Papa Baru (Om Dadun dan Toko Buku Kemudian)

“Om, aku nggak mau punya papa baru,” isak Ananda dalam dekap hangat Om Dadun. Hampir tidak ada kalimat lain lagi yang diucapkan Ananda selama kurang lebih setengah jam ia bersedu-sedan sejak mengetahui bahwa ada dua foto lelaki selain Papa KD dalam kamar Mama Nisa. Siapa tahu, salah satu dari merekalah yang malam ini tengah mengencani dan merayu Mama Nisa.

“Ananda sayang, Papa KD itu sudah cukup sempurna di mata Mama Nisa. Ia seorang prajurit negara, sekaligus prajurit cinta yang pantang menyerah. Awalnya, memang Mama Nisa mengaku kurang suka dengan Papa KD karena kenarsisannya yang luar biasa. Tetapi, lama kelamaan, Mama Nisa luluh juga,” papar Om Dadun sambil tetap serius membaca ‘Cerita Pendek untuk yang Anunya Tidak Pendek’, sebuah buku kumpulan cerita karya penulis Dadan Erlangga yang baru dipinjamnya dari toko buku Kemudian.

“Om Dadun ini bisa dibilang sebagai saksi mata kisah asmara mereka berdua,” lanjut Om Dadun. “Dulu, om sering melihat mereka pacaran di bawah pohon duren, juga di toko buku Kemudian waktu awal pertama dibangun. Kadang, Om Dadun-lah yang membalas surat cinta untuk Papa KD kalau penyakit malas Mama Nisa sedang kambuh.”

Zzz... Zzz...

Om Dadun selalu juara dalam menidurkan Ananda. Padahal, barusan ia tak sedang mendongengkan kisah 1001 malam atau cerita klasik putri raja dan pangeran. Om Dadun hanya seorang pendiam yang kalau sudah mulai bicara tak bisa dihentikan, dan terkadang cukup membosankan karena kekakuan bahasanya.

Digendongnya tubuh mungil Ananda hingga ke dalam kamar. Nampak wajah polosnya yang begitu lelah dengan sisa-sisa tangis dan keringat yang mengkilat ketika ia terbaring di tempat tidurnya. “Selamat malam, anak manis,” bisik Om Dadun sambil mengecup kening Ananda. “Papa KD pasti pulang. Sementara, biarkan ia singgah di mimpimu.” Om Dadun pun menaikkan selimut hingga ke dada Ananda.

Oh, betapa ia sangat menyayangi keponakannya meskipun ia kerap diisengi bocah jahil itu.

“Dudulz itu artinya MANIS, Om, seperti dodol,” terang Ananda suatu ketika, saat Om Dadun menanyakan arti kata dudulz padanya. Maka, ditertawakanlah Om Dadun waktu bilang kue cucur buatan Mama Nisa rasanya dudulz sekali. Om Dadun juga pernah dikunci di dalam kamar mandi selama hampir sejam karena kejahilan Ananda. Sudah sering pula kue cucur Om Dadun ditukar Ananda dengan surabi. Om Dadun juga pernah dibuat ge-er dan deg-degan dengan SMS dari seseorang yang mengaku pengagum rahasia, yang ternyata Ananda si jahil. Dan masih banyak hal iseng dan jahil lainnya yang sukses dilakukan bocah enam tahun itu pada omnya yang sudah berkepala dua itu.

Semua itu cukup menjelaskan siapa Om Dadun. Pemuda cupu dan kaku yang lugu dan kutu buku itu kerap menghabiskan sisa waktu luangnya di toko buku Kemudian. Baginya, toko buku itu selayak Las Vegas bagi para penggila judi. Di sana, ia bisa membaca beratus-ratus karya penulis kaliber dunia dan akhirat, tanpa perlu membelinya. Ia amat tergila-gila dengan karya Hanny Splinters yang sederhana namun sempurna, terpukau dengan karya Windri Ramadhina yang cerdas dan perfectionis, dan merinding saat membaca Hujan-nya Ayu Prameswary.

