Kembali Ke Titah
Oleh: D Kemalawati
Ketika saya telah menerima tawaran Dino Umahuk untuk menulis pengantar untuk buku puisinya, saya baru menyadari bahwa saya belum pernah membaca satu puisi pun karya Dino Umahuk secara bersungguh-sungguh. Saya baru mengenal Dino beberapa bulan yang lalu. Beberapa kali saya melihat Dino tampil pada pentas musikalisasi puisi bersama Rahmad Sanjaya dengan komunitas Rumah Sawahnya. Dino memang baru menetap di Banda Aceh walau pun jauh sebelumnya dia pernah berkunjung beberapa kali ke Aceh, baik ketika masih mahasiswa maupun ketika konflik berkecamuk di Aceh. Setelah tsunami melanda Aceh, Dino kerap datang dengan misi kemanusiaannya. Dan akhirnya ia memperoleh pekerjaan yang mengharuskan ia menetap untuk beberapa tahun mendatang di bumi Iskandar Muda ini.
Ternyata begitu draf buku puisi berada di tangan saya, saya justru merasa bahwa saya sedang membaca karya para penyair Aceh yang menuliskan keindahan alam baharinya dengan penuh imaji, kerinduan pada Sang Khalik, keterasingan dalam negeri sendiri karena konflik yang sengaja diciptakan, tentang hilangnya rasa kasih sayang, serta musibah besar gelombang tsunami. Beberapa puisi cinta yang ditulis Dino menggunakan imajinasi yang sama dengan penyair Aceh. Maka sajak-sajak Dino menjadi sangat familiar bagi saya meski pun alam kelahiran Dino yang jauh di Ambon sana memiliki kultur yang mungkin agak berbeda dari Aceh.
Puisi-puisi yang terkumpul dalam Metafora Birahi Laut ini ditulis dalam berbagai tema. Lalu sang penyair memilah berdasarkan tema dengan memberi sub-sub judul. Yang menurut saya pada sub judul Haluan Menuju, puisi-puisi Dino sangatlah kuat dan memiliki nilai religi yang agak jarang ditulis oleh penyair seusia Dino. Oleh sebab itu maka pengantar saya beri judul Kembali ke Titah, yang kiranya tak meleset jauh dari apa yang ditulis Dino tentang kematian dan jalan pulang.
Setiap detak nafas adalah meringkas jalan pulang
entah bersama entah sendiri
menempuh jarak ke pangkuan Ilahi Rabbi
(“Berlayar Pulang”)
Dino menyadari bahwa setiap detak nafas tak lain adalah pengurangan usia bagi makhluk hidup. Manusia yang kadang alpa memaknai helaan nafas selalu berlaku sombong dan angkuh merasa hidup akan selamanya.
Bagi Dino, mati bukan soal. Karena siapa pun yang hidup akan mati apabila telah sampai ajalnya. Tetapi yang diresahkan Dino adalah bagaimana cara dia menjumpai Ilahi Rabbi jika selama hidupnya ia merasa penuh dosa.
Mati bukan soal apa tapi bagaimana
menuju pulang lautanku penuh jelaga
(“lautan Jelaga”)
Kalau pada puisi Lautan Jelaga, Dino meresahkan dirinya yang akan kembali tetapi lautannya penuh jelaga maka pada menuju kematian, ia meyakini tiap-tiap yang hidup akan mengalami mati. Banyak sebab seseorang itu mati. Ada yang mati dengan tenang, ada yang mengalami kecelakaan, musibah bencana alam, mati karena aksi kekerasan hingga mati bunuh diri dengan meracuni diri bahkan sampai aksi bunuh diri dengan memasang bom yang bukan hanya berniat menghantar kematian diri sendiri tetapi memaksa malaikat membawa nyawa-nyawa lain yang tak bersalah. Dino menulis dalam Menuju Kematian
Seperti apapun nyawa-nyawa melangkah pergi
hanya soal cara bagaimana malaikat menghampiri
(“Menuju Kematian”)
Bukan, bukan kematian itu yang dipermasalahkan karena semua yang hidup pasti akan mati. Soal cara bagaimana Malaikat menghampiri untuk mencabut nyawa seseorang yang kemudian sering merupakan sebab yang diperbincangkan.
Izrail mengintai nyawa-nyawa untuk dikirim
pulang ke langit tujuh lapis
di Baiturrahman sayapnya singgah telah
terangkat seratus ribu lebih nyawa
(“Izrail Mampir di Bumi Aceh”)
Ketika tsunami melanda Aceh, Minggu pagi 26 Desember 2004, malaikat bergentayangan hilir mudik melintasi Serambi Mekah. Ia melihat air laut tumpah menghilangkan tanah daratan. Izrail datang mengintai nyawa-nyawa untuk dikirim pulang. Saat itu ratusan ribu nyawa terpisah dari badan dan banyak kita melihat tapi tak mengenal maka hanya Izrail yang menandai tubuh dan roh yang dibawa pergi.
Kematian adalah kematian tulis Dino dalam puisinya. Tapi menyaksikan kematian yang akibat bunuh membunuh menimbulkan gulana hingga ia perlu mengajak umat beragama untuk menanyakan pada Rasulnya masing-masing apakah memang agama Tuhan mengajarkan umat manusia untuk saling membunuh.
