The Triangle Murder (Chap. II)

II

DUA orang polisi tanpa seragam formal sedang mengobrol di sebuah ruangan, sementara beberapa polisi berseragam, hilir mudik di ruangan tersebut.

Di luar, pegawai perusahaan Summer mencoba melihat ke dalam, sementara wartawan kriminal dari beberapa majalah ibu kota sedang memotreti depan ruangan tersebut, mencoba mencari celah untuk mengetahui berita yang ada di dalam. Berita mengenai pembunuhan itu cepat sekali tersebar, padahal baru beberapa jam berselang dan berita itu menyebar bagai butiran debu yang terbawa angin. Cepat sekali. Entah bagaimana caranya.

“Korbannya bernama Santi Triyani,” kata seorang polisi melaporkan hasil penemuannya. Wajahnya yang berminyak berkilat terkena cahaya lampu yang menjadi penerang di ruangan tersebut. “Diperkirakan dia meninggal sekitar pukul dua belas―siang ini,” ia melanjutkan.

“Apakah luka ini yang membunuhnya?” tanya Hendra Sucipto menunjuk sebuah luka bekas tembakan di dada wanita tersebut.

Pria itu terlihat lebih muda dari polisi sebelumnya. Ia merupakan seorang asisten inspektur yang memiliki dedikasi tinggi kepada pekerjaannya.

“Betul,” polisi itu menjawab cepat, “Peluru itu tepat mengenai jantungnya dan langsung menghentikan detakannya.”

“Apakah senjata yang digunakan si pelaku untuk membunuh korban sudah ditemukan?” tanya asisten inspektur itu.

“Belum. Kami belum menemukan senjata itu.”

“Kau tahu jenis peluru apa yang digunakan oleh pembunuh itu?” tanya sang asisten inspektur.

“Peluru itu terlalu dalam masuk ke tubuh korban. Berdasarkan hasil autopsi, korban ditembak dari jarak dekat.”

Hendra Sucipto terdiam. Mimik wajahnya tak berubah. Ia tengah berfikir.

“Mungkin disembunyikan di suatu tempat di ruangan ini?” katanya pada akhirnya.

“Tidak, itu tidak mungkin Pak. Kami sudah memeriksa segala penjuru ruangan ini, tapi senjata tersebut tidak ditemukan.”

Asisten inspektur itu mengangguk. Matanya menatap ke seluruh penuju ruangan, seolah-olah jawabannya jelas sekali tertulis di suatu tempat.

“Apakah kau sudah coba mencari senjata itu di tempat sampah atau semacamnya?” katanya bersuara. “Biasanya di tempat-tempat seperti itu, para pelaku kejahatan sering membuang barang bukti kejahatan mereka.”

“Saya akan memeriksanya segera Pak!” seru polisi itu. Ia kemudian beranjak pergi bersama dua orang polisi yang lain. Satu bertubuh gemuk, tinggi dan seorang lagi bertubuh kekar dengan kepala plontos.

Sekitar sepuluh menit kemudian, polisi tadi kembali dengan wajah bersinar. Bukan karena kumpulan minyak yang terdapat di wajahnya dan bantuan sinar lampu yang membuatnya bersinar, tapi karena keberhasilan. Tangannya yang dibalut sarung tangan karet membawa sebuah pistol.

“Kami menemukan ini di tempat sampah di toilet wanita,” jelas polisi itu. “Kami mendapatkannya di tumpukan sampah paling bawah.”

Seolah-olah seperti tuli, Hendra Sucipto malah bertanya, “Dimana kau temukan?” Tatapan matanya meneliti setiap lekuk pistol tersebut. Keseriusannya seakan-akan menghalangi kinerja indera pendengarannya.

“Kami menemukan benda tersebut di toilet wanita. Tepatnya di bawah tumpukan tisu-tisu toilet dalam tempat sampah.”
Layaknya seorang Inspektur, polisi itu coba menyimpulkan.

“Kalau begitu pelakunya mungkin saja wanita, sebab senjata itu ditemukan di toilet wanita.”

