuah keputusan yang mutlak.
“Bukan, ini bukan Andi. Ini siapa ya? Kalau saya boleh tahu?”
“Kalau begitu ini Fandi ya? Kamu temannya Andi bukan?” ujar wanita itu sambil sedikit terisak.
Isakannya pilu terdengar di telinga Fandi, menggema sampai ke otaknya. Sebenarnya, dengan hanya mendengarkan suaranya saja ia sudah bisa meggambarkan rupa wanita ini.
Dalam pikirannya sudah tergambarkan sosok wanita ini. Wajahnya cantik dengan rambut hitam lurus yang dibiarkan memanjang. Kulitnya yang kuning langsat seperti bercahaya jika terkena sinar matahari. Ada rasa iba yang tiba-tiba muncul begitu saja di hatinya bila mendengar seorang wanita menangis.
Ada perasaan tidak tega dan ingin membantu dari dalam dirinya. Ia seperti merasa wanita ini benar-benar membutuhkan bantuannya. Tapi entah, dia sendiri tak tahu apa yang bisa dilakukannya.
“Iya betul. Aku Fandi, tapi aku tidak kenal dengan yang bernamanya Andi. Mungkin kamu salah sambung. Coba kamu cek lagi nomor ponsel orang yang bernama Andi itu, kamu mungkin salah menulis nomornya,” Fandi mencoba tetap tenang. Rasa kantuknya kini kian lama kian pergi, menghilang begitu saja seiring dengan berjalannya obrolan tersebut.
Tidak terdengar suara balasan dari wanita itu. Suasana hening beberapa saat kemudian. Hanya terdengar hembusan nafas Fandi yang sekarang semakin kencang, berbarengan dengan degupan jantungnya yang kini juga berdetak lebih cepat. Entah mengapa adrenalinnya serasa terpacu. Beberapa saat kemudian isakan tangis lirih wanita di telepon itu terdengar makin kencang. Berbeda dengan tadi. Semakin menegaskan bahwa dia memang sedang menghadapi suatu masalah yang rumit, yang sudah tak sanggup lagi dipikulnya sendiri.
“Bukan. Ini bukan salah sambung. Ka... kamu temannya Andi ‘kan? To... tolong katakan dimana Andi?” ujar wanita itu lagi, kini dengan suara terisak.
“Ja... jangan pake menangis dong! Memangnya ciri-ciri orang yang bernama Andi itu bagaimana? Mungkin aku memang kenal dengannya jika aku mengetahui ciri-ciri fisiknya.”
Isakannya sedikit demi sedikit berkurang, kemudian berkata dengan nada agak terbata-bata,
“O... orangnya kecil, a... a... agak sedikit botak... ” katanya mendeskripsikan orang yang dimaksud. Entah mengapa Fandi lalu terbayang wajah seorang temannya yang ciri-ciri fisiknya sama dengan yang diceritakan oleh wanita tersebut.
“Kulitnya hitam dan hidungnya mancung,” celetuk Fandi tiba-tiba.
“Iya betul, kulitnya memang agak sedikit hitam. Kamu temannya ‘kan? Cepat katakan dimana dia?”
“Kalau ciri-cirinya seperti itu, aku rasal mirip dengan salah satu temanku. Tapi namanya bukan Andi. Namanya Indra...”
“Ini siapa ya?” tanyanya lagi sebab tadi pertanyaan itu tak sempat dijawab oleh lawan bicaranya ini.
“Aa... aku Rini,” jawabnya gugup. “Bagaimana kamu bisa mengenal Andi? Maaf maksudku Indra? Dimana kamu mengenalnya?”
“Dua bulan yang lalu perkenalan kami dimulai di sebuah mal, saat akan menonton sebuah film di bioskop. Saat itu, secara tak sengaja dia menabrakku hingga tiket nontonku itu hilang entah kemana. Dia lalu meminta maaf atas ketidaksengajaannya itu dan mengganti tiketku yang hilang. Ia sangat sopan, baik tutur kata maupun sikapnya.”
