Satu koridor yang ada di lantai dua, tepatnya di gedung utara kampus, terlihat sepi dari luar, tapi begitu masuk ke dalamnya, ada keunikan dan cerita tersendiri di situ. Koridor yang tidak diketahui orang yang tidak pernah masuk ke kampus ini. Dari arah perpustakaan, jalan terus saja ke arah timur, anda akan temukan koridor eksklusif itu.
Berjejer di koridor itu ada 3 ruangan. Satu untuk anak-anak teater, satu untuk anak-anak pers dan satu untuk yang biasanya dipanggil ‘petinggi kampus’ alias anak-anak di lembaga eksekutif mahasiwa.
Ketika aku beranjak keluar melewati pintu butik, wanita itu tengah sibuk mematut-matutkan diri di depan sebuah cermin besar, memastikan warna tas tang ... lanjut baca
Bisa kurasakan detak jantung yang berdetak semakin cepat melewati saraf-saraf di telapak tangan lalu mengantarkan pesan kepada otak yang kemudian diar ... lanjut baca
Apa karena terlalu sayang hingga aku tidak mampu menahan tangis ketika melihatmu terluka? Berkali-kali aku memalingkan wajah karena tidak ingin meliha ... lanjut baca
Entah aku tersadar atau tidak, menatap ke arah langit di malam hari dan tidak ada satu pun bintang yang tersenyum menyapaku malam ini. Sama seperti ma ... lanjut baca
Pintu kayu itu lagi-lagi kuayunkan dengan kencang dan tepat menutup dengan suara kencang menghantam bingkai kayu yang menahannya. Mataku masih terpaku ... lanjut baca
Dia yang bilang kalau kali ini pasti akan datang tepat waktu. Janji tidak datang terlambat. Aku tidak tahu pasti kali ini dia ada acara penting sebelu ... lanjut baca
Kenapa pintu itu terus terbuka? Hingga memaksa mataku untuk terus memandanginya dan selalu berpikir kamu akan datang. Kegiatan paling membosankan sela ... lanjut baca
Tidak, jangan teteskan lagi air mata itu lagi. Walau saat ini aku tidak bisa melihat wajahmu, aku bisa merasakan tangis perlahanmu itu. Ayolah, satu s ... lanjut baca
Gue tidak pernah main-main ketika akan meminang seorang wanita. Menanyakan satu pertanyaan yang hanya ditanyakan sekali dalam seumur hidup gue.
“M ... lanjut baca
Malam yang dingin semakin bertambah dingin ketika semua yang ada di koridor diam. Tidak ada satu pun yang membuka suara. Suara ketikan dari jari Via d ... lanjut baca
Kali ini tidak berpikir panjang dan tidak ada debat lagi. Rizky yang pertama kali mengambil langkah seribu ke arah ruang LEM. Diikuti oleh Dimas dan A ... lanjut baca
Kampus masih diselimuti gelap. Listrik masih padam. Rizky menyandarkan kepalanya di dinding, menahan kantuk. Via masih berdiri di dekat jendela yang m ... lanjut baca
Padahal cerita yang pengen di tulis tuh dah muncul di otak dari awal sampe akhir...Tapi pas pengen di tulis,,semuanya buyar...Bahkan ceritanya jadi ka ... lanjut baca
maaf ya, saya pendatang baru nih di kemudian.com,pengen kenal sama semua member yang ada disini,dan saya suka sekali bisa bergabung disini,pengen bela ... lanjut baca
Mama yang luar biasa,
Malam itu di tahun baru, sewaktu aku pulang ketika hujan dan melihatmu memegang dupa di tangan, aku hanya bisa meminta pada T ... lanjut baca
kelak di satu musim yang kau pastikan
kain tak hanya tersingkap
lembut hamparan bukan hanya sebatas pandang
seperti awan menyusuri pegunungan
meng ... lanjut baca
Ijinkan aku mengakrabi semesta cakrawala......
Mencari kebenaran dari berbagai makna......
Menjajaki berbagai arah dari selatan hingga utara....
Da ... lanjut baca
Ino, kenapa kau (kembali) datang
Tak cukupkah doa yang kulantunkan untukmu tiap malam menjelang?
Yang bisa menuntunmu menuju jalan pulang
Ke dalam ... lanjut baca
baca lanjutannya ach
lanjut
Enak membacanya. Tak ada yang mengganggu di pikiran. Karena baru pengenalan, aku tidak bisa ngomong banyak.
Lanjutannya!!
tambah satu penulis cerbung di k.com... huehehe.. good.. ditunggu lanjutannya
rien tunggu lanjutannya..