Kemarin Noni menerima apa yang di inginkan hati. Perhiasan, bangkai, dan kotak dari kayu jati. Bahagia Noni bisa menerima keingianan hati. Layaknya anak anak sedang gembira hati, Noni berlari lari dan tersenyum sesuka hati. Ia tau apa isi bungkusan itu, tapi di hati tetap bergejolak tak terkendali. Di kamar sendiri dengan bunkusan ia membuka dengan hati - hati, tanpa berharap lebih semua itu terjadi. Satu stel perhiasan emas 24karat asli, ada gelang, cincing, kalung dan bros. satu bagian bangkai makhluk membengkak berisi, tangan, kaki, kepala dan penyusun lainnya. Terakhir kotak kayu jati coklat tua warna serat alami kayu yang kosong tak berisi. Noni lalu tertawa berseling menangis. Terus berulang tertawa menangis tertawa menangis terus menerus. Ibu Noni tak arah menghadapi Noni, dukun,dokter, sampai ramuan tradisi di coba sang ibu tak hasil yang di capai.
Noni diinapkan di Serambi rumah sakit, orang memprediksi sakit jiwa yang dialami. Membawa perhiasan, bangkai dan kotak dari kayu jati, Noni menjalani hidup baru dengan ketiganya. Kehidupan barunya dengan berbagai kegiatan membuat dirinya lupa pada perhiasan, bangkai dan kotak dari kayu jati yang di bawanya. Kesehatanya membaik, mentalnya semakin mengarah, setidaknya ia sudah bisa perlahan meninggalkan perhiasan, bangkai dan kotak dari kayu jati.
Noni kembali ke masyarakat, ia sudah sembuh, tapi berganti masyarakat yang sakit. Mereka saling teriak, mencaci, dan tidak menerima sang waras. Noni, sedang menikmati kewarasanya. Setiap sore ia menanti di beranda rumah, menanti teman kecilnya yang mengajak bermainnya dulu. Tak kunjung datang sang teman, bersyukur kesabaran selalu menemani Noni. Bosan dengan penantian sepi nya di beranda. Ia mengambil kotak dari kayu jatinya. Sang ibu mulai menangis melihat perbuatan Noni. Sang ibu takut anaknya kembali ke jurang masa lalunya. Benar saja, Noni kesetanan mencari pinsil kayu, rautan, dan belati. Sang ibu menagis menatap anaknya.
Noni meninggalkan beranda menuju taman belakang. Sang ibu tak mampu mengikuti arah anaknya. Sekarang ia yang berteriak kesetanan memanggil warga. Noni tetap asik meng mall dengan pinsil kayunya. Selesai mempola, belati ia keluarkan untuk mengukir kotak dari kayu jati itu.
Selesai dengan kegiatan pertukangannya, Noni memasukan perhiasan dan bangkai itu ke kotak ukir baru dari kayu jati. Kotak itu abadi, warga yang semula tak mengerti sekarang berprofesi sebagai pengukir kotak kayu jati
Rating
Comments: 4
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
bingung
pas ditengah gw rada ngerti sama ceritanya, tapi pas di ending nge-blur lagi euy???
setuju...di tengah udah jelas arahnya
tapi akhirnya kok aneh lagi
-lam kenal-
hmm..saya jg agak tak maksud dengan cerpen ini. apa ini sekuel?
di paragraf pertama baris2 awal kenapa banyak dipakai kata 'hati' ya?
^_^
Eh, saya bingung sama maksud cerita ini. Banyak kiasannya ya? bangkainya itu bangkai apa? Lalu kenapa si Noni mengukir kotak kayu di bagian akhir? Kenapa para warga ikutan jadi pengukir kotak kayu? Mungkin bisa dijelaskan makna cerita ini?