Diamnya Dian

KATA orang, diam itu emas. Tapi bukan karena alasan itu Dian menjadi gadis pendiam. Tekanan-tekanan semu dari kedua orang tuanya cukup andil dalam hal ini. Sejak kecil, Dian membiasakan diri memendam apa pun yang ada di hatinya, baik itu keinginan, maupun sesuatu yang harus dia ungkapkan. Biasanya, sebelum Dian sempat mengatakan sesuatu, kedua orang tuanya mendahului Dian dengan kata-kata yang membuat Dian semakin merasa tidak layak mengatakannya.
Dian juga sadar kalau kehidupannya terlalu papa untuk segala keinginan dan cita-cita yang menggunung di dadanya. Untuk mengatakan kalau petugas TU di sekolahnya selalu menagih uang SPP saja, Dian tak cukup tega. Makanya diam-diam Dian bekerja, menjadi loper koran sore sepulang sekolah. Dan ketika suatu hari Dian mengalami kecelakaan, tertabrak sepeda motor hingga kakinya terkilir dan terluka pun, Dian kerap bungkam.
Markus dan Nanik, kedua orang tua Dian tentunya merasa adem ayem dengan keadaan anak gadisnya yang seakan tak pernah menyimpan dan membuat masalah. Mereka bangga dengan Dian yang selalu mendapat pujian para tetangga karena keanggunan dan kealiman Dian. Selain itu, prestasi Dian di sekolah juga sangat menyanjung mereka. Bagi Markus dan Nanik, diamnya Dian memang emas.
Namun tiba-tiba Dian mengejutkan semua orang. Diam-diam, Dian menyimpan sebuah rahasia yang sekaligus menjadi aib bagi dirinya dan keluarga.
“Apa? Dian hamil?!” warga RT 09 geger dengan berita itu.
“Nggak nyangka, kok anak sebaik dan sependiam Dian bisa hamil di luar nikah sih?”
“Anak jaman sekarang memang tingkahnya nggak bisa ditebak. Makanya jangan suka tertipu sama tampang lugu dan penampilan alim. Justru dari kalangan anak seperti itu yang banyak terjerumus.”
Semakin hari, gunjingan tetangga kian memanasi kuping Nanik dan Markus. Mereka mulai kehilangan muka untuk ke luar rumah.
“Apa dosa kita sampai kita harus mengalami hal seburuk ini?” ratap Nanik pada suaminya, menyikapi keadaan ini dengan kerdil hati. “Dan kenapa kita bisa selengah ini?”
“Aku sudah kehabisa kata-kata dengan semua ini. Aku capek.” Markus hanya ngeloyor pergi ke kamarnya lalu tidur.
“Pak, kita nggak bisa kayak gini terus,” setelah lama terdiam dan berpikir, Nanik menemui Markus di kamarnya. “Bagai manapun, ini masalah serius. Kita nggak boleh hanya berdiam diri tanpa berbuat sesuatu. Anak kita masih terlalu muda untuk menanggung beban ini. Aku nggak mau masa depannya terkorabankan hanya karena masalah ini.”
“Kita bisa apa? Aborsi? Uang dari mana?”
“Bapak ini biacara apa?! Yang aku maksud adalah jalan keluar terbaik dari permasalahan ini. Misalnya kita bawa Dian pergi ke suatu tempat yang tenang untuk beberapa waktu sampai masa kelahiran bayinya, atau...”
“Atau apa? Kita cari tahu siapa bapak dari anak itu? Sudah berapa kali kita lakukan hal itu?! Nihil! Kita nggak dapat jawaban apa-apa dari Dian.”
“Kenapa Dian begitu merahasiakan siapa lelaki bejat itu? Padahal, kalau dia mau membuka suaranya, masalahnya nggak akan sampai separah ini. Mungkin, kita bisa membahas tentang tanggung jawab lelaki itu sehingga kita nggak perlu lagi kehilangan muka untuk berhadapan dengan para tetangga yang bisanya cuma menghakimi.”
“Apa kita perlu memakai kekerasan untuk membuka mulut Dian?”
