Andrew dan Gineva berteriak kegirangan memanggil satu per satu nama mereka dari luar, “Hei... ikan bakar! Ikan bakar pertama yang akan kita makan di dunia ajaib ini! Teman-teman!” teriak Andrew nyaring.
Mereka semua keluar dari tenda dan menuju ke arah Andrew, asap mengepul ke arah mereka, aroma ikan yang begitu nikmat, Dewi adalah penggemar sea food dan dia sangat senang melihat makanan favoritnya itu sedang terlentang indah di atas api yang membara dengan beberapa kayu sebagai tiang penyangganya.
Read more (2494 words)
“Wow, sepertinya enak, Andrew adikku...” ucap Carlo senang, Gineva tersenyum girang di sebelah Andrew, dengan begitu bahagia dia mengipas-ngipasi ikan asap di hadapannya.
Di sisi lain, dengan bahagia dan sambil bersiul-siul, Schiller dan Vash, co-pilot yang menemani Kapten Hume dan seorang ahli paleontologi menyiapkan kayu-kayu yang sedari tadi mereka asah berbentuk persegi tipis datar yang akan mereka jadikan piring untuk tempat makanan mereka senja itu.
Kapten Hume, Melinda dan Virginia tergelak-gelak tak tentu, begitu bahagia, di lapangan rumput dekat tempat Andrew dan Gineva memanggang. Mereka duduk dialasi dedaunan sebesar pelepah pisang yang ditumpuk-tumpuk. Entah apa yang sedang mereka obrolkan, tak ada sirat kekhawatiran sama sekali ataupun wajah yang memancarkan sirat kerinduan kepada dunia nyata mereka, mereka terperangkap dalam dunia ini, terjerat dan begitu tergila-gila dengan kealamian dunia ini. Dewi menatap kosong, ada yang tidak beres terjadi di dalam hatinya.
Dewi dan Bayu berjalan ke arah mereka berempat, ikut bergabung. Rupanya keempat orang itu sedang membicarakan kehidupan pribadi mereka, kejadian-kejadian lucu sewaktu kecil, kisah jatuh cinta pertama, atau justru perdebatan sengit mereka dengan orang tua mereka ketika memilih jurusan kuliah yang tak lazim seperti oceanologi, geologi, astronomi, biologi, ataupun fisika sementara kebanyakan orang tua zaman sekarang mengutamakan profesi sebagai dokter. Bayu sedikit banyak merasa tersindir, terlihat jelas dari wajahnya yang bersemu kemerahan.
Memang tak masalah kalau orang seperti Bayu memasuki jurusan kedokteran, selain itu memang sudah garisan nasibnya, dia memang adalah calon dokter yang mumpuni. Tidak hanya pengobatan konvensional saja yang dikuasainya semisal pengobatan dengan obat-obatan sintetis, tetapi dia juga mempelajari terapi-terapi yang berkaitan dengan pengobatan seperti terapi magnet, terapi auto urin, atau terapi holistik seperti terapi pengobatan kehidupan masa lalu atau yang terkenal disebut-sebut sebagai past life therapy. Seorang pasien yang menderita sakit perut misalnya, dalam pengobatan past life therapy, dia dihipnotis, diperintahkan untuk memikirkan kehidupannya, terutama kehidupan masa lalunya, lalu di kehidupannya yang lalu ternyata dia mati karena ditusuk perutnya, setelah diketahui traumanya itu, “sang dokter” mencoba untuk mengobati pasiennya dengan menghilangkan trauma itu tanpa bekas, dan bim sala bim, penyakit itu langsung hilang.
Banyak lagi terapi pengobatan yang diketahui Bayu, tak terhitung banyaknya literatur mengenai hal itu berderet di rak buku perpustakaan pribadinya. Segala jenis buku dimilikinya, mengikuti konsep perpustakaan yang baik. Selera Bayu yang tidak biasa menyebabkan perpustakaan pribadinya juga tak bisa disebut biasa, Ayahnya bahkan menggeleng takjub melihat kegemaran anaknya mengoleksi beragam jenis buku ini.
Di balik itu semua, di balik kegilaan kekasihnya akan dunia kedokteran atau gemerlapnya segala jenis terapi pengobatan, Dewi selalu ditutupi selubung hitam yang tak pernah dia buka, selalu ditutupinya bahkan di hadapan Bayu sekalipun. Sebuah trauma masa kecil terhadap dunia kedokteran.
