Membela Pantai

Membela Pantai

Aku duduk termenung di karang. Kemarin siang aku kembali ke desa yang telah lama aku tinggal. Aku kembali ke pesisir tempat aku dilahirkan. Hampir sepuluh tahun aku merantau ke ibukota yang ramai. Hh, katanya di sana orang bisa hidup senang. Uang banyak bisa didapat dengan mudah, makanan enak selalu tersedia. Bah! Terkutuklah lidah yang mengucapkannya.
Untuk mendapatkan nasi basi saja, aku harus berebut dengan anjing liar yang baunya seperti bangkai basah. Belum lagi masalah tempat tinggal. Hanya jika beruntung, aku baru bisa mendapat sepetak semen dingin di emperan toko. Itu pun harus berdesak-desakkan dengan gelandangan lain yang jarang sekali mandi. Baunya hampir menyamai busuknya anjing liar yang kutemui siangnya. Hanya lelah di waktu siang yang dapat menjadi obat tidur yang nyenyak. Belum lagi, pagi-pagi sekali aku dibangunkan dengan makian kasar pemilik toko.
Selama sepuluh tahun, pikiranku hanya terisi dengan kenangan masa remaja bersama Nurdin dan Ujang, sahabat-sahabatku di pesisir. Aku selalu teringat saat-saat kami berenang bersama di laut yang selalu bergelora, juga saat berpanas-panasan mencari kerang di pesisir pantai.
Terkadang aku meneteskan air mata menahan rindu pada Ayu, gadis yang kucintai, yang karena ingin meminangnyalah aku berani mengadu untung ke ibukota. Ke neraka tempat aku menyia-nyiakan sepuluh tahun hidupku.
Aku terjebak di kota besar. Aku tak punya uang untuk menyeberang pulau. Tapi untung, lama bergaul dengan berandalan membuatku tahu banyak hal. Aku berhasil mengumpulkan beberapa puluh ribu. Itu cukup untuk menyogok petugas tamak di pelabuhan agar mengizinkanku menyeberang dengan kapal barang.
Akhirnya aku kembali lagi ke kampung halaman. Aku segera menuju gubuk Nurdin. Aku tahu pamanku tak akan perduli jika aku pulang, jadi aku tidak kembali ke rumahnya.
Aku heran. Jalan setapak menuju gubuk Nurdin di tepi pantai sekarang tidak ada lagi. Tempatnya digantikan oleh jalan aspal yang begitu akrab denganku waktu aku di ibukota. Aku merasa tidak enak, firasat buruk menghantui pikiranku.
Ternyata firasatku benar. Gubuk Nurdin tidak ada lagi di tempatnya. Pesisir diisi sederet rumah besar yang bagus. Pasir putih dihampari orang-orang yang berbaring setengah telanjang. Aku tidak suka dengan keadaan ini. Impianku selama sepuluh tahun dikacaukan oleh hal ini.
Kuhampiri seorang bapak tua yang pekerjaannya sama denganku dulu di ibukota, memungut sampah. Beliau menunjukkan rumah Nurdin. Jauh di dataran yang agak tinggi, di atas daerah karang. Aku pun segera berjalan sesuai arah telunjuknya.
Seorang lelaki kurus berkulit gelap terlihat merokok di teras rumah yang ditunjuk bapak tua itu. Aku menghampirinya. “Maaf, Mas. Apakah ini rumah Nurdin?”
Lelaki itu memandangku dengan heran.”Ya, benar.”
“Bisa saya ketemu dengan Nurdin, Mas?” Kataku lagi.
“Saya sendiri.”
Aku terkejut dan segera memeluknya. Nurdin banyak berubah, wajahnya terlihat lebih keras sekarang. Mungkin wajahku juga. Aku jarang bercermin akhir-akhir ini. “Ini aku, Din. Toro.”
“Toro? Kamu?!” Nurdin mengeratkan tangannya di pundakku.
Ia mengajakku masuk ke rumahnya. Rumahnya sederhana, tapi rapi. Ia mengenalkanku pada Siti, istrinya, dari kampung sebelah. Manis, walaupun kulitnya agak gelap.
Di ruang tamu kami mengobrol banyak. Dia memberiku rokok kretek yang keras. Nikmat sekali, biasanya aku hanya mengisap puntung bekas. Kami melepas rindu sambil merokok. Kisah demi kisah bergantian bergulir dari mulutku dan mulut Nurdin.
