sudahi cinta

:::sirik tanda tak mampu.::

Aku dilahirkan dengan memiliki wajah biasa2 saja dan dari keluarga kebanyakan, semua orang juga tahu. Kebiasaan ku dari kecil senang dengan hal2 gaib. Belajar kebatinan adalah obsesiku, aku ingin seperti ki somad tetangga kampungku yg tersohor sakti mandraguna, setiap hari banyak orang berdatangan ke rumahnya yg menyeramkan bagi orang lain. Lihat saja disana sini banyak patung dewi durga, asap kemenyan tak henti2nya menyebarkan aroma, sungguh daya tarik magis yg kuat bagiku. Aku senang bermain ke rumah ki somad. Dia sudah menganggap ku pembantu pribadi (hehehe…bangga amat sih..)

Ki somad memiliki tampang yg menyeramkan, badannya tinggi besar dengan brewok yg lebat, batu cincin terpasang di jari2 tangannya yg hitam dan kotor, gelang akar bahar melingkar di kedua pergelangan tangannya yg kokoh, seperti kebanyakan dukun2 sakti lainnya.

Pernah aku melihat langsung ki somad menampar seorang jagoan di pasar kecamatan ketika membeli minyak wisik utk keperluan perdukunannya. Dia memukul orang itu dengan sekali tampar, dan org itu langsung semaput. Aku bangga dengannya, dia menampar org itu karena membelaku. Aku dengan badan ceking, dekil dan bau kemenyan ini di ganggu oleh jagoan itu, barang2 bawaan ku di lempar ke tanah, uang sisa belanja coba di rebut, aku kaget setengah mati, belum pernah aku di rampok dan di perlakukan seganas itu. Hatiku sungguh ketir, mulut bagai di kunci, untuk berteriak minta tolong pun aku tak mampu, tapi entah darimana datangnya, tiba2 ki somad yg tadi permisi padaku utk membeli sepotong kain hitam datang membela aku, anak didiknya yg paling pandai. Sungguh pemandangan yg menakjubkan.

Dia menyelamatkan aku. Setelah kejadian itu makin banyak orang2 berdatangan pada ki somad utk sekedar meminta ilmu pukulan, ilmu kebal, ilmu penglaris dlsb.

Setelah bertahun2 aku bergaul dengan ki somad sedikit demi sedikit aku di ajarinya, ilmu pertama yg di ajarinya yaitu memanggil roh alias setan gentayangan. Tapi aku tak terlalu menyukai ilmu itu. Karma aku terobsesi dengan ilmu pellet, aku ingin segera belajar ilmu itu, tapi ki somad belum memberi ilmu itu padaku, mungkin dia tahu, kalo aku sudah belajar ilmu itu, aku akan meninggalkannya. Lalu siapa lagi yg akan dia suruh2 kalo aku tak ada, si damin agak2 lambat kalo di suruh menyiapkan sesajen. Dia kebanyakan menghayal menjadi pendekar, kebanyakan baca novel cerita silat sih..

Kenapa aku begitu berharap memiliki ilmu pellet alias ilmu pengasihan itu, sebab waktu kecil aku pernah di ludahi seorang wanita yg kusuka diam2. waktu itu aku masih mengaji di wak husin, dia seorang ulama yg menyepi ke kampungku, dia mempunyai cita2 tinggi untuk memberi pelajaran agama secara gratis pada anak2 tak mampu sepertiku ini, dia ingin anak2 pintar dan bisa menaklukan dunia dan akhirat.

Ketika aku mengaji itulah ada teman sepengajianku “siti” namanya, dia amat cantik dan manis dengan tubuh ramping seperti itu, maklum memang masih kecil, awalnya aku sama sekali tak tertarik dengannya, aku toh belum mengenal apa arti cinta, suka2an, atau bercinta. Namun teman2 selalu meledek aku dengan kata2, bahwa aku pacar siti. Awalnya memang malu tapi lama kelamaan bila tak di ledeki aku jadi kangen, dan jadi tumbuh rasa ingin dekat dengan siti. Tapi itulah malapetaka bagiku, bagi hidupku, bagi pertumbuhan hatiku.