“Kamu mau sampai kapan kehilangan bijaksana sebagai seorang bapak, Markus?!” Nanik jelas marah mendengar saran Markus.
***
“Permisi,” seorang gadis seumuran Dian nampak bertamu di rumah itu.
“Maaf, Ade ini siapa?” tanya Nanik.
“Saya Ranti, sahabatnya Dian waktu SMA,” jawab gadis cantik berlesung pipi itu. Nanik tentu saja bahagia dengan kedatangannya. Seakan menemukan peta atas kebingungannya.
“Dian?” Ranti tak kuasa menahan tangisnya saat melihat keadaan Dian yang tidak karuan di kamarnya. Ranti pun memeluk Dian. “Aku nggak tahu kamu separah ini. Kalau ada apa-apa tuh bilang sama aku! Memang nggak mudah menjalani hidup seberat ini. Apa lagi kalau kamu harus menanggungnya seorang diri. Kamu butuh seseorang yang bisa membantu kamu, yang bisa kamu ajak berbagi. Selama ini kamu selalu cerita ke aku. Dan sekarang aku datang masih sebagai sahabat kamu yang selalu bersedia mendengarkan semua curhatan-curahatan kamu.”
Dian tak menjawab. Dia malah membiarkan air matanya membanjiri seluruh wajahnya. Tentu saja itu membuat Ranti semakin tak bisa menahan perih yang dia rasakan karena melihat penderitaan sahabatnya itu.
Kedatangan Ranti tak membuahkan hasil apa-apa. Nanik dan Markus tambah putus asa. Tapi Ranti sempat menceritakan sepenggal kisah tentang Dian semasa di SMA. Kisah yang tak pernah mereka tahu.
“Pak, aku merasa ini adalah hukuman untuk kita,” ungkap Nanik pada Markus saat menjelang tidur malam.
“Maksud Ibu?”
“Tadi, setelah aku mendengar cerita Ranti tentang anak kita di sekolahnya dulu, aku mulai menyadari sesuatu. Bapak pikirkan, selama ini kita ke mana saja sampai kita tidak tahu hal apa saja yang terjadi dan dialami anak kita? Perasaan-perasaan seperti apa saja yang di rasakan anak kita? Kita justru tahu semua itu dari orang lain, bukan dari mulut anak kita sendiri. Padahal, kita bukan orang tua yang kaya raya, yang setiap harinya sibuk cari duit, yang nggak pernah punya waktu buat anak-anaknya.”
“Itu kan salah Dian sendiri yang cenderung tertutup sama kita.”
“Dian nggak akan setertutup itu kalau kita mau merangkul dia. Bapak ingat, waktu Dian masih bisa sedikit terbuka pada kita? Saat itu Dian sempat sedikit menyinggung tentang upacara 17-an di sekolahnya. Dian bilang, dia terpilih sebagai paskibra. Sebenarnya kita tahu, Dian bukan hanya ingin membicarakan itu. Dian bermaksud meminta uang untuk menyewa seragam karena dia tahu kita nggak mampu beli. Tapi, saat itu kita malah berusaha membuat Dian untuk tidak ikut serta dalam kegiatan itu. Alasan takut Dian kepanasanlah, alasan lebih baik Dian membantu aku jualan nasi kuninglah, pokoknya alasan-alasan yang memberati hati Dian.”
“Sudahlah, aku capek mendengarnya. Hampir setiap hari kita berjibaku membahas masalah ini. Kita juga perlu istirahat yang cukup, Bu.” Kata Markus yang sebentar saja langsung mendengkur.
***
Sore hari itu, Nanik memergoki Markus masuk kamar Dian. Nanik mengintip dari lubang kunci. Awalnya terlihat Markus sedang berbicara pelan pada Dian. Saking pelannya, dia sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun, kelamaan Markus mulai bersikap kasar. Dia meremas bahu Dian dan memaksa membuka mulutnya. Otomatis, Nanik naik darah. Dia segera menghentikan kekasaran suaminya itu.