“Kawan-kawan, ini ikannya. Mari kita pesta...” ucap Andrew riang seraya memberikan ikan asap beralaskan piring kayu persegi kepada Schiller dan Vash untuk diberikan kepada Dewi, Bayu, dan beberapa orang yang sedang menikmati pembicaraan mereka di sebelah barat, mereka menatap ke arah sinar matahari yang makin memerah, jingga keunguan, tandanya sang energi maha dashyat itu akan bersembunyi ditutupi hitam kelamnya langit malam dan posisinya akan digantikan oleh sang dewi bulan yang maha cantik.
Mereka menikmati makan malam mereka dengan bahagia, berebutan ikan asap berukuran jumbo yang terlentang indah di atas piring kayu persegi seukuran 30 x 30 sentimeter itu, sungguh primitif jika tidak bisa dikatakan ironis. Biasanya senja dengan panorama indah terbenamnya sang surya mereka lalui dengan dinner atau meeting bersama rekan-rekan bisnis di sebuah gedung mewah, sofa empuk dan AC yang tak henti-henti menyejukkan mereka tentu adalah jaminan, berbagai jenis cake dari blackcurrent cheese strawbery cake hingga berbagai jenis roti dengan krim yang menggoda, sea food yang melimpah ruah tak terkira, segala jenis makanan Asia, Eropa, bahkan Chinese tak jarang menjadi pilihan mereka di kala dinner. Namun kini, dengan penuh kesederhanaan dan entah rakus atau apa, mereka memperebutkan seekor ikan asap di sebuah dunia yang bahkan tidak berani sepenuhnya mereka definisikan sebagai dunia mesozoikum. Inilah sentuhan itu, sentuhan yang tak pernah ditemukan para konglomerat kelas atas, dan tanpa mereka ketahui, sekali sentuhan ini memeluk mereka, mereka akan terjerat tak ingin lepas. Itulah kehidupan, beragam sentuhan melebur satu, indah tak terperi bagai lukisan abstrak sang maestro.
Sesekali mereka saling pandang, tertawa bahkan terbahak begitu keras ketika mereka saling memandang wajah mereka yang berwarna kehitaman saking bersemangatnya mereka menikmati ikan asap buatan Andrew dan Gineva atau ketika tangan mereka yang berminyak saling bersentuhan dan saling tabrak untuk memperebutkan ikan asap itu. Ini konyol jika tidak bisa dikatakan naif.
Ketika kecil, tiap orang sering kali bermimpi untuk menikmati hidup bebas di alam liar, menjelma menjadi sesosok manusia purba yang terlupakan keberadaannya, mengejar rusa dengan sebilah kayu bersudut tajam sebagai tombak, kemudian menikmati hasil perburuan itu. Terkadang mimpi seorang anak kecil bahkan lebih naif dari itu, mimpi seorang anak adalah menjadi dewasa, namun ketika dewasa justru para manusia dewasa itu bermimpi untuk kembali menjadi anak-anak, mungkin itu salah satu penyebab timbulnya postulat mahapopuler dari Einstein, Teori Relativitas Umum dan Teori Relativitas Khusus, yang paling jujur dikatakan hanya dimengerti oleh sepuluh orang saja di dunia ini, teori mengenai beragam jenis waktu.
Kali ini, di dalam dunia antah berantah, dunia yang terpencil, tanpa peradaban apapun, manusia-manusia dewasa itu kembali kepada masa yang mereka lupakan, masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan, karena satu hal kecil saja bisa membuat seseorang menjadi begitu senang dan berlonjak-lonjak bahagia. Karena satu hal yang seharusnya menyedihkan bisa menjadi lucu di mata anak-anak dan begitu menggelikan bagi mereka.
Semua itu adalah pesona alam, daya tarik magis yang tak dapat dipisahkan jika manusia hidup di alam bebas, dengan pohon sebagai tembok, langit sebagai atap, dan tanah sebagai lantai. Kebahagiaan terbesar akan seseorang dapatkan ketika mereka menjelajah dunia, terduduk di hamparan rumput yang membentang dari utara ke selatan ataupun dari timur ke barat, bersama-sama menatap mimpi-mimpi di langit yang berkedip-kedip dari bumi yang begitu hijau, itulah kebahagiaan.
