806, Dan Segalanya Menghilang - 4

12
points

Cinta Itu Puitis

Hati yang tulus adalah taman.
Pikiran yang sehat adalah akar.
Perkataan baik adalah bunga.
Kebajikan adalah buah.

-- John Ruskin --

Melihat puting susu, yang terpikir olehku adalah seorang perempuan yang biasa dipanggil ibu. Namun ibu yang sangat kusayangi sudah begitu tenang di alam kubur. Sekarang ini yang aku lihat adalah bagian terlarang seorang wanita yang terbujur kaku dalam dinginnya lemari pengawet jenazah.

“Cukup?” Seorang dokter forensik berkacamata minus itu membuyarkan rasa ingin tahu yang sedari tadi telah sedikit demi sedikit kutuangkan dalam coretan-coretan deskripsi kondisi jenazah tersebut. Kedua tangan Dokter Rossy sigap menutupkan resleting kantong jenazah, kemudian menyentak ujung brankar hingga terdorong masuk ke dalam lemari penyimpanan jenazah.

Aku tergagap menjawab pertanyaan tiba-tiba itu. Aku sedang tidak berusaha menikmati tubuh jenazah penyanyi wanita muda usia ini tetapi keseriusanku untuk mencatat detail kondisi jenazah membuatku banyak merenung mengenai saat – saat terakhir dalam hidupnya yang masih misterius.
“Hm. Apa penjelasan Dokter Rossy soal penyebab kematiannya?”
”Rasida Alma mengalami patah tulang leher oleh sejenis sabuk kulit.”
”Seperti dicekik?”
”Persisnya memang dicekik. Dan itu cekikan yang sangat kuat.”
”Bukan kehabisan nafas karena dicekik?”
”Dari uji rontgen, kemungkinan terbesar penyebab kematiannya adalah karena patahnya tulang leher.”
”Ada sidik jari tertinggal?”
”Sayangnya, kami belum mendapatkan kalung kulit yang dipergunakan untuk mencekiknya.”
”Di bagian tubuh yang lain?”
”Ada banyak petunjuk sebenarnya yang bisa digunakan untuk melacak tersangka pembunuhnya, seperti rambut, tekanan di kulit yang perlu dianalisis untuk mendapatkan sidik jari, juga ceceran sperma.”
”Sperma? Apakah artinya sebelum meninggal dia disetubuhi?”
Dokter forensik yang kebetulan juga wanita itu tersenyum. Dia membenarkan letak kacamatanya sebelum melanjutkan bicara.
”Anda tidak pernah mengetahui soal BSDM ?”
”Ya, saya tahu. Itu beberapa perilaku seksual menyimpang.”
”Sepertinya Rasida Alma tewas karena prosesi persetubuhannya sendiri.”
“Seburuk itukah dia?”
“Buruk? Saya pikir setiap orang punya cara tersendiri untuk menyatakan cintanya bukan?”
“Tetapi bagi saya, ini cara yang paling buruk sebagai pengungkapan rasa cinta.”
“Pak Danan, saya cuma menjelaskan kemungkinan yang ada dari sebab kematian ini. Bagaimana dia bisa berbuat seperti itu, sebaiknya anda bisa wawancarai seorang psikiater.”
”Ah, maaf. Saya tidak bermaksud berdebat dengan Anda, Dokter Rossy.”
”Apa bisa kita lanjutkan? Jika Anda sudah tak punya pertanyaan lagi, masih banyak hal yang harus saya kerjakan.”
”Tunggu Dokter...Bagaimana dengan sperma tadi?”
”Kami sudah mengambil contohnya dan akan kami lakukan uji DNA. Namun kendalanya, karena tidak semua orang sudah pernah dilakukan uji DNA pada dirinya, sehingga masih perlu waktu lama untuk mendapatkan orang yang tepat dianggap sebagai tersangka dalam kasus ini.”
”Jadi, kerja kepolisian untuk mengungkap siapa pelakunya boleh dibilang masih lama?”
”Itu bukan wewenang saya untuk menjawabnya.”