Bila nanti siang kau sholat Jum’at
barangkali di Mesjid Al-Fatah
atau hari Minggu nanti kau ibadah
atau ikut Missa mungkin di Gereja Maranatha
mungkin di Kadetral
tolong tanyakan kepada Muhammad dan Isa
yang Agung itu
apakah mereka mengajarkan agama Tuhan
agar saling membunuh?
Kalau memang demikian
mengapa agama melarangku bunuh diri
(“Agama Bunuh Diri”)
Membaca puisi-puisi Dino meskipun menggunakan bahasa yang terkesan klise tapi pencarian diri telah sampai pada titik yang mencengangkan. Hanya dengan bahasa yang sederhana kita diajak untuk menerima dengan ikhlas apa yang seharusnya akan terjadi. Ia tidak mengeklusifkan dirinya dengan keimanan yang dianutnya. Tentu yang sangat diinginkan adalah suasana damai di muka bumi tanpa ada pertumpahan darah sehingga ia memerlukan mengajak umat Nabi Muhammad dan kaum Nabi Isa untuk menanyakan tentang ajaran agama masing-masing tentang bunuh membunuh.
Selain puisi-puisi bernuansa religi, puisi-puisi cinta baik untuk tanah kelahiran maupun untuk sang kekasih bertebaran dalam kumpulan puisi ini. Beberapa sajak pelarian menguatkan kerinduan Dino pada kampung halamannya dan kegelisahannya dapat kita pahami apabila limit waktu kepulangan tak ada kata pasti.
Ini bulan keduabelas
dari pelarianku yang tak kenal batas waktu
bersama keyakinan yang membongkah jadi batu
adakah jiwa sunyi ini
punya tempat untuk pulang
(“Sajak Pelarian V”)
Betapa bedanya seorang pelarian dan seorang perantau ketika merasakan kerinduannya pada kampung halaman. Sang perantau tanpa rasa gundah akan pulang kapan saja ia inginkan, tetapi bagi seorang pelarian tentu tak seleluasa perantau. Bisa jadi selamanya ia tak bisa kembali meskipun kampung dan seluruh penghuninya tak ada lagi.
Sebagai seorang anak yang mengharapkan ibunya, Dino sang penyair masih selalu berharap.
Ibu
mimpi pasti membunuhku malam nanti
di tanah pelarian yang begini jauh
apakah doamu akan sampai?
(“Ibu”)
Betapa menderitanya seorang pelarian. Tak ada rasa aman, sebab mimpi pun akan membunuhnya. Tapi meskipun ia terbunuh ia masih mengharapkan doa dari orang yang telah melahirkannya. Sebuah doa yang diyakininya akan diaminkan malaikat dan dikabulkan oleh-Nya.
Dino tidak cengeng dalam karya meskipun ia hidup dalam pelarian yang panjang. Konflik yang melanda Ambon memang memisahkan dirinya dari hangatnya pasir putih dan lincahnya gelombang laut. Hanya raga yang memberi jarak tetapi batinnya, batinnya sangat dekat mendekap Ambon. Puisi-puisi yang terdapat dalam Kipas Lenso Putih benar-benar menghipnotis kita seolah-olah kita hadir di kota yang sangat eksotis itu. Kita seakan berada di teluk, di sebuah dermaga tua dengan perahu mengambang dan ikan menari-nari di bawahnya. Telinga kita seakan mendengar nyanyian para jejaka dan kipas lenso diayunkan. Angin semilir, langit temaram dan kaki-kaki perkasa sambil bersiul melempar jala dan percikan air laut menerpa rahangnya. Aroma mantra dan Pattimura yang muram benar-benar menyatu dalam Kipas Lenso Putih.
Dino telah bercerita banyak hal dalam puisinya . Ia kadang meliarkan imajinasi kita dengan bahasa sederhana. Hanya yang membuat kita sulit menyelusuri perkembangan kepenyairannya justru karena dalam penyusunan puisinya Dino tak mengurutkan berdasarkan tahun penulisan. Tapi bagaimanapun Dino telah memberikan sesuatu yang berharga dalam karyanya yang mungkin akan kita rasakan manfaatnya suatu saat nanti. Dan bagi saya yang baru membaca karya Dino, saya menemukan kepuasan yang luar biasa meskipun saya tidak bisa menulis pengantar yang lebih bagus. Karena sesungguhnya saya seorang penulis, sama seperti Dino Umahuk.
dikirim birahilaut 41 weeks 1 day yang laluTag:
kayaknya aku harus beli bukuny deh
sama nih .... jadi pengen cari bukunya ...
Waduh cm baca pengantarnya,udah terbius n penasaran gmn kalo bc bukuny y...udah keluar y bukunya...pgn baca,waduh jd yg paling kuper neh!ya maaf hehe
Bagi saya, membaca dino adalah mengendarai perahu layar di tengah samudera bergelombang besar. Terkadang membuat mual karena mabuk. Terkadung linglung terkatung-katung. Terkadang merasa kecil siap mati.