Hendra Sucipto menggeleng sambil menyunggingkan senyuman.
“Kemungkinan itu bisa saja terjadi, tapi bisa juga terbantahkan,” ia bersiap menjelaskan. “Mungkin pembunuh itu sengaja melakukannya untuk mengalihkan perhatian Polisi dan membuat kita berargumen bahwa pelaku yang membunuh Santi Triyani adalah seorang wanita,” jelasnya.

Sambil tersenyum, ia kembali berkata, “Sebaiknya kau lebih banyak belajar dari Inspektur Andrian dan Tommy Arthur Verdhana. Mereka adalah orang-orang yang hebat dalam masalah seperti ini.”

Hendra Sucipto berfikir, otak kirinya bekerja masih dalam taraf kewajaran.

“Tapi pendapatmu tadi ada benarnya juga, namun ada sedikit kesalahan,” katanya.

“Jika si pelaku jeli, dia tidak mungkin mengambil resiko yang sangat besar. Seumpama pelaku pembunuhan ini adalah seorang pria, dia tidak akan menyembunyikan pistol itu di dalam toilet wanita, tapi di toilet pria yang bisa digunakannya tanpa ada yang curiga,” Hendra Sucipto berhenti kemudian melanjutkan, “tapi sebaliknya jika dia menggunakan toilet wanita dia mengambil resiko yang sangat besar dan hingga dapat mempertaruhkan alibinya. Sewaktu-waktu bisa saja ada memergokinya di tempat itu dan kedoknya pasti akan ketahuan. Maka aku juga menarik kesimpulan yang sama denganmu. Pelaku pembunuhan ini adalah seorang wanita.”

Polisi tadi malah membusungkan dadanya, seolah-olah sedang menyombong kepada atasannya.

Sambil masih berfikir, Hendra Sucipto berkata, “Kini ruang lingkup penyelidikan kita mengenai pembunuhan ini sedikit lebih menyempit berkat penemuan yang tidak diduga ini. Kalau begitu adakah saksi yang ditemukan?”

Polisi di depannya mengangguk membenarkan. “Ada, tapi sebenarnya bisa dikatakan bukan saksi.”

“Maksudmu?” Hendra Sucipto heran.

“Namanya, Jumadi―salah satu office boy di perusahaan ini. Dia adalah orang yang pertama kali menemukan mayat Santi Triyani.”

“Dimana dia sekarang?” tanya Asisten Inspektur Hendra Sucipto tak sabar.

Polisi itu langsung menjawab tanpa basa-basi. “Sekarang dia sedang dimintai keterangan berkenaan dengan kasus pembunuhan ini.”

“Sebaiknya kita ke sana. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya.”

Polisi tersebut menyanggupi. “Baik, Pak.”

***

Pria itu masih sangat terguncang. Raut wajahnya yang cekung dan hidung pesek yang terlihat kecil dapat menegaskan itu semua. Tanganya yang kurus tampak gemetar. Matanya yang besar tidak tampak bahagia dengan setiap pertanyaan. Ia duduk di sebuah kursi menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan seorang polisi dengan terbata-bata.

“Apakah kamu yang pertama kali menemukan mayat Santi Triyani?” tanya Hendra Sucipto dengan suara datar.

“Sa... saya rasa begitu, Pak,” jawabnya ketakutan. Ia merasa dirinyalah pembunuh itu yang sekarang.

“Apa maksudmu?” tanya Hendra Sucipto bingung.

Jumadi mengulangi, “Saya juga tidak begitu tahu kalau sayalah yang pertama kali menemukannya. Tapi sewaktu saya sedang menyapu, tidak jauh dari ruangan itu, saya mendengar ada suara pintu dibanting keras.”

“Sekitar jam berapa kamu mendengar suara itu?” Hendra Sucipto kembali bertanya namun pertanyaan kali ini, ia terlihat sangat antusias.

Jumadi terdiamsedang berfikir dan mengingat-ingat kembali tepatnya. “Sekitar jam 12. 40.”

“Bukankah sekitar jam itu para pegawai sudah kembali dari istirahat siang. Mungkin saja ada orang yang melihatnya?” kata Hendra Sucipto.

“Itu tidak mungkin Pak!” celetuk orang Jumadi, “Soalnya kantor ini kosong dan semuanya pergi untuk beristirahat. Di kantor ini jam istirahatnya berbeda, yaitu sekitar pukul 12.00 hingga pukul 13.00.”

“Tunggu jam berapa diperkirakan kematian korban?” tanyanya kepada polisi di sebelahnya saat ia mengingat sesuatu.

“Sekitar jam dua belas lewat tapi yang jelas berdasarkan data dari tim forensik yang memeriksa mayat korban, beberapa menit kemudian korban tewas.”

“Kalau begitu korban tewas jam dua belas lewat, sedangkan suara pintu yang terdengar itu sekitar pukul 12.40. Ini aneh. Untuk apa si pelaku berada di tempat itu selama selang waktu yang tersisa? Apa yang dia lakukan di sana?”

“Iya, saya juga merasa ada yang aneh,” ujar polisi itu setuju.

Hendra Sucipto kembali menyelidik. “Apakah kamu melihat seseorang yang mencurigakan?”

“Bukan orang yang mencurigakan, tapi aneh saja tadi Ibu Helena ke toilet dengan wajah yang ketakutan dan sesudahnya dia buru-buru pergi.”

Hendra Sucito mengurai senyuman dan matanya bersinar terang seolah-olah tersusun oleh kilauan berlian.
“Kira-kira jam berapa dia ke toilet itu?”

Jumadi dengan ragu memperbaiki posisi duduknya. “Saya tidak tahu pastinya. Mungkin sekitar jam 12.20, soalnya sebelum saya menyapu di tempat sekitar toilet itu, saya pergi makan siang jam 12.15.”

Wajah asisten inspektur itu kembali ke kondisi semula, kembali ke bentuk yang lebih berwibawa.

“Jadi kalau begitu, kita bisa membuat rincian kejadiannya sekarang,” katanya. “Helena di sini mungkin saja akan menjadi tersangka utama atas pembunuhan ini. Pertama-tama dia pergi ke ruangan korban, bersembunyi menunggu Santi hingga datang. Tampaknya dia juga megetahui bahwa ruangan kantor itu jarang dikunci oleh korban. Lalu setelah Santi membuka pintu, Helena langsung menembaknya. Kemudian, dia buru-buru ke toilet wanita untuk membuang pistol di tempat sampah, sebab tempat itulah yang paling aman yang sempat terpikirkan olehnya saat itu. Semua pegawai istirahat pada jam itu, jadi tidak ada yang masuk toilet. Tapi...” jelas Hendra Sucipto tiba-tiba terputus.

“Tapi apa, Pak? Bukannya semuanya sudah jelas?” Polisi tadi ikut-ikutan serius. “Lagipula, tadi kita sudah sempat mengambil kesimpulan bahwa yang membunuh korban adalah seorang wanita. Ini semua sudah jelas. Pembunuhan ini memang dilakukan oleh wanita itu.”

“Kau mungkin masih baru di pekerjaan ini. Jangan lupa tentang suara pintu itu. Bagaimana kalau itu menandakan bahwa ada orang lain di dalam ruangan itu selain Helena dan mungkin saja bukan Helena yang membunuh korban. Dia mungkin hanya dijebak oleh si pelaku sebenarnya. Kita harus mencerna baik-baik semua penemuan yang kita dapatkan satu persatu... ingat―satu persatu.”

Polisi itu terdiam tak bisa berkata-kata, entah malu atau mengerti perkataan yang disampaikan kepadanya
“Maafkan saya, Pak,” katanya kemudian.

***

Sinar matahari yang terik, berkilat dari balik kaca tebal di setiap jendela kantor. Sinar itu memancarkan cahaya kekuningan bercampur jingga yang terang. Kantor Summer masih diliputi oleh bayang-bayang kejadian kemarin, kejadian yang membuat setiap orang terguncang dan beberapa dari mereka masih tetap saja membicarakannya dan tak lupa menambahkannya dengan berbagai bumbu penyedap yang selalu menyertai setiap ucapan mereka.

Beberapa polisi masih hilir-mudik di kantor tersebut. Bertanya ke setiap pegawai yang mempunyai hubungan dekat dengan Santi Triyani, baik sebagai teman dekat atau hanya sebatas teman kerja. Santi dan Helena juga dimintai keterangannya. Penelusuran informasi lebih difokuskan kepada Helena, sebab wanita itu dulu merupakan teman baik Santi Triyani dan juga dicurigai merupakan tersangkan pembunuhan ini.

Office boy yang kemarin dijadikan saksi atas penemuan mayat Santi Triyani―Jumadi, tiba-tiba menjadi sangat terkenal di kantor Summer, layaknya seorang selebriti. Setiap jam bahkan setiap menit ada saja yang ingin mendengarkan penuturannya. Tapi beberapa dari pendengarnya mendengus tidak puas akan cerita tersebut. Mereka ingin tahu lebih detail lagi. Siapa tahu dapat dijadikan bahan gosip saat istirahat kerja tiba.

“Hai apa kabar!” sapa Helena kepada Nagita yang tidak sengaja ditemuinya saat akan menaiki tangga menuju ke lantai atas.

Hanya mereka berdua yang ada di lorong tersebut. Pajangan poster serta beberapa kertas pemberitahuan tertempel di dinding kayu beralaskan sterofom hijau dengan penutup kaca berukuran persegi panjang. Nagita memandanginya sejenak. Tatapan sinis terpancar dari matanya yang tegas dan sigap seperti burung elang.

“Aku baik-baik saja,” katanya dengan suara ditekan.

“Kamu tidak mengikuti pemakaman Santi?” tanya Nagita kemudian.

Helena tidak menjawab dan hanya terdiam, tak berani memandang mata atasannya itu, seolah-olah mata itu ingin melukainya dan menelannya bulat-bulat.

Tak berhasil mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Nagita kembali bersuara, “Bukankah dia adalah temanmu? Maksudku sahabat baikmu?”

“Bukan... dia bukan sahabatku,” ujar Helena.

“Memang dulu kami sering bersama. Berbagi suka dan duka bersama-sama, tapi setelah dia melakukan perbuatan licik seperti itu, aku tidak mau lagi menjadi sahabatnya. Entah mengapa sifatnya berubah drastis dan menjadi gila harta―gila kekuasaan hingga seperti ini. Memang benar kata orang-orang bahwa kita tidak bisa melihat orang dari luarnya saja, pasti ada sesuatu yang tersembunyi dalam hatinya, jika bukan niat baik pasti niat jahat.”

Nagita masih mengurai senyum. “Biar bagaimanapun dia tetap sahabatmu. Apa kamu tidak merasa kehilangan dia?”

Helena menggeleng. “Sedikit pun aku tidak sedih kehilangan orang yang menghianati kepercayaanku itu selama ini. Sekarang orang-orang jahat di kantor ini makin berkurang. Bukankah kamu juga senang kalau Santi meninggal,” celetuk Helena sinis.

Bagai mendapat serangan balik, Nagita kaget. “Apa maksudmu, Helena?”

“Sudah jelas bukan...” ujarnya sambil menegakkan bahunya. Terbersit sebuah senyuman buas dan licik dari balik bibirnya yang ranum. “Dia sangat menginginkan posisimu sebelum dia meninggal. Dia melakukan apa saja untuk merebut jabatan itu darimu, seperti yang telah dia lakukan padaku. Tapi sekarang dia sudah mati dan tidak ada lagi orang jahat seperti dia yang membuat jabatanmu itu terancam. Bukankah itu yang membuatmu senang.”

Nagita tidak berkomentar apa-apa. Mukanya memerah menahan amarah yang sedari tadi disembunyikannya di balik senyumannya yang terlihat ramah. Tiba-tiba ponsel Helena berbunyi nyaring. Sebuah lagu dari band pop ternama Indonesia menjadi ringtone ponselnya.