Selesai menikmati makan malam mereka, mereka berbondong-bondong menuju ke arah sungai untuk mencuci tangan, mereka mandi dengan pakaian masih melekat di tubuh, begitu bahagia, saling menciprati tubuh dengan air, dan berkecipakan di atasnya. Kadang seseorang memiliki waktu untuk memimpikan kehangatan itu, itulah insting, bahkan manusia selalu memimpikan kehangatan itu, tapi manusia terkadang lupa akan instingnya, banyak orang selalu membanggakan akalnya yang tak dimiliki oleh makhluk manapun di dunia ini selain manusia sendiri, namun banyak orang justru melupakan instingnya, karena dipikirnya keberadaan insting hanya untuk makhluk-makhluk yang tingkatannya di bawah mereka. Dan berakhirlah sudah peradaban insting itu digantikan peradaban akal manusia. Berakhirlah peradaban manusia purba Mesir yang dahulu kala melukisi tembok-tembok goa ketika mereka memiliki insting hanya karena hadirnya keserakahan akalnya, diikuti peradaban lainnya di belakangnya, lalu dengan terbata-bata mereka berkoar-koar bahwa mereka sedang dalam tahap memperbaiki diri.
Angin malam begitu dingin, namun keinginan mereka untuk menatap bintang yang berjajar indah di langit malam itu tak dapat diurungkan, jarang-jarang keinginan mereka untuk menatap langit penuh bintang terpenuhi, dan kali ini mereka memenuhinya di satu tempat yang bahkan tidak mereka ketahui sebelumnya ada.
“Ibu......” suara Toro menggema, hanya Dewi yang bisa mendengarnya, dengan telaten dia berlarian ke arah Toro yang terduduk di atas daun hijau lebar, “Toro..” gumam Dewi, “ada apa?” lanjutnya dengan nada sayang, dibelainya bulu berang-berang itu.
Tubuh Toro menggeliat, wajahnya berseri-seri, “Ibu...” ucap Toro kemudian, memeluk Dewi dengan sayang.
Bayu menatap kekasihnya itu dari balik tenda, sosok gadis yang begitu keibuan, walaupun dia tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan di dalam tenda, tapi dia tahu bahwa terdapat jalinan kasih di tiap gerak-gerik Dewi kepada berang-berang manja itu, Dewi adalah penyayang binatang dan dia begitu tulus melakukannya.
“Cup,cup,cup.. iya, Toro boleh panggil aku Ibu. Namaku Dewi, asalku dari Indonesia. Kamu mungkin nggak tahu di mana tempat itu, tapi tempat itu indah, lebih indah dari dunia ini...” ucap Dewi kemudian.
“Kenapa Ibu? Di mana tempat itu?” tanya Toro ingin tahu.
“Di sana banyak tikus-tikus besar.. duduk di atas dan kekenyangan.. kamu pasti akan senang ada di sana tikus kecilku..” jawab Dewi.
Toro menggaruk-garuk bulu kepalanya dengan jari-jarinya yang tajam, Dewi tersenyum, hari ini dia berubah wujud menjadi sosok Ibunya sepuluh tahun lalu, misterius dan tiap kata yang diucapkannya tak bisa dia mengerti kala itu.
“Tapi suatu saat nanti kalau Toro mampir ke Indonesia, Toro jangan duduk di atas, Toro duduk di bawah saja, jangan berebut kursi, tetaplah menjadi tikus kecil.. biarkan tikus besar yang kekenyangan di atas berebut makanan sesama mereka...” ucap Dewi pelan, bergumam menyindir, samar-samar Bayu bisa mendengar apa yang diucapkan Dewi, dan dia tersenyum kecil, kekasihnya ternyata adalah gadis nakal yang begitu kritis.
“Iya, ibu..” ucap Toro, dibelainya bulu kepala Toro dengan sayang, mata spesies Castorocauda lutrasimilis itu begitu indah, bola matanya coklat dengan sirat kelamnya tersendiri, benar-benar berang-berang yang cantik.
“Toro mau ikut bermimpi?” tanya Dewi kemudian, Toro mengangguk senang, “Mimpi apa, Ibu?” tanya Toro kemudian. Bintang-bintang.
Dewi hanya tersenyum dan digendongnya Toro menuju ke arah luar tenda, “Bayu..” gumam Dewi ketika mendapati kekasihnya itu berdiri di balik tenda, Bayu tersenyum, dikecupnya kening Dewi.
“Ayah...” gumam Toro tersenyum riang, kemudian dia meloncat ke arah bahu Bayu, Bayu memeluknya dan membelainya sayang,
Dia tersenyum, “Apa sih yang dia katakan? Kok rasanya bahagia sekali aku mendengarnya...” ucap Bayu, “Dia memanggilmu ayah..” jawab Dewi.
Bayu menatap Toro terkesima, “Terus kamu dipanggil apa? Ibu?” tanya Bayu dengan wajahnya yang bersemu merah saking bahagianya.
