yang akan terjadi

Dave menghela nafas panjang. Mata sayunya mengiringi langkah enggannya. Dia sadar dirinya hanya manusia yang tak kuasa atas hidup orang yang dicintainya. Ia hanya bisa mengenang masa lalunya yang mengerikan. Cinta yang tak pernah terucap dan terlambat.........
Dave terus melangkah meninggalkan lokasi syutingnya secara diam-diam. Peluh membanjiri keningnya dan melunturkan berbagai make-up yang membuatnya risih. Perlahan Dave membuka pintu mobilnya dan masuk. Perlahan pula ia menyalakan mobilnya dan pergi.
Lampu disco menyilaukan matanya. Hentakan-hentakan kaki di lantai menambah kegaduhan. Tapi Dave tak perduli. Ia memandang ke sekeliling dan tak lama tersenyum. Dave pun buru-buru menghampiri Ninta yang duduk barsebelahan dengan laki-laki yang umurnya sekitar 45 tahun dan terlihat borju. “Hai Nin...!” Sapa Dave. Ninta agak terkejut mendapati Dave melambai kearahnya. “Hai.” Balasnya singkat. “Ng..., Nin aku mau bicara sebentar sama kamu.” Dave kembali membuka suaranya. Sekali lagi Ninta terkejut. Tapi dia cukup pandai menutupinya. “Boleh. “ Ninta pun beranjak sedang laki-laki disampingnya hanya mengangguk-angguk.
“Kamu tahu dari mana aku kerja di sini?” Pertanyaan awal Ninta begitu saja keluar dari bibir mungilnya. “Phia yang kasih tahu aku. Tapi kenapa....” . “Kenapa? Kamu kan tahu aku
butuh biaya untuk kuliah ku, dan biaya aku kost!” Ninta menjawab dengan nada tinggi yang biasanya dipakainya waktu ia marah. Dan saat itu dia marah. Dave terdiam. Rasanya kata-kata Ninta barusan cukup membisukan dirinya. “Trus, kamu sendiri ngapain di sini? Nggak syuting?” Tanya Ninta lagi mengalihkan pembicaraan. “Aku cabut.” Jawaban singkat yang cukup membuat Ninta terkekeh. “Kenapa tertawa?” Dave mengeluh. “Kenapa harus lari dari pekerjaan mulia seperti itu?”
“Mulia? Aku jenuh. Sedikit-sedikit sutradara teriak ‘cut’ lalu aku duduk dan kembali di make-up. Emang aku bencong!”
“Bodoh! Kau masih beruntung. Apa kau tak lihat aku? Mungkin pagi sampai siang aku mahasiswi teladan di kampus. Dosen banyak yang memujiku. Tapi kalau malam. Laki-laki hidung belang yang memujiku, memuji kepandaianku memuaskan nafsu mereka. Dan itu semua untuk hidup yang kujalani. Cuma itu yang bisa aku lakukan.” Nada suaranya berubah. Semakin lama suaranya diselingi isakan. Dave mengerti bagaimana perasaan galau Ninta. Tapi ia kagum padanya. Ia mau berjuang untuk hidupnya sendiri.
“Kamu mau meninggalkan pekerjaan ini?”
Ninta mengangguk. Ia telah lama berharap bisa meninggalkan pekerjaan kotor ini tapi apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk menghidupi dirinya yang sebatang kara?
“Aku mau, tapi aku nggak punya pekerjaan lain.” Ujarnya lirih.
“Kalau kamu mau aku akan mintakan pekerjaan sama mamiku.”
“Pekerjaan apa?” Mata Ninta mulai berbinar.
“Entahlah. Tapi aku akan usahakan pekerjaan terbaik yang kamu dapatkan nanti. Aku janji.” Dave tersenyum. Ninta ikut tersenyum.
