Read more (2160 words)
Ini adalah saatnya keluar! Setelah dua bulan lebih tenggelam dalam registrasi, perkenalan dengan dosen-dosen pembimbing, persiapan penelitian, serta penyesuaian diri, Miranti sedikit merasa jengah. Banyak hal yang telah dilewatkannya semenjak datang di Kyoto ini. Belum pernah sekali pun dia bersentuhan dengan kehidupan orang-orang di kota ini. Meriahnya Festival Gion bulan Juli lalu, dengan bertebarannya lampion di berbagai tempat, hanya sempat dia lihat lewat kaca kereta jalur Nara yang setiap pagi dia naiki. Sungguh dia seakan-akan telah mengambil jarak atas semua hal yang bukan berkaitan dengan kuliahnya.
Maka inilah musim gugur pertama dalam hidupnya. Udara mulai dingin dan angin bertiup kencang. Miranti yang tumbuh di Dago, Bandung itu agak terbiasa dengan udara yang masih belum di bawah nol derajat celsius ini. Sehelai daun momiji kuning kecoklatan jatuh di pundak jaketnya. Kata teman-temannya di Ohbaku International House, nanti pada saat pertengahan musim gugur dedaunan momiji akan menjadi merah tua. Sangat kontras dengan birunya langit dan terangnya cahaya matahari.
Miranti menenggelamkan pikirannya di dalam lautan daun-daun momiji yang menguning. Inilah hal yang pertama kali memikat hatinya pada keindahan Jepang, bukan gaya fashion ataupun tehnologinya. Di sini, di taman Murin-An yang tidak begitu jauh dari kampusnya, Miranti menemukan oase atas kejenuhan yang dia rasakan.
Tak jauh dari tempat dia berdiri, seorang pelukis tengah mengabadikan keindahan taman Murin-An dan dedaunan momiji. Tanpa dia sadari, pelukis itu juga sedang menangkap keceriaan seorang gadis cantik yang tengah terpesona akan keindahan suasana itu. Seorang Miranti.
+++
Sketsa. Memang hanya sebuah sketsa. Tangan yang terampil menggoreskan warna cat hitam yang agak ke abu-abuan. Entah kenapa si pelukis tidak begitu memperhatikan hal seperti itu. Apakah sengaja dia kaburkan warna hitam? Atau lupa membersihkan dengan baik? Entahlah, di matanya hanya keindahan taman Murin-An, dedaunan momiji, dan seorang gadis berambut hitam legam yang tergerai ditiup angin. Dia terus menyatukan ketiganya dalam pikiran dan sketsa yang dia buat. Sesekali dia menghela nafas. Sepertinya semua yang dia lakukan itu membuat dirinya merasa lepas.
Si pelukis itu tinggi, dan agak tidak proporsional gemuknya untuk dikatakan kurus, sehingga mantel yang dia kenakan seakan-akan begitu berat. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Alisnya tebal sehingga tatapannya begitu misterius dalam memandang. Tatapan inilah yang membuat gadis yang tertangkap dalam sketsanya begitu gelisah ketika melihat dirinya.
+++
Ada semacam daya tarik yang gaib, yang menyentuh perasaannya ketika dia menoleh pada sosok yang tengah asyik melukis.
“Apakah dia melukis aku di di dalam sketsa itu? Sebab dari tadi matanya tertuju padaku dan tempat aku berdiri,” Miranti bertanya-tanya dalam hati. Dengan langkah yang ragu, dia pun menghampiri si pelukis yang sedang asyik memainkan kuas.
“Maaf, apakah anda sedang menggambar diri saya?” dalam bahasa Jepang yang kaku, Miranti beranikan diri untuk bertanya sambil menghampiri si pelukis.
“Ah tidak! Saya sedang menggambar sketsa keindahan Taman Murin-Ann ini saja,” si pelukis merasa dia tidak mau disalahkan atau dipojokkan begitu. Dan memang dia tidak menyengajakan diri melukis Miranti dalam sketsa itu. Miranti hanya keindahan yang tak sengaja kebetulan dia tangkap. Hingga kemudian dia kemukakan hal itu dalam kekesalannya.
“Kebetulan kamu cuma jadi pelengkap keindahan yang aku tangkap saat ini,” dengusnya.
Miranti terkejut : betapa tidak ramahnya pelukis tersebut.
Pelukis itu menanyakan satu hal yang kemudian merubah percakapan dalam bahasa Jepang yang kaku tadi.
“Kamu dari mana?”
“Indonesia,” Miranti masih terkaget-kaget dengan sikap si pelukis yang tiba-tiba mengomel pada dirinya.
Kemudian pelukis itu memandang dengan tatapan yang semakin aneh. Entah terkejut atau terpana.
