“Egrh! Kepalaku sakit sekali. Adu duh duh! Pinggang ane” Rafli yang baru sadar itu langsung meringis kesakitan.
“Sudah! Jangan bangun dulu. Istirahatlah sebentar,” kata Ismail seraya memegang tubuh Rafli.
Rafli mengangguk.
Rafli lalu beranjak dari tempat tidurnya dan langsung melompat ke kolah buatan Ismail yang berukuran 50 x 100 cm dari jendela kamarnya.
Read more (1953 words)
Bak SuperBoy mandi, dalam sekian detik ia sudah kembali dengan handuk berlambang Penghianat Konoha melilit di pinggangnya.
“Emmm, Raf. Gue mau memberitahumu tentang tadi subuh,”
“He? Gue juga mau nanya tuh? Maksud lu, mata gue biru itu apaan sih?”
“Gue bakalan coba terangin dikit. Mata biru yang kau miliki menandakan bahwa di dalam tubuhmu memiliki kekuatan yang hebat,”
“Contohnya?”
“Apa ya? Oh, contohnya bisa melihat pancaran tenaga dalam lawan yang berbeda jenis,”
Rafli menoleh ke arah Ismail. Raut mukanya menandakan bahwa ia bingung akan penjelasan dari sohibnya itu.
“Sudahlah! Nanti saja kuberitahukan. Cepat kau berbusana! Tak tahan aku melihat “Uchiha Itachi” di kamar ini,”
Rafli pun nyengir dengan gigi nya yang bersih mengkilap.
***
Podium tempat pertandingan telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Segala poster sampai pendukung salah satu kontestan telah menempel dimana-mana.
“Eh, Dew! Katanya pacar lu ikutan jugakan?” tanya Wiwiek yang sudah duduk dibangku depan bersama teman akrabnya itu, Dewi.
“Emangnya siapa pacar gue? Gue kan belum punya pacar Wiek.
“Ah masa! Itu, si Jackson! Dia kan naksir berat sama kamu Dew,” kata Wiwiek.
“Dia kan cuma naksir gue doang! Bukan berarti di itu pacar gue,” bantah Dewi.
“Oh ya! Dia itu katanya kuat lho! Ototnya kekar kayak batang pohon beringin, kakinya panjang kayak kaki Jerapah, nyalinya kuat kayak Singa, dan…,” Wiwiek mengatakan puji-pujian itu dengan senangnya namun keburu dipotong sama Dewi.
“Dan rakus kayak buaya! Sudah ah! Jangan ngomongin itu lagi. Males gue!” kata Dewi lalu menutup telinganya.
“Perhatian-perhatian! Bagi seluruh peserta dan para penonton yang berminat agar segera menempati ruangan yang disediakan!” suara lantang nan keras terdengar dari sebuah speaker yang besarnya kayak gajah bunting.
Rafli yang sedang mengisi perutnya dengan bakso segera menuju ruangan para peserta beserta mangkuk yang berisi bakso.
Setelah pengumuman tadi disampaikan, sekitar 30 detik terdengar lagi pengumuman.
“Perhatian-perhatian! Peserta dengan nomor urut 13 dan 99 segera ke podium untuk memulai pertandingan!” suara yang cukup menggelegar membuat Rafli yang tadinya mau ke ruang peserta malah nyasar di ruangan penonton.
“Lho kok, kenapa gue nyasar disini?” kata Rafli terbengong-bengong dengan mangkuk yang berisi bakso ditangannya. “Tapi apa boleh buat! Gue datang kalau nomor gue dipanggil,”
Di ruang acara terdengar suara riuh rendah penonton yang menyaksikan pertandingan seru tersebut. Rafli yang duduknya paling depan sambil makan bakso juga menikmati acara tersebut.
Setelah beberapa lama pertandingan berjalan, Rafli yang tadinya cuek-cuek bebek saja tampaknya mulai merasakan resiko yang dialami jika mengalami kekalahan. Rasa ngeri mulai menghinggapi dirinya.
“Waduh, bagaimana kalau gue kalah? Apa gue langsung masuk kubur?” Rafli bertanya-tanya dalam benaknya.
Sudah tiga jam acara tersebut berlangsung. Bakso santapan Rafli pun sudah habis disantap. 78 orang telah gugur. Detak jantung Rafli berdetak semakin keras bagaikan pompa bensin. Apalagi saat nomor urutnya dipanggil.