Aku beranikan diri utk menyapanya ketika berpapasan di jalan menuju langgar tempat kami mengaji, tapi aku di tolaknya mentah2. pertanyaan dan sapaan ramahku di balas dengan air ludahnya. Ternyata dia membenciku sangat membenciku tak seperti aku yang coba merindukan hatinya….dari itulah aku terobsesi dengan ilmu pellet alias ilmu pengasihan dan ilmu kebatinan lainnya Pernah kucoba utk belajar pada wak husin, tapi sekali lagi aku di tolak mentah2, aku di suruh mengaji dengan baik, aku di suruh melupakan hal itu, karna itu perbuatan berdosa.

Tapi jiwa masih di kandung badan, rasa rindu masih melekat dalam jiwa, pantang bagiku menyerah, akan kucari guru lain yg mau mengajariku, itulah akhirnya ki somad yg bersedia menerima ku kini..

Bila ku kuasai ilmu itu aku tak peduli, cinta atau tidak cinta, yg penting dia menjadi cinta padaku dan mengharapkan ku, aku berjanji dalam hati, takan Cuma siti yg kan ku pellet tapi semua wanita cantik yg kuidamkan.

Setelah belajar ilmu kebatinan pada ki somad, aku merasa menjadi sakti mandraguna (Cuma merasa lho) ini kubuktikan ketika aku mau ke kota kecamatan untuk berbelanja keperluan2 ki somad yg tengah bermeditasi di gua ciwadul. Aku biasa berjalan kaki melewati pesawahan, untuk menghemat waktu dan uang. Sebab kalau aku jalan kaki lewat jalan raya aku mesti berjalan sekitar 1 jam, kalau naik angkutan desa mesti bayar 200 rupiah, ah mahal benar. Dari pada buat ongkos lebih baik aku belanjakan untuk membeli batu cincin, biar gayaku mirip ki somad (hehehe ngefans amat sihhh..)

Ketika lewat pesawahan itulah aku di kejar anjing milik koh ahong. koh ahong pemilik ternak babi di kampungku memang memiliki banyak anjing kampung, untuk menjaga ternak2nya dari gangguan anjing2 liar maupun maling2 ternak. Sangat menakutkan bagiku di kejar anjing2 buas milik koh ahong, entah kenapa anjing2 itu menjadi sedemikian bernafsunya mengejarku, padahal aku telah terbiasa melewati pesawahan dan ternak koh ahong. Mungkin juga ini di akibatkan oleh bawaan hawa ruh ku yg berganti menjadi orang sakti (husss sombong amat ya) yg selalu di ikuti oleh jin2 atau khadam peliharaan ku. Makanya anjing2 itu menggonggong dan mengejarku sejadi2nya.

Tadinya aku berlari kencang ke tengah sawah, sampai2 kaki ku beberapa kali terjerembab ke Lumpur sawah yg banyak lintahnya itu, uh sungguh tragis dan melelahkan, tapi segera saja ku teringat akan ilmu pukulan jauh yg di ajari ki somad, aku teringat kalau sekarang aku bukan anak pengecut lagi, aku harus ingat kalau aku sekarang sakti, sakti madraguna…dengan gerakan berbalik dan mundur satu-dua langkah ku kepal kan kedua tanganku dan menahan napas di dada dan perut, sambil merapal aji2an dan mantra pukulan

jigoh-gocap-jadi tilu salawe sakali gebuk paeh siah…!!

Tanpa ampun 3 anjing yg mengejarku terkapar gosong bagai tersetrum ribuan volt listrik, aku sampai terkaget2 melihat keampuhan ilmu warisan ki somad itu. Pantas saja ki somad selalu wanti2 untuk tidak menggunakan ilmu itu sembarangan.

