Suasana di supermarket tempat Ismail bekerja agak riuh. Terdengar suara ibu-ibu berjubel memperebutkan baju obralan yang murah-murah.
“Il, elo ada tugas tambahan dari Pak Direktur,” kata Rita, seorang penjaga kasir.
“Tugas apa?” tanya Ismail.
“Lu awasin tuh ibu-ibu yang lagi rebutan baju obrolan, mungkin ada tukang ngutil,” kata Rita.
“Oke!” sahut Ismail.
Ismail yang telah bersiap dengan sebuah pentungan segera mendekati gerumbulan ibu-ibu.
Read more (1703 words)
Di dalam gerombolan ibu-ibu itu terlihat seorang wanita dengan gelagat yang mencurigakan. Ismail pun hati-hati memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut. Kecurigaan Ismail terhadap wanita itu semakin kuat saat ia melihat wanita itu mengambil beberapa helai baju. Yang dimasukan ke dalam sebuah kantong plastik hitam dan disembunyikan di balik baju hamilnya. Persis jadi ibu yang lagi hamil sembilan bulan bahkan lebih.
Wanita itu tampaknya tak menyadari akan kehadiran Ismail yang mengawasinya terus menerus. Karena merasa aman, wanita itu langsung saja nyelonong ke luar supermarket tanpa membayar dahulu di kasir. Ismail pun dengan sekuat tenaga menyorakinya maling.
“Maling! Maling! Maling! Tukan ngutil! Kejaaar…!” teriaknya.
Wanita itu pun langsung tancap gas karena ketahuan. Ismail bersama tiga pasukannya segera menyusul. Aneh bin ajaib! Bagaikan menggunakan Pesawat Jet, wanita itu terus saja melesat tanpa menyentuh bumi. Walaupun wanita itu mustahil untuk disusul, Ismail dan pasukannya tak menyerah begitu saja.
Wanita pengutil itu telah lenyap dari pandangan Ismail dan ketiga pasukannya. Kini, mereka berempat hanya bisa berjongkok sambil istirahat sejenak dan membayangkan meletusnya gunung berapi yang sumbernya berasal dari sang pimpinan.
“Il, kalau begini, sebaiknya kta laporkan sama polisi saja,” usul Roy, salah satu pasukan Ismail.
“Bener tuh,” timpal Memet.
“Kita mau melaporkan apa?” tanya Ismail. Bego amat mau melapor apa. Iya kaaan…!
“Ya melapor kejadian inilah! Memangnya mau melaporkan apa lagi? Kucing di tabrak lari? Monyet mencuri buah? Orang gila jadi dokter?” kata Gery ketus.
“Maksud gue, yang kita laporkan untuk menjadi penunjuk polisi itu apaan? Memangnya kita mau melaporkan nomor berapa kendaraan tuh pengutil? Kan tuh pengutil kagak pake kendaraan,” kata Ismail.
“Tapi tuh pengutil larinya kenceng banget, laporin aja tuh nomor ukuran sepatu atau sandal jepitnya,” usul Gery.
“Dasar bego! Mana bisa melaporkan hal kayak gituan sama polisi! Bisa-bisa nanti kita yang ditangkap karena membuat laporan asal-asalan,” kata Roy.
Perdebatan antara petugas supermarket pun terjadi. Masing-masing mengeluarkan argumentasi yang ancur-ancuran. Masa, salah satu dari mereka mendingan tuh pengutil di lacak pakai anjing pelacak dan bahkan ada yang memberikan usul agar kediaman tuh pengutil di bom. Terkecuali, Ismail yang sedang berkonsentrasi. Berpikir cara apa yang jitu untuk menangkap pengutil karena ia masih ingat wajah tuh pengutil. Cakep, rambut panjang, mata merah…Tiiing…!
“Gue ada ide,” seru Ismail.
“Ide apaan?” tanya Gery, Memet, dan Roy berbarengan.
Ismail pun membisikan idenya ke telinga temannya itu.
“Boleh juga tuh!” seru Roy.