“Oh ya, aku harus kembali tamuku menunggu.” Ninta membalikkan tubuh mungilnya hendak pergi. Dave menahannya. Digenggamnya tangan Ninta erat. “Kenapa lagi?” Tanya Ninta bingung. “Kamu nggak perlu temui siapa-siapa lagi disini. Kita pergi aja yuk!” Ajak Dave. “Tapi bayaranku mahal loh. Apa kamu punya dolar untuk membayar aku?” Ninta tersenyum tipis. “Banyak! Yuk!” Seru Dave menarik Ninta keluar dari tempat remang-remang itu.
“Mi, ada kerjaan nggak di kantor mami?” Pertanyaan Dave mengejutkan maminya yang tengah sibuk menggoreskan tanda tangan dibeberapa kontrak dan proposal kerjanya. “Kamu ngomong apa barusan?” Tanya mami merasa kurang jelas. “Yah mami, Dave nanya ada kerjaan apa enggak di kantor mami?” Dave memperjelas pertanyaannya. “Kerjaan sih banyak. Ngepel, nyapu, ...”
“Bukan Mi, maksud Dave lowongan pekerjaan?” Mami mengerutkan keningnya. “Untuk siapa? Kamu?” Mami balik bertanya. “Bukan....Tapi buat temen Dave, namanya Ninta.” Jawab Dave berbunga-bunga. “Kamu suka sama Ninta?” Selidik mami begitu aja. “Ih mami sok tahu!” Sahut Dave tersipu. “Habis kamu kayaknya berbunga banget waktu ngucapin namanya.” Dave terkekeh. “Gimana mi? Ada apa enggak?” Dave kembali kepembicaraan pertama. “Ada....” Jawab mami cuek. Dave tersenyum senang. “Kerja apaan, mi?”. “Emang temen kamu bisa apa?”. Dave terdiam. “Kok diam?”. “Bingung, mi. Setahu Dave Ninta sih anaknya tekun. Tapi....”. Mami melongo melihat Dave salah tingkah. “Tapi kenapa, Dave?”. “Ya mami, Dave mana tahu dia bisa apa. Kenal aja baru seminggu yang lalu. Mami lupa baru seminggu kan Dave pindah ke kampus itu?” Ujar Dave mengingatkan. Mami menggeleng kecil. “Ya... mami lupa. Habis kerjaan mami belakangan ini banyak nyita waktu mami, jadi mami ....”. “Udah lah, mi ada kerjaan apa buat Ninta?” Dave semakin tak sabar ingin menemui Ninta dan mengabarkan bahwa ada lowongan untuknya. “Untuk sementara biar dia kerja bantuin mami di sini. Gimana? Setuju?”. “Maksud mami jadi....”. “Dave! Mami nggak setega itu! Masa teman kamu mami kasih kerjaan jadi pembantu sih?!” Mami melotot tajam. Dave yang telah terbaca fikirannya terlebih dulu itu, hanya tertawa kecil. “Bulan ini kan Rana ambil cuti dan nggak ada yang bantu mami ngetik. Nah, maksud mami tuh untuk sementara temen kamu itu gantiin Rana buat bantu mami ngetik. Gimana?” Mami menjelaskan maksud kata-katanya. “Thanks mam, mami emang mami yang paling top deh.” Dave mengecup pipi maminya senang. “Mi, kalau gitu Dave izin ke rumah Ninta ya.” Rajuk Dave manja. Mami mengangguk. Dan Dave melangkahkan kakinya riang. Sedangkan mami kembali menggumuli kertas-kertas menjenuhkan dimaja kerja yang membosankan dalam kamar sunyi.
“Payah!” Gerutu Dave begitu mendapati kamar kost Ninta sunyi, sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Dave memeriksa message di HP mungilnya. Mungkin saja Ninta meninggalkan pesan untuknya. Nihil. Tak ada pesan di kotak masuk. Dave mendesah kencang. Dave pun mencoba menghubungi Ninta yang entah dimana. Mati. HP Ninta tidak diaktifkan. Dave kembali mendesah. Kali ini diiringi jeritan dari seseorang disudut pintu gerbang. “Mas, cari Ninta ya?” Dave terkejut. “Iya mbak, mbak tahu kemana Ninta pergi?” Dave beranjak menghampiri gadis disudut pintu gerbang itu berharap bisa mendapatkan penjelasan. “Saya Vega” Gadis yang ternyata bernama Vega itu menyodorkan tangannya yang terlihat putih dan mulus. Dave membalasnya dengan uluran tangan juga. “Dave”. Vega tersenyum.
