Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1)

Cerita ini adalah fiksi belaka. Kesamaan tempat, tokoh, maupun kejadian adalah kebetulan semata, atau memang penulisnya memang iseng menulis plesetan dari sana sini.

”Mak, aku mau kawin.” ujarku pada suatu malam.

”Apa? Kawin? Boleh boleh, kamu sudah cukup umur dan Mak memang sudah ingin menimang cucu. Kamu mau dengan siapa? Nona Titi Kamil yang kemarin Ibu kenalkan? Dia cantik memang, pinggulnya juga besar, pasti bisa menelurkan anak yang banyak. Atau kamu mau dengan Nona Bunga Karang Lestari yang lebih seksi? Tapi jangan dengan Madam Ivan Gunavan, dia mah tidak jelas jenis kelaminnya.” Mak menjawab dengan penuh semangat.

”Maaf Mak. Aku tidak doyan Duyung.” jawabku pelan tapi pasti.

”Hwaladah...lalu dengan siapa anakku?”

”Mmm...dari dulu Aku kepincut Putri Lobster.” jawabku malu malu tapi mau. Sebenarnya tidak tega aku mengatakan bahwa aku ingin menikahi Putri Lobster. Aku tahu bagaimana Mak tidak menyukai kaum Lobster. Alasannya sederhana saja, beliau adalah Bulu Babi mania. Tapi Negeri Duyung tidak mampu menghasilkan Bulu Babi berkualitas tinggi. Petani kita sangat miskin. Program pemerintah yang selama ini ditujukan kepada para petani banyak yang tidak sampai, malah dikorupsi. Mak akhirnya lebih menyukai Bulu Babi impor dari Negeri Lobster. Sayangnya, krisis moneter menyebabkan impor Bulu Babi menjadi sangat mahal. Negeri Duyung tidak memiliki competitive advantage sehingga bisa menaikkan posisi tawarnya dalam impor Bulu Babi. Semenjak itu Mak membenci Lobster.

”Apaaaaaa....Lobsteeeeeer......” Mak berteriak histeris. Air di sekeliling kami bergolak dahsyat, menunjukkan bahwa Mak tengah emosi tinggi dan melepaskan kekuatan sihirnya. Ruang tahta tempat kami bercakap kini bergetar hebat, seperti gempa. Karpet rumput laut merah di bawah ekorku pun meliuk ganas. Aku berusaha menyeimbangkan diri di tengah kekacauan itu. Seru juga, seperti surfing.

“Iya Mak, aku cinta mati padanya.” Aku masih berusaha menyampaikan keinginanku walau hati agak ketar ketir dan ekorku terasa sakit terkena sengatan listrik yang dipancarkan Mak.

Aku jatuh cinta pada sang putri semenjak dia menjadi duta pertukaran pelajar antara Negeri Duyung dengan Negeri Lobster. Entah apa yang membuatku jatuh cinta padanya, padahal kami begitu berbeda, bak pinang dibelah-belah. Sang Putri berwarna merah mengundang bak gincu sementara aku bersisik keemasan. Sungut Putri meliuk genit seperti antena, sementara aku tak bersungut hanya bersirip. Ekor Lobster bisa melingkar manja bagai putri malu, sedangkan ekor Duyung hanya bisa goyang ngebor. Sang putri memiliki enam pasang tangan yang bisa gerayangan nakal sementara duyung hanya memiliki dua tangan saja, tentu akan kurang memberikan kepuasan. Badan duyung yang separuh manusia sungguh berbeda dengan tubuh sintal sang Putri dengan abdomen six pax bak binaragawan. Matanya pun hitam bulat memesona sedangkan duyung memiliki mata sipit dan berkantung tebal.

“Mak tidak setujuuuuu... Duyung harus menikah dengan Duyung. Apa kata dunia?” Mak berteriak dengan amplituda yang bisa meretakkan kaca.

“Tapi aku sudah mantap hendak mempersuntingnya, Mak. Tak peduli apa yang Mak katakan.” Aku tetap keukeuh.

“Aku akan segera berangkat mencari harta karun yang diminta Raja Lobster sebagai mas kawin. Mari Mak, aku pamit. Jangan rindukan aku yang akan kembali membawa mantu. Yu dadah babay.” pamitku walaupun ekorku mulai mengerut akibat sengatan listrik Mak yang semakin kuat.