Wah bangga dan bahagia nya diriku, walau cuma anjing kampung yg kena ilmu ku, itu merubah cara berjalanku, dada kubusungkan, tangan ku lebarkan bagai burung bangau hinggap di pematang sawah, kalau kata di damin sih cara berjalanku mirip orang yg keteknya bisulan, dasar si damin itu selalu ada2 saja kalau bicara.

Itulah kenapa aku merasa sakti, walau aku jarang2 menggunakan ilmuku, aku takut kalau sering di gunakan ilmuku habis. Kata ki somad sih kalau sering di gunakan ilmu itu akan semakin hebat, tapi aku tak mau percaya, aku takut di bohongi, aku takut nanti ilmuku habis, kalau ilmuku habis aku akan lebih lama lagi jadi pembantu ki somad..eh murid dink…aku ingin cepat turun gunung, melanglang buana…menguji kehebatanku, kalau perlu aku akan buat pertunjukan di alun2 kota kecamatan ku ttg kesaktianku, tentang kehebatanku, tentang kedigjayaanku, wah boleh lah satu-dua jurus aku peragakan pada orang2 kota itu yg tahunya Cuma hal2 yg tak berguna dan kebanyakan melihat tontonan tak nyata di bioskop2…

***

Si damin orangnya agak pendiam, dia lebih menguasi ilmu kanuragan daripada kebatinan, dia malas kalau di suruh semedi atau mutih oleh ki somad, dia tak sungguh2 kalau belajar, makanya ki somad hanya mengajarkan ilmu2 raga saja, baru lah si damin semangat, dia senang apabila dia sudah bisa memecahkan lima atau tujuh tumpuk batu bata, dia anggap dirinya hebat….apalagi kalau di suruh angkat sekarung beras oleh ki somad dati toko koh aliem di pasar kecamatan, sampai ke rumah ki somad pun dia mau memanggul itu sendirian. Sambil memamerkan otot2 nya yg gempal pada semua orang, apalgi ketika dia melewati rumah si minul, makin di kencangkannya lah otot2 tangannya yg sebesar pahaku itu….dasar tukang pamer!!!

Untuk membelah kayu bakar pun dia sengaja sekali memperlihatkan otot2nya yg besar itu, bagai gorilla dia tepuk2 dadanya yg telanjang itu, lalu mulutnya mengaum bagai singa jantan birahi mencari sang betina, sangat menjijikan bagiku, dia selalu berkata kepadaku, lihatlah laki2 sejati sedang bekerja, kau wanita memasaklah untuk ku makan, kurang ajar sekali kata2nya tetapi aku tak mau melakukan pembalasan kepadanya, karena hanya dia teman ku disini, aku hanya bisa melawan dia dengan kata2 saja, tak ingin aku melawannya dengan santet atau ilmu pukulan ku, aku takut dia mati. Kalau dia mati yg melakukan pekerjaan2 kasar siapa? Ih aku tak mau, nanti badanku menjadi kasar, tanganku bisa lecet2 memegang kapak besar pembelah kayu itu.

Tapi pernah aku berkelahi dengannya, gara2 rebutan daging ayam sesajen tamu ki somad, waktu itu kepalaku di tampar, tangan ku di pelintir, sakit sekali, tapi aku paling tak mau kalah bila berkelahi dengannya, langsung saja ku baca mantra ajian gatal, biar badannya gatal semua! walhasil dia mengerang kesakitan, badannya lecet digaruk2 tangannya yg kotor itu, setengah mati dia menahan rasa gatal itu. Sebelum aku habiskan ayam itu tak mau kusembuhkan gatal2nya itu, biarkan saja, biar tahu rasa, lucu sekali melihat cara menggaruknya seperti monyet kepanasan, aku sampai sakit perut melihatnya, tapi aku tak tega, walau bagaimana pun dia masih saudara, saudara seperguruanku lah, kubaca mantra penyembuh gatal2nya, setelah dia sembuh kami makan ayamnya bersama2 di bawah pohon nangka, sambil makan dia masih tetap cengengesan menertawakan sikap kami berdua, dasar gila!!! Kelebihan dia selain ilmu kanuragan dia pun telah di wariskan ilmu pellet yg kuidam2kan itu, dasar nasib, nasib, sampai kapan aku harus merayu gorilla itu, menunggu ajaran ki somad sepertinya tak mungkin..

