AOM 12 : Start All Over

********************

1. Pulang

Rasanya seperti sudah berbulan-bulan Taylor meninggalkan rumah ketika pagi itu dia kembali menginjakkan kaki dan menghirup aroma udara di halaman rumahnya. Ayahnya baru saja menjemputnya dari rumah sakit pagi ini. Sepanjang perjalanan Taylor memilih untuk tidak banyak bicara. Tidak hanya karena dia malas menanggapi ocehan dan gerutuan Clarke, kakaknya yang menyebalkan, tapi juga karena pikirannya yang masih belum bisa sepenuhnya lepas dari pemuda itu.

Pagi itu Taylor terkejut ketika mendapatkan dirinya terbangun di sofa tamu kamar rawatnya, tempat yang seharusnya menjadi tempat tidur pemuda itu. Taylor hanya bisa tertegun kecewa mendapatkan pemuda itu sudah tidak berada di situ meninggalkan selimut yang telah dia selimutkan padanya dan sebentuk ingatan percakapan romantis dalam pikiran gadis itu. Entah kenapa dia merasa hampa. Dia nyaris tidak mendengar suara-suara ayahnya yang menyuruhnya bergegas atau ocehan Clarke yang berkali-kali menyebutnya idiot-aneh-pemalas.

Taylor mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Dia bersikeras menemani pemuda itu mengobrol beberapa saat lagi setelah mereka tiba di kamarnya. Dia menolak berbaring di tempat tidurnya dan memilih duduk di samping pemuda itu. Tidak butuh waktu lama, Taylor sudah tidak ingat apa-apa lagi. Mungkin dia tertidur saat itu. Pemuda itu lantas menyelimutinya dan berlalu diam-diam dari kamarnya. Taylor mengeluh kecewa.

Jordan, apakah kita akan bertemu lagi?

Tidak ada yang berubah atas rumahnya dalam kurun waktu dua minggu lebih ini. Taylor hanya mendapatkan sebuah ring basket baru telah dipasang oleh ayahnya di depan garasi. Seorang pemuda berambut gelap awut-awutan sebaya Clarke tampak asyik bermain basket melawan Zach. Pemuda itu memakai kaos dan jeans yang sama bututnya dengan sneakersnya. Mark melompat-lompat kegirangan di sisi arena. Ketiganya menghentikan kegiatan mereka ketika melihat Taylor turun dari mobil.

”Tay-tay!” seru Mark sukacita.

Bocah berusia dua tahun itu serta-merta menghambur riang memeluk kakak perempuannya. Taylor tersenyum. Si kembar Jess dan Ashley yang sedang asyik bermain barbie di sudut teras menghentikan permainannya dan menoleh.

”Halo, Taylor!” sapa keduanya bersamaan lalu kembali asyik dengan permainannya tanpa sekalipun menoleh lagi.

Taylor sama sekali tidak mempedulikan mereka.

”Taylor!”

Martha, pengasuh mereka bergegas-gegas keluar dari pintu depan mendapatkannya. Zoe tampak terguncang-guncang sedikit dalam gendongannya. Bayi itu sama sekali tidak keberatan dan tampak berbinar-binar ketika melihat kakak perempuannya.

”Taylor sayang, selamat datang kembali di rumah,” kata Martha berusaha memeluk Taylor dengan sebelah tangannya yang lain dan mencium kedua pipi gadis itu.

Taylor mengiyakan dengan senang dan menciumi Zoe dengan penuh kerinduan. Lalu dia beralih pada Zach dan pemuda berambut awut-awutan yang mendekatinya.

”Hai, Sis!” kata Zach.

Taylor menggumam singkat. Pemuda yang bersama Zach itu nyengir ramah sambil memainkan bola basket di tangannya.

”Halo, adiknya Clarke,” sapanya. ”Aku Wayne, teman kakakmu.”

”Oh, senang bertemu denganmu,” balas Taylor tersenyum ramah.

”Aww! Kau jauh lebih manis dari fotomu!” puji Wayne membuat Taylor memerah. Untung Clarke mendekat dan mengalihkan perhatian Wayne sebelum pemuda itu membuat Taylor lebih memerah lagi.

”Mana Vincent?”

”Dia harus menemani ibunya berbelanja. Nanti dia menyusul.”

