PAGI yang menakjubkan. Langit cer&ia,Q embun sedikit memberikan kemilaunya p3aOdXa+ ujung runcingnya daun. Matahari s+e^dSaLnWgV jatuh cinta, nampak dari raut3 wajahnya yang kemerah-mudaan. Mungkin tadiS malam dia berhasil mengencani san9gB rembulan. Makanya pagi ini seQku@mpJul1anH burung gereja yang biasanya haZnyPaY mampu berteriak-teriak selamat pagi, mulaYiP menyanyikan lagu cinta yang me8ng!ap8un5gkFan~ rasa.
Saras membuka jendela kamarnya le7baJr-PlePba3r,^ tidak mau kehilangan momentum iniQ.6 Beberapa saat setelah dia menPikmSatiM panorama indah pag itu, dKiEl8i4rOi(k9nFyFa6 seorang lelaki bertubuh atletis teMngLah8 terkulai pulas di tempat tid)urnXyaA yang besar. Bute. Saras men9gha9mpi+riJ lelaki itu. Menatapinya lekat-lekat. MenXghaByatMiB setiap sudut dan lekuk tubuFhX indahnya yang hanya terbalut kain8 putih yang kini telah terHnodUa+ oleh getah cinta mereka s7eRm3aWlYa6mF.4 Saras teringat kembali akan a8p2aH yang mereka lakukan tadi maOlaHm.F Sebuah petualangan cinta yang he!ba~tK dan menakjubkan.
Bute terbangun. “Ada apa, beiMb?”S% tanyanya manja. Saras menggeleng. KeUmuOdi+anV Bute merengkuh dan membawanya kIeL pelukan terhangatnya. “Kenapa? Kamu laQgi$ mengenang kejadian semalam?”
Kamu membuat cerita pendek ala majalah. Atau bisa juga disebut cerita bersambung, saking begitu banyak pergantian alur dan setting. Cerita kamu memang menggigit. Tetapi, untuk sebuah cerpen yang aku secara subyektif anggap "bernilai" tulisan ini masih kurang.
Waduh, aneh2 aja.
Nggak tahu siapa yg mesti dikasihani. Saras dan Bute? Jelas nggak lah. Lalu Yandri? Meski dia punya kelemahan, tapi kan dia punya banyak istri? Jadi kurang respect.
Tapi idemu boleh juga ya. Sesuatu yg nggak kepikirian olehku. Cuma saranku meng. endingnya, kayaknya sudah umum nih yg kepergok begitu di kamar tidur. Mengenai gaya bahasanya juga cukup mengalir. Ditunggu cerita lainnya ya?
...Emosi saya naik. Mendadak, saya lebih mengidolakan Pawang Hujan ketimbang Einstein. Dan memuja ilmuwan yang berhasil menciptakan molekul air tanpa ... lanjut baca
{1}
Ketika saya sedang menatapimu dan tiba-tiba kamu balas menatap saya, sebuah ledakan terjadi di dalam dada dan mestinya kamu tahu gejala itu ada ... lanjut baca
“Tehnya, Mbak,” perempuan sekitar empat puluh tahunan itu masih melakukan hal yang sama setiap pagi, antara pukul setengah sembilan hingga sembila ... lanjut baca
bagian sebelumnya
Oedipus Kompleks?
“Apakah itu?” tanyaku mengambang di udara bersama sketsa Riana.
Temanku menjelaskan istilah itu seb ... lanjut baca
Aku melihatnya di sana. Selintas, tetapi keyakinanku berani membunuh waktu dan dosis minimalis kejelasan dalam hiruk pikuk keramaian. Itu dia!
“Y ... lanjut baca
Ponselku berdering saat kami tengah bercumbu malam itu. Ah, sialan! Terkutuklah si pengganggu kesenangan orang! Aku nyaris membanting ponsel sampai ku ... lanjut baca
Ponselku berdering saat kami tengah bercumbu malam itu. Ah, sialan! Terkutuklah si pengganggu kesenangan orang! Aku nyaris membanting ponsel sam ... lanjut baca
Bukan tidak sengaja sepasang mata saya menemukanmu ketika suara merdu itu diperdengarkan. Bosan ini memaksa saya melakukan ekspedisi visual ke seisi ... lanjut baca
“Saya sedang tidak merindukan siapa-siapa,” kecuali diri saya—dan rasa rindu keparat itu sendiri.
Saya pernah merindukan dia. Berhari hingga ... lanjut baca
“Wah, kau tampan sekali,” matanya seterang cahaya malam purnama saat mengatakannya. Dan terlengkung tulus melukis indah lesung pipinya. Sekali lag ... lanjut baca
Ku kejar semua yang tertinggal
Tak ku hiraukan semua penghalang
Ku coba menangkap semua mimpiku
Harapanku tuk kembali pulang
Tapi waktu ta ... lanjut baca
Kala senja ku sempatkan diriku untuk masuk ruang maya ku. Sore ini kacau… sekacau hatiku…
Si Abang : mungkin ada ruang kosong dlm hatimu...
Si ... lanjut baca
tiada gelap kini terang adanya
hawa dingin tergantikan hangat
malam tlah kembali tidur
kini pagi yang cerah membuka hari
mentari mengintip di ... lanjut baca
pagi hinggap di jendela
(atau jendela yang memerangkap pagi?)
jendela memerangkap pagi yang hinggap di jendela
(atau pagi hinggap di jendela yang ... lanjut baca
Melihat cahaya disela jendela..
Ibu jemari terkulum dalam liur..
Badan tersungkur meringkuk malas..
Terasa dingin hawa alam..
Serasa bersa ... lanjut baca
Pagi ku hilang
Pagi ku melayang
terbang bersama angin sore, terhempas badai senja
kubuka jendela hati, seraya menatap semesta bertabur benih dan em ... lanjut baca
mentari seperti masih enggan terbangun
atau sang awan yang terlalu gagah menutupi
jangan salahkan hujan yang terus turun
dingin menyesaki ruangan ... lanjut baca
Date: Wed, 26 Nov 2008 21:44:15 +0800
From: "indah ip" Add to Address BookAdd to Address Book Add Mobile Alert
Yahoo! DomainKeys has confirmed t ... lanjut baca
Jam setengah 9 lewat, matahari udah terang banget tapi mata blom pengen melek. Kenapa sih setengah 9 udah sepanas ini...perasaan gw baru tidur sejam a ... lanjut baca
“Kami menghidupkannya. Dinosaurus-dinosaurus itu.” Jawaban itu diperolehnya dari seorang pria tua berpakaian serba putih dengan rambut dan janggut ... lanjut baca
Kamu membuat cerita pendek ala majalah. Atau bisa juga disebut cerita bersambung, saking begitu banyak pergantian alur dan setting. Cerita kamu memang menggigit. Tetapi, untuk sebuah cerpen yang aku secara subyektif anggap "bernilai" tulisan ini masih kurang.
Waduh, aneh2 aja.
Nggak tahu siapa yg mesti dikasihani. Saras dan Bute? Jelas nggak lah. Lalu Yandri? Meski dia punya kelemahan, tapi kan dia punya banyak istri? Jadi kurang respect.
Tapi idemu boleh juga ya. Sesuatu yg nggak kepikirian olehku. Cuma saranku meng. endingnya, kayaknya sudah umum nih yg kepergok begitu di kamar tidur. Mengenai gaya bahasanya juga cukup mengalir. Ditunggu cerita lainnya ya?
seru...!!!
good story