”Tapi, kalau gagal bagaimana?” tanya Memet.
“Iya betul, apa lagi kalau sampai ketahuan pimpinan, bisa brabe,” tambah Gery.
“Hal yang kayak begituan mendingan kita pikirkan belakangan. Sekarang, lu bertiga diem aja dulu. Besok, pasti tuh pengutil bakalan datang lagi,” kata Ismail berusaha menyakinkan dua temannya yang agak ragu kepadanya.
***
Hari selasa yang cerah. Jam ditangan menunjukkan pukul sembilan pagi. Ismail yang datang jauh-jauh hari telah siap sedia dengan menggunakan seperangkat alat tempur ditambah sebuah kamera sewaan dan jam tangan Swiss imitasi.
“Wah! Keren banget lu,” sindir Hairil, seorang satpam supermarket.
Ismail menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Seakan-akan tak mendengar sindiran Hairil.
“Cieee…! Pura-pura nggak kenal lagi! Eh, walaupun elu pakai segala macam pernak-pernik, elu gampang di tebak kalau lu itu…” Hairil baru saja ingin menyebutkan nama Ismail, ia buru-buru menutup mulut Hairil dengan sapu tangan yang terbuat dari kaos kaki yang nggak di cuci selama satu bulan. Alhasil, Hairil setengah ngelenger.
“Buset! Mulut gue lu sumpalin pake kaos kaki kecoa, bener-bener lu!” kata Hairil dengan wajah yang memerah.
“Elu sih! Gue sekarang sedang nyamar,” kata Ismail.
“Oo…! Bilang dong dari tadi. Gue kan kagak tau kalau lu itu…” baru saja Hairil ingin menyebut nama Ismail, ia dengan sendirinya menutup mulutnya sendiri.
“Ismail,” kata Hairil sambil berbisik dan langsung ngibrit.
“Sialan tuh satpam,” maki Ismail.
Satu jam telah berlalu, namun sang wanita pengutil belum juga datang. Tiba-tiba, sebuah mobil Mercedes Benz berhenti agak dekat dengan tempat Ismail berdiri. Ismail yang menyadari kedatangan mobil mewah itu langsung saja membalik arahnya dan memelototi mobil dan orang yang di dalamnya. Seorang wanita. Cantik pisan euy…!
Tampaknya wanita yang berada di dalam mobil mewah agak dikenal oleh Ismail. Dari rambut dan wajahnya, ia pun menyimpulkan segala macam memori yang ada di dalam batok kepalanya itu. Setelah beberapa saat berpikir, ia kaget bukan main. Wanita itu adalah pengutil baju yang kemarin!
Ismail yang menyadari hal itu semakin gugup dan panik apa yang harus ia lakukan. Mau lapor polisi rasanya mustahil, mau diteriakan maling nggak bisa. Wanita itu lalu keluar dari mobilnya dan menuju WC umum yang berada di seberang supermarket. Ismail pun mengontak salah satu rekannya, Gery. Dengan menggunakan sebuah handphone butut, ia menghubungi Gery yang sedang menyamar jadi Manekin.
“Gery! Elu siap-siap di posisi elu. Target sudah datang,” lapor Ismail.
“Oke!” sahut Gery.
Setelah menghubungi Gery, Ismail lalu menghubungi Roy yang sedang menyamar jadi ibu-ibu yang lagi berebut baju obralan. “Lu stand by di sana ya,” perintahnya pula.
“Okay!” sahut Roy pula.
Setelah kedua temannya yang ada di dalam sudah diberitahukan, kini yang berada di luar juga harus diberitahukan untuk membantu tugasnya.
“Met, lu awasin terus tuh mobil cewek kalau perlu lu masuk aja dalam bagasinya. Jadi nggak perlu lari-lari kalau tuh cewek melarikan diri,” perintah Ismail.
“Baik bos,” sahut Memet yang lagi nyamar jadi tukang parkir.
Misi dimulai saat wanita yang anggun merubah penampilannya jadi wanita super gembel.
