SURYA merasa sangat bahagia saaHtU terjaga pagi itu. Tak bXa$nCyVaRkM buang waktu, dia pun sBe1g6eKr!a+ bangkit, membersihkan dan merapikan diGriV sesempurna mungkin untuk hari ya*ng8 paling bersejarah dalam hidupnya. Sebu6ah2 tuxedo dikenakannya dalam rangka meny$ongsMong3 hari yang paling dinantikannya sejaJkY usianya masih lima tahun, seAjaBk3 pertemuannya dengan seorang gadis b^eQr3n6aOmJa| Aurora.
Di halaman, beberapa mobil s%u*d+a6hZ berbaris rapi. Sedan utamanya ber2hiaWskaEn1 pita dan bunga-bunga, khas moFbi7l$ pengantin. Begitu Surya menempatkan diri8nya~ di jok belakang sedan hitaZm# itu, mobil-mobil di belakangnya puUnA mengekorinya. Hingga tibalah mereka d2iM depan sebuah gereja tua d3iI kota itu.
Waktu berlalu seperti seekor sip9utE yang mencoba berlari. Semenit te5ra*sa+ sejam. Surya dan keluarga men7ungPgu~ mempelai wanita yang tak k@u0nOjKu2nVgD datang. Bulir-bulir keringat yang mul2aiC rontok, menandai kegelisahan Surya. SudSahJ hampir siang, Aurora belum j1uYg@aB datang!
***
Purnama tak bosan-bosannya merapikan diriX di depan cermin. Berkali-kali p8u$lRaF dia bertanya pada ahli t8a6tTaE riasnya dan beberapa saudaranya tenWtan@gS penampilannya.
“Gagah, Mas,” komentar adiknya.
“Kalau saja aku lebTih+ dulu ketemu kamu, mungkin akuK nggak mau dinikahi mas kamBu!”98 tutur iparnya sedikit berseloroh.
Tetap saja Purnama tak merRasaU puas dengan jawaban dan penVdapVatO mereka. Dia baru bisa puaLs_ kalau pendapat itu terlontar dariN mulut seorang gadis bernama Auro8ra8 yang sejak kecil bersahabat dengMannyKa,T yang beberapa saat lagi akan^ resmi menjadi pendamping hidupnya un9tu^kY selama-lamanya.
Sebenarnya... ini adalah postingan pertama, kalau dibilang cerita kasar dari cerpen saya yang judulnya "Dan Akhirnya..." jadi,kalau ada yang merasa de'javu, ya selamat menikmati de'javu aja deh... hehe
...Emosi saya naik. Mendadak, saya lebih mengidolakan Pawang Hujan ketimbang Einstein. Dan memuja ilmuwan yang berhasil menciptakan molekul air tanpa ... lanjut baca
{1}
Ketika saya sedang menatapimu dan tiba-tiba kamu balas menatap saya, sebuah ledakan terjadi di dalam dada dan mestinya kamu tahu gejala itu ada ... lanjut baca
“Tehnya, Mbak,” perempuan sekitar empat puluh tahunan itu masih melakukan hal yang sama setiap pagi, antara pukul setengah sembilan hingga sembila ... lanjut baca
bagian sebelumnya
Oedipus Kompleks?
“Apakah itu?” tanyaku mengambang di udara bersama sketsa Riana.
Temanku menjelaskan istilah itu seb ... lanjut baca
Aku melihatnya di sana. Selintas, tetapi keyakinanku berani membunuh waktu dan dosis minimalis kejelasan dalam hiruk pikuk keramaian. Itu dia!
“Y ... lanjut baca
Ponselku berdering saat kami tengah bercumbu malam itu. Ah, sialan! Terkutuklah si pengganggu kesenangan orang! Aku nyaris membanting ponsel sampai ku ... lanjut baca
Ponselku berdering saat kami tengah bercumbu malam itu. Ah, sialan! Terkutuklah si pengganggu kesenangan orang! Aku nyaris membanting ponsel sam ... lanjut baca
Bukan tidak sengaja sepasang mata saya menemukanmu ketika suara merdu itu diperdengarkan. Bosan ini memaksa saya melakukan ekspedisi visual ke seisi ... lanjut baca
“Saya sedang tidak merindukan siapa-siapa,” kecuali diri saya—dan rasa rindu keparat itu sendiri.
Saya pernah merindukan dia. Berhari hingga ... lanjut baca
“Wah, kau tampan sekali,” matanya seterang cahaya malam purnama saat mengatakannya. Dan terlengkung tulus melukis indah lesung pipinya. Sekali lag ... lanjut baca
Jakarta pagi itu
Penuh sesak lautan kesedihan
Jiwa-jiwa, penuh kebimbangan
Diliputi debu kesengsaraan
Jakarta pagi itu
Anak-anak, bersenandung ... lanjut baca
Krishna
Aku kesiangan lagi... Sebenarnya tidak terlalu siang sih, hanya sedikit telat. Dan tak akan ada pengurangan premi jika setelah menuruni mot ... lanjut baca
Pagi itu hujan. Jam menunjukkan pukul 06.30, seperti biasa kuliah hari ini akan dimulai pukul 08.00. Aku pun menyiapkan keperluan kuliah, dan memasuka ... lanjut baca
Aku langkahkan kakiku pagi itu menuju warung langgananku. Di meja warung ada koran Jawa Pos, aku lihat sebentar sebelum akhirnya memesan makanan.
... lanjut baca
Melisa Purnama Wangi, lengkapnya. Gadis manis yang hari itu berkemeja putih motif kembang merah malu-malu.. Sepatunya hak tinggi yang seiring berganti ... lanjut baca
Pagi menggeliat di lentik matamu yang hitam
ada kembang - kembang mimpi
diatas tumpukan pagi yang lewat
lalu singgah di kamar hati
sekara ... lanjut baca
Ku masih menjaga hatimu,
dengan debaran di jantungku
dengan hatiku yang terus melukiskan namamu
rasa yang ada tak pernah berubah
rasa yang ... lanjut baca
mari, kemari, sayang
kita lukis sketsa sejarah pada paha dan payudara
segera kemasi hurufhuruf, katakata dan kalimat
jangan lupa puisi di laci ... lanjut baca
Perempuan itu datang ke rumah ditemani seorang laki-laki yang mengaku bapaknya. Berbalut celana jeans dan kaos ketat yang membuat orang dengan mudah m ... lanjut baca
"Kenalin, nama saya imr, hobi saya online, hidup saya lebih banyak di dunia maya, jadi kalo nyari saya di glodok, harco mangga dua, WTC atau BEC gak
... lanjut baca
bagus...
Nice...
lam kenal juga...aQ tertarik ma smua karya kamu.bgus bgt dch
rupa2nya sejak dahulu kala...
kak dadun suka nulis cerita ttg jatuh cinta ma shbt yah?
ckckckck...
=P
senasib siy,,,cuma kayaknya beda posisi...
*iseng2 baca postingan pertama heuheuheu
..kayanya pernah baca yg kaya gini deh. dmana yaa??? *mikir
kirain apa? sampe ngos-ngosan bacanya.
Teu satuju si purnama kawin jeung si Gemintang Ayu... Karena Ayu tunangan Sayahh...
Nice....
bagus kok..
kasi komentar ya...
apa aja deh boleh...
yah...yah...yah...yah...
tQ bwt yang udah
-dadUn-
top markotop