Apa selalu sama untuk bisa raih mimpi, tak harus dipaksakan, selera orang beda2, aku ingin-sangat ingin bisa baca mantra pellet itu damin ajari aku ya…

:::.damin versi romantis.::

Izin kan aku bercerita tentang sahabat, juga saudara seperguruan ku “damin” si otot baja, tulang besi, urat kawat, muka aspal hehehe…, kayak toko bangunan lo min…,

Suatu senja di kampungku tempat dimana aku tumbuh dan berguru kepada ki somad “si dukun sakti mandraguna”, seharian ku berkutat dengan sesajen2 dan asap kemenyan di ruang praktek ki somad, aku memohon diri kepada guruku itu untuk ke sungai di kaki bukit, badanku lengket, bahkan dari jarak satu meter pun tercium bau tubuh dengan aroma kemenyan ini. Sungguh indah….dan sedap untuk di hisap….mmmhh…, segar…., ku ajak si damin manusia perkasa itu untuk mandi di sungai, awalnya dia enggan ku ajak mandi sekedar melepaskan daki2 yg menempel di urat leher dan ketiakku ini, tapi setelah ku hipnotis akhirnya dia menurut saja seperti kerbau di cocok hidungnya. Enaknya punya ilmu kesaktian…hihihi….

Aku tak mengerti kenapa si damin malas mandi, pantas saja tubuhnya hitam di tumbuhi daki, kuku2 tangan dan kakinya pun hitam2. padahal kalau ku perhatikan mukanya tidak jelek2 amat…, hanya dekil saja dan matanya menyorotkan sinar yg sangat aneh….seperti ingin sesuatu…seperti mata orang yg siap2 untuk mencuri …mungkin kalau ada orang yg mati dia takan menguburkan mayat nya hanya mengambil baju dan celananya saja hehehe…., makanya walau dia saudar seperguruanku mataku selalu hati2 bila berdekatan dengan dia…seram sih…

Dulu sebelum damin ikut dengan ki somad dia adalah seorang pencoleng kecil, bromocorah gagal di pasar kecamatan….bagaimana tidak…dia pernah di sirep oleh ki somad ketika mencoba mencopet kantung2 uang di pinggang ki somad…, tiba2 dia jadi patung, diam tak bergerak sambil memegang kantung uang ki somad…, dan itu dibiarkan ki somad selama hampir satu jam….mematung seperti itu…hingga seorang opsir polisi pamong praja, meminta dengan wibawanya kpd ki somad untuk melepaskannya dari keterdiamannya untuk di bawa ke kantor polisi praja. Akhirnya ki somad mau melepaskannya, asal dia diperbolehkan membawa si damin kerumahnya sebagai ganti hukuman oleh polisi pamong praja itu. Petugas itu akhirnya mengijinkan si damin di bawa ki somad asal dirawat dengan baik.

Begitulah asalnya dia….

Walau dia goblok setengah mati, tapi aku tetap takut melihat badannya yg sebesar badak afrika. Pernah ketika hendak makan bersama2 ki somad, entah memang lapar atau kerasukan…dia menyendok nasi hampir setengah isi bakul ke piringnya….tapi dia tidak mau memakai lauk yg tersaji nikmatnya….aku hanya melongo dungu, menyaksikan tingkahnya. Dia suapkan nasi dengan tangannya yg kotor itu kemulutnya yg menganga bak mulut buaya…dan suara mulutnya mengunyah nasi bagai kan gemericik air terjun di sungai cimadu di kaki bukit itu, dahsyat sekali….ki somad hanya berdehem…dan menyudahi makan malamnya dengan segera….aku kasihan melihatnya….aku ajari dia cara makan ala manusia, ku contohkan cara makan dengan benar….uhh tapi dia tak peduli…dia hanya mendengus dan asik menikmati makan malamnya…dasar gemblung!!!

