10
points
Mungkin saya salah jika merasa prihatin ada penyair yang memberikan komentar yang cenderung mencela tanpa memberikan solusi atau setidaknya semangat. Apalagi kalau hal ini dilakukan penyair yang cukup terkenal. Lebih-lebih lagi komentar tersebut berkesan bahwa ia menunjukkan puisinya lebih bagus dari puisi para pemula (walau tersirat). Tetapi sudah menjadi hukum alam bahwa seorang yang sudah mendalami suatu ilmu dengan sungguh-sungguh, ia justru akan menjauhkan diri dari sikap atau ucapan yang menggoyahkan semangat orang lain, bukan malah sebaliknya.
Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa penyair terkenal yang berkomentar tidak mengenakkan itu kurang ilmunya. Saya tahu bahwa dia banyak membaca buku-buku, surat kabar, dan majalah yang berhubungan dengan dunia sastra. Sudah jelas ilmunya tidak dapat dipandang sebelah mata. Hanya saja saya berpendapat jika ada cara yang lebih baik, mengapa tidak menggunakan cara tersebut?
Bisa jadi beberapa pembaca tersinggung membaca tulisan saya tersebut. Mohon Anda baca dan pahami lagi tulisan itu secara teliti dan tenang. Benar tulisan saya dapat disebut kritik pada makna pertama (tanpa dasar ilmu), tetapi tidak cukup hanya dibaca sekali atau dua kali, apalagi tergesa-gesa dan emosi untuk menangkap maksud tersirat.
KIta harus ingat wadah ini beranggotakan manusia dari berbagai usia. Jangan sampai karena komentar yang kurang pas, dunia sastra kita jadi kehilangan para calon sastrawan atau pujangga terbaik. Kita harus memaklumi bahwa remaja (dunia kerja saya)adalah masa yang penuh gejolak dan seringkali salah mengartikan maksud karena tingginya emosi diri. Alangkah baiknya jika kita sama-sama memperhitungkan hal ini.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap bacaan. dikirim Putri_Pratama 17 weeks 3 days yang lalu
Tag:
apa? yang tua baru boleh bicara?
iklan rokok bangeud...bukan merk rokok saya tapi.
wah, itu mah produk lama yang teracuni hawa feodal mungkin.
siapalagi gua tuh?
sok tau, edannn