“Kalau kamu nggak bisa jadi bapak yang baik, kamu nggak perlu sok-sok perhatian sama Dian!” Nanik berusaha menjauhkan Markus dari Dian, lalu melindunginya. “Dan mesti kamu tahu, bukan begini caranya bertanya pada seorang anak.”
“Urus sendiri anak yang keras kepala itu!” kata Markus bernafsu sambil pergi.
Nanik memeluk Dian yang nampak ketakuan setengah mati. “Sudahlah, kamu nggak usah takut. Sama ibu, kamu aman.”
“Bapak jahat,” kata Dian dengan nada lemah karena tertekan tangis yang perih di tenggorokannya.
“Enggak, bapak kamu nggak jahat. Sebenarnya dia sayang banget sama kamu. Tapi karena emosi, bapak jadi bersikap kasar kayak tadi.”
Nanik kini sedang menatapi anaknya yang malang. Ada setitik keharuan yang dalam saat dia melihat perubahan yang terjadi pada tubuh anaknya. Tubuh mungil Dian kini berubah menjadi tubuh yang sedikit membengkak. Nanik jadi teringat akan dirinya sendiri saat sedang mengandung Dian. Tapi, saat itu wajah Nanik dipenuhi keceriaan. Kalaupun ada air mata, berarti air mata haru kebahagiaan, bukan air mata pahit kesedihan seperti yang dialami anak sulungnya ini. Di usia yang semestinya dilalui Dian dengan sejuta tawa dan keriangan, harus dilewatinya dengan air mata kesusahan dan jutaan ton beban hidup. Nanik tak pernah membayangkan nasib anaknya akan setragis ini.
Lagi-lagi Nanik menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Dia tak sedang memikirkan kenapa Dian bisa hamil tanpa seorang suami—karena di jaman se-edan ini, hal itu bisa terjadi pada siapa saja—melainkan kenapa Dian bersikukuh bungkam tentang semua ini. Tentang siapa lelaki itu, tentang apakah dia diperkosa atau melakukannya suka sama suka dengan lelaki itu. Saat ini Nanik hanya bisa menyesalinya dengan iringan prajurit tangis di matanya.
***
Pagi itu Nanik seakan ditunjukan sesuatu oleh Tuhan. Saat masuk ke kamar Dian, dia mendapati anaknya sedang tidur memeluk sebuah foto. Nanik pun segera menghubungi Ranti untuk dimintai tolong.
“Ini foto pak Sukma, guru olah raga kami waktu SMA. Memang, Dian sempat dekat dengan beliau. Kalau boleh di bilang, satu-satunya lelaki yang pernah dekat dengan Dian adalah pak Sukma. Tapi, Dian tidak bercerita banyak tentang hubungannya dengan pak Sukma.” Papar Ranti.
Nanik mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menemui pak Sukma yang usianya memang masih muda itu, yang mungkin saja adalah seseorang yang dia cari selama ini. Namun, dia tidak mau gegabah dalam hal ini. Walaupun di hatinya berkecamuk segala jenis emosi, Nanik berusaha sabar dan tenang.
Nanik berhasil membawa Pak Sukma ke rumahnya untuk melihat kondisi Dian. Pak Sukma shock berat saat melihat Dian, mantan muridnya dulu yang kini kondisinya sangat memprihatinkan. Kehamilan itu membuat Dian kehilangan sari di wajahnya. Dian lebih pucat dari mayat.
“Tanpa bermaksud menuduh, saya hanya ingin tahu apa tanggapan Anda tentang Dian yang menurut seorang temannya, Dian pernah dekat dengan Anda?”
“Maksud Ibu, saya yang menghamili Dian? Bu, demi Tuhan, saya tidak tahu menahu tentang masalah ini. Dulu kami memang sempat dekat. Tapi hubungan kami tidak lebih dari hubungan guru dan murid. Dan sekali lagi, demi Tuhan, saya tidak akan mungkin tega berbuat hal ini pada Dian.”
