Wind of Festival

-2005, Festival SMA Cretin ke-47…
“Alice!” panggil Nina dari lantai 2 gedung SMA. “Aku segera ke bawah!”
“Ya!” Alice menyahuti Nina.
30 detik kemudian, Nina sudah berdiri di belakang Alice, membantunya dengan mendorong kursi roda milik Alice. Nina berhenti di stand yang diinginkan Alice dan membantunya membeli barang.
“Maaf ya, Nina,” kata Alice saat berhenti di stand buku-buku kedokteran, “aku jadi menyita waktumu.”
“Tenang saja,” Nina menjawab dengan santai. “Aku memang sedang senggang.”
“Aku benar-benar tidak mengalami kemajuan apa-apa,” Alice tertunduk lemas.
“Kau mengalami kecelakaan parah itu bukan maumu, Alice,” hibur Nina sembari mendorong kursi roda kembali.
“Tetapi sudah 2 tahun begini. Aku juga tidak bisa bermain basket lagi,” Alice menitikkan air matanya.
“Alice,” Nina menghentikan kursi roda dan ikut sedih.
“Sedang apa kalian di tengah jalan?” tegur Elly keras.
“Elly!” Nina terkejut.
“Kalian menghalangi jalan,” Elly menatap Alice tajam.
“Bicaramu kasar sekali! Kau kan bisa membantu Alice! Dia ini saudara kembarmu!” seru Nina.
“Maaf saja. Aku punya urusan lain yang lebih penting,” Elly meninggalkan Alice dan Nina.
“Elly!” panggil Nina.
“Biarkan saja!” ujar Alice. Ia mengepalkan tangannya karena marah.
“Dia buka siapa-siapaku!” kata Alice ketus.

~Wind of Festival~

--2006, Festival SMA Cretin ke-48…
“Aku masih tetap merepotkanmu tahun ini, Nina,” kata Alice sementara Nina mendorong kursi rodanya mengitari sekolah.
“Tidak apa-apa,” jawab Nina dengan senyum.
“Elly tetap tidak peduli ya?” Nina menerawang.
“Aku tidak peduli dengan dia,” gumam Alice.
“Kalau bukan karena dia,” Alice mengepalkan tangannya, “aku tidak akan duduk di kursi roda ini. Kalau dia tidak melepaskan tanganku saat aku terjatuh di tepi jurang, aku masih bermain basket. Kalau dia berjuang lebih keras kakiku tidak akan…”
“Alice, kau masih hidup pun harus kau syukuri. Elly pasti tidak bermaksud…,” belum selesai Nina bicara, Alice langsung memotongnya.
“Dia sengaja! Dia iri denganku; semua bicara begitu Setelah kecelakaanku, dia menjadi yang nomor 1; dia menggantikanku. Sikapnya yang seperti itu membuktikan semuanya!”
“Alice, kau tidak boleh berpikiran seperti itu!” tegur Nina.
“Itu memang benar!” seru Alice.

~Wind of Festival~

---2007, Festival SMA Cretin ke-49…
“Ini tahun terakhir kita di SMA ini ya,” kata Nina.
“Ya, kita akan lulus tahun ini,” ujar Alice.
“Kita harus menikmatinya!” seru Nina.
“Betul, aku senang sekali diterima di sekolah ini meski keadaaku cacar begini,” kata Alice.
“Oh ya, ngomong-ngomong, aku tidak melihat Elly dari tadi,” Nina melihat sekeliling.
“Biarkan saja. Mungkin dia sudah mati,” gumam Alice dingin.
“Alice!” tegur Nina. “Jangan bicara begitu!”
“ALICE” Lex, Ketua OSIS SMA Cretin, berlari ke arah Alice dan Nina. Nafasnya tersengal-sengal saat mengucapkan kabar buruk yang baru ia dengar dari telepon.
“E-Elly… Di-dia… Dia mengalami kecelakaan mobil.”

***

---2007, Rumah Sakit Epholuce…
“Alice!” ibu Alice bau tiba di rumah sakit dan menghampiri Alice yang didampingi Nina di depan ruang UGD.
“Bagaimana Elly?” tanya ayah Alice yang juga terlihat cemas.
“Keadaannya buruk tapi dokter akan berusaha,” Nina menjawab.
“Aku tidak peduli,” kata Alice tegas, “kalaupun dia mati.”
“Alice!” bentak ibunya. “Bicara apa kamu?!”
“Ibu,” Alice menatap ibunya, “dia juga hamper membuatku mati 4 tahun lalu. Elly membuatku kehilangan harapan hidupku!”
“PLAK!” ibunya menampar Alice.
“Alice…,” nada bicara ibu Alice bergetar, “kamu tidak tahu aa-apa!”
Ayahnya membelai punggung ibu Alice dan berkata, “Alice, ayah dan ibu tidak memberitahukanmu hal ini tapi sekarang kau perlu tahu. Elly tidak mungkin sengaja membiarkanmu terjatuh. Tulang tangan kanan Elly tidak mampu menahan berat berlebihan karena kurangnya kalsium sejak lahir. Inilah alasan mengapa ia menolak ikut aktivitas olahraga dan memilih jalur musik. Itulah mengapa ia melepas tanganmu. Dia sama sekali tidak bermaksud sengaja.”
Alice terdiam sejenak sebelum berkata, “Bohong! Setelah kecelakan itu dia menjadi nomor satu di segalanya dan sikapnya yang kejam padaku… BOHONG!”
“Itu benar, Alice!” kata ibuya. “Elly meminta kami menyembunyikannya. Ia menjadi yang terbaik menggantikanmu karena dia benar-benar merasa bersalah. Sikapnya itu demi membuatmu benci dan dendam padanya. Alice, Elly menopang beban yang berat karena rasa bersalah padamu dan kau mengharapkan kematiannya?!”
Alice kehabisan kata-kata.
Air matanya menetes.
Pintu ruang UGD terbuka dan dokter pun keluar. Orang tua Alice menghampiri dpkter dan menanyakan keadaan Elly.
“Anda berdua orang tuanya?” Tanya dokter.
“Betul, dokter,” jawab ibu Alice panic. “Bagaimana keadaannya?”
Dokter itu menggelengkan kepalanya, “Maaf. Kami sudah berusaha tapi lukanya terlalu gawat.”