Aku menghela nafas. Ada binar keangkuhan yang ingin sekali kutundukkan di balik kacamata Dokter Rossy. Dan rasa itu seakan kembali menggetarkan seluruh tubuh. Mengalir ke syaraf di ujung-ujung jemari. Ah, tanganku kembali gemetar. Semoga dia tak melihatnya!
”Kapan Dokter selesai praktek?”
”Sekitar jam lima sore ini. Itu pertanyaan pribadi atau masih termasuk wawancara?”
Aku terhenyak. Ternyata Dokter Rossy punya selera humor yang baik!
”Saya ingin mengajak Dokter minum cokelat hangat kesukaanku.”
”Cokelat hangat? Rasanya dengan kasus seperti ini aku perlu yang lebih keras dari itu.”
Ha!

+++

Farina tergesa-gesa masuk ke pintu khusus karyawan. Dia tidak memperhatikan sosok yang hampir menabraknya. Tapi orang itu pun menghentikan langkahnya supaya tidak menabrak Farina.
”Hei, Fa!”
”Ups!”
”Hampir aku menabrakmu Fa. Kenapa terburu-buru?”
”Tidak ada apa-apa. Hanya saja, ada sesuatu yang aku ingat di perjalanan menuju kemari.”
”Apa itu?”
”Tak penting Joe. Sesuatu yang seharusnya tidak aku ingat lagi tiba-tiba melintas di dalam kepalaku.”
Joe menghela nafas. Dicarinya mata Farina yang sepertinya terus menghindari tatapannya. Betapa ingin dia menemukan sesuatu yang lembut di hatinya dari tatapan mata Farina.
”Joe, aku harus berganti pakaian.”
”Oh, maaf. Silakan Fa...”

Sebenarnya ada yang ingin dia tanyakan pada Farina perihal ajakannya beberapa waktu yang lalu untuk menonton sebuah film yang akan diputar premiernya hari Senin nanti. Tapi rasanya waktunya belum tepat. Joe sepertinya masih mencari bayang Farina di balik pintu yang telah tertutup. Dia kembali menghela nafas, barangkali bau parfumnya masih tertinggal di udara sore ini.
“Astaga. Betapa sulitnya aku menggapai cinta di hatinya!”

Joe mendesis gelisah. Tanggannya bergerak ke arah saku celana, mengeluarkan sebuah kotak korek api dan sebungkus rokok. Tak lama dia mulai membakar sebatang rokok.

“Joe. Ada pelanggan datang!”
Sebuah ucapan mengagetkannya. Dia segera mematikan rokoknya dan melangkah masuk ke dalam ruangan cafe. Dewi, teman waitress Farina menghadang langkahnya ke meja bar.
”Aneh! Masih sore begini, tamu-tamu itu sudah ingin mabuk.”
Senyum Joe mengembang menjadi tawa yang tertahan.
”Sudahlah. Yang penting ada pemasukan.” Joe mengambil kertas order di tangan Dewi dan membaca dengan cepat. Dalam beberapa menit, sebuah nampan telah diisi dengan dua buah gelas dingin berisikan es batu dan dua buah botol minuman.

Farina baru saja keluar dari ruang ganti dan berjalan ke arah bar.
”Fa, tolong hantarkan ke meja delapan.”
”Kamu mau kemana Dew?”
”Toilet. Sudah dari tadi aku menahan.”
”Baiklah.”
Farina mengambil nampan. Joe tersenyum ke arahnya, sepertinya tak pernah berhenti untuk mencoba mengambil simpati dari hatinya.

Meja delapan. Seorang lelaki dan seorang perempuan. Hampir saja nampan di tangan Farina terjatuh gara-gara dia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Dia melihat lelaki yang dikaguminya sedang berbincang dengan seorang wanita yang nampak sangat atraktif gaya bicaranya. Rasanya, jika boleh dia memutar balik waktu, lebih baik diperlambatnya ganti baju, atau bahkan pura-pura tidak mendengar ketika Dewi menyapa dan meminta bantuan membawakan nampan ke meja itu. Namun tak mungkin ada keajaiban yang mampu menahan laju perasaan Farina yang jatuh saat ini. Sore ini lebih cepat terasa sebagai malam di hati.

