Pangeran Cinta Di-mifa(2)

cuplikan episode (1)

Dengan penampilan bersahaja dan tanpa pengawalan prajurit kerajaan, Di-mifa memang kerap menapakkan langkahnya ke berbagai penjuru Bifet. Tak banyak orang mengenalnya di antara kerumunan, namun kharismanya sebagai seorang putra raja kadang tak jua tersamar. Suatu saat, setelah beberapa kali sekadar menatapnya, Di-mifa pun mengucap kata,
“Duhai putri jelita, tak sadarkah bahwa dikau ibarat seorang penjaga?”
“Apa maksud Anda, tuan muda?”
“Indah parasmu dan elok tindak tandukmu sungguh membuatku terpana. Kau menjadi penjaga yang telah menawan hatiku.”
Sang dara tersipu-sipu, senyumnya terkembang malu-malu. Ternyata dara tersebut merupakan putri salah satu prajurit kerajaan Bifet. Sayang nian, perempuan yang dicintainya itu telah memiliki seorang kekasih. Kekasihnya itu seorang pemuda biasa yang menjadi seorang pedagang kain di pasar ibukota kerajaan. Demi baktinya pada raja Macello, sang prajurit dan si pedagang telah merelakan putri dan kekasihnya dinikahi sang pangeran. Justru Di-mifa yang enggan menerimanya.
“Sungguh tak adil jika aku menjadi sebab koyaknya jalinan cinta dua anak manusia yang saling mencintai. Sekiranya aku tahu dia telah berkekasih, tentu tak akan kubiarkan perasaanku berkembang, hingga sempat kudekati dia. Biarkan mereka tetap berdua dalam cintanya,” tutur sang pangeran sendu. Si perempuan dan kekasihnya begitu berterima kasih pada kebesaran jiwa sang pangeran.
***

episode(2)

Seperti layaknya pangeran di negeri manapun, Di-mifa maupun Ka-dore kakaknya juga mendapatkan pendidikan keprajuritan dari perwira terbaik kerajaan Bifet. Ka-dore begitu tertarik belajar ragam ilmu keprajuritan, sedangkan Di-mifa tak terlampau berminat. Jika Ka-dore ahli bermain pedang dan menunggang kuda, maka Di-mifa sekadar bisa. Ia lebih tertarik pada kesenian, mungkin mewarisi ibunya yang dulu terkenal sebagai pelayan raja yang pandai bernyanyi dan bersuara merdu. Di-mifa adalah seorang pencinta dan praktisi seni sejati. Lukisan, patung, syair, dan lagu menjadi karya seni sang pangeran yang sungguh beragam serta senantiasa indah wujudnya. Namun Di-mifa tak kuasa menolak permintaan ayahnya untuk ikut maju perang bersama kakaknya dan tergabung dalam pasukan kerajaannya yang dimintai bantuan oleh kerajaan sahabat.

“Kau harus ingat, Nak. Kau adalah calon pengganti ayahmu, menjadi raja Bifet suatu saat kelak. Mesti kau tunjukkan dirimu sebagai seorang lelaki sejati yang kuat, tangguh, lagi perkasa,” pesan Raja Macello pada Di-mifa.
“Ya, ayahanda Raja. Saya siap menjalankan amanat Paduka dengan sebaik-baiknya,” sahut Di-mifa mantap.

Kendati berada di antara denting suara pedang dan perisai bukanlah sesuatu yang disukainya, Di-mifa tak mampu mengelak dari persiapannya sebagai pemimpin masa depan negerinya. Belum lagi darah yang mengucur dan kadang menciprati baju zirahnya pun sesuatu yang mesti dihadapinya dengan tegar. Di medan laga Di-mifa mesti mampu menampilkan sosok yang berbeda ketimbang dirinya yang sejati, sang pencinta keindahan yang lembut hati. Namun kehadiran Ka-dore yang selalu ada di dekatnya membuat Di-mifa senantiasa tampil gagah berani tanpa mengenal perasaan takut mati sedikitpun. Sekembalinya dari ajang pertempuran, Di-mifa beserta kakaknya pulang dengan selamat, kendati bekas luka berserakan di sekujur tubuh mereka. Di-mifa pun kembali menghanyutkan diri dalam samudra keseniannya.
***

Kadangkala Di-mifa mesti kembali maju berperang, kendati tak sekerap Ka-dore yang kemudian diangkat menjadi panglima perang gabungan dua kerajaan, Bifet dan Lifet. Suatu ketika Ka-dore menikahi putri impiannya dari kerajaan sahabat, hingga akhirnya memiliki sepasang anak kembar. Sementara Di-mifa sendiri belum kunjung merasakan jatuh cinta kembali. Sebagai putra mahkota kerajaan Bifet, sejatinya telah banyak raja maupun ratu sahabat ayahnya yang berhasrat menjadikannya menantu. Namun sang pangeran tidak bersedia dijodohkan dan memilih menempuh jalan sendiri demi mendapatkan pelita hatinya. Baginya, seorang calon raja tak mesti bersanding dengan putri raja. Ia sadar bahwa ibunda tercintanya pun hanya orang biasa dan ia memahami sungguh kemuliaan sang permaisuri, kendati bukan keturunan bangsawan.

Di-mifa masih kerap menapakkan langkahnya ke berbagai penjuru negeri, bahkan kadang hingga ke wilayah kerajaan lainnya. Suatu ketika ia tengah menyaksikan sebuah pertandingan ketangkasan memanah sambil berkuda di ibukota negeri tetangga Bifet. Dalam busana seperti rakyat kebanyakan, Di-mifa merasa takjub menatap penampilan satu-satunya peserta perempuan dalam pertandingan tersebut. Kendati perempuan itu tersisih di babak awal, sungguh Di-mifa terkesan pada semangat perjuangannya.

“Wow, mengapa tak jemu jua kupandangi dirinya? Ya, kecantikannya sungguh berbeda dengan putri jelitaku dahulu. Putri yang satu ini tangguh dan perkasa, namun sudah bergetar kalbuku dibuatnya. Apakah cintaku telah jatuh padanya kini?” batin Di-mifa bertanya-tanya sendiri. Ia memutuskan untuk mencari tahu siapa perempuan itu dan di mana pula tempat tinggalnya. Setelah mendapatkan informasi yang dikehendakinya, Di-mifa beranjak mendatangi sebuah rumah sederhana di dekat hutan. Perempuan itu tengah berlatih pedang dengan memangkas ranting-ranting sebuah pohon. Di-mifa semula menatapnya dari kejauhan, hingga akhirnya telah berada di dekat putri yang tangguh itu.

“Penampilanmu kemarin hebat, putri! Tapi permainan pedangmu hari ini buruk sekali,” sapa Di-mifa. Perempuan itu menghentikan gerakannya dan mendekati Di-mifa yang kepalanya tersembunyi di balik tudung.
“Maaf tuan, saya tak mengenal Anda. Tapi Anda tak perlu mengada-ada tentang kemarin. Lagipula Anda tahu apa tentang permainan pedang?” sahut sang putri setengah ketus. Di-mifa membuka tudung kepalanya dan tampaklah sosok kharismatik dengan senyuman simpatik dari sang calon raja. Perempuan itu sekejab terpaku dan kehilangan kata-kata demi menatap Di-mifa yang seolah menyihirnya dengan pesonanya.
“Kamu boleh panggil saya Fa. Saya sama sekali tak berdusta. Saya salut dengan perjuanganmu kemarin dan saya pernah belajar bermain pedang. Bahkan saya pernah ikut berperang.”
“Eh Fa, kk…ka… kamu pernah berperang? Tapi, se… sepertinya penampilanmu tak layak sebagai seorang prajurit? Oh ya, namaku Pevita,” ucap perempuan itu terbata-bata. Dalam sekejab sikapnya berubah total, dari ketus menjadi lembut sambil salah tingkah di depan Di-mifa. Sang pangeran mengambil pedangnya dan memainkan beberapa jurus yang memukau Pevita.

bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer loushevaon7
loushevaon7 at Pangeran Cinta Di-mifa(2) (14 years 23 weeks ago)

sbtlnya cerita ini sdh ada lanjutannya dan tamat,tapi msh ada yg mau baca gak ya?

Writer cintasejati
cintasejati at Pangeran Cinta Di-mifa(2) (14 years 28 weeks ago)
80