ku duduk sendiri di sini
menatapi indahnya matahari
yang hampir terbenam
sambil ku merenung apakah
ku akan dapatkan sebuah
kasih sayang
yang selama ini kuimpikan
mungkinkah itu hanya sebuah mimpi
yang tak akan pernah ku dapatkan
apakah itu hanyalah sebuah impian semata
aku tak pernah tahu
inginku menjadi seperti matahari
walaupun hampir terbenam masih
memberikan sinar yang indah.
Rating
Comments: 10
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Kok lebih bermakana catatannya yah...
Sedang isi puisi bertolak belakang dg catatan itu...Tidak ada smangat sperti yg tergambar di catatan, jadi melempem gitu..
...(sori, just opinion).
ttp smangat!
Lam Kenal...
kurang greget bahasa puisinya..
semangaaaaaaaaaaaaaaat!!!
koQ masiy t'kesan seperti penjabaran cerita ya?.,
Tapi selebihx oke dengan analogi seperti itu.,
Kunjungi tulisan saya ya.,
ya nggak?
coba perhatikan pengulangan kata "ku" pada baris pertama "ku duduk" dan baris ke 4 "ku merenung", lebih baik kata ku-nya tidak perlu lagi ditempatkan di "ku merenung"karena sudah ketahuan subjeknya adalah "ku" saat duduk sambil merenung...
hmm... puisi ini agak berbelit-belit ya, dan kentara sekali bahwa ini adalah prosa yang dipuisikan, tapi tetap saja terasa seperti sedang membaca prosa...
tapi aku suka diksi dari dua baris terakhir... metaforanya dapet!!!
rada kecewa sih, pas baca prolognya, kukira kamu bakal bawain puisi tentang sinar yang dipancarkan pada saat2 terakhir.. Kok di puisinya jadi lebih ke arah pengharapan, dan tema prolog hanya diangkat sedikit? Padahal aku mengharapkan lebih.. Anyway, tema yang bagus.. ^^
bermimpilah... semua orang orang berhak kok, dan biarkan Tuhan yang menentukan apakah mimpi itu baik untuk menjadi nyata atau tidak
^_^
sejauh ini bagus.
teruskan karya-karya mu
go ahead O K !
bersemangatlah....
Tuhan tahu kok apa mimpi kamu..
Met Ciang....
Keep smiling. Yang Maha Penyayang tak pernah luput darimu.