Read more (1313 words) SURYA merasa sangat bahagia saat terjaga pagi itu. Tak banyak buang waktu, dia pun segera bangkit, membersihkan dan merapikan diri sesempurna mungkin untuk hari yang paling bersejarah dalam hidupnya. Sebuah tuxedo dikenakannya dalam rangka menyongsong hari yang paling dinantikannya sejak usianya masih lima tahun, sejak pertemuannya dengan seorang gadis bernama Aurora.
Di halaman, beberapa mobil sudah berbaris rapi. Sedan utamanya berhiaskan pita dan bunga-bunga, khas mobil pengantin. Begitu Surya menempatkan dirinya di jok belakang sedan hitam itu, mobil-mobil di belakangnya pun mengekorinya. Hingga tibalah mereka di depan sebuah gereja tua di kota itu.
Waktu berlalu seperti seekor siput yang mencoba berlari. Semenit terasa sejam. Surya dan keluarga menunggu mempelai wanita yang tak kunjung datang. Bulir-bulir keringat yang mulai rontok, menandai kegelisahan Surya. Sudah hampir siang, Aurora belum juga datang!
***
Purnama tak bosan-bosannya merapikan diri di depan cermin. Berkali-kali pula dia bertanya pada ahli tata riasnya dan beberapa saudaranya tentang penampilannya.
“Gagah, Mas,” komentar adiknya.
“Kalau saja aku lebih dulu ketemu kamu, mungkin aku nggak mau dinikahi mas kamu!” tutur iparnya sedikit berseloroh.
Tetap saja Purnama tak merasa puas dengan jawaban dan pendapat mereka. Dia baru bisa puas kalau pendapat itu terlontar dari mulut seorang gadis bernama Aurora yang sejak kecil bersahabat dengannya, yang beberapa saat lagi akan resmi menjadi pendamping hidupnya untuk selama-lamanya.
“Gimana, semuanya udah siap?” untuk yang kesekian kalinya, Purnama bertanya pada penata ruang mengenai kesiapan dekorasi.
“Kamu kok tegang banget, Pur?” tanya bapaknya.
“Aduh, Pak, Pur nggak tahu kenapa bisa setegang ini. Padahal Pur udah berusaha mempersiapkan mental Pur sebaik mungkin untuk menghadapi hari besar ini.”
Bapak menepuk bahu Pur, mencoba menenangkannya. “Dulu, waktu akan menikah dengan ibu kamu, bapak juga mengalami hal yang sama. Tapi, begitu ibu kamu datang, semua ketegangan itu berubah menjadi perasaan yang indah tiada tara.”
Sudah hampir satu jam lamanya, pengantin wanita tak kunjung tiba. Bukan hanya Purnama yang merasa gelisah. Tapi juga semua yang hadir di tempat itu. Termasuk pak penghulu yang sudah hadir dari sejak sejam lalu.
***
Sementara itu, Aurora masih terduduk gugup di ruang rias, di sebuah rumah besar dan mewah. Di belakang rumah itu, ada sebidang taman yang luas dan indah. Di situlah ikrar pernikahan kedua mempelai akan dilangsungkan. Meriah dengan hiasan pita-pita dan bunga indah di mana-mana serta iringan musik khas pernikahan. Para tamu hadir dengan kostum paling istimewa. Orang tua, kerabat, saudara, tetangga dan para sahabat berkumpul menjadi saksi kebahagiaan dua insan yang akan segera dipersatukan.
Seorang lelaki paruh baya menjemput Aurora dari ruang rias itu. “Kamu sudah siap, anakku?”
Aurora mengangguk mantap. Kemudian mereka berjalan diiringi bidadari-bidadari kecil yang menaburkan bunga di sepanjang jalan menuju altar suci pernikahan. Seluruh hadirin nampak terpukau dengan kecantikan Aurora yang seperti putri dari kerajaan dalam dongeng.