Ketika aku masih kecil dan nakal, Mak sering menghukumku dengan sengatan listrik ke ekorku. Untuk beberapa hari, ekorku akan berkerut dan menghitam gosong. Kemudian perlahan akan pulih dan menjadi berwarna emas seperti semula. Warna sisik menentukan derajat dari kaum Duyung. Semakin terang warna sisik, maka semakin tinggi pula derajatnya. Warna sisik keluarga kerajaan adalah emas, dengan sisik raja berwarna putih keperakan. Kaum bangsawan memiliki sisik berwarna jingga dan gradasinya, tergantung seberapa dekat hubungan darahnya dengan keluarga kerajaan. Kaum terpelajar, termasuk para guru dan pendeta, memiliki sisik berwarna biru. Rakyat jelata sendiri memiliki berbagai macam warna sisik, dari hijau, coklat, hingga merah. Ketika Pegawai Negeri Sipil tengah berbaris apel pagi, maka akan tampak semburat warna warni pelangi.

“Hooi....borokokok....Mak belum selesai bicara! Jangan kabur dulu!” Mak berteriak marah sementara aku terbirit-birit melarikan diri, meninggalkan Mak dan istana yang aman, damai, tentram, loh jinawi, menuju daerah luar penuh marabahaya.

****

Sudah beberapa minggu berlalu semenjak hari itu. Aku berhasil meninggalkan istana sebelum gerbang ditutup. Aku pun mengecat sisikku dengan cat sisik cap Doni Andrean yang lebih tahan lama dan tidak luntur menjadi berwarna merah. Yah ceritanya sih aku sedang menyamar, syukur-syukur mirip dengan Dames Bond, agen 007.

Kini aku menjadi pengembara, mencari harta yang diinginkan Raja Lobster. Tapi aku masih belum menemukan harta yang dicari. Aku ingat betapa girangnya hatiku ketika membaca iklan layanan masyarakat tentang sayembara mencari jodoh bagi sang Putri Lobster.

Barangsiapa yang berhasil membawakan rencong, maka akan dikawinkan dengan Putri Lobster.

Sayembara ini terbuka untuk umum, tidak peduli ras, suku, maupun agama, asalkan mampu memberikan nafkah fisik dan rohani yang layak. Tidak ada biaya apapun kecuali biaya fotokopi dan pemasangan iklan.

Iklan itu kutemukan di Tabloid Inlob, Inside Lobster, yang kuselundupkan diam-diam dengan membayar 20 keping emas setiap bulan ke penjaga perbatasan. Aku juga rajin mengikuti kehidupan pujaanku dari hari ke hari lewat media televisi. Kebetulan aku penggemar sinetron, telenovela, dan juga acara gosip. Pernah hatiku hampir hancur ketika KILL, Kisah Seputar Lobster, salah satu acara gosip paling hot di Negeri Lobster, menayangkan berita Putri Lobster bertunangan dengan Pangeran Lobster Hijau. Syukurlah pertunangan itu tidak berlangsung lama. Pangeran Lobster Hijau lenyap ketika mencari harta karun yang diminta oleh Raja Lobster sebagai mas kawin.

Sebenarnya apa rencong itu? Berdasarkan mermadipedia, rencong adalah senjata tradisional yang berbentuk belati seperti huruf L. Menurut rumor, ada kapal tenggelam yang memiliki rencong. Aku pun bertualang dari satu bangkai kapal ke bangkai kapal lain, berdasarkan peta yang kucuri dari Perpustakaan Umum Daerah Kuningan. Tapi tak ada rencong di sana. Aku malah menemukan mahluk aneh bin ajaib.

Ketika itu bulan purnama bulat menggemaskan di angkasa. Dasar laut terlihat terang bagaikan siang hari saja. Aku mendekati bangkai kapal yang tergeletak pasrah di hamparan pasir. Kapal itu kapal layar bertiang satu. Layarnya sudah sobek-sobek terhantam karang. Lambungnya pun hanya tinggal separuh. Patahan papan mencuat bagai taring raksasas. Jalinan ganggang dan lumut menyelimuti kapal dengan mesra. Aku berenang perlahan memasuki kapal dari lubang menganga di badan kapal. Di dalam kapal sangat gelap. Syukurlah mata duyung bisa melihat dalam gelap, tidak perlu menggunakan senter atau mengucapkan “lumos”.