Ismail yang dalam keadaan menyamar mengikutinya dengan gaya khas seorang mata-mata. Walau rencana berjalan agak lancar, tetapi tingkah Ismail yang mengikuti wanita itu menarik perhatian banyak pengunjung. Bahkan, para petugas yang mengamati setiap sudut supermarket dari kamera terheran-heran melihat gelagat Ismail. Alhasil rencana gagal total. Para security menugaskan seluruh personil untuk memata-matainya. Rencana yang semula tersusun rapi semakin amburadul setelah wanita itu menyadari gelagat Ismail. Wanita itu pun dengan gesitnya menghilang dari pandangan Ismail.
“Kemana tuh cewek?” gerutu Ismail.
Karena kehilangan arah, ia lalu membalikan arah. Bermaksud untuk menemukan kembali wanita dengan cara menyisir kembali dari pintu masuk.
“Buk!” Ismail yang mungil menabrak seorag pemuda yang berukuran jumbo dan memakai pernak-pernik khas preman.
“Gelagat lu mencurigakan. Apa lu pengutil?” tanya pemuda jumbo itu.
Ismail menggeleng.
“Tampaknya, gue kenal lu deh. Tapi, itu tampaknya firasat gue aja,” kata pemuda jumbo.
“So pasti itu,” kata Ismail buru-buru. “Kita kan saling kenal,”
Pemuda jumbo itu mendekatkan mulutnya ke telinga Ismail.
“Memangnya kita saling kenal?” tanyanya pula sambil berbisik.
“Gue Ismail, goblok,” kata Ismail pula.
Pemuda itu terkejut menyadari kalau orang yang menabraknya itu adalah rekannya sendiri.
“Lu ngapain ngikutin tuh cewek gembel?” tanyanya pula.
“Lu Jayus kan?” tanya Ismail.
“Iya betul,” jawabnya pula.
“Lu perintahkan seluruh anak buah lu buat ngikutin tuh cewek yang gue ikutin barusan. Dia itu pengutil baju dalam segala mode tingkat profesional,” kata Ismail.
“Ah, yang bener?” tanya Jayus.
“Swear! Kalau begitu sekarang lu perintahkan cepat!” kata Ismail.
“Siap!” sahut Jayus pula sambil memberikan komando kepada anak buahnya yang sedang menyamar agar me-rubah misi. Setelah itu ia lalu mengontak Pemimpin.
Ismail kembali menjalankan misinya. Mencari wanita pengutil yang berada di dalam supermarket tersebut. Setelah memutar arah dan otaknya sendiri. Wanita tersebut masih belum diketemukan. Berbagai firasat pun masuk ke dalam feeling-nya.
“Waduh, kalau nggak ditemukan bisa gawat! Gue harus cari akal,” pikir Ismail.
Karena lelah dan haus ia duduk sebentar di restoran yang ada di dalam supermarket tersebut. Tapi, baru saja di menyentuhkan pantatnya, sang target terlihat di antara ibu-ibu yang lagi berebut baju dalem. Ternyata wanita tidak berada di daerah yang diperkirakan.
“Gery, lu sekarang pindah ke tempat jualan baju dalem, segera!” perintah Ismail lewat ponselnya. “Sekarang saatnya beraksi,”
Ismail pun mulai beraksi. Mencoba mendekati target dengan yang lagi memasukan satu persatu baju dalem ke dalam kantong plastik besar.
“Nah lu! Ketahuan sekarang,” sergap Ismail.
Tanpa banyak omong lagi, wanita itu ngibrit dengan cepatnya. Ismail lalu mengejarnya dengan sekuat tenaga sambil berteriak-teriak.
“Tutup pintu utama! Tutup Pintu Keluar! Tutup pintu darurat! Pokoknya tutup semua pintu…!” perintah Ismail.
Wanita itu kini terjebak. Seluruh pintu telah di jaga oleh bala pasukan Jayus.
“Anda di tangkap,” teriak Jayus.