Taylor sempat menangkap pembicaraan keduanya sebelum mereka berlalu dari hadapannya. Gadis itu tersadar ketika Martha memanggilnya. Pengasuh itu segera menggiring Taylor masuk ke dalam sementara Zach menoleh karena panggilan ayahnya agar membantunya membawakan barang-barang Taylor.

Taylor mendapatkan kamarnya tampak rapi dan terawat seperti biasa. Martha pasti telah menyempatkan diri untuk merapikannya hampir setiap hari.dua travel bag besar yang tadi diangkut ayahnya sudah ada di situ.

Ketika memandang piano sudutnya, tiba-tiba dia kembali diingatkan oleh pemuda bermata biru kristal itu. Pemuda itu tahu tentang musik klasik. Dia tahu tentang piano tapi dia tidak menyukai piano. Betapa Taylor menyukai sedikti informasi yang dia peroleh dari pemuda itu.

Taylor memejamkan mata tanpa sadar berusaha mengingat kembali percakapan mereka semalam. Dia seolah bisa mendengar kembali melodi Nocturne dan Trumerei itu berdenting-denting dalam pikirannya. Dia seperti bisa merasakan kehangatan sentuhan pemuda itu, kelembutan senyumnya dan suaranya.

Haruskah aku melupakanmu sekarang?

”Sayang! Kau melamun!”

Taylor mengerjap tersadar. Martha masuk ke dalam kamarnya dan berinisiatif membongkar barang-barang Taylor. Taylor tersipu merasa kepergok.

”Kubantu?” tawar gadis itu seraya mendekati pengasuhnya.

Mata Martha membelalak.

”Apa kau bilang, sayang?” katanya. ”Aku bisa menanganinya sendiri. Kau sebaiknya mandi dan beristirahat. Aku yakin tidak ada bathtube di rumah sakit. Aku sarankan, kenapa kamu tidak mencoba untuk memanjakan tubuhmu itu dengan mandi berendam air hangat campur busa aroma lavender di kamar mandi mungilmu itu?”

Taylor tertawa kecil dan berpikir saran Martha adalah ide yang bagus. Diapun memutuskan untuk membersihkan dan memanjakan dirinya. Taylor berlalu sambil memikirkan acaranya selanjutnya. Mungkin dia akan bermalas-malasan menikmati tempat tidurnya setelah ini. Atau dia bisa bermain-main dengan Zoe dan Mark. Atau mungkin dia akan menelepon Abigail, teman barunya, lalu mengajak gadis itu ke kamarnya dan mengobrol sampai puas. Taylor merasa senang memikirkan rencana-rencana itu

Ah, senangnya kembali ke rumah.

Taylor mendapatkan Martha sudah tidak ada di kamarnya ketika dia keluar dari kamar mandi. Travel bagnya sudah tidak ada lagi di kamarnya dan semua barang-barangnya sudah tertata rapi di tempatnya yang seharusnya. Taylor bertukar baju dengan santai. Dia sama sekali tidak mengira kejutan yang tiba-tiba diperolehnya, pertemuannya yang pertama dengan pemuda itu.

Dia baru saja selesai memakai pakaian dalamnya dan bersiap mengenakan roknya ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan pemuda itu masuk ke dalam tanpa permisi.

”Clarke! Apa kau ada,--”

Suara itu terputus.

Mata Taylor seperti hendak meloncat keluar, terkejut karena kehadiarannya tamu tak di undang yang tiba-tiba itu.

Pemuda itu seolah membeku ketika menyadari keberadaan Taylor. Matanya yang cokelat membelalak kaget. Wajahnya tampak kosong. Mulutnya ternganga tidak siap menerima pemandangan di hadapannya, seorang gadis remaja dengan pakaian dalamnya! T

Taylor shock. Dia yang pertama kali tersadar dan buru-buru menyambar mantel mandinya untuk menutupi dirinya.

Pemuda itu mengerjap.

”Ma.. maaf..aku...Clarke...well,-”

Seolah mendapat aba-aba, Taylor serta-merta menjerit sekeras-kerasnya.

”KELUAR KAU!!” pekik Taylor seraya menyambar apapun yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah pemuda itu.

Pemuda itu tampak malu luar biasa. Dengan gugup dia buru-buru keluar dan menutup pintu sementara Taylor masih histeris mengusirnya.

Sial!