“Jadi kamu teman kost nya Ninta?” Tanya Dave setelah meneguk segelas sirup. Vega mengangguk dan ikut meneguk segelas air mineral dingin di depannya. “Apa kamu bertemu Ninta di discotik?” Vega ganti bartanya setelah gelas minumannya kembali dimeja seperti semula. “Dia teman kampusku.” Vega mengangguk mengerti. “Ninta baru saja dikeluarkan dari tempat kost kami”. “Memang apa salahnya?”. “Ibu kost risih melihatnya selalu pulang malam dan membawa pulang laki-laki”. Dave terdiam. “Apa sebelumnya kamu nggak tahu pekerjaan Ninta?”. “Aku tahu....” Bisik Dave. Vega menarik nafas panjang. Diiringi Dave yang mengeluh karena malam semakin larut. “Lebih baik aku pulang.” Seru Dave dan beranjak dari tempat ia duduk. Sekali lagi Vega mengangguk. “Boleh lain kali aku kesini lagi?” Vega tersenyum simpul. Dibalas Dave dengan deruan mobilnya.
“Gimana, Dave? Ninta mau kerja di sini?” Tanya mami begitu melihat Dave masuk ke ruang kerjanya. “Payah, Mi!” Jawab Dave sambil mendesah. Mami masih terus sibuk dengan pekerjaan dimejanya. “Udah dong Mi kerjanya! Dengerin Dave!” Seru Dave kesal. Mami berhenti sejenak. “Dave... mami tahu kamu lagi kesel. Tapi jangan dilimpahkan kemami dong. Emang kenapa sih? Si Ninta nolak pekerjaan itu?” . “Boro-boro nolak Mi, ketemu aja belum!” . “Loh? Bukannya kamu tadi dari rumah Ninta?” Tanya Mami bingung. “Iya Mi, tapi Ninta nya udah pindah” Desah Dave kecewa. “Kamu tahu dari mana Ninta pindah? Bisa aja dia lagi jalan-jalan ke mall sama temennya.” Hibur mami. “Vega yang ngasih tahu!” Balas Dave meyakinkan maminya. “Vega? Siapa lagi dia? Teman kamu juga?” Tanya mami makin bingung. Dave mengangguk kecil. “Dia tamen kost nya Ninta” Jelas Dave. “Dia bilang nggak kenapa Ninta pindah?” Pertanyaan mami nggak mungkin Dave jawab dengan jujur. “Katanya sih cuma bosan. Mi, Dave ke kamar dulu ya.” Mami cuma menggeleng.
“Dave....” Sapa Ninta. Dave terperanjat mendapati Ninta yang sudah seminggu menghilang, ada didepan matanya. “Kamu kemana aja sih,Ta?” Seru Dave senang. Ninta hanya tersenyum. “Oh iya, Mamiku nyari kamu mau dikasih kerjaan. Kamu disuruh bantu mami ngetik, ngantiin sekertaris mami yang lagi cuti. Gimana Nin? Mau kan?” Tanya Dave. Ninta tersenyum lalu menggeleng. “Loh kenapa? Bukannya kamu butuh pekerjaan?” Tanya Dave lagi. Ninta hanya diam. Dave menghela napas panjang. “Kamu masih senang bekerja di tempat ini?” Dave terus bertanya sambil memandangi seluruh isi discotik tempatnya duduk saat itu. “Dengan laki-laki tua seperti yang di sudut sana?” Seru Dave sembari menunjuk ke arah laki-laki berumur empat puluhan ke atas yang tengah mabuk dan dikelilingi banyak kupu-kupu cantik yang kelak akan menghisap madu uang dari kantong laki-laki itu. Ninta menggeleng. “Trus kenapa kamu nggak kerja saja di tempat mamiku?!” Seru Dave. “Aku nggak bisa Dave.....” Bisik Ninta perlahan. Tak ada nada-nada untuk menentang kata-kata Dave barusan. “Kenapa nggak bisa?”