Guardians of Lothier "Part 1 - Perburuan Pertama (section 2)"

Begitu sampai di tepi hutan Dwann, semua mendadak sepi. Masing-masing mulai bergerak dengan hati-hati. Aku melihat raut wajah Lord Villea berubah menjadi lebih waspada. Matanya menyipit dan bergerak kesana kemari. Tangan kanannya siap dengan pisau di sabuknya sementara tangan kirinya menyibak sulur-sulur dan tanaman yang menghalangi jalan. Aku berjalan tepat disampingnya berusaha menajamkan pedengaran dan penglihatanku. Kulihat masing-masing kelompok dibelakang mulai menyebar memisahkan jarak tidak
begitu jauh dan mulai mencari-cari buruan.

Kami berjalan perlahan semakin lama semakin dalam. Pohon-pohon semakin rapat. Sulur-sulur dan tanaman - tanaman berduri membuat perjalanan menjadi semakin sulit. Lord Villea akhirnya berhenti dan memberikan kode pada kelompok dibelakang.

“Mulailah mencari buruan, jangan terlalu jauh,” bisik Lord Villea padaku.

Aku mengangguk. Kugenggam Dagger-ku dengan erat dan perlahan berjalan, memicing menembus sulur-sulur. Aku menghabiskan waktu lama sekali dan masih belum menemukan apapun.
Aneh sekali… Semua hewan berpindah ke hutan Dwann pada musim dingin. Bagaimana mungkin disini sepi sekali seperti ini?

Aku berusaha masuk lebih dalam. Dengan hati-hati kusibakkan sulur-sulur didepanku, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Aku berjongkok dibelakang sebuah pohon besar dan mengintip. Ya! Seekor rusa besar tampak berbaring di semak-semak. Separuh badan belakangnya tampak tertutup semak-semak, namun aku yakin ukurannya cukup besar. Aku menyiapkan Dagger-ku di kedua tangan dan melihat ke sekeliling mencari Lord Villea untuk memberitahunya, tapi sepertinya aku telah terpisah dengannya.

Tidak, aku tidak bisa kembali sekarang. Aku telah menemukan buruan!

Dengan hati-hati kudekati rusa itu. Aku mulai bisa melihat bahwa matanya tertutup, namun tidak mati. Ia masih sedikit bergerak. Aku berhenti dibalik pohon terdekat dan mengamati. Rusa itu bergerak-gerak, namun matanya tertutup. Ada yang aneh… Gerakan rusa itu sangat tidak wajar. Aku mencari sebuah batu kecil dan melemparnya ke arah rusa itu. Lemparan pertama mengenai kaki depan rusa itu, namun rusa itu tidak bereaksi. Ia masih sedikit bergerak-gerak. Lemparan kedua mengenai perut depan rusa itu, namun reaksinya masih sama. Pada lemparan ketiga, aku mengambil batu yang lebih besar dan melemparnya sekuat mungkin. Lemparan itu melesat dan kembali mengenai perut rusa itu diiringi suara BUK keras. Rusa itu tiba-tiba berhenti bergerak. Matanya masih tertutup dan tidak melakukan apa-apa. Aneh sekali….

Aku mencengkeram Dagger-ku kuat-kuat dan perlahan kudekati rusa itu. Setiap langkahku aku berhenti sebentar untuk berjaga-jaga. Rusa itu tampak seperti mati, namun tadi aku yakin ia masih bergerak. Saat rusa itu sudah berada dalam jangkauanku, aku mencoba menepuk kepala rusa itu. Ia tetap diam saja. Aku berjalan mendekat dan menarik kedua kaki depan rusa itu.

Tiba-tiba sesosok makhluk besar seperti serigala berbulu hitam menerjangku. Aku terjungkir dan Dagger di tanganku terlepas. Sebelum aku sempat melawan, taring-taring hewan itu telah menghunjam ke bahuku. Aku menjerit. Seketika mataku menjadi buram. Rasa sakit itu begitu tidak tertahankan. Makhluk itu berusaha mengoyak tubuhku. Kakiku menendang-nendang namun makhluk itu terlalu kuat.