***********************

2. Are You Listening

Vincent masih berusaha memulihkan diri dari keterkejutannya ketika melihat Clarke dan Wayne bermunculan dari kamar di seberang kamar Taylor. Vincent mengeluh dalam hati. Kini dia benar-benar merasa sebagai oang paling totol di dunia. Bagaimana dia bisa membuka pintu yang salah? Clarke memandangnya dengan khawatir.

”Ada apa? Aku mendengar teriakan Taylor,--”

Clarke tidak meneruskan kata-katanya ketika melihat keadaan temannya yang terlihat seperti habis melihat hantu. Dipandangnya Vincent dengan curiga. Wayne tampak tercengang dengan sebuah pemikiran yang muncul di kepalanya. Tiba-tiba saja dia nyengir penuh arti.

Melihat reaksi teman-temannya, Vincent justru merasa wajahnya makin memanas. Tanpa bisa dicegah sosok Taylor kembali tergambar dalam pikirannya.

Dia itu adik teman kamu, idiot!

”Kenapa kau?” tanya Clarke akhirnya. Wayne nyaris tidak bisa menahan diri. Vincent menggerutu dalam hati dan sempat berpikir untuk menolak menjawab pertanyaan itu.

”Ada apa, Clarke?”

Martha tiba-tiba sudah ada di antara mereka membuat Vincent merasa untuk semenatar terbebas dari interogasi lanjutan teman-temannya. Clarke tersenyum pada pengasuh itu.

”Tidak apa-apa, Martha,” katanya penuh arti. ”Kami membuat penyambutan kecil untuk Taylor,” sambungnya lagi.

Wayne tertawa kecil. Vincent menunduk. Martha memandang pemuda-pemuda remaja itu sesaat dengan curiga.

”Kalian anak-anak bandel! Awas kalau berani-berani mengganggu atau mencelakakan Taylorku!” ancamnya.

Clarke mengeluarkan senyuman terbaik dan terpolosnya. Martha mendengus seraya berbalik berlalu sambil menggerutu tidak jelas. Vincent mengerang dalam hati ketika menyadari pandangan Clarke kembali pada dirinya dan menunggunya dengan sabar.

”Aku,-” kata Vincent akhirnya. Dia menelan ludah.

”Kurasa aku salah membuka pintu kamar,” sambungnya pelan membuat alis Clarke terangkat. Wayne kelihatan nyaris mati menahan tawa. ”Aku tidak mengira adikmu di dalam sedang berganti pakaian,-”

Sampai di sini tawa Clarke dan Wayne meledak. Vincent menghela nafas jengkel.

”Nah, sekarang kau harus nikahi adikku,” kata Clarke geli.

”Sudahlah!” gerutu Vincent seraya berlalu menuju kamar Clarke. Kedua pemuda lainnya masih tertawa-tawa mengikutinya.

********************

“Seorang manajer rekaman menghubungimu??” ulang Wayne tidak percaya. Ketiganya kini sudah berkumpul di kamar Clarke.

Clarke mengangguk.

Vincent memandangnya dengan penasaran. Kejutan yang diceritakan Clarke berikutnya cukup mengalihkan perhatian mereka bertiga dari insiden di kamar Taylor tadi.

“Namanya Mike Sabech. Dia melihat penampilan mendadak kita di konser U2 tempo hari dan langsung mengontak petugas promo tour untuk melacak jejak kita,” cerita Clarke santai.

Wayne dan Vincent saling pandang tercengang. Orang BMG mengendus keberadaan mereka? Secepat dan semudah itukah jalan mereka? Dua-duanya sama-sama merasa hati mereka berdebar-debar menunggu kelanjutan cerita Clarke.

”Lalu?” tanya Wayne tidak sabar. Vincent mengangguk setuju. Clarke memandang kedua temannya.

“Dia ingin bertemu dengan kita,” kata Clarke dramatis membuat Vincent dan Wayne saling pandang.

“Apa?!”

”Ya. Dia ingin bertemu dengan kita....berempat!”

“Berempat??” ulang Wayne tidak mengerti. ”Maksudnya??”

“Ya, kita berempat,” tegas Clarke serius. “Dengan Jordan Mc. Pherson..-“

NO WAY!” tukas Wayne serta-merta. Vincent mengerutkan dahi.

“Apa kau tidak bilang kalau kita hanya bertiga?” tanya Vincent. “Mengajak Jordan jelas tidak mungkin.”

