Konferensi

“Wwewewewewewe...”

“Diam!!!!” teriak seorang yang tua. Akhirnya semua terdiam.

“Rakyatku yang setia, dengarkanlah. Sebentar lagi kita semua akan mati.”

“Ini bukan salah kita kan, Pak?”

“Memang bukan. Tapi sebaiknya sebelum kita mati kepanasan, lebih baik kita membunuh para jahanam-jahanam itu.”

Akupun segera bertanya, “Tapi bagaimana? Mereka lebih terstruktur. Lebih kuat. Kita tak bisa mengalahkan mereka!”

“Bisa.”

“Caranya?” tanya seorang yang lain.

“Semua butuh pengorbanan.”

Aku bertanya lagi. “Maksud Bapak?”

“Kita harus mati.”

Para hadirinpun menjadi ribut.

“Mengapa? Mengapa kita harus mati?”

“Karena bila kita mati, merekapun ikut mati.”

“Saya setuju!”

“Ya!”

Para hadirin mengambil pedang dan menusukkannya ke jantung.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer naela_potter
naela_potter at Konferensi (12 years 41 weeks ago)
80

lucu kok.
^^
ehm,tp ad yg lum jls jugag.
mohon komenny jg iia.msh blajar.
^^

Writer noir
noir at Konferensi (12 years 43 weeks ago)
60

Masih belum jelas. Percakapan dan temanya menggelitik sih, cuma belum terpaparnya situasi menjadi makna pun kabur. Logikanya pun agak tidak jelas, mereka tahu bahwa mereka akan mati, tapi mereka membalas dendam dengan mati, jadi intinya apa? Jika ini dibuat untuk genre 100 kata, tampaknya kurang cocok.

Writer cassle
cassle at Konferensi (12 years 44 weeks ago)
70

Writer abc
abc at Konferensi (12 years 44 weeks ago)
50

pertama gw terkesan ma percakapannya, tapi gak benar2 terkesan ;
# konflik yg diangkat masih terlalu biasa walaupun terkesan kreatif.
# gw gak tau di sini kamu menggunakan penyampaian deskripsi melalui percakapan atau membangun deskripsi melalui penjelasan2 tapi gw gak dapet itu semua. di sini deskripsi itu sama sekali tidak ada.
# kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan mencantumkan semuanya dalam percakapanmu. kenapa tidak menceritakan dulu konflik melalui percakapan tokoh atau penjelasan dengan kalimat sederhana pada sebuah paragraf.
# suasana ruangan belum tercipta dengan sempurna, mungkin karena hanya sedikit deskripsi atau penjelasan mengenai itu. tapi gw gak tau klo penulisnya sengaja membuat seperti itu.
# hmmm. menurutku ini suasana di sebuah perkumpulan di suatu istana yg melibatkan perbincangan raja dan rakyatnya, sebab ada kata yg menunjukkan hal itu ("rakyatku"). tapi mengapa raja dipanggil dengan sebutan "pak"??? anehhh jika memang itu benar raja, dipanggil saja dengan "yang mulia" atau "baginda" atau "raja"

# well ini cuma komentar gw aja, semoga bisa menjadi sarana belajar untk penulis dan gw sendiri utk menjadi lebih baik lagi.

~Salam ABC~

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Konferensi (12 years 44 weeks ago)
80

Dalem...

Writer pikanisa
pikanisa at Konferensi (12 years 44 weeks ago)
90

Sekarang tulisanmu berat2 yah. Ck...Ck...Ck... maaf kali ini aku terkesan dengan gayamu.

Berat dan cerdas, cuman gimana kalau misalnya dikasih background alasan mengapa mereka mengadakan konferensi itu. Biar tambah kuat nih cerita. Oke Bro..

Writer snap
snap at Konferensi (12 years 44 weeks ago)
50

wew...