Upacara ikrar sehidup semati itu pun dimulai. Melalui seorang pendeta, pasangan itu saling berjanji sehidup semati. Selingkar cincin kini sudah terpasang di jari manis Aurora dan di jari manis seorang lelaki tampan di sampingnya. Lelaki itu jelas bukan Surya atau pun Purnama. Melainkan seorang lelaki bernama Bima, eksekutif muda yang sukses. Kebahagiaan itu disempurnakan dengan ciuman hangat bertabur cinta. Ciuman yang seolah mengantarkan mereka ke pintu surga.
***
Di gereja tua itu, Surya terduduk lesu pada sebuah bangku, tempat para jemaat memanjatkan doa. Segala hal indah tentang hari itu perlahan menghilang, seperti debu yang tertiup angin. Mama, papa, keluarga dan orang-orang yang mengantarnya hingga ke gereja itu pun raib bersamaan dengan tersadarnya Surya dari segala lamunan indahnya. Tidak ada keluarga besar yang berkumpul, tidak ada iring-iringan mobil pengantin, tidak ada kebahagiaan dan tentunya tidak ada pernikahan. Yang ada hanya sebuah kegetiran mendalam di hati seorang Surya. Kini dia harus kembali berhadapan dengan kenyataan.
***
Sementara itu, Purnama masih setia menunggu. Bukan, ini bukan sebuah lamunan seperti yang dialami Surya. Perkumpulan seluruh keluarga itu ada, bahkan seisi rumah sudah rapi didekor dengan suasana khas pernikahan adat Jawa, lengkap dengan penghulu yang tinggal mengesahkan. Dan pernikahan itu memang akan terjadi. Hanya tinggal menunggu kedatangan sang mempelai wanitanya saja.
“Bapak yakin sudah menghubungi keluarga mempelai wanita?” tanya Purnama lagi pada bapaknya dengan wajah penuh cemas.
“Sudah. Kabar terakhir dari mereka, merka sedang dalam perjalanan dari hotel tempat mereka menginap.”
“Syukurlah,” Purnama mencoba lega. “Tapi kok lama bener ya, Pak?”
“Sabar. Mungkin sebentar lagi.”
Akhirnya calon pengantin wanita dan rombongannya tiba juga. Semua yang hadir di situ menyambutnya penuh suka cita.
“Aurora, akhirnya kamu datang juga...” ungkap Purnama bahagia menyambut kedatangan mempelai wanita.
“Aurora?” sang mempelai beserta keluarga terkejut begitu mendengar nama itu. “Siapa Aurora?”
Lalu bapak membisikkan sesuatu ke telinga Purnama, “Nak, pengantinmu bernama Gemintang Ayu, bukan Aurora!”
“Apa?!” nampaknya Purnama benar-benar terkejut tatkala mendengar nama itu. Gadis itu, calon pengantinnya itu bukan Aurora seperti yang terbayang indah di benaknya, melainkan gadis lain bernama Gemintang Ayu. Ialah gadis manis asal Yogyakarata yang dipilihkan orang tua Purnama sebagai jodohnya.
***
Malam itu, para tamu masih berdatangan di rumah kediaman Bima, lelaki yang paling bahagia kala itu. Resepsi pernikahan masih berlangsung dan suasana masih meriah. Kedua pengantin yang kini resmi menjadi pasangan suami istri itu duduk manis penuh kebahagiaan di atas singgasana pelaminannya.
Di antara kerumunan tamu yang hadir, nampak dua lelaki datang menghampiri pasangan yang berbahagia itu. Siapa lagi kalau bukan Surya dan Purnama.
“Selamat ya, Ra,” ungkap Surya setibanya dia di hadapan Aurora. “Semoga kamu bahagia selamanya, langgeng bersama lelaki sempurna ini.”
“Makasih banyak, sayang,” sambut Aurora sambil mencium pipi kiri dan kanan Surya. “Kamu kenapa baru dateng? Kamu nggak tahu gimana gugupnya aku tadi. Tapi tenang aja, semuanya udah didokumentasikan. Nanti aku kasih kamu DVD-nya.”