+++

“Selamat sore, Farina!”
Farina segera meletakkan nampan di atas meja.
“Sore Pak Danan...”
”Kenalkan ini Dokter Rossy...”
”Nan, Anda kenal dengan waitress ini?”
”Ya. Kenal. Saya sering sarapan di sini.”

Aku terpaksa menyembunyikan soal Farina adalah sumber informasiku dalam kasus kematian Rasida Alma sebab bukan tidak mungkin Dokter Rossy akan membocorkan kepada pihak press lain. Dokter Rossy mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Farina.
”Jika tidak ada pesanan lagi saya mohon diri. Kebijakan perusahaan tidak membenarkan pelayan untuk berbincang dengan tamu. Maaf..”

Nada di bibirnya bergetar dan mata indahnya selalu bergerak tak ingin diam. Ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan olehnya. Entah rahasia apa lagi yang dimiliki. Walau pun keingintahuanku begitu menggelitik aku lebih menghargai perasaan Dokter Rossy yang sedang kuajak kencan sore ini.

”Silakan Farina.” Suara Dokter Rossy terdengar di sela tatap panjang tanpa arah di kedua mataku. Dan terdengar suara lain. Suara aliran cairan isi botol yang bersinggungan dengan dinding gelas dingin. Suara itu membuat pupil mataku bergerak ke arah tangan yang berjari lentik yang sibuk menyiapkan dua gelas minuman.
”Hei, tunggu!” Tanpa sadar aku berteriak sedikit kencang. Dokter Rossy sedikit tersentak. Langkah Farina yang menjauh berhenti mendadak.
”Bukankah seharusnya kau mengisi gelas-gelas ini sebelum pergi?” Aku mengajukan pertanyaan retoris yang kutujukan kepada Farina.

”Aduh. Maafkan saya.” Dia berkata dan berjalan cepat ke arah kami.
Sebuah senyuman terulas di bibir Dokter Rossy. Sepertinya dia ingin mengatakan betapa kurang berkenannya dia atas perbuatanku ini. Diletakkan botol itu dan diundurkan punggung untuk merasakan kelembutan busa-busa sofa. Sesuatu yang tersimpan di dalam tas segera dicari. Sepertinya sesuatu yang begitu penting. Aku merasa bahwa tindakanku ini telah menghancurkan suasana kencan kami.

Farina segera membereskan pekerjaannya. Diulurkan dua buah gelas yang sekarang sudah setengah berisi di hadapan kami berdua.
”Terimakasih Farina.” Aku mengulum senyum terpaksa yang dibalas dengan senyum keterpaksaan juga.

Di sebelahku Dokter Rossy sudah mendapatkan apa yang dia cari dari dalam tas. Sebuah rokok! Entah kapan dia membakarnya, dari bibir tanpa lipstik terhembus asap tipis yang segera mengambang di atas meja.
Belum sempat aku mengeluarkan sebuah kata, tangannya telah terulur kepada gelas yang tersedia dan dalam hitungan detik, cairan pengisinya menghilang ke balik leher dalam satu tegukan! Bersama itu pula Farina telah menyurutkan bayang dari pandang.

+++

Pada toolbar di bagian bawah layar komputer, sebuah ikon muka lucu berwarna kuning muncul dari sebuah jendela biru yang berkedap-kedip. Ada sebuah nama yang membuat hatiku berdegup lebih kencang daripada sore tadi saat mengajak kencan singkat seorang dokter rumah sakit pusat : m3_run_tea!

Dengan rasa penasaran yang amat sangat aku menyentuhkan panah kursor pada jendela biru tua yang berkedip itu dan menekan tombol kiri pada tetikus.

m3_run_tea : Hallo! 
dananjaya : Hei. Apa kabar? Long time no see! 
m3_run_tea : Sorry, aku sibuk. Baru hari ini aku bisa keluar kampus.
dananjaya : Aku juga sibuk. Ada peristiwa yang menghebohkan.
m3_run_tea : Apa itu?
dananjaya : Kamu masih ingat penyanyi yang aku bilang wajahnya begitu sensual hingga aku ingin bisa berkenalan dengan dia?
m3_run_tea : Ya. Kamu selalu bilang matanya mirip sekali denganku. Rasida Alma, aku masih ingat. Apa yang terjadi dengannya?
dananjaya : Dia tewas mengenaskan kemarin. Tetapi itu belum seberapa menyakitkan ketika aku tahu dia mati karena cinta.
m3_run_tea : Apa? How come?
dananjaya : Tadi aku ketemu dokter forensik. Dia bilang Rasida dicekik saat bercinta.
m3_run_tea : What!! Very Tragic Story! What kind of love bisa buat orang mati seperti itu?