Waktu mendekatkan pribadiku dengannya….kebersamaan pun terjalin dengan indah….
Aku bagai bulan2an kekecewaan hatinya yg keras, kadang ku bersahabat dengannya bagai rama dan hanoman, kadang aku bermusuhan dengannya bagai sembara dan mak lampir…, sulit menjajaki dunia nya…alam pikirannya yg berliku bagai sirkuit sentul…,

Sering dia bercerita kehidupannya di pasar kecamatan itu dan sebelum dia tinggal di pasar kecamatan itu. Dengan polosnya dia ungkapkan segala kekerasan yg menimpa hidupnya….hidup dari lorong pasar yg satu ke lorong pasar yg lain….menjadikan dia manusia kuat sejatinya….fisiknya sekuat batu karang….kulitnya keras bagai kulit kayu…tapi dia tak pernah mandi….ternyata kalau dia mandi, dia akan sakit demam…demam panas dingin….tubuhnya akan menggigil….bagai orang sakau (tau sakau apa?)

Sekelumit tentang damin sahabat ku jiwaku…rasa ini tak pernah pasti…tak pernah aku merasakan ketergantungan sehebat ini pada manusia seutuhnya, hanya damin yg mampu membantuku melewati pekerjaan2 kasar yg di bebankan padaku oleh ki somad….hanya damin yg mampu membelah kayu…mengambil air di sungai…mengangkat beratnya sekarung beras…menggali palawija…hanya damin…sahabatku…, tak pernah merasa lelah walau ku perlakukan kasar dan nista….hanya damin…yg mampu…

Damin sahabat sejatiku….semoga dia membaca tulisan ini….

Aku sayang kamu sahabat….
-12 agustus 1968 di sebuah kaki bukit-

***

::menyerah selamanya::

Cinta ku hanya untuk kau seorang, beribu kata puisi telah ku ungkapkan, berjuta harap telah kuimpikan. Jauh dalam kalbuku perasaan cinta ku yg mendalam kepada siti rekan mengajiku itu tak kan pernah hilang di sapu badai topan atau tsunami sekalipun. Hingga ku tiada lagi didunia ini pun, cinta ku takan pernah lapur dimakan usia….kan ukir gambar hatiku dengan namanya di batu sungai cimadu…takan pernah ku berpikir tuk berpaling pada yg lain walau hampir tak mungkin ku mendapatkan bidadari lainnya.

Salahkah bila ku terobesi padanya…pada bidadari pelipur lara ku…, hanya matanya yg dapat membuatku tertunduk penuh harap, hanya gerakan tubuhnya yg hiasi mimpiku setiap ku pejamkan mata, hanya rambutnya yg hitam bergelombang tertiup angin yg dapat ku helaikan…, kini dimana siti berada…lama tak ku jumpa…ku terperosok dalam dinding obsesiku….dalam dinding mimpiku…bersama ilmu2 keparat ki somad…..entah berapa lama lagi ilmu pellet itu dapat di turunkan padaku…,

Ku telah habiskan bertahun dalam nistanya ilmu hitam yg tak henti2nya memperbudak ku dalam dinginnya embun malam, dalam dinginnya khayalan ku yg belum tuntas…, terlelap aku dalam kesendirian yg tak pasti…

Dan bila esok mentari bersinar dalam hampanya jiwaku, kuingin siti membalai rambutku dengan penuh cinta….lalu kemanakah cintaku pujaan hatiku jelitaku pengobat rindu ku…., muramkan aku dalam benak dunia….luruh dimakan waktu…,