Wayne mengiyakan.

”Aku tahu,” kata Clarke sebal. ”Kalian tahu apa reaksinya?”

Vincent dan Wayne menggeleng.

”Dia bilang, ’Sayang sekali. Berempat atau tidak sama sekali!’” kata Clarke sambil mencibir sebal menirukan mimik pencari bakat itu. ”Makanya aku tidak langsung memberitahu kalian. Orang itu benar-benar menyebalkan!”

“Itu tidak adil!” tukas Wayne. “Kenapa dia menyudutkan kita?! Maksudku, apa sih peran si Mc. Pherson itu?? Dia cuma nyanyi sedangkan kita yang memainkan musiknya!”

“Tapi Jordan berhasil menarik perhatian massa. Kurasa itu yang dia cari. Spot light!” kata Vincent.

“Brengsek! Pencari bakat itu sama sekali nggak paham apa yang terjadi di belakang panggung! Kalau begitu, kenapa nggak sekalian saja dia hubungi Mc. Pherson jelek itu!” gerutu Wayne penuh dendam.

Vincent tahu apa yang telah Jordan lakukan pada Ivy saat konser itu telah membuat Wayne menaruh dendam seumur hidup pada pemuda itu. Sekian lama berteman dengan Wayne, Vincent bisa merasa temannya sebetulnya memiliki perasaan khusus pada gadis itu. Clarke angkat bahu.

“Mike bilang kita berempat adalah masa depan. Tapi kalau hanya bertiga, kemungkinanya menurun hingga sekian puluh persen. Kecuali kalau kita bisa tunjukan kalau kita memang bisa menjanjikan walau hanya bertiga,” katanya.

Mereka terdiam sesaat. Wayne kelihatan sekali masih kesal.

“Kalau begitu ayo kita lakukan,” cetus Vincent pelan.

Kedua temanya menoleh.

“Kita buat para produser melihat kita bertiga,” sambungnya. ”Bukankah kamu yang mengawali ide itu?” tanya Vincent pada Clarke. ”Kita buat band, kita buat demo dan kirimkan pada para produser itu.”

Mata Wayne berbinar tertarik. Clarke tertawa setuju.

“Yeah! Vinnie benar. Kita buat mereka terkejut!”

Clarke mengangguk-angguk.

“Rekomendasi dari seorang musisi besar juga patut dipertimbangkan,” kata Vincent lagi.

Ketiga anak muda itu saling pandang dan tersadar

“JUSTINE WATSON!!” seru mereka bertiga dengan penuh semangat.

“Oh, Yeah! Kalian benar-benar oke!” seru Clarke semangat.

”Kalau begitu pikirkan sebuah nama untuk band kita. Setelah itu kita bisa mulai bergerak.”

Ketiganya berpikir sesaat.

Are You Listening!” cetus Wayne. ”Nama itu kedengaran oke!”

”Bagus, Wayne. Aku suka,” kata Vincent.

”Ya! Are You Listening, apakah kalian mendengarkan!” balas Clarke. Ketiganya ber-high five penuh semangat.

Ladies and gentlemen, sebuah band hebat telah terbentuk pagi ini! Yeah!

**********************

3. Berdamai

Suasana klub itu tidak terlalu ramai saat Samantha tiba di lobinya yang mewah. Hanya beberapa meja yang tampak terisi pengunjung. Suara musik jazz yang bertempo lambat mengalun mengiringi para pengunjung klub elit tersebut. Beberapa pelayan berseragam formal dengan baki-baki tertutup dan kain di tangan di tangan sesekali melintas dengan sikap mereka yang elegan.

Samantha memasuki ruangan luas berinterior klasik itu. Sesaat dia mengedarkan pandangannya dan mendapatkan Jordan, adiknya, duduk sendirian di sebuah meja di sudut ruangan. Bergegas dia mendekatinya.

“Kukira kau tidak akan datang,” gumam adiknya datar ketika melihatnya muncul. Samantha menghela nafas.

“Maaf aku harus menyelesaikan urusan di yayasan dulu. Lagipula aku harus mengunjungi seorang teman,” jawab Samantha singkat seraya duduk di hadapan adiknya.

Samantha tidak merasakan keharusan dia menceritakan siapa ”teman” yang dia maksud. Dia berpikir kisah tentang pertemuannya dengan Taylor dan keluarga Hamilton pasti bukan sebuah topik yang menarik perhatian pemuda remaja di hadapannya ini. Jordan menggumam tidak peduli.