Tujuan Miranti menegur tadi sebenarnya hanya ingin mengusir kejenuhan dan membuka cakrawala di kota yang baru dia kenali ini. Lagipula dia merasa kesepian. Dia merasa perlu tambahan teman. Di Ohbaku ada banyak mahasiswa, tetapi dia belum merasa sreg dengan mereka semua. Rata-rata mereka sangat antusias dengan tehnologi dan gaya hidup.
Lalu pelukis itu kembali berkata pada dirinya. Kali ini ada nada yang berubah dari ucapannya.
“Ah, kenapa tidak bilang dari tadi. Aku pun dari Indonesia. Kyoto University? Pastinya kamu kuliah di situ bukan?”
“Iya. Kamu sendiri?”
“Aku cuma seorang petualang.” Aneh terdengar kalimat ini di telinga Miranti.
“Seperti Rob Bredl atau Steve Irwin?” Ada mimik yang serius tertangkap di raut wajah Miranti. Pertanyaan yang konyol memang. Sebab tak ada tampang petualang alam liar pada si pelukis itu.
“Hahaha. Rupanya kamu bisa juga bercanda. Aku petualang di dunia yang berbeda dengan mereka. Aku semacam pekerja seni saja”
Sejenak mereka terdiam. Daun-daun momiji membayangkan diri di sekujur tubuh mereka berdua.
“Hm. Sudah lama di Kyoto?” Miranti memecah kebekuan itu. Entah kenapa dia merasa dirinyalah yang lebih harus aktif bertanya daripada pelukis itu.
“Tidak begitu lama. Dan sepertinya aku datang di musim yang salah. Tetapi karena lukisan-lukisan jaman Edo ditampilkan mulai bulan September kemarin di National Museum of Modern Art, aku terpaksa datang ke Kyoto musim gugur ini. Bagaimana denganmu?”
“Oh. Aku. Aku baru baru sempat keluar dari rutinitasku di kampus”.
“Kyoto ini kota yang indah. Oh ya, bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke Festival Gokonomiya? Malam nanti itu puncak arak-arakannya!” Si pelukis mengajak Miranti. Antusias sekali. Miranti merasakan sesuatu hal yang semakin aneh hari ini. Dengan enggan dia pun menjawab ragu tawaran si pelukis.
“Ah. Sepertinya aku sedang tidak ingin melihat festival.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan malam di Nikishi saja?”
Eko menyebutkan sebuah nama jalan. Nishikikoji-dori. Jalan yang terkenal sebagai “dapurnya Kyoto” mengingat di jalan ini teradapat pasar makanan dengan ratusan kios penjual makanan. Nikishikoji-dori terletak di tengah kota Kyoto, antara Takakura-dori dan Teramachi-dori.
Sepertinya tawaran makan adalah tawaran yang menetralkan suasana. Toh, setiap orang perlu makan. Apalagi dengan cuaca yang mulai dingin. Tak perlu waktu yang lama untuk menunggu jawaban. Miranti segera mengangguk.
“Eko, lengkapnya, Eko Wahyu Baskoro,” si pelukis mengulurkan tangan.
Miranti segera menyambut.
“Miranti. Cukup itu saja.”
Eko tertawa. Miranti terheran-heran. Entah apa yang dipikirkan oleh Eko sehingga dia tertawa mendengar pernyataan Miranti. Sepertinya dia tidak percaya bahwa namanya cuma Miranti saja. Tidak ada embel-embel lain.
“Kita jalan sekarang? Sambil "sight-seeing" kota Kyoto,” Eko menawarkan sebuah usul.
“Baiklah. Eh, lalu bagaimana dengan sketsamu?”
“Kita ke apartemen sewaanku terlebih dahulu untuk menyimpannya, baru kemudian kita jalan. Mau?”
Miranti kembali ragu. Pergi ke apartemen seorang lelaki yang baru dikenal? Rasanya sangat aneh. Eko nampaknya segera dapat menangkap gelisah itu.
“Dekat apartemen tempat aku tinggal, ada sebuah café yang lumayan enak capucino-nya. Kamu bisa menunggu di situ.”
“Baiklah, jika demikian, aku bisa ikut dengan kamu.”
Spontan. Sungguh sangat spontan semua ini terjadi. Entah apa yang dipikirkan Miranti saat dia memutuskan untuk berjalan bersama Eko, si pelukis itu, yang jelas dia sekarang ingin menikmati suasana kota Kyoto. Dengan siapa pun, tak jadi soal.