“Entah bagaimana, kami langsung akrab saat itu. Dia meminta nomor ponselku dan tidak tahu kenapa aku langsung memberikannya. Padahal jika dengan pria lain yang baru aku kenal, aku tak sudi memberikan nomor handphoneku kepada mereka. Hari-hari berikutnya dia sering menghubungi aku dan kami sering bertemu dan pergi bersama. Dia memang pria yang baik, penuh perhatian dan kasih sayang. Sebulan kemudian kami berpacaran, lalu peristiwa itu pun terjadi...”
Suara wanita itu berhenti. Hanya isak tangis yang kini tedengar. Lama Fandi menunggu, hingga akhirnya suara itu terdengar lagi. Mungkin kali ini wanita itu sudah siap mengatakan sesuatu yang penting, yang selama ini menjadi beban pikirannya.
“Aku hamil dan sudah dua bulan lamanya aku menanggung derita ini sendirian,” ia berhenti sebentar, mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk kembali bersuara.
“Pada awalnya ia sangat perhatian akan kondisiku ini. Ia sering menemaniku untuk memeriksakan kesehatanku ke dokter, namun belakangan ini mendadak aku kehilangan kontak dengannya. Dia sepertinya hilang ditelan bumi, ingin lepas dari tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya padaku. Entah mengapa? Tapi, aku hanya ingin dia bertanggung jawab, itu saja. Tidak lebih."
Fandi terdiam, merenung. Hanya mendengarkan isakan tangis Rini yang semakin menjadi-jadi.
“Kamu tahu nomorku dari mana? Hanya teman-teman kampus dan keluargaku saja yang tahu nomor ini,” ujar Fandi kemudian.
“Pernah, sewaktu aku pergi ke suatu tempat bersamanya, maksudku Indra. Kamu pernah mengirimkan sms ke ponselnya, dan menyuruhnya untuk segera pulang ke kosan kalian karena ada suatu acara yang membutuhkan kehadirannya. Lalu aku menyimpan nomormu di phone book-ku, karena jika sewaktu-waktu aku tidak dapat menghubunginya, setidaknya ada nomor temannya yang bisa aku hubungi untuk sekedar mengetahui keadaannya. Dan sekarang aku sangat beruntung seklai melakukan hal itu.”
“Oh!” serunya datar dan singkat.
“Kamu tahu Andi dimana?” tanya wanita yang bernama Rini itu. Kini isakan tangisnya tidak terdengar sekeras tadi. Mulai sedikit meredah.
“Dia masih di kampung halamannya, Makassar. Mungkin besok baru kembali ke Bandung, soalnya ia masih berlibur bersama keluarganya. Apakah ada pesan?”
“Oh begitu! Beri tahu saja. Katakan kepadanya kalau Rini mencari dia. Kalau bisa secepatnya ya.
Aku tak bisa menanggung beban ini sendirian,” pintanya seperti memelas.
“Oke,” ucapnya singkat lalu menekan tombol reject berwarna merah di ponselnya. Percakapan selesai. Ia menguap dan suara uapannya itu terdengar bagaikan lolongan srigala di malam hari yang menyambut dengan gembira datangnya sang bulan purnama.
Sang rembulan masih setia menunggu di tempatnya semula. Tubuhnya terasa sangat lemah, sangat lelah dan ingin rasanya ia melompat kembali ke atas pembaringannya. Sekilas ia menatap kembali ke arah ponselnya yang ada di atas meja.
Dalam hati ia berkata, “siapa gadis tadi ya? Rini? (sambil mengerutkan keningnya dan sedikit berfikir)... ah sudahlah! Jangan dipikirkan lagi. Mungkin hanya orang usil yang ingin menggangguku saja.”
Ia sudah menutup kedua matanya, namun rasa penasarannya masih bersemayam dalam pikirannya.
“Siapa gadis itu ya? Apakah mungkin Indra melakukan perbuatan sehina itu?”
“Ah tidak mungkin! Gadis itu mungkin hanya mengada-ada saja. Sebaiknya aku tidur,” ia menepis pikirannya sendiri.
***
Fandi sudah terbangun sejak tadi, sebelum ayam jantan berkokok menyambut sang fajar. Terdengar suara bising dari pompa air yang sejak tadi dinyalakan oleh penjaga kosannya. Di rumah kosnya yang tidak begitu besar itu hanya menampung delapan orang dari seluruh daerah yang berbeda. Sebagian penghuninya adalah senior-senior di kampus yang tidak begitu jauh dari rumah kosnya itu, namun mereka dari jurusan yang berbeda dengannya.
