Sebuah rindu menetes di sudut bibir dan mata
Dari mimpi terjerembab terik pagi
Rindu yang semalam sudah dibungkus dengan segala rasa
Pada semua kesederhanaan tempat ari-ari terpendam
Setelah menjadi kenangan samar beberapa lama
Dalam hiruk pikuk wajah tak saling sapa
Di Tawangmangu, langit menangis tak terbendung
Bukit-bukit melumpur merendam kehidupan
Tawa renyah menjelma tangis membahana
Bocah itu, mungkin ingin tuntas mengubur masa depannya
Sebelum menjadi mimpi buruk di atas lusuh kardus
Karena ayah ibu tak mewariskan sekedar nama
Airmatanya adalah lautan kata membuncah dalam benak penyair
Yang tak sempat merangkainya menjadi puisi
(17 Januari 2008)
Rating
56
points
Views: 23 reads
Comments: 8
Rating:
Comments: 8
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
warisannya banyak donk ya?
andi..kelupaan katanya
makasih bang dino, setelah nengok2 ke belakang, yapp! banyak -yang- bertaburan, hehe, masih harus diingetin terus.
eh btw nanti kalo bukunya udah terbit kasih tau yak.... ato boleh pesan privat yg ada ttd-nya?
my bra ups my bro:
sudah kuduga akan ada persepsi seperti ini.
coba bandingkan:
tak mewariskan sekedar nama
mewariskan tak sekedar nama
mana yg warisannya banyak? heheh sotoy gwe...
coba yang-yang nya di buang
Kayaknya belum ada sumbangan atas nama andi tafader deh?udah nyumbang lum bos?
puisi pertama yang Kitty baca pagi ini ^^
"ayah ibu tak mewariskan sekedar nama" pantes aja ya, bikin nama slametan dulu
Iyesss. Ini yang pertama kubaca.