Ya, cinta apa yang membuat kita juga menderita, Ranti?

dananjaya : Kadang cinta buat kita menderita bukan?
m3_run_tea : Danan, ada apa denganmu? Jangan mencoba menyinggung masa lalu. Kita ini bukan pasangan kekasih...
dananjaya : Ranti, tadi aku kencan sama dokter forensik itu.

Balasan dari Miranti terasa lebih lambat dari tadi.

m3_run_tea : Good for u, Nan. Seperti apa dia?
dananjaya : Cantik. Talkative. Tapi bukan itu yang aku pikirkan.
m3_run_tea : Apa lagi?
dananjaya : Jujur, Ranti. I’m still waiting for you.
m3_run_tea : Nan, aku tak mau ngomongin itu lagi.
dananjaya : But Ranti. Aku gak bisa nemuin kedamaian di hati tanpa kamu.
m3_run_tea : Nan, bukahkah sudah berulangkali aku bilang kepadamu ”aku juga mencintaimu?” Tapi kalo sebagai sepasang kekasih, aku belum bisa yakin.
dananjaya : Serumit itukah cintamu Ranti?
m3_run_tea : Entahlah Nan. Tadi Aku juga baru saja pulang sight-seeing Kyoto sama seorang pria yang baru aku kenal di sebuah taman. Seorang pelukis asal Indonesia. Dia “nembak” aku. Katanya cinta pada pandangan pertama! Aneh bukan?
dananjaya : Kamu tak percaya dengan cinta seperti itu?
m3_run_tea : dunno, Yang aku tahu, papa selalu mengatasnamakan cinta untuk melukai tubuh dan hati mama sampai mama tak sanggup lagi berkata apa-apa selain menangis. Cinta itu terlalu sukar untuk kumengerti!
dananjaya : Sadarlah Ranti. Cinta seperti itu bukanlah cinta yang ingin aku berikan padamu. Entah untuk berapakali juga aku mengatakan hal ini padamu. Dan tentu kamu masih ingat tentang puisi cinta yang pernah aku berikan padamu bukan?
m3_run_tea : Bukankah kita sudah sepakat bahwa cinta seperti dalam puisi itu tidak akan pernah ada?

Sepertinya aku tidak pernah bisa menjelaskan persoalan cinta dengan benar kepadanya sehingga selalu saja ada perdebatan di antara kami.

dananjaya : Eh, ada lagi lho, puisi bagus yang aku suka dari dari buku puisi terbaru penyair idola kita.
m3_run_tea : Dia terbitkan buku puisi lagi? Seperti apa puisi itu? Bisakah kamu kirimkan untukku Nan?

Saat dia merajuk seperti ini. Akal sehatku lenyap sudah. Segala yang dia minta pasti segera aku iyakan. Apapun itu. Sebelum menjawab ”Ya” Jemariku mencomoti satu demi satu huruf dalam puisi yang kusukai dari buku puisi ”Lelaki Yang Dicintai Bidadari” karangan Penyair Hasan Aspahani dalam program Notepad sebelum aku salin-tempel di jendela Yahoo! Messenger.

dananjaya : Hasan Aspahani
Tiga Puisi Tak Jadi

(DENGAN tiga bait puisi tak jadi, penyair itu diringkus sepi. Sungguh ia tak bisa membela diri.)

Bait 1: kekasih yang pergi, salahkah bila kuratapi?
Bait 2: rindu yang sungguh, bodohkan bila kukeluh?
Bait 3: cinta yang gagal, bolehkah bila kusesal?

