: TSP
entah apa yang bisa kubawa sebagai oleh-oleh. jika nanti aku singgah. tak ada temali untuk mengaitkan badan kita pada bilah gelagar. buat berjaga-jaga bila angin meniupkan debu ke mata kita. juga tak ada parasut dan pelampung. hanya ada luka pertengkaran yang hampir mengering. untuk mengingatkan kita pada kelam silam. agar kita bersabar meniti waktu. mengarung musim yang semakin jalang.
di gelagar itu. tidak ada menu yang kausuguhkan, selain cinta dan benci. jadi terserah kita mau menyantap yang mana lebih dulu. sering-sering atau sekali-sekali. agar lidah kita tetap berfungsi sebagaimana mestinya. sebab sesuatu yang monoton tentu menjemukan, bukan? membuat kita lupa pada rasa yang lain.
di sini, aku masih menyiapkan sekeranjang kata-kata dan juga mimpi. sebagai bekal kita merenda puisi. mengusir sepi yang mengintai di tepi gelagar. tapi aku tak yakin itu cukup untuk mengawal kita. sebab perjalanan begitu tajam dan mungkin juga bertele-tele. sudahkah kau siapkan perapian? untuk menghangatkan mimpi-mimpi yang hampir basi. sehingga kita tetap berselera. mengunyah menu yang itu-itu juga. (11 Maret 2008)
dikirim andi tafader 29 minggu 6 hari yang laluTag:








