Saya Hanya Pemuda Desa Biasa

“Jadi, kamu teh beneran mau dikawinin sama Pak Kepala Desa?” tanya Udin sambil menggigit batang korek api.

Pletak! Kepalanya kena jitak Wildan, “Ya sama anak gadisnya atuh. Dasar Orowodol maneh mah!

“Maksud urang juga gitu,” Udin mengelus kepalanya sambil mendengus. “Bener kan, Man?”

Saya hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. “Rahasia,” jawab saya setelah sadar, mereka benar-benar menunggu jawaban saya.

“Kayak artis saja kamu mah,” Wildan dan Udin nampak kecewa.

Tapi saya biarkan mereka, dan memfokuskan pikiran pada ayam-ayam piaraan Abah. Krrr... krrr... saya memanggil mereka dan menebarkan beras ke tanah. Kemudian, saya meraih satu yang paling besar diantara mereka yang berkelamin betina. Sudah hampir seminggu ia terlambat bertelur. Kata Abah, untuk mengetahui apakah ayam akan bertelur atau tidak, masukkan jarimu ke anusnya. Dan saya melakukannya, untuk yang kesekian kalinya-membuat saya terbiasa dan tak lagi merasa jijik. Oh, ya, akhirnya kelingking saya menyentuh sesuatu serupa kulit telur di sana.

Udin dan Wildan saling menatap heran-bahkan mungkin jijik, saat saya menatap mereka. Ya, saya tahu apa yang mereka pikirkan. Dan mungkin ini kesalahan saya karena berpikir mereka sudah seterbiasa penjual telur ayam kampung seperti saya.

“Wah, gadis-gadis bisa nggak ngepens lagi sama kamu, Man, kalau sampai mereka melihat kejadian barusan!” Wildan memperingatkan.

Saya tertawa, “Wah, kayak artis saja, saya.”

“Eh, jaim sedikit atuh, Man,” imbuh Udin. “Mau dikemanakan wajah Udin yang ganteng dan Wildan yang jore ini sebagai sahabat setia Daman si Pemuda Idaman desa ini?”

Lagi-lagi Wildan menjitak kepala Udin. Dan saya tak henti tertawa.

“Ah, sudahlah. Saya ini hanya pemuda desa biasa,” saya melepaskan kembali si betina kemudian pergi mencuci tangan.

***

Pemuda Idaman desa? Ah, predikat istimewa itu terlalu sempurna untuk seseorang setidak sempurna saya. Meski memang, awalnya saya cukup terlena dengan semua itu. Ketika orang-orang bilang: Daman pemuda desa yang luar biasa, pemuda idaman gadis-gadis desa; saya merasa itulah saya adanya. Bagaimanapun, tidak ada seorang pemuda di desa ini yang memiliki catatan prestasi gemilang dan tanpa cacat moral selama mengenyam pendidikan 12 tahunnya, kecuali saya. Kebanyakan, justru sebaliknya, bahkan ada yang sampai tidak tamat SD. Dan, betapapun tidak ada seorang pemuda yang santun dan patuh pada titah-titah orang tuanya, juga giat beribadah, kecuali saya.

“Narsis banget sih, lo!” gadis itu menegur saya. Dan cuma ia yang melakukannya. Gina, seorang mahasiswi dari kota yang sedang berlibur dengan sahabatnya, anak gadis Pak Ahim, salah satu orang terkaya desa ini sekaligus distributor utama telur-telur ayam peliharaan Abah.

Gina berbeda dari kebanyakan gadis di desa ini. Ya, jelas, ia gadis kota. Dan ialah gadis pertama, sekaligus satu-satunya yang tidak pernah memuji saya.

Menurutnya, saya kampungan karena pencinta sejati Oma Irama. Dan gaya saya terlalu tua untuk anak seusia kami. Ia memang tak pernah mengatakannya, tetapi saya pernah ditertawakannya habis-habisan saat sedang berjoget dalam orkes dangdut, hiburan pernikahan salah seorang teman. Tetapi saya ingat, ia pernah mengejek saya dengan sebutan “Kambing” karena saya berjenggot. Hm, saya tidak sanggup memikirkan ejekan apa lagi yang akan ia lontarkan pada saya seandainya ia melihat apa yang baru saya lakukan pada ayam betina itu. Mungkin ia akan bilang saya jorok, menjijikan, atau...-

Saya tahu, mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata yang tak terduga.

Waktu itu, ia dikerjar-kejar, bahkan hampir digigit anjing penjaga rumah besar di dekat pos ronda jika saya tak lekas menyelamatkannya. Saya pun sampai rela kehilangan sandal kesayangan saya.

“Lagian, elo juga bego sih!” bukannya ucapan terimakasih yang saya dengar, ia malah menyumpah-serapahi pangeran penolongnya ini. “Lemparin anjing tuh pake batu, bukan pake sendal, dodol!!!”

Manusia biasa mana yang tidak marah diperlakukan seperti itu, coba? Dan saat itu saya benar-benar emosi. Untuk pertama kalinya saya marah dan berteriak di hadapan seorang perempuan. “MAU KAMU APA, GADIS KOTA YANG SOK SEGALANYA?!”

“Hei, apa kabar Pemuda Idaman yang Sok Kegantengan dan Sok Pahlawan?” balasnya. “Gue nggak minta pertolongan, dan bisa ngatasin semua ini sendirian.”

Hmmm... sebenarnya apa salah saya padanya? Terlalu sulitkah untuk dimaafkan? Atau, ia sengaja mencari gara-gara dengan saya?

Celakanya, ia selalu nampak di mana saya berada. Di tepi jalan. Di rumah Pak Ahim saat saya mengantarkan telur. Di pematang sawah. Bahkan di jendela rumah ketika saya tengah memikirkannya.

“Daman,” ia memanggil saya dengan gerakan mulutnya dari seberang sana. Sekali, saya mencoba menyangkalnya dan tak perduli. Dua kali. Tiga kali, dan saya lekas menghampirinya saat ia nyaris pergi.

“Kenapa?”

“Sebenernya gue benci ngelakuin ini, tapi-“ ia mengalihkan pandangannya. Saya pikir arahnya akan menuntun saya pada sesuatu, tetapi tak ada apa pun di sana, kemudian saya tahu ia hanya menghindari tatapan saya. Sejurus kemudian ia berpaling dan menjauh dari saya.

Aneh. Gadis yang aneh.

Saya melihat punggungnya berlalu beberapa saat sampai akhirnya saya pikir tak ada gunanya tetap di sana. Saya pun berbalik menuju rumah, dan ketika itu ia bilang, “Maafin gue.” Saya terhenti. Tetapi, tanpa menoleh lagi saya lekas pergi.

Oh, saya tidak mengerti situasi macam apakah ini. Dan ia berhasil menyertakan saya dalam permainannya yang membingungkan. Mungkin, sebagai orang desa, saya terlalu bodoh untuk memahami maksud dari semua ini. Pendidikan selama 12 tahun dengan nilai sempurna pun nampaknya menjadi sia-sia saja. Lalu, apa artinya pujian dan predikat istimewa dari orang-orang desa yang selama ini menyanjungkan saya? Ah, betapa saya hanya pemuda desa biasa.

Bahkan saya masih merasa sedang dipermainkan ketika kemudian ia bersikap baik pada saya. Ramah. Sedikit perhatian. Dan ia membawakan minuman untuk saya saat pelaksanaan kerja bakti membersihkan jalan desa. Ada apa lagi ini?

“Desa ini, katanya, akan kedatangan Pak Bupati ya?” tiba-tiba ia bertanya.

Saya hanya mengangguk, ragu untuk mengucap sesuatu.

“Seru ya, orang-orang di sini masih bersedia ngeluangin waktu buat kerja bakti. Di tempatku, mana pernah bisa begini? Urusan kebersihan ada petugasnya khusus. Warganya sendiri cuma tinggal bayar. Nggak ada rasa kekeluargaan kayak di sini.”

Oh, oh, tumben-tumbenan ia memuji orang-orang desa ini.

Dan di hari berikutnya, ia meminta saya menemaninya jalan-jalan. Ke beberapa tempat di desa ini dan desa sebelah yang memiliki pemandangan indah. Sepanjang jalan ia tak henti memotret dengan kamera kecilnya. Sesekali ia mengarahkannya pada saya yang tidak terbiasa difoto, dan saya menghindarinya.

“Hei, elo ganteng kok, nggak usah ditutupin, mukanya.” Dan baru kali ini ia memuji saya. “Jenggot lo apa lagi, seksi,” wah, bukannya ia bilang mirip kambing?

Kami tiba di tepi danau ketika mata hari sore menyapa hangat. Ia kelelahan, lalu kami duduk di bangku yang terbuat dari tiga batang bambu gelondongan.

“Lo kok diem aja?” tanyanya sambil terus memotret alam. “Beda banget sama elo yang waktu gue baru dateng. Elo yang cerewet, sempat nyeramahin gue kan gara-gara pakaian gue terlalu kebuka. Lalu, elo yang aktif di Karang Taruna; gue pernah liat lo mimpin rapat dengan gaya yang sempurna. Dan, elo yang... kata orang-orang desa sini, elo tuh pemuda yang pinter dan, bener-bener sempurna deh.”