Seorang pelayan mendekati mereka, menyapa dengan sopan dan menyodorkan buku menu. Samantha mengamati buku menu itu sesaat lalu menyebutkan pesananya. Pelayan itu kemudian beralih pada Jordan. Jordan melakukan hal yang sama.

Samantha kembali mengamati adiknya sepeninggal pelayan itu. Jordan kelihatan baik-baik saja. Entah di mana dia bermalam dua hari ini. Jordan menghilang setelah pertengkaran itu. Lalu tadi sore, tiba-tiba saja adiknya menelepon dan mengajaknya makan malam di luar.

Samantha sempat berpikir akan mendapatkan adiknya dalam keadaan kacau dan tidak bersahabat seperti biasa. Tapi malam ini Jordan kelihatan baik dan manis. Itu cukup membuatnya lega. Pandangan Samantha kemudian beralih pada balutan perban di lengan kiri Jordan. Matanya langsung membelalak.

“Ya Tuhan ! Apalagi yang terjadi dengan tanganmu ?”

Jordan tersadar.

“Kau selalu ribut kalau aku terluka, ya?” gumam Jordan.

Samantha mengangkat alisnya.

“Apa aku tidak boleh khawatir? Kau itu kadang-kadang kelewatan, tahu?! Siapa yang bisa menjamin kalau kecelakaan-kecelakaan dan masalah-masalah yang menimpamu itu tidak berakibat fatal padamu?!” kata Samantha emosi.

Adiknya terdiam sesaat.

“Kemarin malam aku menghibur diri ke bar. Seorang pemabuk mengamuk dan pecahan botol yang dipegangnya mengenaiku.”

Samantha melotot mendengar cerita itu.

“Kau tidak bilang apa-apa padaku setelah kejadian itu?!” sentaknya tidak percaya.

Jordan tidak menyahut.

“Lagi pula siapa yang mengijinkan kau masuk bar?! Umurmu baru 17 tahun, bodoh! Apa kau juga minum?!”

“Jangan menceramahiku, Sam! Semua orang melihat ke arahmu,” gerutu Jordan.

Samantha menggeram gemas. Sekarang dia tahu kenapa adiknya mengajaknya makan di tempat seperti ini. Apapun yang ingin dikatakan Jordan, bocah itu tidak mau dia meledak marah lagi. Samantha berusaha menahan diri dan menyabarkan hatinya. Samantha menghela nafas.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Apa sebetulnya yang ingin kau bicarakan? Omong-omong aku gembira dengan ajakanmu ini. Beberapa hari kau menghilang dan membuatku khawatir.”

Jordan tampak ragu sesaat.

“Kau masih marah padaku?” tanya Jordan ingin tahu. “Soal pesta liar itu.”

Samantha menghentikan gerakanya. Sejak kapan Jordan peduli untuk mengetahui perasaan dirinya? Apakah bumi sudah berhenti berputar? Samantha mencoba untuk bersikap bijak. Dia mencoba tersenyum dan menggeleng.

“Aku marah, tentu saja. Tapi bukan berarti aku membencimu dan tidak peduli lagi padamu,” kata Samantha membuat Jordan tertegun.

Samantha tidak tahu apa yang dipikirkan adiknya. Tapi sikap Jordan malam ini memang terlihat agak di luar kebiasaannya. Samantha mulai berpikir jangan-jangan sesuatu telah mempengaruhi adiknya? Tapi apapun itu, Samantha cukup menyukai perkembangan ini. Dia mencoba tersenyum lembut.

“Kau adiku satu-satunya, Jor,” kata Samantha lagi.

Jordan tidak menyahut.

Seorang pelayan muncul memecah perhatian mereka. Sesaat keduanya terdiam ketika pelayan itu menghidangkan pesanan mereka di meja. Samantha kembali memperhatikan adiknya ketika pelayan itu berlalu.

“Jadi?” desak Samantha seraya mulai menikmati hidanganya.

Jordan menghabiskan anggur di hadapanya dengan gugup. Baru kali itu Samantha melihat adiknya tampak gugup seperti itu.

“Aku,-” Jordan terdiam sesaat, “..aku mau minta maaf,“ sambungnya membuat Samantha termangu.