“Hai, Ra,” setelah Surya, giliran Purnama yang menyalami Aurora. “Selamat menempuh hidup baru ya. Wish you all the best.”
“Thanks, honey,” Aurora pun memperlakukan Purnama seperti apa yang dilakukannya pada Surya. “Eh, katanya hari ini kamu juga nikah? Kamu sih, nikah di tanggal yang sama sama aku. Jadinya aku nggak bisa hadir di nikahan kamu. Mana si gadis beruntung itu?” tanya Aurora sambil celingukan.
“Hai,” tiba-tiba seorang perempuan berparas ayu muncul di tengah-tengah mereka. “Selamat ya.”
“Kamu... istrinya Purnama?” tanya Aurora.
“Iya, aku Gemintang Ayu, istrinya mas Pur. Kamu cantik banget deh! Pantesan aja mas Pur selalu nyebut nama kamu.”
“Masa sih?” tanya Aurora sambil melirik Purnama. “Thanks banget ya, kalian masih nyempetin hadir di resepsi pernikahan aku, padahal di saat yang sama, ini adalah hari yang spesial juga buat kalian berdua.”
“Nggak masalah,” jawab Purnama enteng. “Namanya juga sahabat.”
***
“Hari ini terjawab sudah, siapa sang pemenang itu,” kata Purnama pada Surya saat mereka duduk bersama sambil menikmati hidangan.
“Dulu, kita saling bersaing buat bisa ngedapetin hati Aurora. Dari mulai cara yang sehat sampai cara yang sakit. Kita terlalu berambisi buat itu. Sampai kita rela ngancurin persahabatan kita bertiga cuma gara-gara itu. Dan sekarang, kita berdua dibuat terbelalak dengan adanya fakta bahwa ternyata Aurora nggak milih salah satu dari kita. Tapi aku pikir ini jauh lebih baik. Aku nggak rela banget kalo orang yang dipilih itu kamu, Pur.”
“Sialan! Sempet-sempetnya kamu mikir gitu! Tapi, aku juga berpikiran sama dengan kamu. Aku nggak terima kalo sampe akhirnya kamu yang jadi nikah sama Aurora.”
“Udah, udah!” tiba-tiba sebuah suara merdu melerai perdebatan di antara mereka berdua. Aurora. “Kalian ke sini bukan lagi buat ngerebutin sesuatu yang nggak layak kalian perebutkan. Karena percuma kalian terus-terusan berkompetisi kalau hadiahnya udah dimenangin orang lain. Sekarang, aku mau semuanya kembali seperti dulu, sebelum perpecahan di antara kita terjadi. Kita adalah sahabat yang sehati dan sejiwa. Dan aku mau selamanya kita seperti itu.”
Surya dan Purnama tersenyum, lalu mereka berdua memeluk Aurora.
“Sampai kapan pun, kita adalah satu!” ikrar mereka, mengenang saat-saat mereka masih bersama dulu.***
| Sabtu, 28 Oktober 2006 17:35 |
Be the first person to continue this post
bagus...
Nice...
lam kenal juga...aQ tertarik ma smua karya kamu.bgus bgt dch
rupa2nya sejak dahulu kala...
kak dadun suka nulis cerita ttg jatuh cinta ma shbt yah?
ckckckck...
=P
senasib siy,,,cuma kayaknya beda posisi...
*iseng2 baca postingan pertama heuheuheu
..kayanya pernah baca yg kaya gini deh. dmana yaa??? *mikir
kirain apa? sampe ngos-ngosan bacanya.
Teu satuju si purnama kawin jeung si Gemintang Ayu... Karena Ayu tunangan Sayahh...
Nice....
bagus kok..
kasi komentar ya...
apa aja deh boleh...
yah...yah...yah...yah...
tQ bwt yang udah
-dadUn-
top markotop