Akhirnya ku beranikan diri tuk mengahadap ki somad, bertanya kapan aku akan di ajari ilmu mumpuni yg ku damba2kan….ilmu yg kan membawa kebahagian pada diriku…kebahagiaan tanpa sejatinya….kebahagiaan semu…pengobat rasa hati ku yg terluka oleh cinta yg kubuat2 sendiri….setengah mati ku menahan rasa ini…., tak kuasa ku menitikan air mata kesedihan dan pengharapan “ki somad, berilah sedikit berkah dan kebaikan hatimu untuk diriku…bilamana kau tak mau dan tak iklash menurunkan ilmu pellet biadab itu padaku….biarlah kau lepaskan aku untuk pergi melanglang buana…biarkan aku mati dalam kerinduan tak terrtahan pada kekasihku yg selalu ku impikan tiap ku bernapas…, aku senang hidup melayani mu dan bertemankan iblis damin, tapi ku tak kuasa akan diriku…akan impian ku…berilah sedikit saja dari pengharapanku…akan semua itu..” air mataku buyar tak tertahan lagi….ki somad hanya berdehem diam seribu basa…mematung bagai patung dewi durga sesembahannya…dingin tak beraroma…,

Ku menundukan kepalaku dalam2, tangan ku ku asongkan ke depan wajahku….tanda ku pamit untuk pergi dari kehidupan laknat ini, kehidupan sia2 yg kujalani bertahun2, kini umurku 17 tahun, cukup usiaku untuk menentukan jalanku…hingga ku lupakan keluargaku tercinta….dimana kah ibuku….bagaimana kabar si kecil adikku amir yg selalu ku gendong2 dulu…., tiba2 ku menitikan air mata lagi…..ibu…maafkan aku, meninggalkan mu tanpa kabar…., aku terasing dalam dunia manusia….aku bukan anak mu lagi ibu…ijinkan aku menemui mu sekali lagi…walau ku penuhi hatimu dengan kekecawaan…, aku anak lelaki mu yg selalu menyengsarakanmu…., tak pernah ku sesedih ini…,

Kutelusuri pematang sawah menuju kampungku yg terpisah jauh dari kampong tempat ku berguru selama ini kepada ki somad….selamat tinggal ki….selamat tinggal damin…aku kan selalu menjadi bagian hidupmu….doakan aku….segera ungkapkan isi hatiku yg karam bagai kapal mati….,

Masih teringat masa kecilku, hidup di sini….di kampungku ini….,
melihat anak2 kecil mengembala kambing hantar kan aku dalam hiruk pikuknya masa lalu nan indah….begitu nakalnya aku dulu, anak nakal yg pemalu…anak nakal dengan sejuta mimpi…hingga suatu ketika dalam masa ini…., ku terseok2 berjalan dengan dada yg verdegup kencang….aku rindu ibuku…aku rindu adikku….si kecil amir yg selalu ku ajak mengembala…dikala ibu membantu mencuci dan membersihakan rumah pak kuwu…demi sesuap nasi…demi hidup anak2nya….demi impian anak2nya…demi masa depan cipta…., sudahlah aku terlalu sedih untuk membayangkan bagaimana ibuku berjuang membesarkan ku…semenjak di tinggal ayahku pergi dengan janda brengsek ke kota Jakarta….mudah2an dia cepat mati di tabrak motor…

jalan2 disini masih sama semenjak aku tinggal kan dulu, enam tahun lamanya aku pergi…sepeti tak terjadi apapun di kampong ini ….sunyi masih….hanya gelak tawa anak2 kecil di depan rumah dan suara tangis bayi yg lapar meminta menetek ibunya….,