Seperti dedaunan momiji yang mengganti warnanya setiap waktu. Mereka tidak pernah mengharapkan apresiasi manusia atas hal itu. Meskipun orang-orang begitu tertarik pada mereka, tetapi bagi mereka hal itu menjadi kegiatan alamiah yang wajib dilakukan untuk bisa bertahan di alam ini. Menyiasati kebutuhan akan sinar matahari. Demikian juga dengan Miranti saat ini, dia hanya bersiasat untuk benar-benar bisa menikmati masa liburannya. Keluar dari segala rutinitas yang telah lama menjebaknya.
+++
“Yumei ga areba michi wa aru” adalah pepatah dalam bahasa Jepang yang berarti bahwa ketika kita mempunyai mimpi tentu ada jalan keluarnya. Eko merasa dirinya sudah sangat bosan hidup sendiri, maka ketika dia melihat Miranti yang tengah menikmati musim gugur seorang diri, ia tidak membuang kesempatan untuk lebih mengenal gadis cantik itu.
“Aku sangat tertarik untuk menjadikanmu obyek lukisanku. Apakah kamu mau?”
Miranti tidak menyahut, dia hanya menatap dengan pandangan yang susah untuk dicari maknanya.
“Tidak mengapa kalau tidak mau. Maaf, jika kamu berpikir aku akan melukis telanjang – kamu salah besar. Aku tidak sepicik itu.”
Bola mata Miranti semakin membesar. Mulutnya masih belum mengeluarkan sepatah kata. Eko menyesali pernyataannya. Dia ingin meralat itu semua tetapi nampaknya sudah tidak bisa. Miranti tersenyum. Entah senyum untuk apa itu. Eko berdebar menanti kata yang keluar.
“Maaf, jadwalku sangat padat. Hari ini aku berterimakasih kepadamu karena sudah mau mengajak aku menikmati indahnya kota Kyoto. Tapi sekali lagi aku minta maaf, aku tidak ingin engkau menganggap ini sebagai sesuatu yang berlebihan.”
Lidah Eko tercekat kelu. Dia begitu malu menawarkan sesuatu yang sepertinya tidak pantas untuk gadis secantik Miranti. Diliriknya wajah Miranti. Dia masih tersenyum. Sejurus kemudian dia sibuk berurusan dengan telepon genggamnya yang meronta ingin memberikan kabar terbaru dari seseorang. Miranti membaca pesan di layar telepon genggam itu masih dengan bibir yang mengulum senyum. Rasanya Eko ingin sekali merebut telepon genggam itu dan segera mencari tahu apa isi pesan itu. Dia dibakar cemburu. Eko mengulum senyum terpaksa ketika tatapannya bertemu sepasang mata dengan bulu mata yang lentik dan pupil yang bersinar. Ah, sepasang pipi itu merona. Apakah Miranti sedang jatuh cinta? Laju kereta seakan berhenti total, sebuah perasaan telah mencabut angan-angan Eko dari semua hal yang berada di sekelilingnya. Entah itu perasaan apa. Setelah kejadian itu, Eko mulai banyak berdiam diri.
+++
Hari ini rasanya begitu cepat. Selepas makan, Eko menawarkan diri untuk mengantar Miranti pulang. Mereka berdua kini berada di stasiun central Kyoto.
“Rasanya malam belum begitu larut, dan sepengetahuanku Kyoto tidaklah demikian menakutkan untuk seorang gadis sepertiku,” Miranti kembali tersenyum. Entah sudah ke berapa kali dia tersenyum untuk Eko.
“Tapi Miranti… Aku ingin mengenal dirimu lebih dalam lagi.” Eko berusaha untuk tidak berbuat kesalahan yang lebih fatal dari melontarkan usul menjadikan Miranti sebagai obyek lukisannya.
“Kenapa harus buru-buru? Aku masih ada di Kyoto sampai tahun depan.” Miranti tertawa. Sepertinya dia sedang mempermainkan perasaan Eko. Tapi benarkah demikian? Eko memutar otak untuk bisa meyakinkan Miranti agar bisa mengantar pulang.
“Aku ingin melihat istana kaisar di waktu bulan terang. Mungkin hal itu bisa menenangkan rasa penasaranku terhadap Kyoto untuk masa yang sangat singkat ini.” Eko menatap Miranti tajam.
“Apakah itu bukan alasanmu saja untuk mengikutiku?”
“Tidak Miranti, tapi kuakui aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadapmu.” Eko berbisik dengan sangat lirih.
Ada pias merah muda di pipi langsat Miranti.
Sebuah kereta jurusan Keinhan berhenti dan membuka pintu, Miranti buru-buru masuk ke dalam gerbong – Eko dengan tergopoh-gopoh mengikutinya. Tak lama kemudian keduanya telah duduk bersisian. Sampai sekitar lima menit mereka terbungkus dalam diam. Tak ada kata-kata yang terucap. Sepertinya mereka berdua lebih menikmati suasana di dalam gerbong kereta.