Hampir setiap hari Om Dadun selalu menyempatkan diri datang ke sana, tentu saja hanya untuk membaca-baca di tempat, sekadar mencari inspirasi untuk menulis lagu. Sebagai pemuda yang masih menganggur dan hidup menumpang di rumah sang kakak, Om Dadun tak punya dana tambahan untuk membeli buku. Jeng Tiva, istri sang pemilik toko buku Kemudian sering kali memajang wajah kecut saat melihat Om Dadun di tokonya. “Ini bukan perpustakaan!” peringatan itu banyak ia tempel di dinding tokonya. Meski demikian, Om Dadun berusaha bermuka tebal. Ia tak jera untuk tetap datang. Dan, untungnya, ia kenal baik dengan Yosi Hanson, salah seorang pegawai di sana yang tergila-gila dengan grup musik Kangen Band. Cukup dengan sogokan CD Kangen Band, Om Dadun diperbolehkan menyobek segel plastik buku-buku baru agar dapat dibaca di tempat, bahkan sesekali boleh meminjamnya.

“Kenangan Abu-Abu-nya Winna Efendi, I Always Love You-nya Sefryana Chairil, atau...” dengan baik hatinya, sore itu, Yosi Hanson menawarkan buku-buku new realase pada Om Dadun.

“Yang ini aja,” Om Dadun memilih buku pertamanya Dadan Erlangga yang berjudul Cerita Pendek untuk yang Anunya Tidak Pendek itu. “Judulnya aneh!”

Di toko buku Kemudian, Om Dadun tak hanya bertemu dengan buku-buku tebal yang membuat kacamatanya semakin tebal, atau dengan pegawai murah hati bernama Yosi Hanson yang membuat mukanya semakin tebal. Di sana juga ada seorang calon rock star yang melankolis bernama Rangga Mahesa yang selalu mencari inspirasi untuk lagu-lagunya dari novel atau pun roman. Ada Cassle dan Panah Hujan, anak-anak SMA ceria, calon penulis terkenal yang rajin membeli novel. Sesekali mampir fotografer bernama Ivan Creativeway13th yang menganggap Om Dadun figur yang cukup unik untuk diabadikan dengan kameranya. Ada Nirozero, penjual cakue yang biasa mangkal di depan toko buku Kemudian. Hingga orang gila yang sewaktu-waktu datang, Wehahaha.

Jika kebanyakan anak seusianya lebih suka nongkrong di kafe-kafe atau tempat-tempat gaul lainnya, maka Om Dadun sudah merasa hidupnya cukup sempurna hanya dengan mengunjungi toko buku Kemudian. Di sana, Om Dadun yang sulit bergaul itu, ternyata bisa menemukan segalanya. Teman-teman. Sahabat. Dan, cinta.

Hm, tadi sore, gadis itu datang lagi, untuk yang ketiga kalinya. Ia sempat berpapasan dengan Om Dadun yang hendak ke luar. Om Dadun selalu tak karuan saat dekat gadis itu. Ada getaran-getaran hebat yang merambat di dadanya. Yang membuat malam-malamnya terasa lebih panjang dan berbintang dari sebelumnya. Yang membuat langit siangnya berpelangi. Dan, yang membuat jiwanya merasakan betapa indahnya mengagumi.

Ah, tetapi, gadis itu tidak datang sendiri sore tadi. Ada seorang lelaki mendampinginya, yang nampak lebih tua darinya. Om Dadun merasa tak asing dengan wajah lelaki itu. Seingatnya, lelaki itu pemilik sebuah distro yang cukup terkenal.