aku terbelalak kaget….melihat rumahku kini…., mata ku berbinar…entah untuk keberapa kali di hari yg sama aku menitikan air mata sialan in.., rumahku…oh..rumahku…tinggal puing2….kotor disana sini…, .hanya sisa2 bambu penyangga rumah yg tersisa….atap kelapa yg menutupinya pun tak terlihat lagi…., sumur di belakang rumahku telah tertutup semak belukar….., coba ku korek2 sisa rumahku dulu….tempatku di sayang ibuku, di manja, di suapi….sekarang…rumahku hilang….ibu ku kemana? Adikku?? Derai air mata menetes kembali di pipiku…., sialan kenapa cengeng sekali diriku…aku kan pendekar….., perlahan kuseka mata ku….,

tiba2 selintas suara mengagetkanku… “nak cari siapa disitu?” oh emak sari tetanggaku si penjual kue lopis kesukaan ku, “emak sari??” ujarku terbata2.. “iya, anak siapa ya…?” terheran2 karna orang asing ini mengenalinya… “aku banda anak nyi rawin…” ujarku meyakinkannya “oalah….banda ya?? Si anak nakal…kemana saja kau nak? Kau sudah besar sekarang, gagah, dan rupawan…. Kau membuat geger seisi kampong saja…kami kira kau di culik wewe gombel, dari mana kau, nak?” “ibu ku kemana mak?” dia terdiam sesaat dari serbuan2 pertanyaannya….”itulah nda…ibu dan adik mu pergi ke kota…mencari bapak mu…mencari kamu…dia yakin kamu menyusul bapakmu ke kota…semenjak itu ibu mu pun tak ada kabar beritanya….hilang bagai di telan bah”

ku menerwang kealam lain….memikirkan kemungkinan2 yg terjadi….tiba2 aku pusing….pusing sekali…..tak ingat apa2 lagi….dunia ku berputar…..

hingga suatu ketika….suatu waktu…dalam terangnya hatiku…

hingga ku ragu dalam godaan….aku telah sebesar ini…ku tumbuh menjadi pria dewasa….semua tak kan pernah usai…meski dalam nyata….ku terdiam dalam luka hati…

kutinggal kan semua ilmu yg di ajari ki somad…kembali ku belajar dengan ustad romli guru sejatiku….perlahan namun pasti…ku baca surat al-falaq

Lindungilah aku dari godaan setan yg terkutuk
dengan nama Allah yg maha pengasih lagi maha penyayang
“Katakanlah: aku berlindung kepada Rabb yg menguasai Subuh
Dari kejahatan mahkluknya
Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita
Dan dari kejahatan2 wanita tukang sihir yg menghembus pada buhul2
Dan dari kejahatan orang yg dengki apabila ia dengki”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer my bro
my bro at sudahi cinta (12 years 16 weeks ago)
70

hu uh masih banyak yg bisa di kembangkan lagi ceritanya, trus andaikan endingnya bisa diperhalus lg.

Writer dipra
dipra at sudahi cinta (13 years 11 weeks ago)
Writer hendrosusanto
hendrosusanto at sudahi cinta (13 years 49 weeks ago)
100

good

Writer Faris
Faris at sudahi cinta (14 years 43 weeks ago)
60

Sebenernya menarik juga. Tapi selain penggunaan 2 untuk kata ulang (bener-bener merusak kalau bagi gw), cerita ini agak gimana ya.

3/4 awal udah bagus, sampai sisipan cerita tentang temennya itu. Tapi endingnya terlalu tiba-tiba!

Writer bulqiss
bulqiss at sudahi cinta (14 years 48 weeks ago)
60

maaf...koq seperti baca biografi yah...semuanya dicerita..hehehe

Writer argha
argha at sudahi cinta (14 years 48 weeks ago)
100

tulisannya panjang, alur cerita sudah bagus. hanya saja di akhir cerita masih membukit. mungkin anda memotong sebagian ceritanya ya? buat apa? hayo teruskan!

Writer KD
KD at sudahi cinta (14 years 48 weeks ago)
100

Sitinya gimana? Mbok ya dilanjutin hingga akhirnya ketemu dengan Siti di tempatnya Ustad Romli gitu.