:inspired by sajak TSP
Karena ruang kosong itulah aku datang mengetuk pintumu, barangkali aku boleh sekedar berteduh, setelah lelah sejauh perjalanan. Atas perkenanmu juga akhirnya aku mengisi ruang itu, dan perlahan mengikis segala kenangan hitam yang terpatri di dinding, menghapus, dan menggantinya dengan warna ungu, yang aku dan kau menyukainya.
Seingatku, kau tak pernah bilang tidak suka akan warna yang kutawarkan. Itu sebabnya, aku sangat kaget, ketika suatu hari kudapati ruang itu berubah, warna ungunya tergantikan warna lain, warna masa lalu, yang tampil mutakhir. Dan aku teringat janjimu, kau ingin menulis sajak cinta agar dendangnya mampu meredam gema yang terus mengusik itu. Tapi mengapa yang kudengar seperti sajak retro? Dan gema itu terus saja membahana meremehkan kehadiranku.
Kukira kau sedang mendendangkan sajak cinta yang lawas, yang pernah kudengar di suatu masa, dari seseorang yang kukagumi, sebelum kuputuskan pergi meninggalkannya, karena sajak itu ternyata dia tulis bukan untukku.
(23 Pebruari 2008)
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
judulnya tak menunjukkan isi kawan..
isinya keren, analogi kuat yg berhasil dibentuk di benak pembaca
pertama kali baca judul mikirnya pasti lucu isinya, ternyata isinya ga selucu yang aku bayangin. ^_^ tapi bagus.
kata kata yang ada dalam puisi itu sangat menyentuh saranku jangan putus asa ya
daku juga berpikir isinya bakal lucu...
tapi bagus...
mainkan nyong
ale nih dimana? klo di jakart ajang lup adatang rabu besok ya di launcing buku
bingung ato ak uyg kurang paham yah???
kamu berpuisi atau bercerita
hai boss
wah neracanya berat sebelah
hehe