Ia menyalakan komputer. Loading terasa sangat lama, maklum walaupun Pentium IV, jenis komponen yang ada di dalam CPUnya adalah komponen keluaran lama yang mungkin saat ini sudah tidak diproduksi lagi.
Suara music Symphony No. 3 (E-Flat Major) Allegro Con Brio dari Beethoven terdengar melantun begitu merdu. Diselingi dengan gesekan senar biola yang semakin mempertegas irama musiknya. Fandi teringat lagi dengan gadis yang meneleponnya semalam. Ia kembali penasaran. Diambilnya ponsel yang baru tadi batereinya terisi penuh. Dilihanya nomor pada pilihan received calls.
Beberapa nomor berderet menurun pada kolom tersebut. Matanya hanya terfokus pada sebuah nomor di deretan paling atas, paling pertama.
“Inikan nomor...” katanya dalam hati sedikit terkejut.
Ada dua belas deret angka pada nomor tersebut. Ia lalu mengejahnya satu-persatu, “081350426208...”
“Bodoh banget sih aku ini. Buat apa aku penasaran begini? Seperti tidak ada pekerjaan lain saja. Mungkin hanya telepon iseng, sebagaimana yang telah aku duga sebelumnya,” katanya sambil melempar ponselnya ke arah kasur.
Benda itu memantul sekali kemudian diam ditengah-tengah.
Suasana siang itu sungguh terasa berbeda. Matahari bersinar sangat terang, menyengat kulit menyebabkan orang-orang malas untuk bepergian keluar rumah.
“Baru pulang kuliah Ndi? Yang lain mana?” tanya penjaga kosannya saat Fandi duduk di pintu masuk rumah kosnya sambil melepaskan sepatunya yang berdebu.
“Iya Pak. Saya pulang duluan. Yang lainnya masih di kampus, lagi makan bareng,” jawabnya datar.
Ia lalu mengambil sepasang sepatunya, setelah pamit kepada penjaga kosnya, ia masuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Diambilnya gelas plastik yang ada di rak kecil di sudut kamarnya, lalu mengisinya dengan air dari dispenser. Setelah mencapai setengah gelas, ia berhenti kemudian meneguknya dengan pelan.
“Ahh... segaaar,” katanya puas.
“Nikmat yang tak terkira.”
Getaran dari kantong saku jeansnya membuatnya kembali tersadar dari kepuasan sesaatnya. Diambilnya ponsel itu lalu dilihatnya sebuah nomor tengah memanggilnya, mendendangkan sebuah nada dering yang sudah tidak asing ia dengarkan. Nomor tersebut tidak terdaftar di phone book-nya. Sepertinya, ia kenal dengan nomor itu. Nomor itu pernah menghubunginya sebelumnya, tapi entah kapan. Penyakit lupanya tiba-tiba mulai kambuh.
“Halooo, ” sahutnya panjang.
“Bagaimana? Apakah Andi sudah datang?” tanya suara gadis di telepon.
“Ini siapa ya?” tanya Fandi sebelum menjawab pertanyaan tadi.
“Ini Rini. Apakah Andi sudah datang?” ulangnya.
“Oh, kamu.”
“Andi belum datang. Mungkin malam hari ia baru akan tiba di Bandung. Perjalanan dari bandara Soekano-Hatta memakan waktu yang lumayan lama hingga sampai ke Bandung. Apalagi jika ditambah dengan macetnya jalan di Jakarta,” ujar Fandi menjelaskan. Gadis itu kini diam. Diam seribu bahasa.
“Tenang saja, nanti akan aku beritahu dia bahwa kamu mencarinya,” lanjutnya.
“Baiklah, aku harap kamu mau membujuknya agar tidak lepas dari tanggung jawab ini,” pinta Rini agak ragu.
“Oke.”
“Kalau begitu terima kasih sebelumnya karena sudah merepotkanmu.”
“Sama-sama,” ujarnya singkat.
“Vin, kamu tahu nomor ini nggak?” tanya Fandi saat sedang duduk-duduk di depan kosnya bersama teman dan para seniornya pada sore itu. Pria bernama Alvin mengambil ponsel itu kemudian melihat sebuah nomor dengan teliti. Ia mengingat-ingat sejenak.