Bukannya lari wanita itu malah bertepuk tangan.
“Bagus, bagus, bagus sekali! Baru ini ada supermarket dengan keamanan yang super ketat,” kata wanita itu.
“Tampaknya saya mengenal suara ini,” kata Jayus.
“Jayus, Jayus! Rupanya kamu sudah mulai pikun,” kata wanita itu. Ia lalu membuka topi dan segala macam pernak-pernik tambahan. Kecuali baju.
Jayus tercengang melihat wanita itu adalah seorang Big Boss perusahaan mereka. Kecuali Ismail yang hanya garuk-garuk kepala.
“Saya Ramitha!” kata wanita itu.
Jayus dan para anak buahnya makin tercengang. Kecuali Ismail yang hanya bingung melihat cewek cakep.
***
Di dalam sebuah ruangan tepatnya di Supermarket “Bawang Goreng” sedang dilaksanakan rapat. Eits, Ismail juga ikut lho! Walaupun jabatan hanya sebagai ketua keamanan.
Rapat tersebut membicarakan tentang berbagai masalah. Dari soal kenaikan harga dan lain sebagainya. Akhirnya, setelah beberapa jam rapat itu di tutup dengan pengumuman dari Bu Ramitha.
“Ada yang saya umumkan kepada seluruh anggota di ruangan ini. Bahwa seorang pegawai yang bernama Rahmat Ismail Chorul akan saya naikkan jabatannya sebagai ketua komando keamanan, sedangkan saudara Roberto Tjayus Nasution saya tempatkan sebagai wakil ketuanya. Sekian dan terima kasih,” Bu Ramitha lalu keluar dari ruangan meninggalkan para anggota lainnya yang ribut soal kenaik-kan jabatan tersebut. Lain pula dengan Ismail yang bersorak gembira.
“Il, jangan lupa sama kita-kita,” kata Gery.
“Tak akan Aku lupakan,” jawab Ismail. “Kalian bertiga akan saya masukan ke dalam anggota ini,”
Ketiga temannya yang menjadi partner dalam pengejaran pun bersorak gembira. Lebih gembira dari Ismail. Sambil jungkir-balik lho mereka!
Tiba-tiba tersirat sebuah peretanyaan yang ada di dalam benak Ismail yang ingin ditanyakannya oleh Bu Ramitha. Tanpa pikir panjang ia berusaha mengejar wanita tersebut.
“Bu! Tunggu!” teriak Ismail.
Ramitha lalu berhenti dan menoleh. “Ada apa?” tanyanya pula.
“Saya mau nanya Bu? Kenapa Ibu berani melakukan itu?” tanya Ismail.
“Saya hanya mencari sensasi saja. Dan sekalian pula mencari seorang ketua keamanan yang pintar dalam urusan seperti ini. Oh ya, Kamu jangan panggil saya ibu. Panggil aja Ramitha. Oke?” kata Ramitha panjang lebar.
“Oke!” jawab Ismail sambil mengancungi jempolnya.
Ramitha lalu seraya pergi meninggalkan Ismail sendiri di koridor.
“Cewek gila. Sinting kali ya?” komentar Ismail.
To Be Continued
Cerita yang menghibur...Setidaknya untuk membuat diri santai...
cerita yg bkn penasaran gak nyangka ujung na bs kayak gt... Huahhah... Endy itu cocok bgt bkn cerita yg remaja bgt mgkn karna sesuai bgt sm umur na.
bangett..minat jd the next hilman??hee..
nice story..
tapi judulnyaa...hmmmm......bgus jg deh..hehehe..
where's the blue eyes part in the story?
Weizz.. ideny bny juga yah.. Salut dah!
Eh, tp koq gak skalian krimin ke penerbit sih? Bisa tuh dijadiin novel..
Untuk saat iseng oke. Tapi kalau ada cerita lain yg seru, bisa kelewat orang membaca karyamu say...
Judulnya cukup mengundang, tapi belum mewakili keseluruhan cerita
Silakan baca dan plis komennya yach!