Sunyi senyap tak ada suara. Aku berenang menyusuri ruang demi ruang. Tak kutemukan satu apapun. Tak ada barang yang tersisa. Mungkin peninggalan di kapal ini sudah dijarah atau dibawa ke Museum Daratan. Lalu tiba-tiba kudengar suara aneh.

“Mmh..uph...uhhh....” Ada suara desahan aneh. Aku semakin menajamkan pendengaranku. Sayang aku tak punya mata dengan sinar X seperti di film SuperDuyungman sehingga aku tak bisa langsung menscanning area kapal. Desahan itu semakin bertambah kuat dan aku ngesot diam-diam mendekati sumber suara, yang tampaknya berasal dari kabin paling ujung. Kira-kira ada siapa, atau apa, di sana?

“Cinta..ahh....aww...ya...” desahan itu semakin keras, bahkan bisa dikategorikan agak mengundang. Kini aku sudah sampai di depan kamar sumber bunyi mencurigakan. Buka tidak ya? Aku agak ragu. Bagaimana jika aku menemui sepasang kekasih tengah bercinta? Bisa-bisa mereka kentang alias kena tanggung. Tapi aku penasaran. Sudahlah aku buka saja.

Punteeeeen.....” teriakku sambil membuka pintu. Desahan itu terhenti seketika. Aku menatap bentuk tubuh yang familiar bagiku. Tapi aku tak pernah melihatnya hidup dan bergerak. Aku selalu melihatnya di atas meja makan, sudah telanjang tanpa bulu dan mengangkang dengan sempurna dengan berbalut rempah.

“Babi?” bisikku pelan. Mahluk yang tergeletak di sana menatapku. Matanya yang tersembunyi di balik bulu eh duri menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Bukan. Aku bukan Bulu Babi. Aku Panglima yang dikutuk jadi Bulu Babi.” Katanya mengagetkanku yang tengah berpikir untuk memasaknya. Lumayan, sudah lama aku tak menikmati Bulu Babi saus tiram.

“Ah yang benar. Mana ada Bulu Babi bisa bicara. Pasti cuma halusinasi. Enak dimasak apa ya...” Kataku mencoba meyakinkan diri.

“Eh sembarangan! Aku Panglima Tian Fung dari khayangan. Aku dikutuk menjadi Bulu Babi karena aku jatuh cinta pada Putri Roro dari Laut Selatan. Tolong bebaskan aku!” seru Bulu Babi itu. Kulihat dia memang terkurung di kotak kaca. Sedari tadi dia sibuk bergerak berusaha keluar dari kotak kaca itu.

“Apa jaminannya kau tak akan lari jika kubebaskan?” tanyaku. Unik juga, ada bulu babi bisa bicara. Mungkin nanti bisa kujual ke sirkus keliling kalau persediaan uangku sudah menipis atau kujadikan persediaan makananku.

“Aku akan menemanimu kemanapun. Jika aku bohong, duriku bertambah panjang dan aku sulit bergerak.” Janjinya.

“Aku sedang mencari rencong. Kau tahu di mana aku bisa menemukannya?” Kalau dia benar dari khayangan, mestinya dia lebih berwawasan dan berbudaya nasional dibandingkan aku, yang sering bolos orientasi P4 ketika bersekolah dulu.

“Rencong? Apa bencong? Kalau bencong banyak di Taman Lawang, di daratan dekat Laut Jawa.”

‘’Rencong! Buat apa cari bencong?” teriakku. Duh katanya dari khayangan kok agak budeg begini ya?

“Oooh...rencong! Ya ya...aku tahu. Kamu harus mencarinya di utara sana, di Aceh. Aku tahu tempatnya. Aku juga harus menuju utara mencari kitab suci untuk melepaskan kutukanku. Bagaimana kalau kita pergi bersama? Tapi kau melepaskan aku dari kotak kaca ini.”

“Janji? Oh ya sebenarnya yang tadi mengeluarkan suara aneh itu kamu? Sedang apa sih? Suaranya sangat mencurigakan.” Tanyaku penasaran.

“Hush! Anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa. Aku sedang berkhayal tadi. Sudah cepat keluarkan aku. Kuncinya digantung di dekat jendela.” Pinta sang Bulu Babi. Aku pun mengambil kunci kecil berwarna ungu, tergantung lemas di gantungan kunci berbentuk manusia perempuan yang tidak mengenakan baju.