“Gue nggak tahu ini nomor siapa. Emangnya kenapa? Sepertinya lo penasaran banget,” tanyanya dengan logat khas anak Jakarta.
“Ah, tidak apa-apa. Tapi nomor ini milik kode wilayah itu kan?” bisiknya.
“Iya emang benar. Tapi aneh ya, kok bisa nyampe di ponsel kamu.”
Fandi hanya menaikkan kedua pundaknya sekali, tanda ia juga tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.
Langit sudah tampak agak gelap. Bias campuran warna oranye, merah dan jingga bercampur dan terhampar indah di langit yang tak mempunyai tepi itu. Sang mentari kian lama kian menjauh, menghilang dari tempatnya semula.
Sebuah mobil kijang APV keluaran tahun lalu, berhenti di depan sebuah kosan. Seorang pria pendek, berkulit agak gelap, berhidung mancung dengan rambut yang dipotong satu cm, keluar dari mobil sambil tangan kanannya menenteng sebuah kopor hitam dengan tulisan polo design, sementara tangan yang satunya lagi mengangkat sebuah dus yang sudah disimpul dan diikat dengan tali.
“Eh Indra. Tiba di bandara jam berapa?” tanya penjaga kosan yang sedang duduk santai saat melihat Indra berjalan mendekatinya.
“Sekitar pukul 16.00,” jawabnya singkat.
“Memangnya berapa jam dari Makassar ke Jakarta kalau naik pesawat?”
“Ada sekitar dua jam lebih, itu juga belum termasuk macet di perjalanan. Tapi dari bandara kita harus naik bus atau travel lagi hingga ke Bandung,” jelas Indra.
Setelah pemuda itu melepaskan sepatu, ia kembali berbicara, “kalau begitu saya masuk dulu Pak. Mau istirahat sebentar. Capek banget.”
Belum ia melangkahkan kakinya masuk,
“Oh iya, tadi Fandi nyariin kamu,” seru penjaga kos itu tiba-tiba. “Ada keperluan apa dia mencari saya? Apakah ada hal yang penting?” tanyanya.
“Nggak tahu. Dia nggak bilang soal itu, tapi sepertinya memang hal yang penting.”
Terdengar suara ketukan nyaring dari pintu kamar Fandi.
“Siapa?” ujar Fandi dari dalam.
“Gue, Indra!” kata suara nyaring dari balik pintu. Gagang pintu lalu ditekan turun. Bunyi ‘kreeeek’ panjang engsel pintu terdengar, seiring pintu di buka lebar.
Setelah Indra duduk di lantai dengan alas karpet berbahan dasar karet yang lunak tersebut, ia langsung berkata, “Pak Maman bilang, kamu nyariin gue? Memangnya ada apa? Apakah ada hal yang penting?”
Fandi mengambil ponselnya dari meja di depannya, mencari-cari sebuah nomor yang tersimpan di situ dan setelah menemukannya, disodorkannya ponsel tersebut ke Indra.
“Kamu tahu nomor itu nggak?” tanyanya kemudian. “Namanya Rini. Katanya dia itu kenalanmu,” ia menambahkan.
Ia mengingat-ingat sebentar, “Rini? Aku memang punya teman SMA yang namanya sama, tapi dia sekarang ada di Surabaya dan semenjak lulus SMA dia tidak pernah menghubungiku lagi. Kami tiba-tiba saja kehilangan kontak.”
“Jika memang benar dia. Maksudku benar-benar temanku Rini, kok dia bisa tahu nomor kamu ya?” kata Indra sambil berfikir.
“Mungkin kamu pernah mencoba menghubunginya lewat ponselku?”
“Tidak. Itu sungguh tidak mungkin, sebab pernah beberapa kali aku mencoba menghubunginya tetapi nomor yang lamanya itu selalu tidak aktif. Sepertinya dia sudah mengganti nomor ponselnya itu.”
“Bagaimana kalau dia yang menghubungimu?” Fandi tiba-tiba bertanya.
“Aku sudah beberapa kali mengganti nomor ponselku, jadi dia tidak mungkin bisa mengubungiku. Memangnya cewek yang namanya Rini itu ngomong apa?”