Mungkin sejak pertama kali mereka bertemu dan hidup bersama, baru kali ini Jordan meminta maaf padanya. Samantha tidak tahu harus curiga atau gembira dengan perubahan ini.

Apakah dia baru saja membentur sesuatu?

“Aku minta maaf soal pesta itu, soal koleksi sampagne kakekmu, soal beberapa perabot antik yang dihancurkan teman-temanku dan soal-soal lainya,” kata Jordan.

Samantha nyaris melompat memeluk adiknya. Dia terlalu bahagia mendapatkan di hadapannya kini bukan lagi seorang anak muda bandel yang sulit diatur, tapi benar-benar seorang bocah yang baru berusia 17 tahun, adik laki-lakinya yang manis. Samantha tidak tahu kenapa dadanya terasa meluap-luap dan matanya mulai memanas. Tanpa sadar dia mengusap matanya.

“Kau menangis??” pertanyaan Jordan menyadarkan Samantha.

Jordan mengamatinya dengan heran.

“Ti..tidak. Ada debu di mataku,” kilah Samantha berusaha terdengar normal.

Jordan mengangkat bahu.

“Mungkin aku memang keterlaluan. Aku ingin berbaikan denganmu.”

Samantha tersenyum.

“Aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Bagiku kau mau kembali itu sudah lebih dari cukup.”

Well, mungkin kita bisa membuat kesepakatan,” kata Jordan lagi. “Aku tidak akan membuatmu uring-uringan asal kau tidak mencampuri urusanku dan mengaturku.”

“Aku tidak bermaksud mengaturmu. Aku hanya ingin kau menjadi anak muda normal yang baik. Mengurangi pesta gilamu, tidak terlalu sering menghabiskan malammu di luar dan bermain gila dengan perempuan yang tidak jelas. Aku ingin kau serius dengan sekolah dan masa depanmu. Apa itu sulit?”

Jordan tidak menyahut. Dia memandang Samantha dengan mata biru kristalnya.

“Dengar, aku akan mencoba mengikuti kata-katamu tentang sekolah itu,” kata Jordan akhirnya membuat Samantha mengangkat alisnya. Tanpa sadar diremasnya jemari adiknya dengan lembut. Jordan memandangnya dengan ragu.

“Jordan, aku senang sekali mendengarnya. Aku yakin kau pasti bisa melakukanya.”

Jordan tersenyum sekilas dan menarik tanganya dengan jengah. Samantha tahu adiknya pasti tidak terbiasa dengan suasana sentimentil seperti ini.

“Ini patut dirayakan!” kata Samantha lagi dengan riang. Diraihnya gelas anggur di hadapanya. “Demi kebaikanmu !”

Jordan hanya menurut. Dia mengangkat gelasnya dengan canggung. Samantha tersenyum diam-diam melihatnya. Sikap Jordan malam ini benar-benar membuatnya tersentuh. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Oya,” kata Samantha lagi. “Aku menemukan sesuatu tadi.”

Samantha mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukan sebuah CD klasik yang masih terbungkus plastik dengan rapi. Tidak ada gambar musisinya disitu, namun sebebaris tulisan bertinta emas terukir di sampulnya. Ernest Dubois jr. Jordan kelihatan terkejut saat membacanya. Seasaat dia terdiam.

“Dari mana kau dapat ini??” tanya Jordan.

Samantha tersenyum.

“Aku tidak sengaja menemukanya. Itu kamu, kan? Aku baru sadar nama pianist ini sama dengan nama keluarga ibumu, keluarga bangsawan Perancis yang terkenal dengan dinasti pianis hebatnya,” kata Samantha. “Pantas tidak ada yang tahu kau dulu seorang artis.”

“Wanita itu tidak pernah mau mengakui namaku,” kata Jordan benci.

“Kapan rekaman ini dibuat?” Jordan mengamati CD itu sesaat.

“Waktu aku berumur 9 tahun.”

“Baiklah, aku akan mendengarkannya nanti,” kata Samantha seraya tersenyum lembut.

Sepertinya kita bisa memulai sesuatu yang lebih baik lagi sekarang

***************************

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer all
all at AOM 12 : Start All Over (7 years 33 weeks ago)

bagus loh.kok gak dilnjtn?