. Ninta kembali tersenyum. “Maafin aku Dave itu semua nggak mungkin lagi.....” Dave tergugah, ia merasakan aura yang berbeda dari Ninta. “Kalau begitu kita pergi dari tempat ini! Aku nggak tega lihat kamu bekerja di tempat semacam ini. Tinggalin pekerjaan kotor ini Nin.....” Bisik Dave perlahan. “Semua ini udah aku tinggalin, Dave. Aku udah nggak kerja di tempat ini lagi. Sekarang aku bebas dari auman dan terkaman singa singa lapar di tempat ini.....” Suara Ninta mendesah. Dave terdiam. Dan mereka saling berdiam. Sunyi.....Sepi..... Sampai akhirnya Ninta mengecup kening Dave dan melangkah pergi. Entah apa yang membuat Dave mematung di tempatnya. Kekuatan yang mungkin berasal dari aura Ninta membuatnya kaku. Ingin rasanya Dave mencegah Ninta pergi, tapi... tak ada yang bisa dilakukannya dengan keadaan seperti itu. Yang ada hanyalah airmata. Keadaan Dave saat itu laiknya patung batu menangis. Sementara Ninta dan aura misteriusnya pergi.....
“Ga, kemarin aku ketemu Ninta” Ujar Dave lesu. Aura Ninta yang dirasakannya kemarin masih sedikit terasa mendalam di lubuk hatinya. “Ninta?! Ka...kamu ketemu di mana? Jam berapa?” Tanya Vega penuh selidik.
“Di discotik biasanya, kalo’ jam berapa? Sekitar jam delapan malam. Kenapa, Ga?”. “Dave....!!!!” Jerit Vega histeris. Dave terkejut. “Kenapa Ga?” Tanya Dave heran. “Kamu ketemu Ninta jam delapan malam?” Vega balas bertanya. “I..iya, kenapa sih?” Dave makin heran melihat Vega yang bicara gugup. Vega menarik napas panjang. “Dave.... kemarin sekitar jam delapan kurang lima, Ninta meninggal dunia di tempat kost barunya” Serasa tertikam Dave mendengar kabar itu. Aura Ninta yang dirasakan Dave malam itu memang sangat berbeda.... Tapi, kenapa yang terjadi seperti ini? “Ninta udah lama mengidap AIDS dan malam itu... kematian menjemputnya.....” Perlahan Vega bicara. Dave menangis. Tangisan yang sama seperti kemarin malam, karna apa yang dirasakannya saat itu sama seperti ia merasakan aura Ninta semalam. Kali ini hatinya yang dibuat kaku, beku. “Loe tau Ga, cuma Ninta yang gue cintai selama ini. Tapi kenapa dia udah pergi duluan sebelum dia dengar pengakuan gue ini....” Dave terisak. Perih rasanya. “Dave..., Ninta dengar kok. Walaupun sekarang dia ada di alam lain, Ninta pasti dengar.....”
Itulah yang terjadi. Entah apa lagi yang akan terjadi nanti, tidak ada yang tahu. Mungkin Dave berhenti mencintai Ninta dan Vega lah satu-satunya pengganti Ninta. Atau Dave terus mencintai Ninta selamanya? Tak ada yang tahu. Yang jelas aura yang dirasakan Dave waktu itu masih membias.

-----------------------udah---------------------------

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer -ViE-
-ViE- at yang akan terjadi (11 years 35 weeks ago)
70

hmm..hmm

Writer layya16
layya16 at yang akan terjadi (12 years 48 weeks ago)
50

hmm

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at yang akan terjadi (12 years 48 weeks ago)
70

Terus menulis. Oya, untuk lebih bisa dibaca dengan nikmat sebaiknya ada pemisahan paragraf.