“Wah, itu orang kok gede amat ya. Kayak Bull Dozer,” komentar Rafli saat lawannya naik keatas arena.
Setelah 3 menit saat orang itu naik ke arena, Rafli yang menjadi lawannya tak kunjung naik ke atas panggung. Rafli yang sudah agak tidak sabar pun mulai mengkritik orang yang jadi lawan orang tersebut yang tak lain dirinya sendiri.
“Hei, yang jadi lawannya nih orang! Jangan takut dong! Hadepin! Oh ya gue tau siapa lu orang. Kamu nomor urutnya keseratus bukan,” kritik Rafli sambil mengangkat-angkat tangannya kayak pendemo.
Dasar Rafli! Tuh orang memang cerobohnya minta ampun. Dia nggak nyadar kalau nomor urutnya (No. 100) telah menempel dibajunya. Rafli yang baru sadar pun jadi agak malu dan risih saat semua mata memandang kepadanya. Termasuk lawannya yang kayak Badak bercula hampa.
“Eh, Dew! Itukan junior kita. Nggak nyangka dia bakalan ikutan,” kata Wiwiek sambil menunjuk Rafli yang lagi diinterogasi sama dewan juri.
“Nekat amat tuh anak!” komentar Dewi. “Bisa mampus tuh anak,”
Akhirnya, setelah mengatakan permintaan maaf, Rafli akhirnya boleh mengikuti turnamen. Lawannya yang berukuran “big size” terlihat sudah panas.
“Baiklah, turnamen penyisihan bela diri tingkat bebas dimulai! Ronde pertama mulai…!” seru sang wasit sambil mengibarkan bendera start.
Lawan Rafli yang bodinya kayak trek pengangkut pasir segera menyeruduk Rafli yang ukurannya kayak becak ban dua. Alhasil, Rafli langsung keluar arena dengan kepala duluan. Pasti sakit tuh.
“Waduh, kepala gue kayaknya retak nih!” gerutu Rafli lalu naik lagi ke atas arena.
Nasib malang menimpa Rafli. Saat ia naik ke atas arena selalu saja dijatuhkan oleh lawannya. Penonton yang menyaksikan pertandingan tersebut berubah menjadi haru-pilu saat perjuangan Rafli menaiki arena dengan kondisi tubuhnya yang sudah babak belur. Kejadian tersebut berlangsung sampai 18 kali. Tapi Rafli tak mau menyerah. Lawannya pun menjadi jengkel.
“Sebaiknya kau pulang saja anak lemah! Tubuhmu sudah reot, mirip dinding rumah tetangga gue yang udah sekarat dimakan rayap,” celutuk lawan Rafli dengan sombong.
“Ternyata, kamu hanya bisa menggertak saja! Tetangga dibawa-bawa,” Rafli yang sudah lemah lunglai berusaha berdiri tapi langsung saja ditepis dan keluar arena untuk ke-19 kalinya. Jadi, tinggal sekali saja ia keluar arena maka ia akan dinyatakan kalah. Karena lawan akan dinyatakan kalah jika keluar arena sebanyak 20 kali atau pun menyatakan tak sanggup lagi.
“He he he! Sebaiknya kau pulang saja anak semut! Lebih baik kau berdandan menjadi wanita dan menjadi waria! Ha ha ha…!” ejekan lawannya membuat Rafli marah besar.
“Tarik kembali kata-katamu tadi,” perintah Rafli sambil menaiki arena.
“Hah, yang benar saja! Lebih baik aku menarik keledai daripada menarik kata-kataku. Ha ha ha…!”
“Begitu ya! Sekarang Kau terima balasannya,” Rafli lalu mengangkat kepalanya dan memperlihatkan matanya yang telah berubah menjadi biru.
Wasit yang mengawasi pertandingan segera memulai ronde ke-20 karena takut melihat wajah Rafli yang berubah kayak singa kehilangan mahkota.
Saat bunyi bel berbunyi lawan Rafli langsung melayangkan pukulan tapi dapat dihindari oleh Rafli dan dengan cepatnya ia telah berada dibelakang lawannya.
“Sebaiknya kau jadi bayi saja,” kata Rafli lalu menendang pantat lawannya itu hinga terbang dan keluar arena.
“Wah! Hebat sekali,” komentar sang Wasit.
Lawan Rafli yang terbang dan jatuh dengan kerasnya diluar arena langsung menyerah karena pinggangnya keselo parah. Alhasil, Rafli lolos ke babak selanjutnya.
