Siang tadi, mantan penguasa itu benar – benar mati. Sorenya hujan turun dan halilintar menyambar.
“Lihat!” kata seorang kerabat kepada anaknya. “Hujan ini adalah embun surgawi pembentuk pelangi yang akan jadi jalan setapak Eyang pergi ke surga. Dengar! Gemuruh itu adalah gemerincing rantai pengikat gerbang surga yang dilepaskan agar bisa segera dibuka.”
*****
“Lihat!”, kata seorang nenek kepada cucunya. “Ia berontak. Alam enggan menelan jasadnya.”
Lalu ia berkemas. Sore ini ia harus segera pergi karena tepat di tempatnya berjualan akan dipasang tenda yang dibawahnya akan ditata deretan kursi untuk para petinggi negeri yang hendak memberi hormat kepada mantan penguasa yang telah mati.
Rating
44
points
Views: 37 reads
Comments: 7
Rating:
Comments: 7
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Bagus..bagus.....bagus.....bagus.....
teruskan lagi karya nya...
:-j
Jadi, walaupun dah mati masih teteup gusur2 orang? Itu pesannya yach? CMIIW
Eniwey, nice story ^-^
Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^
Susunan kata yang dipilih bagus, kalau menurutku mengena sekali, tapi... kenapa saya menangkap rasa marah ya didalam tulisan ini???
sapa bilang "pelangi yang akan jadi jalan setapak Eyang pergi ke surga." Belum apa apa aja udah gusur-gusur orang kecil. he he he