Dengan sikap ragu-ragu dan agak gugup, Fandi lalu berkata, pelan sekali hingga Indra sendiri mendekatkan duduknya. Ia tak mau pembicaraan itu terdengar orang lain di luar.
“Katanya kamu menghamili dia dan seperti yang ia katakan, kamu mau lepas dari tanggung jawab atas perbutan yang telah kamu lakukan itu.”
Raut wajah Indra langsung berubah. Mukanya memerah karena amarah yang muncul secara tiba-tiba. Kerutan-kerutan di dahinya terlihat sangat jelas.
“Apa kamu gila,” serunya.
“Mana mungkin. Aku tidak mengenalnya, apalagi pernah bertemu dengannya. Kamu tahu ‘kan aku tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu, apalagi sampai lepas tanggung jawab dari perbuatan yang telah aku lakukan. Aku selalu diajarkan untuk selalu mempertanggung jawabkan perbuatanku,” jelas Indra ngotot.
“Tenang―tenang dong! Saat ini kita harus tenang, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Kalau kamu hanya marah-marah seperti ini, malah akan timbul masalah baru, yang akan semakin memperparah masalah yang sedang kita hadapi ini,” kata Fandi membuat suasana tenang kembali.
“Bukan hanya kamu yang terganggu, aku juga ikut terganggu dengan berita itu.”
Hening sebetar.
“Kamu pernah mengerjai orang sebelum ini nggak? Mungkin orang-orang yang pernah kamu kerjai itu menyimpan dendam padamu,” katanya menyelidik.
Indra tampak mengingat, “ada sih. Ada tiga orang. Semuanya teman satu fakultas di Fakultas Teknik Informatika sama dengan kita. Mereka juga satu semester dengan kita.”
“Siapa saja?”
“Ririn yang satu kampung dengan kita, Makassar. Aku mengerjai dia dengan mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Kelihatannya dia sangat marah dan sepertinya masih dendam kepadaku. Dia tidak pernah menyapaku saat aku berpapasan dengannya baik di kampus maupun bertemu di jalan. Yang kedua, Irin. Anak Kalimantan. Dulu dia pernah mengerjaiku, jadi aku balas saja mengerjainya lagi, jadi kami sekarang seri. Dia benar-benar anak yang suka mencari masalah. Tapi sepertinya dia sudah jera.”
“Dan terakhir adalah Ramond (sambil tertawa kecil), si anak Medan. Dia aku kerjai dengan menyamar menjadi seorang perempuan, tentunya dengan menelepon serta mengirim pesan singkat padanya. Bodohnya dia percaya begitu saja. Dia jadi sering menghubungiku dan pada suatu hari dia menembakku lewat telepon. Aneh kan?”
“Jangan-jangan, kamu gay ya?” tanya Fandi mengernyit.
“Enak saja. Itu cuma sekedar akting. Kau tahu kan akting,” katanya kemudian melanjutkan kata-katanya sebelum temannya itu mulai mengoloknya lagi.
“Mereka sadar sudah aku kerjai saat melihat kode wilayah dari nomor ponsel orang yang mengerjai mereka. Kode itu merupakan kode untuk wilayah Makassar, ditambah lagi mereka akhirnya tahu nomor ponselku setelah menanyai teman-teman kita yang lain.” Indra tertawa lepas.
“Pantas saja kamu bisa dapat masalah seperti ini. Tapi aku masih bingung apakah ini ulah salah seorang di antara mereka atau ulah orang lain.Yang jelas, sekarang ini kamu ingat-ingat dulu nama itu. Mungkin ada lagi gadis bernama Rini yang pernah kamu kenal,” kata Fandi.
Suasana diam. Fandi terlihat berfikir sambil melihat kembali nomor gadis yang bernama Rini itu, sementara Indra sedang bersenandung mendengar nyanyian yang keluar dari kedua speaker komputer di depannya sambil memilih lagu-lagu lain dari sebuah folder.
“Aha!” seru Fandi begitu kuat dan tiba-tiba, sehingga membuat Indra menghentikan senandungnya.
“Ada apa. Bikin kaget saja.”
