Sudah lebih dari waktu
Saat ku kira Kau berlalu sendiri
menyusuri sisa sepi yang mengikat perih di dalamnya
Ataukah hanya kamuflase semu bahwa aku yang meninggalkanMU?
Aku tak kuasa berkata-kata
pun saat bisu mengantarkan kita ke peraduan terakhirnya. Tersadar akan hampa yang menghampiri sisa sunyi dari jejakMu yang berlalu
ataukah langkahku yang semakin tak menentu
dan kian menjauh dariMU?
Sesaat pilu itu mengganggu
Namun aku mesti harus berdiri
meraba-raba dalam kegelapan
mencari cahaya
Kau tahu aku tersesat di jalan menujuMu
Kau tahu, aku begitu rapuh tanpa-MU
Maka ketika secercah sinar itu datang,
tak lagi mendung ada di sisi kita.
Dan kuraih tanganMu yang penuh permata dan air kesejukan.
Begitu dekat, begitu lekat
Kukecup penuh rindu
Aku dalam hangatMU
Detik demi detik
MengukirMu dalam tiap desahan nafas, detak jantung
MenggemakanMU di tiap aliran darah, denyutan nadi
MengagungkanMu dalam tiap kerjapan mata,
kemana kaki melangkah
Dan kabut pun tak pernah datang lagi
Rating
Comments: 5
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Puisi yg menyentuh bg jiwa-jiwa yang kabut akan cinta kepadaNya...
Namun, apakah kita manusia benar-benar bisa menghilnagkan kabut itu dari diri kita????
Assalamu'alaikum
Ide dan isinya begitu rapuh, dan memang begitu manis untuk diresapi. Namun, apakah larik terakhir tidak terlalu memaksa pembaca? Agak sulit bila memiliki ketertarikan terhadap larik-larik sebelumnya.
10 dech buat kamu
hiks, bagus
Menyentuh jiwa.