--------

Kupetik bintang, untuk kau simpan
Cahayanya tenang berikan kau perlindungan
Sebagai pengingat teman
Juga s’bagai jawaban
Semua tantangan

--------

Ekspresi wajah Helena langsung berubah gembira saat melihat nama orang yang meneleponnya. Helena membalikkan badan bermaksud menyembunyikan ekspresinya, kemudian membuka pembicaraan dengan suara lembut yang dibuat-buat. Pembicaraan itu berakhir dua menit kemudian dan sebuah kecupan jauh terdengar mesra di telinga Nagita yang sedari tadi menguping di belakangnya.

“Itu Roman ‘kan?” tanya Nagita.

“Ya. Memang betul tadi itu Roman yang menelepon,” jawab Helena kemudian mengernyit. “Memangnya kenapa? Kamu cemburu ya?”

“Oh! Tidak ada apa-apa. Buat apa aku cemburu. Aku turut bahagia kalian bisa bersama,” katanya dengan suara pelan, lalu mereka berpisah dengan membawa bongkahan kebencian masing-masing yang sewaktu-waktu akan dikeluarkan.

Jumadi sedang menyeduh secangkir kopi ketika Nagita masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Eh, Ibu!” serunya kaget. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

Sambil menyerahkan sebuah botol orange juice terbuat dari plastik, Nagita berkata dengan suara agak berbisik.

“Tadi saya sempat keluar sebentar dan Helena menitipkan uang kepada saya agar uang tersebut di belikan jus ini. Katanya dia ingin minum orange jus ini. Saya tidak sempat memberikan jus ini kepadanya sendiri sekarang, karena saya harus menghadiri rapat penting, jadi tolong kamu berikan padanya, jangan lupa ya...”

Jumadi mengangguk sekali sambil menerima botol berisi jus tersebut.

“Ini ada sedikit uang buat kamu.” Dua lembar uang seratus ribuan yang baru diambilnya dari kantong jasnya langsung diterima Jumadi.

“Te... terima kasih Bu! Nanti saya antarkan kepada Bu Helena,” kata Jumadi mengakhiri pembicaraan. Diapun melanjutkan kembali membuat kopi yang tadi sempat tertunda pesanan pegawai lain.

Helena sedang menggambar sesuatu di atas kertas gambarnya dengan pensil yang dibiarkan tidak diraut terlalu tajam, maksudnya untuk mendapatkan arsiran garis yang terbaik. Gambar sebuah gaun pesta setengah jadi dengan belahan pada sampingannya menghiasi kertas gambar yang tadinya polos itu.

Ia bersiap mewarnai desain itu ketika Jumadi datang membawa sesuatu.

“Bu, ini yang tadi ibu pesan,” kata Jumadi langsung menyuguhkan segelas orange juice kesenangan Helena.

Helena menekuk alis matanya, sementara sebelah matanya disipitkan.

“Jus jeruk...? Saya tidak minta dibuatkan ini,” katanya heran.

Jumadi yang sekarang terlihat kebingungan. “Bukannya tadi ibu minta dibuatkan ini?”

Helena tetap kokoh pada sikapnya semula. “Tidak... saya tidak minta jus jeruk. Memangnya siapa yang memberitahumu?”

“Tadi ibu Nagita bilang, katanya Bu Helena mau dibuatkan jus jeruk,” Jumadi menambahkan, “Dia juga yang mengantar botol jusnya sendiri. Dia bermaksud mengantarkannya sendiri ke ibu tapi karena ada rapat penting jadi Bu Nagita menyuruh saya untuk mengantarkannya.”

Apalagi yang diinginkan wanita itu? Ada-ada saja, batin Helena berbisik.

Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya. “Kalau begitu taruh saja gelas itu, nanti saya akan meminumnya setelah pekerjaan ini selesai. Kebetulan cuaca hari ini sangat panas.”

“Terimakasih ya, Madi!” ujar Helena.