Dewi mengangguk, “Kasihan dia, Bay.. Ibu dan Ayahnya meninggal kemarin.” Kata Dewi sendu.
“Sayang aku nggak mengerti bahasanya dan nggak bisa berkomunikasi dengannya..” ucap Bayu menunduk sedih, Toro memegang wajah Bayu, membelai pipi Bayu dan kemudian dia tersenyum seraya menggeleng, “Nggak apa-apa, Ayah...” kalimat itu pelan terdengar oleh Bayu. Bayu tersenyum, kemudian dia mengangguk.
“Ternyata binatang mengerti arti kasih sayang juga, ya..” ucap Bayu, mereka berjalan-jalan ke arah sungai, Bayu menggendong Toro yang menggelantung manja di pundaknya dengan sayang.
“Itu insting, Bay.” Jawab Dewi, tersenyum ke arah Toro dan membelai bulu kepalanya, Toro menggeliat manja di pundak Bayu.
Aliran sungai itu begitu tenang, sudah empat kali mereka bolak-balik di sungai ini di kala siang, tetapi baru mereka ketahui bahwa sungai menjadi lebih indah di malam hari, karena rembulan yang cantik sangat senang berkaca di air sungai yang jernih itu, menjadikan permukaannya begitu terang, indah dan hidup.
Raungan terdengar dari berbagai penjuru, sedari tadi pagi mereka mendengar raungan itu, beragam jenis raungan, dengan frekuensi suara yang berbeda, tinggi-rendah tak beraturan dan dengan nada falset atau justru begitu nyaring sehingga memekakan telinga. Semua suara itu hanya didengar Bayu sebagai sebuah jeritan kesakitan atau jeritan kebanggan seekor dinosaurus, tetapi Dewi mendengarnya dengan lebih jelas.
Dinosaurus-dinosaurus itu paling tidak selama seharian penuh pernah berteriak nyaring, “Aku lapaaaar...”, atau justru bergumam sayang, “Mari kita beranak..” atau yang paling sering didengarnya, “Anakku, hati-hati” dan setelah mendengar kalimat itu, biasanya kemudian di langit sebelah timur berterbanganlah beragam jenis Archeopteryx di angkasa, berkomunikasi sesama mereka yang bisa diartikan, “Kakak.. kita mau ke mana?”, “Ke sebelah barat, adik.. Ayah biasa mencari makan ke arah itu..”
Itulah kehidupan dinosaurus, tak terlukiskan sebelumnya di benak Dewi bahwa dia akan bisa begitu dekat dengan jiwa makhluk-makhluk itu.
Archeopteriks... burung-burung yang menakjubkan. Dewi mengetahuinya karena berbagai jenis film science-fiction yang ditontonnya.
“Ibu... tempat tinggal burung-burung itu adalah di timur dan mereka akan terbang ke barat, mencari ayah mereka katanya. Aku berteman dengan mereka dan jatuh cinta dengan salah satunya, namanya Lara, Ibu..” ucap Toro senang, sedikit malu.
Ternyata Toro bisa membaca pikirannya, Toro tahu bahwa Dewi sedang memikirkan segerombolan Archeopteryx yang melenggang indah di atas catwalk angkasa berlatar langit biru yang begitu indah dengan awan sirusnya yang bergerak begitu cepat.
“Ada juga burung yang begitu cantik namun sangat mengerikan, mereka pemangsa kelompok kami, kadang mereka mengejar-ngejar Lara dan keluarganya, kadang mereka memangsa mangsanya langsung di angkasa. Mengerikan.” Lanjut Toro, sepertinya dia pernah tahu, raptor.. sepertinya pernah didengarnya mengenai hal ini.. raptor, iya.. burung pemangsa.
“Mereka burung yang mengerikan, Ibu.. kami membencinya.” Ucap Toro kemudian, lagi-lagi makhluk kecil serupa hamster ini mampu membaca pikirannya. Maniraptorankah yang Toro maksudkan, Dewi hanya bisa terpana atas penjelasan si kecil Toro.
“Ibu harus mengenal dunia ini, aku ingin Ibu selalu menemaniku di dunia ini..” Kata Toro kemudian, matanya berbinar-binar.
Kuku Toro yang begitu tajam menyentuh epidermis kulit Dewi dan Bayu, “Toro mau Ayah dan Ibu ada di sini untuk Toro.. jangan pergi.” Lanjut Toro.
Dewi menatap Toro dengan sirat kasihan, dia ingin tinggal di dunia ini, tapi dia masih memiliki dunia lain, dia masih memiliki Ayah yang menunggunya kembali, Ayah yang selama bertahun-tahun dibencinya namun takkan bisa dilupakannya.