Writer eva_chan
eva_chan at AOM 12 : Start All Over (11 years 47 weeks ago)
100

Kyaaa XD bgus bgt ceritanya, walaupun aq agk susah ngafal nma'a soal'a bnyk bgt, tapi aq kgum ma senpai bsa bkin cerita yg sling nymbung-menyambung menjdi satu itulh Indonesia(loh?)

pokok'a bgus senpai, jgn lupa lnjutin yah :D

Writer pratminiwidyana
pratminiwidyana at AOM 12 : Start All Over (13 years 35 weeks ago)
80

Ketika tokoh Tailor masuk, mulai kalimat"Tay-tay!" Seru Mark suka cita" ke bawah arahnya gak jelas lagi, sama seperti yang diomongin Alfare sampeyan kehilangan kendali cerita. Terimakasih dah ngoreksi tulisanku ya...

Writer snap
snap at AOM 12 : Start All Over (13 years 35 weeks ago)
50

lakonnya banyak bgt ya...
trus kok saiya binun ya antara pemuda-gadis di awal cerita...
apa mode OON saiya sedang menyala? bentar liat dulu...

dadun at AOM 12 : Start All Over (13 years 35 weeks ago)
80

maaf terlambat.
ini belum saya baca. ya, untuk menambah point saja ^^
kirimin lagi dung emailnya^^

Writer bunghatta_crb
bunghatta_crb at AOM 12 : Start All Over (13 years 35 weeks ago)

Happy Birthday, semoga Allah menganugrahkan yang terbaik buat mba,
Salam hangat...

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at AOM 12 : Start All Over (13 years 36 weeks ago)

Iyak..iya..
ayo, komentarnya.
Yang detail dong..^^
Mari..mari..

Writer faradiba
faradiba at AOM 12 : Start All Over (13 years 36 weeks ago)
70

rada g mudeng.. hho

Writer kavellania
kavellania at AOM 12 : Start All Over (13 years 36 weeks ago)
80

masih ada lanjutanya lagi gak mbak????

Writer Alfare
Alfare at AOM 12 : Start All Over (13 years 36 weeks ago)
80

Tuh kan! Mbak Yosi juga mulai kehilangan kendali! Pada saat-saat begini, Mbak enggak punya pilihan selain bikin KERANGKA KARANGAN!

Menurutku, masalah utama cerita saat ini bukan enggak jelasnya cerita ini bakal ke mana, melainkan nggak jelasnya cerita ini tentang apa. Apa soal hubungan cinta nggak jlas antar remaja? Apa soal terwujudnya sebuah cita-cita? Atau cerita sederhana yang berfokus pada keluarga? Kurasa fokus pada cerita ini mesti lbih ditambah.

Tapi sejujurnya, aku lumayan menikmatin cerita sejauh ini. Mungkin Mbak cuma perlu sebuah model buat nentuin cerita ini mau jadi kayak apa. Gimana kalo baca komik ato nonton film drama?

Hehe, berusahalah.

Writer Shinichi
Shinichi at AOM 12 : Start All Over (13 years 36 weeks ago)
50

hmmmm...

jujur saia kebingungan mengikuti cerita ini..

emang dah di luar ini yah..
jadi, saia ngasih koment apa ya?

bingung

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at AOM 12 : Start All Over (13 years 36 weeks ago)
100

Bagian 1. PULANG
menurutku nuansa bahwa cerita ini bukan di indonesia sudah dapat. Hal ini bisa saya rasakan dari nama tokoh-tokohnya.
Namun dalam saat adegan cerita, terlalu banyak tokoh, sehingga pembaca agak susah memahami karekter tokoh utama (contoh ada si kembar Jess dan Ashley, Zoe, Zack, Mark, Clarke, Wayne,Vincent, Martha, Abigail dan sang tokoh Taylor).

Bagian 2. Are You Listening
Ceritanya mengalir. Ada tambahan tokoh Jordan Mc.Pherson dan kejutan bahwa mereka akan (bertemu?) Justine Watson (siapa itu?)

Bagian 3. Berdamai
Agak sedikit kurang nyambung antara judul dengan isi cerita. Lagi-lagi ada tokoh baru Samntha dan Kel. Hamilton.

Mungkin saya gak baca bagian-bagian yang lain. Tapi kesimpulanku, penulis Mas Yosi ingin membuat cerita dengan nuansa lain dan dengan berbagai tokoh yang terlibat dalam cerita seperti Harry Potter.