(DENGAN tiga bait puisi tak jadi, penyair itu ditelikung sunyi. Sungguh ia tak bisa lagi menyelesaikan itu puisi.)

m3_run_tea : Nan, Rasanya aku makin tak pantas membalas cintamu. Sajak kesukaanmu ini kurasakan begitu pedih.
dananjaya : Jadi sebenarnya kamu sudah mengetahui semua isi hatiku bukan?
m3_run_tea : Hei, kamu mau dengarkan ceritaku tidak?

Ya Tuhan! Kenapa dia selalu menghindari pembicaraan tentang perasaannya?

dananjaya : Ok. Ceritakan tentang malam indahmu, Ranti.

Dan mengalirlah cerita tentang sore perkenalan Miranti dengan Eko, diikuti cerita jalan-jalan di kota Kyoto dan berakhir dengan perpisahan di stasiun kereta. Tak ada detail yang jelas. Semuanya tampak seperti cerita seorang anak sekolah dasar tentang bertamasya ke kebun binatang. Aku akhirnya masuk pada ruang kebosanan yang membuat aku mengalihkan perhatian pada naskah laporanku yang tinggal sedikit lagi harus masuk ke ruang Editor.

m3_run_tea : Nan, aku sudah mengantuk.
dananjaya : Ya udah. Tidurlah Ranti. Malam ini aku akan meminta kepada Tuhan untuk memberikan sepasang malaikat berjaga-jaga dari mimpi buruk yang hendak merasuk di kedua pelupuk matamu.
m3_run_tea : Ah. Jangan coba puitis, Nan. Aku tahu kamu itu selalu bisa mencandai wanita, tapi tak akan pernah bisa menulis sebuah puisi.

Aku menuliskan sebuah kata untuk mengakhiri pembicaraan kami: ”Cinta itu puitis Ranti.”

”Danan. Laporanmu mana?”
Suara berat Pak Gunawan terdengar dari speaker pesawat telepon. Tergegas aku mencabut tumpukan kertas dari printer di meja samping dan meneruskan langkah ke ruangan pemimpin redaksi.

+++

Di sebuah ruang karaoke. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang asyik bernyanyi. Di antara suara mereka, sepasang lainnya bercakap-cakap.

”Mas Sas tahu? Dari semenjak sore tadi hatiku tidak tenang.”
”Apa yang kamu pikirkan?”
”Aku mengira Mas Sas akan berbuat sesuatu di luar akal sehatku dengan adanya teman Mas Sas itu.”
”Rudi? Dia baik kok.”

Susi membenarkan posisi duduk dan bergayut manja pada kekasihnya.
”Aku tadi itu berpikir kalian hendak melakukan tindakan konyol seperti di film-film yang pernah kita lihat.”

Sasongko terperanjat. Gelas di tangannya hampir saja terlepas. Dia terbatuk-batuk tersedak oleh minuman sebelum bicara.

”Astaga Sus! Kau berpikir sejauh itu? Aku ini posesif. Kau adalah kekasihku dan tak akan pernah aku berbagi dengan orang lain.”
”Tapi kehadiran Rudi membuat aku gugup.”
”Tenang saja. Sebentar lagi dia pasti mengajak perempuan teman karaokenya untuk menginap di hotel.”
”Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana denganmu?”

Susi memanjakan diri untuk mendapatkan perhatian penuh dari kekasihnya. Alih-alih menutupi perasaan kacau yang berubah menjadi malu.
”Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam bersamamu tapi karena ada pekerjaan penting besok lebih baik aku pulang saja.”
Susi cemberut.
”Hei! Cinta tak harus selalu diwujudkan dengan hal seperti itu bukan?”

Rudi tiba-tiba datang sambil tertawa-tawa. Sejurus kemudian dia sibuk berbisik-bisik pada Sasongko. Mereka berdua tertawa. Susi memandang ke arah perempuan pasangan Rudi. Sedang perempuan yang ditatap tersenyum kecil. Tanpa sadar dia pun tersenyum. Entah bermaksud membalasnya atau tersenyum pada kenyataan yang tak seperti inginnya.

Your rating: None Average: 4 (3 votes)
dikirim penjualkopikiloan 1 year 10 minggu yang lalu
Tag: