”Ran! Rana!” Airin terus berteriak-teriak memangil nama Rana yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur. ”Rana! Bangun, Ran! Udah jam delapan, nih!” teriaknya lagi sambil menggoyang-goyang bahu Rana.
Rana membuka matanya dengan perlahan. Agak sulit untuk membukanya karena kelopak mata yang membengkak karena terlalu banyak menangis. Semalaman ia menangis di pelukan Airin, Lila, dan Alex secara bergantian.
Read more (3538 words)
Ini bukan suatu giliran yang menyenangkan buat Airin, Lila, dan Alex. Selain karena mereka harus membiarkan baju mereka basah, mereka juga harus pasang kuping sampai merah untuk mendengarkan keluh kesah Rana.
Rana is a drama queen.
Ia suka sekali mendramatisir masalah. Masalah yang kecil jadi besar, sedangkan masalah yang besar bisa jadi semakin besar.
”Duh...berisik banget sih, Rin. Masih jam delapan kan, bukan jam dua belas.” kata Rana dengan suara serak. ”Lagian hari ini aku mau bolos kerja. Nggak ada tenaga buat jalan ke kantor.”
”Kalo nggak kuat minum, jangan maksa. Sedih sih, sedih. Patah hati sih, patah hati. Tapi, jangan seenaknya sendiri gitu dong! You’re always taking me into your problems. I am your best friend, not your baby sitter.” kata Airin dengan wajah ditekuk karena kesal.
Semalam, Rana diajak pergi ke Cafe tempat Airin biasa manggung dengan bandnya. Yang punya ide bukan Airin, tapi Lila si biang rusuh. Di sana, Rana ditawari minum sama salah satu teman band Airin yang bernama Sandy.
Awalnya, Rana menolak. Tetapi, karena Sandy pandai merayu, akhirnya Rana terbujuk juga. Padahal, Airin sudah mati-matian melarang Rana minum. Rana bukan tipe orang yang tahan dengan minuman beralkohol. Sekali minum, bisa langsung mabuk.
”Hari ini Lo harus jemput mahasiswa asal Jepang yang mau home-stay di rumah Lo. Kata tante Winda, Lo disuruh jemput ke bandara jam delapan.” kata Airin seraya menyibak selimut yang melilit tubuh Rana.
”Memangnya mama nggak bisa jemput?” tanya Rana dengan kedua mata yang disipitkan.
”Lo dengerin nggak sih, apa yang gue bilang tadi malam?” tanya Airin. ”Nyokap Lo itu pergi ke Singapur buat liburan. Tadi malam dia udah berangkat.”
Rana bangkit dari posisi tidurnya. Ia terduduk di atas tempat tidur sambil mengucek-ngucek kedua matanya yang bengkak.
”Dasar mama....Kenapa sih, perginya pake mendadak segala? Nggak pamit lagi.” katanya dengan wajah tampak kesal bin kusut.
”Bukannya nggak pamit, tapi waktu itu Lo lagi teler sampe ketiduran.” kata Airin yang jadi terbangkitkan kekesalannya kalau ingat kejadian tadi malam. ”Denger ya, Ran! Nyokap Lo ngasih tanggung jawab sama Lo buat jemput mahasiswa asal Jepang itu di bandara jam delapan. Jam D.E.L.A.P.A.N. Which is...we are lat fo that now.”
”Terus?” tanya Rana dengan wajah bodoh dan rambut pendeknya yang berantakan seperti baru diterjang angin Tornado.
”Sekarang udah jam delapan, Ran! Kasihan anak itu kalo kita nggak buruan berangkat dari sekarang.”
Rana memalingkan pandangannya ke arah jam dinding yang tepat berhadapan dengan tempat tidur. Jarum panjangnya memang menunjuk ke angka delapan. Berarti Airin memang tidak sedang berbohong padanya. Ia memang sudah terlambat untuk pergi ke bandara.
”Eh! Lo mau ngapain, Ran?” tanya Airin terkaget-kaget ketika melihat Rana merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur.
”Tidur.” jawab Rana cuek. ”Mau berangkat sekarang kita juga udah telat.”
Airin meraih kedua lengan Rana, lalu ia menariknya dengan kuat hingga tubuh Rana terbangun.
”Apa-apaan sih, Rin? Kenapa jadi main kasar gini, sih?” protes Rana.
”Kalo nggak mau dikasarin, cepetan bangun!” kata Airin dengan tegas. ”Get your ash out of here and get going to the air-port. Now!”
”Oke! Oke! I got your warning.” kata Rana menyerah-kalah.
* * *
Jalanan menuju bandara macet seperti biasanya. Ada barisan panjang mobil-mobil berbaris seperti serdadu yang siap maju ke medan perang. Mobil Airin ada di tengah-tengah barisan itu. Tidak bisa bergerak. Kaku seperti mayat.
Kurang lebih satu jam lamanya Rana dan Airin terjebak macet di jalanan itu. Wajah mereka tampak panik. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh ketika mereka sampai di bandara.
”Kita terlambat dua jam.” kata Airin.
”Iya, aku juga tahu.” kata Rana yang sibuk mencari rombongan mahasiswa asal Jepang di antara kerumunan orang yang ada di bandara.
Meski sulit, ia tetap mencari. Kedua pasang mata bulatnya terus mencari gerombolan anak muda berwajah tirus, bermata sipit, dan berkulit putih. Itu ciri-ciri kebanyakan orang Jepang. Ciri-ciri general fisik dijadikan Rana untuk mengenali kelompok mahasiswa asal Jepang yang berlibur musim panas di Jakarta.
”Ah, excuse me!” Rana menegur segerombolan turis dengan ciri-ciri mirip orang Jepang. ”Are you a group of tourist from Japan?”
Kelima turis bermata sipit itu hanya memandangi Rana tanpa berkedip. Mereka sepertinya tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Rana.
Rana terus bertanya dan bertanya. Ia mengulangi pertanyaan yang sama. Tetapi, kelima turis itu tampak semakin kebingungan. Mereka bahkan mulai mengajak Rana bicara dengan bahasa yang membingungkan.
”Itu namanya bahasa Tagalog, Ran.” kata Airin yang berdiri di belakang Rana.
”Tagalog itu dari Thailand kan?” tanya Rana kebingungan. ”Tapi, orang-orang ini mata sipit-sipit.”
”Mata sipit bukan cuma stade-mark orang Jepang sama Cina. Di Thailand juga banyak orang Chinese-nya. Sama kaya’ di sini. Banyak orang-orang keturunan Cina yang nggak bisa bahasa Inggris, tapi jago bahasa Jawa.”
Rana agak risih mendengar Airin mengatakan orang-orang keturunan Cina. Sejak rezim Orde Baru tumbang, seharusnya sudah tidak ada lagi istilah ”keturunan Cina”. Yang ada hanya warga negara Indonesia. Toh, kadang mereka yang dibilang ”keturunan Cina” itu punya nasionalisme yang jauh lebih tinggi dari pada yang katanya pribumi asli.
Ini bukan hanya sekedar keberpihakan Rana pada golongan minoritas itu. Tetapi, karena ia merasa miris jika mengingat peristiwa kerusuhan Mei tahun 1998 yang banyak menelan korban orang keturunan Cina.
Seharusnya setiap warga negara, tidak perduli dari mana asalnya, harus hidup saling berdampingan menghormati. Yang namanya diskriminasi harus dimasukkan ke dalam gudang.
”Heh! Kok, malah bengong?” tanya Airin sambil menepuk pundak kanan Rana. ”Ayo, kita cari lagi!” katanya tidak sabaran.
Rana terbangun dari lamunannya. ”Eh, iya! Sorry.” katanya seraya kembali berjalan untuk mencari.
Beberapa orang yang ciri-cirinya mirip orang Jepang, sudah ditanya oleh Rana. Tetapi, semuanya tidak ada yang menyatakan diri sebagai mahasiswa asal Jepang. Memang ada yang berkewarganegaraan Jepang namun mereka bukan kelompok mahasiswa yang dimaksud.
”Gimana?” tanya Airin yang kini sudah berdiri di depan Rana.
Tadi Rana dan Airin sempat berpencar. Tetapi, akhirnya mereka bertemu di suatu titik juga.
”Belum ketemu juga.” jawab Rana dengan nafas terengah-engah.
”Hhh...memang sulit sih, kalo kita nggak tahu siapa yang kita cari.” kata Airin yang juga tampak kelelahan. ”Eh, iya!” tiba-tiba ia berseru.
Dengan terburu-buru, ia pun meraih tas jinjing kecilnya. Jari-jemarinya yang lentik nan panjang mengaduk-aduk ke dalam tas. Sepertinya ia baru saja mendapat in-sight bagus yang membuat wajahnya sedikit tampak cerah.
”Nyari apaan, Rin?” tanya Rana kebingungan melihat keribetan Airin mengaduk-aduk isi tasnya.
”Data-data yang ditinggalin nyokap Lo di atas meja ruang tamu.” jawab Airin seraya menarik dua lembar kertas putih yang dilipat menjadi dua bagian dari dalam tasnya. ”Sorry, gue lupa kalo tadi sempet ambil ini dari meja ruang tamu Lo.” katanya seraya memberikan dua lembar kertas itu pada Rana.
Rana menyambarnya sambil memang wajah cemberut. ”Dasar! Kenapa nggak bilang dari tadi?” tanyanya sewot.
Airin cuma meringis bodoh tanpa menjawab.
Meski terlihat kesal, Rana malas untuk berkomentar lagi. Perhatian lebih tertuju pada dua lembar kertas yang ada di tangannya. Informasi berharga tentang sang mahasiswa home-stay asal Jepang itu, ada di dalam kertas-kertas itu.
Setelah lipatan dibuka, maka data ini lah yang tertulis di lembar kertas pertama :
BIODATA MAHASISWA ”SUMMER HOLIDAY” 2008
Nama : Kaminari Tetsuya
Usia : 20 tahun
T/T/L : Osaka, 29 Desember 1988
Golongan Darah : B
Status : single
Pekerjaan : mahasiswa jurusan arsitektur, Universitas Tokyo
Nama Ayah : Kaminari Sinichi
Nama Ibu : Kaminari Atsuko
”Kaminari Tetsuya.” Rana membaca nama yang tertera di dalamnya. ”Jadi namanya Tetsuya. Nama keluarganya Kaminari. Kata mama, orang Jepang itu nama keluarganya ditulis di depan.”
”Wah, orangnya ganteng juga!” puji Airin. ”Kalo dia beneran tinggal di rumah Lo, gue bisa tiap hari main nih!” katanya sambil cengar-cengir.
”Iya, kalo kita bisa ketemu sama dia. Kalo nggak, gimana? Gue bisa dimarahin habis-habisan sama mama nih!” kata Rana panik.
”Tenang, Ran.” kata Airin sambil mengusap-usap punggung Rana. ”Kita pasti bisa cari dia.”
”Tapi, gimana caranya, Rin? Kita nggak mungkin kan ngelilingin bandara segede ini buat cari dia. Lagi pula, gimana kalo ternyata dia udah cabut dari bandara.” kata Rana putus asa. ”Hah, mampus deh! I am hopeless.” ia menyandarkan punggungnya di dinding bandara─wajahnya tampak kusut.
Saat ini ia tidak bisa berpikir. Kepalanya yang sejak bangun sudah terasa pusing, kini semakin tidak karuan rasanya. Keadaan cuaca yang panas dan lembab, semakin memperburuk keadaan.
”Ah, gue punya ide!” seru Airin tiba-tiba dari balik kebisuan sesaat antara dirinya dan Rana. ”Kita minta tolong sama bagian informasi buat umumin nama Tetsuya lewat speker. Gimana? Menurut gue itu lebih efisien dan cepat.”
Rana tersenyum lebar, lalu merangkul bahu Airin. ”Ide kamu bagus banget, Rin. Brilian banget. Top abis!” ia memuji Airin dengan tulus─dengan ekspresi wajah penuh kagum.
”Siapa dulu dong?” Airin menepuk-nepuk dada penuh kebanggaan. ”Airin Surya Jati! Pastinya ide-idenya selalu brilian and oke banget. Calon artis pula. Hmm...kadang gue ngerasa kalau gue ini emang makhluk Tuhan paling keren.” pujinya terhadap diri sendiri.
”Ya. Ya. Ya. Aku tahu kamu memang punya banyak bakat, tapi nggak udah berlebih gitu muji diri sendirinya.” kata Rana dengan sedikit ketus. ”Udah, yuk! Kita ke bagian informasi aja sekarang.” katanya seraya menarik tangan Airin pergi.
* * *
Rana dan Airin sudah berdiri selama dua puluh menit di depan meja informasi, tapi belum juga ada orang yang mengaku bernama Tetsuya Kaminari atau Kaminari Tetsuya. Hal ini membuat Rana hampir saja jatuh pingsan karena lemas.
Untungnya, Tuhan masih berbaik hati padanya. Karena sebelum tubuhnya terkulai lemas ke lantai, ada seorang pemuda berperawakan tinggi yang menahannya. Rana pun terselamatkan. Ia tidak harus merasakan sakitnya terbentur permukaan lantai.
”Daijôbu [tidak apa-apa]?” Pemuda itu bertanya pada Rana dengan suaranya yang berat nge-bass.
Rana mengangkat wajahnya untuk melihat wajah dari si pemilik suara berat itu. Untuk beberapa saat, ia tertegun memandangi sosok pemuda bersuara berat itu. Wajahnya mirip dengan foto yang tertempel di kertas biodata milik Tetsuya Kaminari.
”Are you Tetsuya? Tetsuya Kaminari?” tanya Rana pada pemuda itu.
”Hai, sô desu [benar sekali].” jawab permuda itu sambil mengangguk. ”Hajimemashite [apa kabar]? Watashi wa Kaminari Tetsuya desu [saya adalah Kaminari Tetsuya].” ia mengulurkan tangannya pada Rana untuk berjabat tangan.
Rana speach-less. Ia berdiri terdiam sambil memandangi Tetsuya dengan wajah terbengong-bengong. Kalau Airin tidak menyikut lengan kanannya, ia pasti masih membiarkan dirinya terlihat bodoh di depan Tetsuya.
”Ah-eh-ah, an-anu....”
”Heh! Kenapa Lo, Ran?” tanya Airin sambil mengerutkan kening. ”Lo lagi diajak salaman tuh!” katanya seraya mendorong bahu kanan Rana.
Rana menjabat tangan Tetsuya, lalu sebuah senyuman kaku dikembangkan untuk Tetsuya. ”My name is Kirana Putri. But, you can call me Rana.” ia memperkenalkan diri dengan sedikit gugup.
”Tetsuya-san!” tiba-tiba ada seorang gadis berperawakan tinggi-kurus memanggil Tetsuya dari pintu masuk ruang informasi.
Gadis itu datang bersama seorang gadis berwajah oriental khas Jepang yang menggeret sebuah koper besar berwarna merah muda.
”Sarah-chan!” Tetsuya menyudahi jabatan tangannya dengan Rana, lalu memalingkan wajahnya pada gadis yang dipanggilnya dengan nama Sarah.
”Dô shimashita ka [Apa yang sudah terjadi]?” tanya Sarah dengan wajah kebingungan. ”Hayai amai ne [kamu terlalu cepat].”
”Gomen ne, Sarah-chan [maaf, Sarah].” kata Tetsuya seraya meringis lebar.
Gadis yang dipanggil Tetsuya dengan nama Sarah itu, menarik lengan kanan Tetsuya. Untuk beberapa saat, ia, Tetsuya, dan gadis lain yang membawa koper, terlibat pembicaraan serius. Mereka berbicara dalam bahasa Jepang. Beberapa kali Sarah menepuk pundak Tetsuya dengan ekspresi wajah penuh kelegaan. Sedangkan, gadis yang lain itu, tidak berhenti memandangi wajah Tetsuya dengan sedih. Tetsuya sendiri, ia lebih sering menganggukkan kepala atau tersenyum dari pada bicara.
Rana dan Airin yang benar-benar buta soal bahasa Jepang, hanya bisa memandangi ketiganya dengan wajah penasaran. Mereka seperti sedang menonton film bajakan asli Jepang yang tidak ada running teks-nya.
”Mereka lagi ngomong apaan sih, Ran?” tanya Airin penasaran.
”Mana aku tahu.” jawab Rana yang terlihat sama penasarannya.
”Nyokap Lo kan dosen bahasa Jepang, masa Lo nggak tahu sedikit pun soal bahasa Jepang.”
”Yang dosen kan mama, bukan aku.” kata Rana sewot. ”Udah deh, kita tunggu aja. Paling sebentar lagi mereka juga selesai ngobrolnya.”
”Yakin, Lo?” tanya Airin dengan ragu-ragu. ”Gue nggak bisa lama-lama nih, Ran. Jam dua belas nanti, gue ada ketemuan sama orang.” kata Airin seraya melirik ke arah jam tangannya.
Soal managemen waktu, gadis berdarah campuran Jogja-Manado ini, memang paling ketat. Airin yang sudah diajarkan untuk hidup mandiri secara finansial oleh ibunya sejak masuk kuliah, terbiasa untuk mengatur waktunya yang padat dari jauh-jauh hari. Ia harus bisa mengatur waktu antara bisnis, nge-band, aktivitas modeling, dan waktu berkumpul dengan keluarga serta sahabat-sahabatnya.
Baginya, waktu adalah uang. Merupakan suatu kebodohan jika waktu terbuang hanya untuk hal-hal yang sia-sia, seperti menunggu. Baginya, menunggu adalah pekerjaan membosankan yang hanya bisa memboroskan waktu. Jadi, maklum saja kalau moodnya langsung jadi sedikit terganggu karena masalah ini. Untungnya, keadaan ini tidak berlangsung semakin lama karena Sarah sudah mengakhiri pembicaraannya, dan sedang berjalan menghampiri Rana.
”Jadi, kamu yang namanya Kirana Putri?” tanya Sarah segera setelah ia berdiri berhadapan dengan Rana.
”Iya. Tapi, panggil Rana saja.” jawab Rana.
”Hhh...untung akhirnya kamu ketemu juga sama Tetsu. Dari tadi, kita bertiga menunggu kamu. Tetsu hampir putus asa karena teman summer holiday-nya nggak muncul-muncul.” kata Sarah dengan wajah sedikit kesal.
”Maaf, deh.” kata Rana penuh penyesalan. ”Tadi pagi aku terlambat bangun. Jalanan ke bandara juga macet banget. Jadi, bukan cuma Tetsuya doang yang hampir putus asa.”
Sarah mengendus bau alkohol yang tercium dari mulut Rana. Kening gadis itu dikerutkan, dan pandangannya terhadap Rana jadi terlihat semakin sinis.
”Lain kali kalo nggak sanggup, nggak usah daftar jadi teman summer holiday mahasiswa home-stay lagi. Tindakan kamu yang enggak bertanggung jawab ini, bisa bikin nama orang Indonesia jadi jelek di mata orang luar.” katanya dengan tajam.
”Eh, Mbak! Kalo ngomong itu, tolong dijaga mulutnya. Nggak usah sok nyeramahin orang, deh.” katanya dengan wajah memerah karena kesal. ”Mau ngajak ribut, ya?”
”Sabar, Ran. Sabar.” Airin berusaha menenangkan Rana. ”Jangan berantem di sini. Ini tempat umum. Lagian, gue lagi nggak punya banyak waktu buat nungguin Lo berantem.”
Rana menarik nafas panjang untuk menetralkan emosinya. Meski masih kesal, ia memutuskan untuk lebih tenang menghadapi sikap Sarah. Lagi pula, ia sadar kalau masalah ini memang sedikit banyak terjadi karena kesalahannya.
”Saya bukannya mau ngajak kamu ribut. Saya hanya ingin memberikan sedikit nasihat.” kata Sarah yang masih terlihat kesal. ”Lagian, ribut sama cewek tukang mabuk kaya’ kamu enggak akan ada manfaatnya.”
Emosi Rana yang hampir mereda, kembali meninggi. Ia hampir saja memberondong Sandra dengan kata-kata cacian, jika Airin tidak membekap mulutnya. As usual, Airin selalu siap siaga menjaga kehormatan sahabatnya jikalau keadaan seperti ini datang tanpa diundang. Ia selalu jadi filter yang menyaring semua perkataan dan perbuatan Rana, yang selalu mudah tersentil emosi.
”Maafin teman saya, Mbak.” kata Airin yang masih membekap mulut Rana dengan kedua telapak tangannya. ”Teman saya yang bego ini, sebenarnya enggak salah-salah banget. Jadi, tolong jangan ceramahin dia lagi.”
Sarah mengehela nafas panjang. Ia mencoba menurunkan emosinya yang hampir kelewat batas normal. ”Oke. Sorry, juga kalo saya agak kelewat marah.” katanya dengan nada suara yang sudah mulai terdengar lebih stabil.
Pertempuran pun akhirnya berhenti sampai di sini. Meski tanpa lambaian dua bendera putih dan jabatan tangan tanda perdamaian, kedua gadis itu toh sudah tidak lagi saling menyerang. Airin yang menjadi juru perdamaian, terlihat lega. Ia berhasil menyelamatkan harga diri sahabatnya sekaligus menenangkan suasana hati Sarah yang hampir hangus terbakar api emosi.
”Jâ mata, Tetsu-kun [sampai ketemu lagi, Tetsu].” kata gadis lain yang membawa koper besar itu sambil memeluk Tetsuya.
Rana sempat melihat ada genangan air mata di kedua bola mata gadis itu. Tampaknya gadis itu tidak ingin berpisah dengan Tetsuya. Mungkin saja, keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat, atau mungkin bahkan mereka sebenarnya adalah sepasang kekasih.
”Arigato ne, Yuko-chan [terima kasih ya, Yuko].” kata Tetsuya berbisik di telinga gadis yang dipanggilnya dengan nama Yuko itu.
Setelah pelukan penuh keharuan itu berakhir, Sarah dan Yuko pun mohon diri pada semuanya. Kini tinggal Rana dan Airin yang ada di depan Tetsuya. Keduanya tampak kebingungan. Mereka tidak tahu bagaimana caranya agar bisa berkomunikasi dengan Tetsuya, yang sepertinya tidak bisa berbahasa Inggris.
”Ngomong dong, Ran.” desak Airin pada Rana.
”Ngomong apaan?” tanya Rana balik.
”Ya, ngomong apaan, kek.” jawab Airin kebingungan. ”Kalo bingung, disapa aja dulu.”
”Nyapanya pake bahasa apaan?” tanya Rana lagi─wajahnya terlihat semakin kebingungan.
”Bahasa Jawa.” jawab Airin sambil memasang wajah ketus.