Dewi hanya tersenyum, menatap Bayu yang juga tersenyum. “Anak kecil yang nakal, ya?” ujar Bayu lembut, Dewi tersenyum kemudian mengangguk. “Anak-anak kita nanti akan seperti dia.” Jawab Dewi pelan.
“Nakal dan begitu cerdas.” Jawab Bayu. Dewi mengangguk lagi.
“Bintang jatuh!” teriak Gineva nyaring dari kejauhan, Dewi dan Bayu seketika menoleh ke arah langit, terlalu dramatis jika sekarang mereka menutup mata, menyatukan kedua belah tangan dan memohon permintaan. Mereka hanya tersenyum, mengingat pertemuan mereka dulu, klub astronomi SMA mereka yang sering mengadakan kemah dan acara malam sekedar menunggu bintang jatuh, ketika itu mereka pasti menutup mata dan meminta sesuatu.
“Terkabul?” pertanyaan Bayu itu mengandung nada penasaran yang sangat lama dipendam, Dewi menggeleng, “belum.”
“Mimpimu terkabul?” tanya Dewi kemudian, “belum.” Jawab Bayu juga.
Memohon permintaan kepada bintang jatuh ketika acara perkumpulan klub astronomi berlangsung adalah hal yang biasa, terlalu biasa malah. Karena mereka sebagai klub astronomi sudah bisa memperkirakan waktu, maju selangkah dari kelakuan para pemeran meteor garden. Namun lima tahun yang lalu ketika mereka masih SMA, mereka memohon permintaan pada bintang jatuh, dan mereka berjanji, hingga saat permintaan itu terkabul, barulah mereka boleh memohon permintaan lagi. Maka hingga hari ini, Bayu dan Dewi tidak pernah memohon satu pun permintaan lagi, hingga permintaan itu terkabul.
“Jangan-jangan sampai tua kita nggak bisa memohon permintaan lagi..” canda Dewi, Bayu menggeleng, “Kita klub astronomi dan kita memiliki kepercayaan yang kuat terhadap benda-benda langit itu. Mereka nggak akan mengecewakan kita. Trust me.” Senyumnya merekah, Dewi menatap Bayu penuh arti, dasar ketua klub Astronomi, selalu saja dia banggakan klubnya itu.
“Ibu.. tenang saja, ada Toro. Waktu Ibu dan Ayah nggak bisa memohon permintaan lagi pada bintang jatuh, ada Toro yang akan memohon permintaan itu. Dua permintaan sekaligus.” Ucap Toro menengahi, Dewi membelai bulu Toro dengan sayang, jika tiba suatu saat dia harus meninggalkan makhluk kecil ini, mungkin dia akan menangis sejadi-jadinya, dan mungkin saat itu adalah besok.
“Toro sayang Ibu dan Ayah...” ucap Toro lagi, menangis terisak. Makhluk kecil ini.. begitu kesepian dan haus cinta kasih. Dewi dan Bayu hanya bisa tersenyum, tangan mereka bergenggaman. Malam yang tak akan terlupakan bagi mereka, suatu malam dimana mereka merasa menjadi orang tua mutlak dari seorang anak yang begitu naif dan cerdas seperti berang-berang di sebelah mereka, Toro..
***
lagi lagi cinta tapi oke kok
bisa mengerti bahasa binatang? hmm, masuk fantasy nih. Unik.
Betewe apa ya?
Hm, kayaknya uraian tentang pendapat pribadi spt yang dikatakan Villam memang terasa panjang deh, bisa sedikit diringkas tuh
Trus, jangan bilang km iseng nulis ini, tar aq juga iseng kasih komentnya lho, he he..
Yup, semangat ya Sist
ini masih lamjut atau udah end???
absurd, kompleks, dan menarik nian dirimu, michel...
di bab sebelumnya aku dah banyak berkomentar soal riset2mu. jadi walaupun di sini semakin banyak detil tentang berbagai hal, dan juga pendapat2 pribadimu masuk ke dalam cerita, aku bisa menerimanya dengan senang hati. hehehe... karena berarti kamu konsisten dengan cerita ini. hihi...
bagaimanapun, sebagai seorang pencari cerita yang emosional, aku kemudian merasa lebih nyaman begitu sampai ke bagian dialog di setengah bagian akhir.
AKHIRNYA TAMAT JUGA...
gak cape mba nulis sebanyak itu?
tapi bagus lho...
Gw suka banget