Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
Jalan setapak ini tampak kotor. Daun-daun kecoklatan yang sudah kering berserakan menghias tempatku berpijak. Aspal yang berwarna hitam bahkan nyaris tidak terlihat. Di sisi jalan, berdiri deretan pohon besar yang rimbun dengan daun-daun maple yang indah. Angin semilir bertiup membelai rambutku, membuat beberapa helai daun maple berjatuhan dengan lembutnya.
Aku merapatkan mantel buluku. Sepatu bootku—yang berwarna coklat dengan bulu-bulu putih halus di bagian atas—berbunyi mengikuti irama langkah. Santai dan sambil menikmati udara musim gugur.
Saat mata ini terpejam
Sapuan wajah itu membayangiku
Tenggelam dalam dunianya
Tanpa sebuah warna
Rasa kecewa itu
Bukannya tidak ada
Namun selalu ... lanjut baca
Jalan setapak ini tampak kotor. Daun-daun kecoklatan yang sudah kering berserakan menghias tempatku berpijak. Aspal yang berwarna hitam bahkan nyaris ... lanjut baca
Lorong itu terasa penuh sesak. Bau tak sedap menyapa hidung saat melewatinya. sampah-sampah pun berserakan. Disertai pula genangan air hujan yang memb ... lanjut baca
Butiran pasir putih terhampar indah
Menarik diriku untuk berbaring
Berdampingan dengan orang yang dicinta
Sambil tersenyum menatap langit
Berhiask ... lanjut baca
Langit mulai bergerak menjauhi senja
Menutup setengah kehidupan
Saat itulah mataku terbuka
Sebuah kebohongan yang tersirat
Meninggalkan sebuah ... lanjut baca
Kadang aku berpikir untuk buta, supaya tidak melihat apa yang tidak ingin kulihat
Kadang aku berpikir untuk bisu, supaya tidak mengatakan apa yang in ... lanjut baca
Bab 14. Kita Ini Tim yang Kompak Lho...
‘Kenapa kau juga mengajak mereka?’ Tanya Warren Shark dengan nada dingin yang menunjukkan kekesalanny ... lanjut baca
Aku menatapmu. Lama. Berharap kau berpaling dan melihatku. Kupanggil namamu berulang-ulang. Dan kau pun menjawabnya. “Ya..” begitu katamu. Tapi ka ... lanjut baca
“Hei, kau yakin akan masuk kesana?” Kataku cemas sembari menunjuk ke dalam hutan itu.
“Tentu saja, lagipula ini cuma hutan kecil kok. Nggak ad ... lanjut baca
Setelah gw pertimbangkan lagi dengan matang-matang. Akhirnya gw berujung pada suatu keputusan. Bahwa gw harus bilang sama dia malam senin ini. Ga mu ... lanjut baca
Danau ini masih seperti 2 tahun yang lalu, mengingatkan aku pada kenangan bersamamu. 2 tahun lalu kita disini, menghabiskan sejuknya hari dengan menyu ... lanjut baca
Mari tangguhkan sekali lagi
jalan setapak ini,
dimana langkah kaki sempat terhenti
sebab dulu, aku pernah berjanji pada pagi
akan kembali dan mena ... lanjut baca
Kala itu pernah kau bilang bahwa kau akan membenamkan diri sejenak dalam – dalam. Kau hanya menginginkan aku untuk jadi pohon yang tumbuh disuatu te ... lanjut baca
“APA? Damar kecelakaan? Lo serius kan? Lo nggak main-main kan?” Raya terkejut mendengar kabar tentang Damar, pacarnya, dari Mia, sahabatnya yang t ... lanjut baca
Rumah bercat ungu
-13-
Setelah berhari-hari menyusuri Andagund yang penuh misteri, akhirnya Aleron dan Ornlu tiba di Ar-Pnaya. Sebuah kota yang s ... lanjut baca
Teman Lama
-3-
“sepertinya kami datang di waktu yang salah” ujar salah seorang pedagang keliling yang tengah singgah di Rochelar dengan lesu.
... lanjut baca
ceritanya sih simpel, tapi gaya berceritanya dapet banget..^^
emg dah pantes jadi penulis teenlit profesional neh, hihihi..
Ak suka ceritanya ^_^
keep writing n salam kenal...
hwaa...danang berlebihan padahal puisi mu jauh lebih bagus
buat ari, makasih dan salam kenal juga yak
Nah, sekarang beralih ke Korea... Nice, akhirnya cc mencoba hal yang lain (kupikir fokus di pesona Jepang saja)... Nice2..!! Keep writtin' yap!
Nice..
Keep working guys..
^_^