Saat itu sempat kulihat mata kuning makhluk itu. Dengan cepat kulayangkan pukulan ke matanya. Makhluk itu meraung dan mundur. Dengan terseok-seok aku berusaha menjauh dari makhluk itu, mencengkeram bahu kananku yang penuh darah dengan tangan kiri dan menarik Dagger dari sabukku. Bahuku serasa remuk dan sakit sekali. Tangan kananku menjadi lemah bahkan untuk mencengkeram sebuah Dagger. Namun aku tidak sempat berpikir, makhluk hitam itu menggeram dan siap menyerangku kembali. Kupindahkan Dagger itu ke tangan kiri sementara tangan kananku menggantung tak berdaya. Aku berusaha bangkit dan menapak.

Kini aku bergantung pada tangan kiriku….

Secara otomatis, seluruh ajaran ayahku dulu seperti keluar. Aku merasa percaya diri. Aku bisa mengalahkannya.

Tch! Makhluk berbulu jelek! Aku sudah bertahun-tahun berburu dan berlatih. Aku tidak akan mati disini! Tidak denganmu, jelek!

“HYAAAAAA!!!!”
Aku menerjang maju dan menyabetkan Dagger-ku. Makhluk itu melompat menghindari sabetanku dan menerjangku dari kanan.

Kuatkan di kaki kiri, maju. Tahan di kaki kanan. Pusatkan kekuatan pada tangan kiri. Putar pinggangmu ke kanan dan lepaskan energi dalam sabetanmu.

“HEEAAAAAAA!”

Sabetanku telak mengenai muka makhluk itu. Aku tidak bisa melihat jelas, namun aku yakin aku telah melukainya. Makhluk itu meraung dan tergeletak. Darah mengalir dari sisi kiri moncongnya, tapi makhluk itu dengan cepat bangkit lagi dan meraung keras. Bulu-bulu di badannya seakan berdiri. Punggungnya melengkung marah dan ekornya seakan tegang. Ha! Tampaknya aku sukses membuatnya marah.

“Maju kalau kau berani, makhluk hitam bau!”

Makhluk itu mengeram-geram namun tidak menyerang. Aku memasang kuda-kuda menunggunya menyerangku. Makhluk itu mengeluarkan suara seperti menggonggong dan tiba-tiba saja seluruh semak-semak di sekelilingku seperti bergerak-gerak. Udara dipenuhi oleh lolongan dan raungan. Suara derap kaki di kejauhan semakin lama semakin mendekat. Makhluk di depanku menggeram dan maju perlahan. Dari semak-semak dibelakangnya tiba-tiba muncul 2 ekor lagi. Kemudian di sebelah kiri muncul beberapa ekor.

Sial! Ia memanggil kawanannya!

“Tch! Makhluk pengecut kau..,” bisikku.

Aku hanya bisa menggenggam Dagger-ku lebih erat, sementara bahu kananku semakin lama semakin menyakitkan. Darah terus mengucur keluar dari luka yang menganga besar disana. Aku mulai merasa lemas.

“Tahan, Miller!”

Aku menoleh dan kulihat Lord Villea berdiri dengan hati-hati disana.

“Kuatkan dirimu, anak muda. Sungguh memalukan bila kau mati di misi pertamamu.”

Tak bisa dibayangkan betapa senangnya aku bertemu Lord Villea. Ia perlahan-lahan berjalan mendekat sambil terus bicara, berusaha memompa kekuatanku kembali.

Makhluk-makhluk hitam itu semua menjadi tegang dan menggeram-geram karena kedatangan Lord Villea.

“Mereka akan menjadi agresif bila kau bergerak-gerak. Dan bau darah dari bahumu membuat mereka ingin menyerang.”

Lord Villea kini telah tepat dibelakangku. Aku tidak kuat. Sekelilingku seakan sudah mulai sedikit berputar. Bahuku benar-benar menyakitkan. Tubuhku lemas.

“Miller! Tetap bersamaku! Jangan lengah!”

Makhluk-makhluk hitam di sekeliling kami meraung dan mulai terlihat marah. Tidak ada cara lain, kami harus melawan mereka. Tapi…..

“Bangkit, Miller! Aku bersamamu!” teriak Lord Villea menggapai lenganku dan menahanku.

Tiba-tiba salah satu makhluk mulai menyerang, tepat menerjang ke arah Villea. Ia melepas genggamannya pada lenganku dan melawan. Ia berputar dan dengan cepat menusukkan pisau kecilnya tepat di mata makhluk itu.

Serentak kawanan yang lain melompat dan menerjang. Dengan sisa kekuatanku, aku menapakkan kakiku berusaha tidak goyah.

Aku tidak boleh kalah disini. Mereka hanya hewan!!