Cuaca siang itu memang terasa sangat panas, bagai berada di gurun pasir tanpa perlindungan dari cahaya matahari yang kian menyengat kulit. Walaupun AC sudah membatu, namun tetap saja hawa panas yang sedari tadi merasuk ke dalam ruangan lebih kuat.

Tanpa sengaja Helena memandangi gelas di depannya. Embun berupa titik-titik air sudah memenuhi luar gelas tersebut sehingga membuat genangan air yang kecil di bawahnya. Es yang tadinya berukuran kotak sudah mencair dan sekarang hanya meninggalkan bongkahan es kecil tak berbentuk.
Helena sudah tidak tahan lagi. Kebetulan minuman yang sedari tadi ada itu terus menarik perhatiannya, dan kebetulan juga tenggorokan serta bibirnya terasa kering.

Dengan sikap tanpa curiga, Helena meminumnya. Seketika hausnya terobati, dahaganya hilang sambil menghembuskan napas puas. Tapi tiba-tiba kepalanya pusing, tenggorokannya terasa dicekik, sehingga napasnya berat. Beberapa detik kemudian, Helena susah bernapas. Ia memegangi lehernya, berharap organ-organ di dalam tubuhnya bisa menjalankan fungsinya seperti sebagaimana mestinya. Namun sekarang sudah terlambat. Tubuhnya langsung limbung, terjatuh dari kursinya.

Orang-orang muncul dengan ajaib, mengelilingi tubuh Helena yang tidak berdaya lagi. Salah seorang di antara mereka maju kemudian mengecek detak nadi di pergelangan tangan gadis itu.

“Di... dia sudah mati,” katanya ketakutan.

Semua pegawai histeris, dan jumlah orang yang berdatangan makin bertambah banyak. Helena tewas entah apa penyebabnya.

>>Bersambung<<

Read previous post:  
240
points
(6 words) posted by abc 14 years 42 weeks ago
72.7273
Tags: Puisi | horor | kematian | takdir
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer laz_chester
laz_chester at The Triangle Murder (Chap. II) (14 years 24 weeks ago)
90

aq perlu belajar dari anda rupanya

cerita yang menarik...

apakah pembunuh ke 2 nya adalah nagita???
atau ada orang lain d balik ini semua???

Writer andrea
andrea at The Triangle Murder (Chap. II) (14 years 25 weeks ago)
80

Kirain, TKP selesai di bab 1. Ternyata masih ada darah tertumpah.

Beberapa kelucuan: Peluru 'terlalu masuk' ke tubuh korban yang 'sudah' diotopsi «par.10»; 'Santi' dan Helena juga dimintai keterangannya «par.59».

Bai-de-wei, polisi selalu mengharapkan pelaku membuang senjata setelah ngedor, ya? Kalo ya dan gue pembunuhnya, mending gue buang di jamban. Lebih lanjut, sepertinya uji balistik tidak terlalu penting buat kepolisian di dalam cerita ini, padahal senpi bisa beredar bebas karena kalo enggak, bahwa Santi terbunuh pake beceng itu sendiri udah bisa jadi _headline_.

Bikin sesuatu yang lebih _hardboiled_, dong. Coba kalo Hendra Sucipto nimbrung ke obrolan Nagita dan Helena, dan dia yang nyeruput jus jeruknya. Pasti lebih lucu.

Gue masih berspekulasi, minimal Roman terlibat. :D

Writer zeolitha_22
zeolitha_22 at The Triangle Murder (Chap. II) (14 years 25 weeks ago)
100

keren banget critax....
saluut nii ma kmu bs nulis crita bagus kayak gini...ak tggu lanjutannya

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at The Triangle Murder (Chap. II) (14 years 26 weeks ago)
90

Ceritanya seru, apresiasiku 9.
Apakah Helena tewas diracun? atau masih ada lanjutannya?

Jempol deh untuk cerita misterimu.

Writer maganda_xxx
maganda_xxx at The Triangle Murder (Chap. II) (14 years 26 weeks ago)
80

aku penggemar berat komik CONAN. kalo cerita-cerita kamu dijadiin komik, mungkin jadi lebih asik. jadi nggak perlu bayangin. he.. he..