Bahkan, beberapa saat yang lalu, Om Dadun baru saja melihat wajah lelaki itu lagi. Diraihnya kembali dua foto lelaki yang tadi diperlihatkan Ananda padanya. Ya, lelaki itu, Bang Imrul.***

Ada hubungan apa Bang Imrul dengan gadis pujaan hati Om Dadun? Dan, apa pula hubungan Bang Imr dengan Mama Nisa? --silakan disambung--

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

kalo tulisan saia di atas rata-rata seperti kata Om. berarti tulisan Om ini karya senior kelas tinggi neeh! Ahak...hak..hak...
Gimana yah, Om? Cerita ini gokil, lucu dan fresh dalam bahasa Batakna :D. Tapi, tetap ga kehilangan keseriusannya. Ckckckck..

Btw, TB Kemudian, memang menyediakan tulisan-tulisan yang boleh dibaca secara bebas. Tulisan-tulisan saia juga ada di TB kemudian. (baca. situsna. Ahak...hak...hak...)

Oh! Makasiy juga atas komentarna. Sebagai OP, saia menikmati pekerjaan ini dan cerita itu adalah campuran kisah nyata dan sedikit bumbu biar ga asem kalee :D

Tentang Shin, Hehehe. Emang gitu yak? Baru nyadar saia setelah baca koment Om. OKeh, akan saia tingkatkan biar bisa sehebat Om. Dan soal burung merpati di undangan pernikahan. Kejadian itu ada di tahun-tahun lama. Jadi, Shin punya ingatan tentang itu. Tau deh! Bingung juga saia. Hehehe

Once again, Thanks a lot, Om...

100

huuwaaaaaaa keren bangettt,
mantap kaleee

jadi kenal ma familynya k.com
top abis pokoknyaa

asyiknya baca cerita berlanjut seperti ini ...

^_^

80

nah ini baru matappp

Ceritanya emang ringan dan enak banget.

Lanjutt

Writer KD
KD at Papa Baru (Om Dadun dan Toko Buku Kemudian) (12 years 47 weeks ago)
100

trima kasih

90

so funny,,,

100

wiih keren!! mantapp!

100

aduh bung... kapan sih gak ngelawak? huahahahahahahahahaha!!!

90

Dun-dun. . .

ente harus belajar ngelawak lagi sama ane dun. Hihihi. . . .

Tapi, ilmu duduls kemarin yang aku kasih udah dilaksanakan yak! Bagusss. . . .

100

wah si om dadun emang nyambung ya ponakan sama toko buku kemudian haahaha...
bisa ajah si om ini menggambarkan kemudian.com dalam satu wadah bernama cerpen dengan kemasan komedi yang membuat aku nyengir abis kayak kuda lumping halahh....
dicerita berikutnya jangan lupa ya om masukin nama "KAVELLANIA" hahahaha (pengenya tuh)... ^_^

90

daduN haseuM...

ini maH naRses pisaaaaaaNNN...
pRomosi de Lw disiNi..

huehuehue..
manTabh duN..

btw, cinTa Lw..?? nyang mana??

80

bagus...bagus...
aku mau tunggu selanjutnya..

80

Ealah...bisa2an aja nih bikin kayak gini.

Udah baca serius2 penasaran gitu, kalimat terakhirnya...menyakitkan hati!

90

kalo dudulz artinya manis, my_bro sama cibo pasti paling dudulz!! ^_^

90

bagusss banged nyaang ini...

^^

campur aduk,

manis,

santai,

lucu,

imud,

kocak,

narsis,

dll.

lengkaappp....
sip, om ^^

hahahaha...

70

dadun........ =))

80

rapi banget tulisan Dadun. RIngan-ringan asyiiik... enak euy

100

Kekkekek........ tambah ruwet aja kisah cinta mereka

100

huiii ... mantap OM Dundun.

hayah ... defenisi dudulz di masukan. hahahhahah.

ayoookkk ... Pak Imrul, nampaknya dirimu harus melanjuutkan

80

hahaha, dikirain serius..taunyah...

80

Lucu dun. walopun endingnya kaya cerita detektif, "ada apa antara...".

90

Daduuunn.. dirimu bisa aja! hahaha..
keren bgt ini. sungguh...

80

upu iyu si dadun itu cupu, kaku, lugu, kutu buku, dan suka ngabisin waktu di toko buku???

huhuhuhuhh....