Kupaksakan tangan kananku menggenggam Dagger dan memasang kuda-kuda. 2 ekor makhluk menerjangku, membuka moncong mereka lebar-lebar, berusaha menggigit kepalaku. Aku ingat ajaran ayahku…….

Makhluk yang menyerang dengan taring dan gigitan, memiliki kelemahan di leher mereka yang tidak terlindungi saat menerjang. Itulah target seranganmu. Namun pertahanan kakimu harus kuat, karena kau melawan arah terjangan mereka. Artinya kau melawan kekuatan dorongan mereka. Pasang kuda-kudamu, bidik, dan keluarkan semua tenagamu. Jangan gentar saat melihat taring mereka mendekat, itu kuncinya.

“HEEEEAAAA!!!!!”

Kedua Dagger di tanganku kuhunjam ke leher kedua makhluk itu. Mereka melengking dan tergeletak. Darah mengucur dengan deras. Aku jatuh terduduk. Selesai sudah……tenagaku habis……

“Miller!”

Aku bisa mendengar teriakan Lord Villea. Kulihat ia dengan gagah berjuang melawan makhluk-makhluk hitam itu. Dengan cepat ia mengambil pisau di sabuknya, menusukkan tepat ke arah jantung, mengambil pisau yang lain, berbalik dan membunuh beberapa ekor lagi.

Aku tersenyum.

Hebat sekali………Lord….Villea……….maafkan..aku….….

Hal yang terakhir kulihat, Lord Villea menerjang beberapa ekor makhluk dan berlari ke arahku, sebelum semuanya menjadi gelap.

***

Read previous post:  
82
points
(1671 words) posted by Zhang he 13 years 31 weeks ago
68.3333
Tags: Cerita | petualangan | fantasi | fiksi | petualangan | zhang | zhang he
Read next post:  
80

Pas si Miler mengingat penjelasan ayahnya, kayaknya mending dikasih tanda apa atau diitalic gitu deh, soalnya kan bukan Miler sendiri yang ngomong (tau caranya pake italic gak di sini? Gw sih gak tau. Hehehehe... )

BTW walaupun awalnya terasa gak kayak yaoi, tapi tampaknya masih ada unsur2 yaoi yang tersisa di sini... jadi agak ngeri bacanya... hiiyyy... @_@

80

>> Aku berjalan tepat disampingnya berusaha menajamkan pedengaran dan penglihatanku.

Di pada kata disampingnya itu bukan imbuhan kan tapi kata depan?? Jadi, bukannya harusnya dipisah penulisannya??

>> Ada yang aneh… Gerakan rusa itu sangat tidak wajar.

Gak tau ya?? Aku agak terganggu dengan pola kalimat yg gak formal (baku) itu?? Mungkin karena latar belakang TEATER aku ya ^^
Wahahahah!! PEace cecil ^^

Kalo tema cerita, aku selesain baca bagian kedua dulu ya

Yg gw suka, adegannya itu bisa cukup berhasil dideskripsikan ^^

80

Werewolfnya pintar yach. Atau heronya yang bodoh.

Ceritanya enak. Meski gak jelas arahnya kemana

60

mungkin mau coba sistem flashback seperti ceritaku yang fireheart (www.fireheart.tk)
Kadang dalam cerita saya juga gunakan istilah2 pedang 'Dagger','Rapier', 'Claymore' atau 'Zweihander' seperti yang telah saya riset, tapi dalam bahasa Indonesia kedengarannya jadi agak canggung, jadi sengaja saya ganti dengan 'belati' untuk 'dagger'.

Makhluk besar seperti serigala berbulu hitam... apa itu ya? mungkin werewolf? mungkin siluman? hmmm...

cukup seru juga perburuannya.

60

Uh, oke. Menurut saya, meski penggambaran adegannya cukup bagus, ini sama sekali masih belum masuk ke dalam 'cerirta'. Ngerti maksudku?

Jadi, rasanya walau adegannya seru, saya yang baca masoh belum ngerti ini maksudnya tentang apa. Mungkin soal ini perlu dipertimbangkan. Tenanglah, ini bisa jadi bagus kok!

Masih.
Tapi kayaknya masih dalam tahap pembuatan.
Ditunggu aja kiriman ceritanya....
And masih ditunggu kritiknya

Makasih.

80

Sip! untuk ceritanya oke punya. Masih berlanjutkah?