Saya benar-benar mati kutu menghadapi gadis kota yang membingungkan ini. Ia seperti Fasifik yang sulit terselami dan terlampaui. Hingga pada akhirnya ia mampu meyakinkan saya bahwa ia benar-benar telah... berubah.

“Dan ternyata, emang bener, elo ferfecto. Biarpun goyangan lo cukup payah waktu di orkes dangdut kawinan itu, tapi gue cukup terhibur kok.” ia menyandarkan kepalanya di bahu saya. Dan langit semakin oranye berbaur ungu. Ada semburat di wajah saya karena laju jantung yang tak biasa ini. Getar-getar yang semakin sempurna untuk sebuah ungkapan rasa. Saya jatuh cinta.

***

“Jadi, kapan atuh, kalian teh nikahnya?” Udin dan Wildan masih penasaran. Sampai ke kamar tidur pun, pertanyaan seputar itu masih menjadi topik hangat kami.

“Huh, empat bulan aja nggak ketemu, kalian berdua teh udah kayak wartawan gosip saja,” saya melemparkan sarung untuk kedua teman SMA saya ini. “Oh, jadi tujuan kalian datang ke sini teh buat menginterogasi saya?”

“Penasaran aja,” aku Wildan. “Habis, gosip tentang kamu sama anak Pak Kepala Desa teh sudah sampai ke desa kami.”

Rada simpang siur juga sih,” tambah Udin.

“Simpang siur gimana?”

“Ada yang bilang batal, ada yang bilang ditunda, apalah...” Wildan yang menjawab.

Ya, bagaimanapun, saya sadar, seorang pemuda desa biasa yang ‘dipinang’ dan
didaulat menjadi menantu Kepala Desa akan menjadi bahan pemberitaan yang cukup menghangatkan pendengaran.

***

“Jadi, lo nerima pinangan itu?” Gina bertanya pelan sambil menahan napasnya, setelah saya menjelaskan semuanya.

“Ya,” saya merasa bersalah tetapi saya tahu membohonginya akan lebih salah.

“Kenapa?” ia terus bertanya dan kali ini saya tidak menjawab. “Lo cinta sama dia? Sayang?” saya tidak berani menjawab. “Pengecut!”

Gina, saya hanya pemuda desa biasa yang lekas merasa luar biasa karena hal-hal yang kata orang luar biasa. Sampai kemudian saya ketemu kamu, dan diberi tahu bahwa ada hal-hal yang jauh luar biasa dibanding semua itu, yang membuat pemuda biasa ini menjadi benar-benar luar biasa. Saya nggak pernah tahu seperti apa jatuh cinta sampai kamu menuntun saya ke jalannya.

“Saya nggak tahu...”

Gina nampak kecewa, ia lekas memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, kemudian mengenakannya. Ia tidak menangis tetapi wajahnya bersedih.

... yang saya tahu, saya mencintai kamu, Gina.

Tetapi Gina pergi begitu saja, meninggalkan saya yang terbaring masih telanjang di kamar penginapan itu. Dan saat esok harinya, saya mendengar kabar bahwa ia sudah kembali ke kota.

Ah, betapa saya hanya pemuda desa biasa. Terlalu bodoh untuk berada dalam situasi ini.

***

“Baru tunangan aja sih, nikahnya mah saya tunda sampai saya dapet kerja yang bener,” jawaban saya seolah mengisi penuh kotak-kotak TTS di wajah Udin dan Wildan.

“Yah, jadi mantu Kepala Desa mah nggak perlu kerja juga udah dapet kucuran dana. Makanya cepet-cepet nikah sebelum Kepala Desa turun tahta!” kami bertiga pun tertawa.

***

Apa kabar, Gina?

Ah, sudahlah. Saya hanya pemuda desa biasa. Terlalu bodoh untuk perempuan kota seperti Gina. Bahkan untuk sekadar memahami cinta.***

---
Orowodol : ejekan spontan untuk orang yang melakukan kekonyolan
Maneh : kamu
Urang : saya
Jore : jelek
Rada : agak

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer noir
noir at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 45 weeks ago)
70

Lokalitasnya nanggung dun. Walau sudah ada selipan kata2 daerah di sini, cuma penggambaran pemuda desa dan gadis kotanya masih belum terlihat utuh. Plotnya juga terlalu tiba2 untuk membuat gina jatuh cinta.

Adegan di penginapan kok agak kurang sesuai ya? Jika mau dikaitkan dengan tema. Mungkin aja bsa diberi tambahan deskripsi atau adegan pelan2 tentang hubungan mereka, baru deh adegan itu.