”Ye! Jangan gila deh, Rin.” kata Rana kesal. ”His Japanese, not Javanese.”
”Lagian Lo juga aneh-aneh aja. Kalo mau nyapa, ya tinggal disapa aja.” kata Airin sambil menahan tawa─ia merasa kalau kata-kata Rana barusan terdengar lucu (soal Japanese and Javanese). ”Kalo bingung mau pake bahasa apaan, lambaikan tangan terus menyengir deh.”
Rana benar-benar melakukan hal yang disarankan oleh sahabatnya. Ia melambaikan tangan pada Tetsuya sambil meringis. Hal ini dilakukannya berulang-ulang tanpa bicara. Lama-lama, Rana jadi kelihatan seperti salah satu boneka yang ada di Istana Boneka-Ancol.
”Suru wa nan desu ka [apa yang kamu lakukan]? Anata wa kichigai nan desu ka [apa kamu gila]?” tanya Tetsuya sambil mengerutkan kening karena kebingungan dengan sikap Rana yang seperti orang bodoh.
”Hah? Apa?” tanya Rana dengan wajah bodohnya─ia masih melambaikan tangannya pada Tetsuya.
Tetsuya menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang. ”Baka [bodoh].” katanya seraya meletakkan travel-bag-nya di depan kaki Rana, lalu beranjak pergi keluar dari ruang informasi.
* * *
Rana stress.
Berulang-ulang kali ia mencoba berkomunikasi dengan Tetsuya ketika mereka masih dalam perjalanan pulang. Tetapi, tidak sekali pun Tetsuya menanggapi kata-katanya. Padahal, segala cara sudah dilakukan. Mulai dari memakai cara modern dan cara primitif seperti bahasa tubuh.
Tetsuya seperti mengacuhkan setiap usaha Rana. Bukan hanya diacuhkan saja, tapi Rana juga diperlakukan seperti seorang pembantu. Tetsuya membuat Rana terpaksa memperlakukan dirinya secara khusus, dan anehnya tidak sepatah kata pun diperlukan untuk membuat gadis bodoh ini bersedia melakukannya.
Apa yang didapatkan Rana dari semuanya itu? Nol besar. Yup! Benar-benar tidak ada. Zero. Nothing. Parahnya lagi, Tetsuya bahkan tetap bersikap acuh padanya hingga mereka sampai di rumah. Padahal Rana sudah berbaik hati untuk menurunkan semua barang Tetsuya yang disimpan di bagasi mobil Airin.
”Ukh!!!” Rana berteriak untuk meluapkan kekesalannya. ”Sebel! Sebel! Sebel!” gerutunya sambil mengacak-acak rambutnya yang pendek.
”Yang sabar, Ran.” kata Airin seraya menepuk pundak kanan Rana dengan lembut. ”Jangan terlalu diambil berat sikapnya si Nippon itu.”
”Maunya sih, gitu. Tapi, kaya’nya nggak akan sanggup lama-lama, deh.” kata Rana dengan wajah lesu. ”Aku sama si mata sipit sialan itu bakal tinggal bareng di rumah selama satu bulan penuh. And, not to mention that we are gonna live alone for two weeks. Bayangin, Rin! Dua minggu cuma berduaan.”
”Jangan panikan gitu dong, Ran. Kita kan baru ketemu Tetsuya hari ini. Kita belum tahu siapa dia yang sebenarnya. Yah, mungkin aja sebenarnya dia nggak sejahat yang kita lihat sekarang.” kata Airin dengan bijak.
”Sekali lihat aku bisa tahu kalo nggak akan ada kebaikan yang bisa kita lihat dari bocah sipit itu.” kata Rana sambil memandangi Tetsuya yang duduk di sofa rotan panjang, yang ada di teras depan rumah.