Nanik menangis sejadinya. Dia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, hatinya sudah benar-benar lelah dan ingin segera menyudahi kericuhan jiwanya, hingga sangat berharap kalau Pak Sukma-lah lelaki yang menghamili Dian. Namun, di sisi lain, dia juga harus berani menerima kenyataan kalau semua ini memang masih belum harus berakhir.
***
Hari-hari di rumah itu kini menjadi hari-hari yang sepi dan lebih menyiksa dari mati. Ada tatapan sunyi yang sebenarnya menyimpan banyak kata yang jika diutarakan lebih dari sekedar percakapan biasa. Bahkan bisa menjadi teriakan-teriakan yang mampu menembus dinding rumah mereka bahkan hingga ke atap langit. Adalah kebungkaman Dian selama ini. Adalah rasa perih dan sakit yang menyayat sekujur tubuhnya. Adalah rasa bersalah yang mendalam di hati Nanik dan Markus. Serta perasaan lain yang kini tak lagi bisa mereka ungkapkan selugas dan selepas nafas. Kini semuanya menjadi sediam Dian.
***
Tengah malam itu, Dian terjaga dari tidurnya seraya menggigil ketakutan. Keringatnya bercucuran dari sekujur pori-porinya. Dia tak mampu lagi berteriak karena suaranya sudah habis oleh tangis. Bayangan menyeramkan itu datang lagi di mimpinya. Bayangan seorang lelaki tegap mendatanginya sewaktu tidur lalu memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk mendapatkan kenikmatan terlarang. Dengan kasarnya lelaki itu melucuti pakaian Dian lalu memperlakukannya seperti binatang. Dian tak bisa melawan, hanya mampu mengerang dan mencoba menghindar seadanya. Lelaki itu terlalu kuat untuknya. Dian hanya bisa menangis saat mahkotanya hilang begitu saja. Dan sayangnya, kejadian biadab ini tak hanya sekali dua kali terjadi. Berkali-kali. Hingga awal usia kehamilan Dian pun, lelaki itu masih tega mengasah kuku kejantanannya pada gadis yang tak seharusnya dia perlakukan sebinatang itu. Gadis yang mestinya dia rawat dan dia jaga sebaik-baiknya. Gadis yang kelak membawanya pada hari tua yang lebih baik dengan pencapaian cita-citanya yang luhur.
Entah sampai kapan peristiwa itu tetap membekas di benak Dian. Setiap malam, singgah di tidur lelapnya sebagai mimpi terburuk seorang gadis. Dan setiap waktu menghantuinya. Namun, Dian selalu berusaha mencari kekuatan untuk sekedar penopang rapuh jiwanya. Adalah Pak Sukma, satu-satunya lelaki yang Dian cintai dalam hidupnya. Yang meski hanya dengan memeluk fotonya, Dian sudah merasa mendapatkan satu detak nadi perpanjangan hidupnya.***
| Minggu, 10 September 2006 12:06 |

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Susy Ayoe
Susy Ayoe at Diamnya Dian (15 years 25 weeks ago)
60

judulnya oke

Writer Arra
Arra at Diamnya Dian (15 years 25 weeks ago)
50

ada ya orang sepasrah itu???

dadun at Diamnya Dian (15 years 25 weeks ago)

terus kasih komentar ya....

thanks buat yang udah....
apa pun itu sangat berharga bagi saya....

bagi yang belum, ditunggu ya....

-dadUn-

Writer Littleayas
Littleayas at Diamnya Dian (15 years 25 weeks ago)
50

hemmm...yg ngehamilin dian bapa'nya sendiri bukaaannnnn????

Writer imoets
imoets at Diamnya Dian (15 years 25 weeks ago)
80

ceritanya sangat menyentuh..
diamnya dian bener2 sangat terasa..

Writer bunda_ery
bunda_ery at Diamnya Dian (15 years 25 weeks ago)
70

cerita yang bagus...