Dewi yang menyaksikan pertandingan itu tampaknya agak aneh melihat perubahan yang ada pada diri salah satu juniornya itu.
“Ada apa Dew? Tampaknya lu mencemaskan sesuatu?” tanya Wiwiek.
“Nggak kok! Tapi tampaknya gue merasakan sesuatu yang sama terhadap diri anak itu dengan Jackson. Mata yang berubah menjadi biru,” kata Dewi dengan seriusnya.
“Jangan terlalu serius, ah! Nanti kepalamu botak lho,” ledek Wiwiek sambil menyendul kepala Dewi.
“Ih kamu,”
***
Pertandingan telah berlangsung hampir tiga jam. Kemenangan berturut-turut dialami oleh Rafli dengan kekuatan barunya itu.
Kemenangan itu terus berlangsung hingga ia sampai ke babak final. Tapi, tampaknya lawannya yang satu ini akan sangat susah untuk dikalahkan. Jackson.
“Aduh Dew! Jackson lawan anak junior kita Dew! Ini gawat,” kata Wiwiek panik.
“Bukan kamu saja yang panik, gue juga. Apa tuh anak ingusan bisa selamat ya? Mudah-mudahan saja dia selamat,” kata Dewi sambil komat-kamit baca doa.
Tapi mereka berdua hanya bisa berdoa. Pertandingan telah dimulai dengan serangan langsung dari Rafli namun bisa dihindari oleh Jackson.
“Kalau kamu menyerang langsung seperti itu, akan memberi kesempatan pada lawanmu,” kata Jackson lalu langsung menyerang Rafli yang mengakibatkan Rafli keluar arena. Satu nilai untuk Jacskon.
“Yang benar saja! Masa baru saja dimulai gue udah jatuh duluan,” gerutu Rafli lalu kembali ke atas arena.
Pertandingan dimulai kembali dan Rafli langsung menyerang dengan terjangan kaki super bau, tapi lagi-lagi dapat diantisipasi dengan tangkisan parfum dari Perancis.
“Kalau kakimu bau kayak begini, dapat dengan mudah dideteksi,” kata Jackson seraya menyemprotkan minyak wangi ke kaki Rafli.
“Apa kau bilang!” Rafli mulai ngamuk-ngamuk dan mengibas-ngibaskan kakinya dan mengenai Jackson yang sedang berada di udara dan melemparkannya keluar arena. Satu nilai didapatkan Rafli.
“Ternyata begitu ya!” kata Jackson lalu kembali ke atas arena tapi dengan cara melayang. Penonton tercengang dibuatnya, termasuk Rafli.
Ronde selanjutnya telah dimulai. Kini Jackson duluan yang menyerang Rafli. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia telah berada dibelakang Rafli untuk menyerangnya.
“Gawat!” seru Rafli.
Tapi terlambat, sebuah pukulan melintas tepat di atas kepalanya namun bisa dihindari oleh Rafli dengan merunduk.
“Tampaknya kau salah gerakan,” kata Jacskon.
“Apa?!” seru Rafli.
Ternyata benar. Jackson yang masih dibelakangnya langsung menyerang kembali dengan menyepak pantat Rafli dengan sekuat-kuatnya. Rafli berusaha menghindar dengan membalikan tubuhnya dan berusaha menangkis sepakan Jackson. Tapi, sepakan yang sangat kuat itu membuat tubuhnya terlempar dan keluar arena.
Perlawanan tak seimbang kembali terjadi. Rafli berkali-kali keluar dari arena dengan berbagai cara, dari ditendang sampai terkena kekuatan tenaga dalam Jackson.
“Ini tidak boleh dibiarkan! Aku telah keluar arena 18 kali, ini gawat,” keluh Rafli.
“He he he! Tampaknya kau sudah kehabisan tenaga anak tikus,” ejek Jackson.
“Apa?!” Rafli tersentak kaget dan pada saat itulah sekujur tubuhnya langsung mengalir darah kemarahan.
Rafli lalu kembali ke atas arena tapi dengan rasa marah, mata biru.
“Wah wah wah! Tampaknya bakalan seru nih! Aku akan mengalahkanmu,” kata Jackson lalu seketika matanya berubah biru juga. Hal itulah yang dikhawatirkan oleh Dewi.