“Aku sudah tahu siapa orang ini? Maksudku siapa gadis itu? Ternyata dia memang hanya ingin mengerjaimu dan juga aku. Petunjuknya hanya satu, yaitu kode wilayah yang ada pada nomor ponsel tersebut.”
Indra mengernyitkan keningnya.
“Kode wilayah?” ada unsur pertanyaan dari kedua kata yang tersusun tersebut.
“Sekarang kamu tenang saja dan anggap saja permasalahnmu ini sudah beres, selesai. Besok aku akan bicara dengan orang yang mengerjaimu itu. Dia ada di antara tiga orang tadi yang telah kamu kerjai,” Fandi menenangkan.
Di ruang kelas bernomor 1206, di sebelah tangga menuju lantai tiga, semua mahasiswa Teknik Informatika semester III sejak satu jam yang lalu mengikuti perkuliahan. Sebenarnya hari itu mereka ada dua mata kuliah, tetapi mata kuliah yang pertama di pindahkan, dari hari jum’at, menjadi ke tiga hari selanjutnya, senin dan pada jam yang sama. Sementara itu, sekarang mereka mengikuti mata kuliah logika matematika, mata kuliah yang tidak begitu diminati oleh Fandi.
Ia duduk di sebelah gadis berambut panjang. Di kursi paling belakang, dosen pasti tidak bisa melihat kalau ia sedang berbicara.
“Beberapa hari ini kamu menelpon aku bukan?” tanya Fandi pada gadis di sebelahnya.
“Menelepon? Kamu? Sepertinya nggak deh. Buat apa juga aku menelepon kamu. Memangnya kamu begitu penting hingga aku mau menelepon kamu?” ada sikap merendahkan dari jawaban gadis itu.
“Sudah jangan bohong lagi,” kata Fandi berbisik.
Gadis itu terlihat sibuk mencatat apa yang keluar dari mulut dosen kemudian hanya berkata, “buat apa aku berbohong.
Memang ada untungnya buatku,” omongannya datar dan tanpa emosi.
“Sudahlah Irin. Kamu yang mengerjai Indra, bukan? Buktinya adalah kode wilayah nomor ponsel gadis yang mengerjainya itu. Kode itu merupakan kode wilayah Kalimantan. Hanya kamu dan Ridwan saja yang berasal dari sana bukan? Ridwan tidak mungkin melakukannya, karena dia tidak mempunyai motif untuk melakukannya. Jadi pastilah kamu yang mengerjai Indra dan entah kebetulan atau telah kamu rencanakan sebelumnya, nama Rini jika disusun secara acak akan menjadi nama Irin,” jelasnya.
“Bisa saja orang lain ‘kan? Jangan terlalu cepat menuduh orang seperti itu,” Irin membela diri.
“Itu tidak mungkin. Tidak mungkin orang lain. Hanya beberapa orang saja yang tahu nomor ponselku dan tentu saja hanya keluarga dan orang-orang yang aku kenal yang tahu. Indra yang punya banyak kenalan cewek juga tidak kenal dengan gadis yang namanya Rini itu, apalagi aku,” jelas Fandi.
“Motifnya tidak lain, yaitu kamu ingin membalas Indra yang telah mengerjaimu dan satu hal yang paling penting yang perlu kamu ketahui. Aku percaya bahwa Indra tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu. Sudahlah jangan mengelak lagi. Kamu harus membuat sebuah pengakuan sekarang,” Fandi kembali menulis sebab ia sudah tertinggal banyak.
“Tapi aneh saja ya. Kenapa kamu tidak menggunakan nomor ponsel orang lain atau membeli nomor baru. Pasti tidak akan ketahuan.”
Irin diam. Senyuman terbersit dari wajahnya yang cantik.
“Akting kamu benar-benar mengesankan. Benar-benar fantastis. Setara dengan akting aktris papan atas. Mengapa kamu tidak menjadi pemain sinetron saja? Sebagaimana yang banyak di geluti oleh gadis-gadis zaman sekarang,” pujinya kepada gadis itu sambil sedikit tertawa diselingi senyumannya yang khas.
maksih ya atas sarannya....
bagussss
terasa mengalir euy
tapi ada beberapa yg perlu di edit sih
thx ya, gus komen kamu! aku juga lagi belajar koq ! btw belajar ama kamu boleh !... terlebih nulis cerpen . aku blank banget! ...