Oh ya, ada yang salah ketik hehehe (pasifik, perfecto)

Writer KD
KD at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 47 weeks ago)
100

sip

Writer kira-kira
kira-kira at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 48 weeks ago)
80

kk banyak ceritanya yah. agak ga ngerti di bagian bahasa sundanya. tapi asik kok.
baca dan komen diceritaq juga yah

Writer imr_aja
imr_aja at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 48 weeks ago)
80

mantap... hidup nyunda!!

Writer -riNa-
-riNa- at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 48 weeks ago)
70

Sunda banget!

Tapi endingnya nggak pol. Nggak nyadar juga kalo itu dah ending...^_^

Writer analogycs
analogycs at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 48 weeks ago)
70

alurnya enak dibaca, ceritanya saling mengisi, cuma endingnya aja mas, kali ditambahin lagi dikit biar tambah greget...
terus berkarya mas

dadun at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 48 weeks ago)

kalo ada yang mo baca versi sebelumnya, bisa diliat di sini: Gadis itu Bernama Gina

@ _aR_ : thanks udah baca lagi^^

@ vieajah : wah, dirikuw nampaknya sedang kehilangan 'jati diri' dalam menulis. haha :)) kenapa yak? kaw bisa memberitahuku bu?

@ nanasa : yah, sebenarnya ini cerpen tantangan. sang penantang minta cerita yang jalan ceritanya kurang lebih gini: si pemuda desa yang kebablasan dengan si gadis kota. hm, mungkin diriku kurang mulus dan lulus dalam menggambarkannya. thanks, anyway

@ kemudianers lainnya: tengkyuuuuuh atas segala atensinya.

Writer vieajah
vieajah at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 49 weeks ago)
70

WAWWW... beneR2 Lw RombaK toTaL yah??
Tapi, waLaupuN keRasa LebiH Luwes daRipada yanG seBeLumnya, tapi koQ masi bRasa kuRanG ya duNN...??

sTuju sama yanG LaeN, diaLo9 di penGinapan'nya kek'nya nGuRanGin taste'nya ya>?
*soTToooyyy....

seCaRa kseLuRuHan... ceRiTa ini NampaK sepeRTi buKan diRimuw..
(*seCaRa nGepaNs sama dadUNN sejaK awaL baca tuLisaN2 Lw..)

9w masih beLom daPeTiN apa yanG jadi ciRi khas Lw disiNi...

9w piKiR speRTinya Lw masi bisa 1000 kaLi biKin 9w LeBiH sHock daRi ini??? hohoho...

SMANGAAAADH duuNNN...

Writer Nanasa
Nanasa at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 49 weeks ago)
80

Pertama baca, di awal2 aq suka cerita ini.
Seorang pemuda desa yang biasa, dengan bahasa yang biasa. Tapi justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tariknya :)

Tapi di bagian akhir, kenapa imejnya dirusak dengan adegan di penginapan?
Rasanya nggak seperti pemuda desa biasa yang berjanggut lagi :o

Hmm, ceritanya menarik kok :)

Semangat ya :D

Writer zonic
zonic at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 49 weeks ago)
80

inget pengalaman waktu di kampung dun? hihihihi. XD

Writer my bro
my bro at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 49 weeks ago)
80

saya hanya pemuda biasa... yang dikaruniai ketampanan hahahah *narsis mode on.
iye nih bro agak gimana gt. tp tetep masih standarnye dadun. sip.

Writer bl09on
bl09on at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 49 weeks ago)
80

keren bhs yg luwes menambh pesona bwt ini cerita

Writer fortherose
fortherose at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 49 weeks ago)
70

... dun.. dun, edit dari nol, nih yaw?^^ *sudah baca yang sebelumnya*

Tapi, saya lebih suka yang sebelumnya walau di sini hubungan Gina dan Daman lebih berwarna.

Sungguh, saya lebih suka yang sebelumnya *halah, diulang pernyataannya:p*. Kejadian klimaks antara Daman dan Gina kenapa dihilangkan? Dan justru diganti dialog mereka berdua yang diisi 'tuntutan' Gina terhadap rasa sayang? Oh Dun, dialog tersebut terlalu biasa untuk seorang Dadun^^.

Dan endingnya, no, no... lebih mantap yang dulu.

:D

Writer _aR_
_aR_ at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 49 weeks ago)
70

wah bener dirombak abis...
ckckck...

tapi aR lebih suka yg pertama...
klo yg ini agak kurang menghentak gituh hhe..

=D

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Saya Hanya Pemuda Desa Biasa (12 years 50 weeks ago)
80

Di awal cerita deskripsi tentang Gina agak membuat daya imajinasi berpikir lebih keras, apakah maksud pengarangnya?

Di alur cerita, enak untuk dibaca, thema nya gak berat dan sangat pop. Cocok untuk teman "break" disaat rehat kerja hehehe.

Ditunggu ceritanya lagi Dun.