Ronde selanjutnya telah dimulai dengan sambutan pukulan bertenaga dari Rafli tapi dapat diimbagi oleh Jackson dengan menggunakan jurus yang sama. Hasil dari tubrukan dua kepalan tinju itu membuahkan tenaga yang amat dahsyat yang menyebar keseluruh penjuru ruangan yang mengakibatkan para penonton terkena imbasnya. Tapi yang lebih parah adalah wasit pertandingan, ia terlempar jauh tak terkira.
“Kau…menyebalkan...!” seru Rafli lalu meluncurkan pukulan bertenaga yang kedua yang diarahkan ke perut Jackson. Kali ini tak ada kesempatan lagi untuk menghindar. Tubuhnya melengkung bagai udang panggang.
Tidak berhenti disitu, Rafli memanfaatkan kesempatan itu untuk melemparkan tubuh Jackson keluar arena. Aliran tenaga ia pertambah ke tangan yang masih menempel di perut Jackson hingga 5x lipat. Alhasil, tubuh Jackson terlempar keluar arena.
“Kau hebat juga anak tikus,” ejek Jackson lagi sambil berjalan menuju arena.
Ejekan yang kedua kalinya itu membuat darah Rafli mengalir lebih kencang. Tak tanggung-tanggung, saat Jackson baru saja naik ke atas arena, ia langsung saja menghajar Jackson dengan penuh amarah dan sangat cepat.
“Kau orang macam apa? Bisanya mengejek orang saja! Membuatku marah tahu!” kata Rafli sambil terus saja menghajar Jackson. Tapi, tampaknya itu membuat Jackson tambah senang.
Rafli terus saja menghajar Jackson hingga ia keluar arena. Tapi, diluar arena Jackson malah tertawa. Rafli bingung dibuatnya termasuk juga seluruh penonton, terutama Dewi.
“Ha ha ha ha! Ternyata, aku harus berhadapan dengan orang sepertimu. Tampaknya Aku akan mendapatkan uang jajan lebih!” kata Jackson sambil tertawa seperti kuntilanak penunggu pohon jambu.
“Apa? Apa yang sebenarnya terjadi,” pikir Rafli bingung.
“Ternyata kau belum mengerti juga. Kalau begitu rasakan ini!” kata Jackson lalu melompat dan siap melancarkan serangan dengan sebuah tembakan tenaga dalam.
“Apa?!”
“Mati kau…!” Jackson lalu melepaskan tembakan tenaga dalamnya dengan kekuatan penuh yang terarah ke Rafli.
Bola energi berwarna kuning kemerah-merahan itu dengan cepat menghampiri Rafli. Rafli berusaha menangkis serangan dengan memancarkan tenaga dalamnya tapi tampaknya kekuatannya kalah besar dengan Jackson dan membuat bajunya tercabik-cabik dan terlempar keluar arena.
Ia kalah. Tubuhnya tak berdaya lagi baju kaosnya telah hilang dan memperlihatkan tubuh kekarnya yang terluka. Dewi yang tak tahan melihat kejadian itu langsung saja menghampiri tubuh Rafli saat melihat Jackson ingin melancarkan serangan kedua.
“Sudah hentikan! Ia sudah tak berdaya lagi,” pinta Dewi.
“Tapi dia belum keluar arena 20 kali,” kata Jackson sambil mempersiapkan serangan kedua.
“Apa kau buta? Dia sudah tak berdaya lagi,” pinta Dewi lagi.
“Walaupun begitu, ia belum menyerah kalah,” kata Jackson lagi.
Dewi terdiam. Ia menyadari bahwa peraturan tersebut harus ditaati. Tiba-tiba saja mulut Rafli terbuka dan mengeluarkan kalimat namun tak jelas karena terbata-bata.
“A…aku, akan... meng, meng...,” Rafli tak sempat lagi meneruskan kalimatnya karena ia keburu pingsan.
Tapi Dewi malah menyambungnya.
“Menyerah! Ia mengaku kalah. Berarti pertandingan ini telah selesai. Kaulah pemenangnya,” kata Dewi dengan nada setengah berteriak.
Saat itu pula suara tawa yang keras terdengar dari mulut Jackson. Petugas medis segera datang guna memberikan pertolongan untuk Rafli.
Pertandingan itu telah berakhir. Suara sorak-sorai pendukung sang pemenang bergemuruh bagaikan petir di siang bolong.
To Be Continued...
Unsur komedi dalam ceritanya belum benar-benar menonjol.
Mungkin perlu ditambahkan pada saat dialog-dialog.
Udah bab ke IV, thanx lagi-lagi buat yang udah setia membaca. Ciummanku untukmu. muuuuuuuuuuuaaaaah.!