“Apakah kau sudah punya pacar?” Eko memecah kebuntuan.
“Aku tak punya pacar.”
“Jadi tak salah jika aku menginginkanmu?”
“Tidak. Hanya saja aku sedang tidak memikirkan sebuah hubungan.”
“Apakah kau masih mencintainya?”
“Siapa?”
“Aku sempat melihat kau tersenyum saat membaca pesan di telepon genggammu, aku pikir dia pacarmu atau setidaknya orang yang mencintaimu.”
“Dia satu-satunya sahabatku. Danan namanya.”
“Laki-laki sebagai sahabat?”
“Ya. Aku dan dia saling mencintai.”
Eko terdiam. Sahabat? Saling Mencintai? Permainan apa lagi ini?
“Kau bilang ...”
Miranti memotong pertanyaannya.
“Ya. Aku dan dia adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah bisa bersatu.”
Eko merutuk dalam hati : “Oh, Tuhan! Jangan biarkan aku gila karena gadis ini!”
“Apa maksudmu?”
“Dia pernah menyatakan cintanya kepadaku, tetapi aku hanya menganggap dia sebagai seorang sahabat. Namun aku merasa bahwa aku juga sebenarnya mencintainya. Tetapi ada banyak hal yang membuat aku dan dia sepertinya tidak akan pernah bersatu.”
“Kenapa?”
“I wish I knew.”
Miranti terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. Sepertinya dia sedang mencoba menggali sebuah kenangan. Eko menatapnya setengah tertunduk. Tiba-tiba Miranti merasa pernah mengenali tatapan seperti itu!
+++
Di dalam sebuah mobil di pelataran Bandara Soekarno – Hatta. Danan membiarkan saja mesin masih menyala. Dari tape mobil terdengar sebuah lagu lama yang dinyanyikan dengan gaya baru oleh seorang penyanyi bernama Rasida Alma yang sedang naik daun.
Selamat tinggal kekasihku
aku akan menjemput mimpiku
meninggalkanmu di ujung rindu
dan pada saatnya cinta akan membuktikan artinya
Selamat tinggal kekasihku
usah kau harap pertemuan lagi
cintaku pun tertinggal di hatimu
dan pada waktunya takdir akan bicara untukku...
Danan menatap Miranti dengan pandangan setengah tertunduk. Seperti seorang tentara kalah perang. Dia memainkan gantungan kunci mobil yang masih tergantung.
“Jadi tak ada kesempatan untukku?”
“Kesempatan apa, Nan? Aku sudah berulangkali mengatakan bahwa aku tidak bisa menerimamu sebagai kekasih. Cukup saja kita bersahabat seperti ini.”
“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu?”
“Tidak ada, Nan. Tidak ada. Aku sudah begitu mengenalmu. Aku pun mencintaimu. Tapi rasanya ada yang salah jika aku menerimamu.”
“Kenapa?”
“Bukankah kita sudah saling tahu?”
“Ah! Buku puisi sialan! Kalau tahu begini akhirnya, aku tidak akan memberitahu kepadamu!”
Danan teringat saat Miranti ulangtahun ke-21, dia memberikan sebuah bukupuisi karya seorang penyair Hasan Aspahani berjudul : “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”.
Lalu keduanya menyukai sebuah baris di dalam puisi berjudul “Drama Pertemuan Bapa Adam dan Bunda Hawa”. Hanya sebaris saja. Namun mereka berdua merasakan cinta yang begitu indah di dalamnya. Karena ada kebahagiaan yang sempurna, kebahagiaan yang sangat diimpikan oleh mereka.
“DAN Tuhan, yang tak bisa menahan bahagia, nyaris saja memutuskan
untuk memerintahkan Adam dan Hawa kembali ke surga. Nyaris saja...”.
“Tapi Nan, puisi itu begitu indah. Aku yakin tidak ada cinta yang semanis cerita cinta Adam dan Hawa.”
“Ya. Takkan ada. Bahkan tak pernah ada.”
Danan terpekur. Diam.
Miranti terkejut dari lamunannya saat Eko mengatakan hal yang sama dengan Danan ketika itu : “Ayo kita turun!”
aku bingung mau komentar apa?^^
aku baca yang ketiga dulu deh..
---------------
----
More about Sefryana Khairil and her books, klik here:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Read and give your comments..
SEFRY'S STORIES & POEMS AT K.COM
bertanya apakah dirinya sedang dilukis itu agak janggal untuk saya ^^
miss worm's blog : pieces
Info Kumcer Kemudian