”Please, Ran. Tolong jangan block pikiran Lo sama pemikiran lugu kaya’ gitu. Lo nggak bisa menilai orang cuma dari kesan pertamanya aja. Take Bagus for an example. Dia buat kesan pertama yang bagus banget di depan Lo setelah bertahun-tahun kalian nggak ketemu. Tapi, hasilnya apa? Lo malah kena tipu kan?”
Rana merasa seperti ditampar oleh kata-kata Airin. Mungkin, yang dikatakan Bagus dan Airin memang benar. Rana kini merasa dirinya sangat polos, sangat lugu, dan sayangnya juga sangat bodoh. Keluguan dan kebodohan yang bercokol dalam dirinya bukan sesuatu yang baik karena hanya sisi merugikannya saja yang dirasakannya.
”Tenang aja, Ran. Kalo soal masalah Tetsuya, gue akan coba cari solusinya buat Lo.” kata Airin dengan tulus. ”Gue akan bantu sebisa yang bisa gue lakuin. Don’t worry, Honey. Your not alone. Gue juga akan diskusiin masalah ini sama Lila and Alex.”
”Ou...”, Rana memeluk Airin dengan erat, ”...thank’s Rin. Your my savior. My guardian angel.”
”Ya, ampun Ran. We are sisters. Nggak usah bilang terima kasih segala. Masih kaku aja sih, Lo.” kata Airin sambil mengusap-usap punggung Rana.
Airin pun akhirnya mohon diri. Ia pergi dengan terburu-buru seperti sedang mengejar sesuatu yang penting. Tampaknya kali ini ia ada janji dengan orang yang sangat penting. This must be good for her business─begitu lah yang terpikir oleh Rana.
Belakangan ini Airin dan Randy, mantan pacarnya, sedang membangun bisnis bersama. Mereka berdua memanfaatkan koneksi ibu Randy yang bekerja di Depkominfo (kepanjangan dari Departemen Komunikasi dan Informasi) untuk menjalankan bisnis telepon seluler.
Untuk masalah yang satu ini Rana kagum berat pada Airin dan mantan pacarnya. Mereka berdua bisa tetap berteman bahkan berbisnis bersama setelah putus. Padahal Rana tahu kalau masalah yang menyebabkan mereka putus bukan lah masalah yang ringan buat Airin.
That’s good. Segala hal baik yang terjadi pada setiap sahabatnya, selalu membawa kebagiaan bagi Rana juga.
Tuk!
Tiba-tiba ada batu kerikil yang membentur batok kepala Rana.
”Auw...sakit.” Rana merintih kesakitan sambil membalikkan badannya.
Tetsuya langsung menunjuk-nunjuk ke arah pintu rumah begitu Rana menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sepertinya batu kerikil itu sengaja dilemparkan Tetsuya untuk menarik perhatian Rana yang masih memandangi kepergian Airin dengan wajah tersenyum-senyum.
”The door!” Tetsuya berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu rumah lagi. ”The door! Door!” teriaknya lagi dengan wajah tidak sabar.
”Iya! Iya! Aku bukain pintunya.” kata Rana sambil memasang wajah ketus. ”Nggak sabaran banget, sih? Dasar Nippon sialan!” gerutunya seraya melangkahkan kaki menuju teras rumah.
* * *
ngalir sih ... tapi jangan terlalu panjang... potong kicil kicil aja yak ...
buat jeda, gitu ...
mata ne !!
emang banyak sih
tapi cerita belum aku dapetin
Kawaaaiiii!!! Fluffy banget, nih ^^
Ceritanya mengalir enak. Ada cowok Jepang dan bonus bahasa Jepang lagi ^^
Eh, kalau udah posting lanjutannya aku dikabarin dong. Atau send the link to my yahoo ID : yosi_hsn
Please, please...Watashi wa "your story" gasuki desu! Huahahaha...Sok ngomong Jepang nan ngaco saia!
Itu suaranya Tetsuya ngebass ya? Tetsuya Pake kacamata nggak? ^^ Jadi inget karakter anime favoritku.
Oya, salam kenal...