~Wind of Festival~

----2008, Festival SMA Cretin ke-50…
“Alice, festival tahun ini cukup menarik. Aku bangga lulus dari sekolah ini!” ujar Nina sambil mendorong kursi roda Alice.
“Ya,” jawab Alice singkat.
“Eh?” Nina tampak bingung. “Aku baru sadar. Kau mengenakan pita berwarna hijau hari ini. Biasanya kau mengenakan warna biru kan?”
“Ya,” kata Alice, “hanya untuk hari ini.”
“Ah,” Nina menepuk dahinya. Itu warna favorit ‘dia’ ya?”
“Benar,” Alice menatap langit.
“Untuk Elly.”

-The End-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Gardhu
Gardhu at Wind of Festival (15 years 23 weeks ago)
60

Yap, seperti dijelaskan di bawah, cerita ini kurang dalam menyampaikan rasa, nuansa dan emosi. Kurasa, cerita ini lebih cocok dijadikan drama (lakon), karena dengan drama, kita bisa mengetahui detil-detil rasa, nuansa, dan emosi yang dimunculkan oleh para tokoh.

Selamat menulis!

Writer erlia91
erlia91 at Wind of Festival (15 years 24 weeks ago)

Terima kasih bwt semua saran dan pendapat... ^^

Cuma info aja kalau cerita ini dibuat atas request seorang teman yang bilang kalau cerita gw tuh gk punya jiwa cerpen banget (gw gk ngeri maksudnya).. hehe...

tipe cerita gw gk begini tapi jaug lebih deskriptif karena sejak dulu gw hampir gk pernah bikin cerpen dan langsung loncat ke tahap novel gitu.

Gw bakal post cerita yang lebih tipe gw jadi tolong dibaca y.. ^^ Terima kasih banyak.

Writer Susy Ayoe
Susy Ayoe at Wind of Festival (15 years 24 weeks ago)
70

imajinasi kamu bagus...
pemilihan nama orang, nama tempat...unik juga tapi tidak mengada ada.

Writer sang_biru
sang_biru at Wind of Festival (15 years 24 weeks ago)
70

Gimana ya... temanya lumayan spesifik sebenarnya... dan seharusnya karena temanya spesifik lebih detail lagi, gitu... Tapi storylinenya bagus aja, cuma endingnya rada datar... gimana ya, kayaknya udah kebaca bahwa si Elly ini gimana juga nggak bermaksud untuk mencelakai saudaranya sendiri...

Harusnya ada twist yang mengagetkan, ntah apa, tapi sesuatu yang bisa menarik orang untuk merasa bahwa, "Wah, ini cerpen bagus...". Tapi yang gw rasa jadinya, "Oh, gitu, ya udah."

Don't give up, tetep semangat!

Writer FrenZy
FrenZy at Wind of Festival (15 years 24 weeks ago)
70

aku setuju dengn Splinters :) karena di satu sisi, cerita sederhana ini bisa menjadi lebih menarik jika saja kamu menyelipkan sesuatu yang berbeda di sini. Sehingga pembaca merasa tidak membaca cerita yang sudah mereka kenal baik dari dulu.. semacam stereotype cerpen :)

tetap menulis ya. aku blom baca Locked Heart kamu d kayaknya.

Writer punk5
punk5 at Wind of Festival (15 years 24 weeks ago)
100

wa..jadi tau nih kamu ud 2 kali posting cerpen dari splin. splin kasih kamu komen oke tu, gw kapan splin?hehehe

Writer splinters
splinters at Wind of Festival (15 years 24 weeks ago)
70

Hi, erlia. Selamat datang di komunitas kemudian :) Mengingat cerpen ini adalah posting-an keduamu, ada beberapa hal yang ingin saya highlight di sini. Secara mendasar aja, deh, belum terlalu teknis...

Mengenai ide cerita, sebenarnya umum, standar, tidak terlalu berbeda dari cerpen2 lain yang pernah ada. Tetapi di sinilah letak permasalahannya.

Ketika kamu mengambil ide yang tidak baru lagi, kamu harus bisa mengemas cerita tersebut sedemikian rupa sehingga terkesan berbeda. Sehingga menimbulkan impresi yang lain pada pembaca.

Dari cerpenmu ini, saya melihat bahwa salah satu hal yang mesti kamu asah lagi adalah mengenai deskripsi: tempat, rupa, rasa.

Membaca cerpenmu di sini masih seperti membaca dialog ping-pong antara tokoh-tokohnya, sehingga pembaca tidak terlalu terbawa suasana dan merasa tidak terlalu terlibat dengan karakter-karakter dalam cerpenmu itu.

Salam!