Aku pun membuka kotak kaca tempat Bulu Babi dikurung. Begitu kotak itu terbuka dia langsung melayang keluar sambil berteriak girang.

“Bebas..bebas...akhirnya aku bebas.Tunggulah kasihku cintaku aku akan kembali ke khayangan.”

“Hoi...ayo cepat pergi. Sebelum aku berubah pikiran dan memasakmu.”

“Ya ya...Tarik maaaang....” teriaknya sambil bergoyang patah patah minus pantat montok dan meninggalkan kapal. Aku pun segera berenang mengejarnya. Petualanganku bersamanya sudah dimulai.

-bersambung-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer layaty
layaty at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 3 weeks ago)
80

:D
cerita awalnya bikin aku tertawa

Writer kun744
kun744 at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 31 weeks ago)
80

wakakaka

sekali lagi wakaka

awalnya kisah duyung
tapi ceritanya kok hampir kaya kera sakti
seperti perpaduan banyak cerita
luar biasa imajinasinya

salut mode ON

Writer elbintang
elbintang at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 33 weeks ago)
80

aseli. kok ya aku baru tahu crita ini...
lucu-lancar-menghibur...

---------------
cheers!

Writer Super x
Super x at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 37 weeks ago)
80

Gue lupa komen yang ini. Tapi komennya dah satu di yang kedua

Writer my bro
my bro at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 38 weeks ago)
90

fani luar biasa (tapi aku kangen puisi2 syahdumu)

Writer Titan
Titan at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 43 weeks ago)
90

setiap patahan kata, butiran huruf, telah mampu membangkitkan tawaku ke puncak tertinggi bukit yang beratmosferkan kabut canda.
Lucu,,

80

very good...

50

Haaaiyyyyaaaah!

Faaaan! Nape luuuu? Kesambet setan imr? ;)) Gw ngerasa aneh neh, serasa baca imaji liarnya bang imrul!

He he he. Becanda sis. Bang imrul, he he he, jangan marah ye. Becanda, bang :D

Nice story :)

p.s: gw mau kasih point 8 tapi kalo point-nya jadi 5, maaf ya. Browser gw agak error.

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

Writer imr_aja
imr_aja at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 46 weeks ago)
90

Mengalir, rapih, banyol pula ... Selamat Sis!! Hidup Cimahi!! ^_^

Writer Nanasa
Nanasa at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 46 weeks ago)
90

hanya bisa ngakak aq, nggak bisa ngomong panjang lebar lagi :D

Hmm 'Raksasas'?

Lanjuttttt :D

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 46 weeks ago)
50

Kok ak baca yg lanjutannya duluan ya? Tp gpp dech...

Btw kok si putra duyung manggil dgn sebutan "mak", tp ibunya pake "ibu" sich?? Knp gak dsamain aja biar ga janggal?? (ato cuma perasaanku aj yg janggal?)

KILL= KIsah seputar Lobster? "L" yg trakhr buat singktn ap?

Tp seru loch ceritanya ^_^

Writer Villam
Villam at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 46 weeks ago)
100

TOP!
aku ketawa dari awal sampe akhir...
hahahahaha...

Writer hege
hege at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 46 weeks ago)
70

ini parodi dengan elemen fantasy tipis dan terburu-buru dan ala kadarnya. tidak begitu sukses buat menghibur sebetulnya, hege kira ini tak bersambung, entah hege masih penasaran atau tidak sama lanjutannya.
namun ada beberapa kalimat dan istilah cukup unik dan menggelitik, meski ada yg garing juga, heheheh...
well, 7 untuk usahanya mba fannie.

Writer alwafiridho
alwafiridho at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 46 weeks ago)
70

wah... gw.. suka nih... dgn ceritanya apalagi ini humor...

100

jarang2 noir bikin cerita lucu kayak gini, penasaran berguru ama siapa? :p lucu tapi masih berasa noir nya ... good job neng :D

Writer malanita
malanita at Kisah Duyung Durha...ha (Bagian 1) (13 years 46 weeks ago)
70

Wah sebenernya gw nggak terlalu suka cerita fantasy, tp oke juga nih.. gw blm tentu bs nulis genre fantasy ky gini.. bersambung ya..lanjuuut..

terus menulis