Nurdin bercerita banyak tentang keadaan di sini setelah aku pergi. Ujang pindah ke kampung sebelah. Katanya ia merasa tidak cocok lagi di sini. Sedangkan Ayu, hh...., ia menikah dengan Budiman. Hatiku sakit mendengarnya. Apalagi Nurdin bilang Budiman itu duda bangkotan yang memiliki rumah-rumah bagus—kata Nurdin namanya cotits atau apalah—di pesisir. Entah apa yang merasuki pikiran Ayu hingga mau menikahi orang tua yang merusak pantai itu. Mungkin uang. Aku jadi membenci Ayu.
Aku memandang karang tempat aku duduk. Ini adalah karang yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Karang yang menjadi saksi janji yang kami berdua ucapkan.
“Kamu akan menungguku?” Kata-kata yang pernah kuucapkan dulu terngiang kembali. Saat itu aku mengutarakan niatku untuk mengadu untung ke ibukota; untuk memenuhi syarat yang diminta orangtua Ayu jika aku ingin menjadikannya isteri : KAYA.
“Pasti.” Kata-katanya waktu itu menjadi satu-satunya kekuatan yang membuatku bertahan di neraka ibukota. Aku yakin dia akan menungguku.
Sekarang aku tahu, ternyata aku salah. Dia berbohong.
Deburan ombak menampar wajahku. Asinnya masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Mungkin hanya laut ini yang tidak berubah. Ombak mendebur lagi menampar pipiku. Laut menuntut pembelaan dariku. Ya, laut dan pantai telah memberi kebahagiaan pada kanak-kanakku. Aku harus melakukan sesuatu.
*
Udara malam pantai yang dingin menerpa tubuhku. Seberkas angin mengembus, meniupkan semangat juang padaku.
Jam sembilan. Aku mengikuti Nurdin yang bertugas berjaga malam di daerah sekeliling rumah-rumah mewah itu. Aku bilang ingin berjalan-jalan. Sudah lama aku tidak mengelilingi pantai ini di waktu malam.
Tidak seperti dulu lagi. Lampu-lampu dari cotits merusak suasana malam yang dulu temaram. Ini gara-gara bangkot tua, Budiman. Budiman? Bah! Sama sekali tidak cocok dengan kelakuannya.
Nurdin menunjukkan cotits yang ditempati Budiman dan Ayu. Cih! Mewah seperti surga laknat. Kami berjalan melewati cotits itu, lampunya masih menyala. Aku tak tahan membayangkan Ayu berduaan dengan bangkot itu di dalam. Aku kesal.
Kami berjalan beberapa meter menjauhi cotits tadi. Kemudian, aku permisi pada Nurdin untuk kembali ke rumahnya. Aku beralasan sakit kepala. Nurdin yang polos percaya saja.
Aku berjalan ke arah kami datang tadi. Tapi, tentu saja aku tidak kembali ke rumah Nurdin. Aku tidak mungkin mengabaikan debur ombak yang menuntut agar aku membalaskan dendamnya.
Kupegang pisau yang ada di balik jaket yang kuambil dari dapur Nurdin. Kuyakinkan pisau itu masih di tempatnya.
Mataku memandang ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya Nurdin yang kelihatan berjalan di kejauhan. Jantungku berdegup kencang. Saatnya telah datang. Pesisir ini akan berterima kasih padaku.
Aku sampai di depan pintu cotits. Tanganku menekan pegangannya dan mendorong pintu dengan bahuku. Terbuka!
Seorang lelaki tua gendut duduk di ranjang tanpa mengenakan baju. Lemak di perutnya menggantung memberati ikat pinggangnya. Ia berteriak. Aku tidak tahu apa yang diteriakinya. Mataku tertuju pada sesosok perempuan berhanduk yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca.
Perempuan itu memandangku. Aku pernah tahu perasaan ini. Perasaan hangat yang membuat jantungku berdebar. Perasaan yang ada setiap kali aku di dekat Ayu. Ya, Ayu. Dia Ayu.
Lelaki gendut itu mencoba menabrakku. Tapi, aku lebih gesit. Aku menghindar. Ia jatuh terjerambab. Ayu berteriak histeris.
Pisau dapur Nurdin kini menancap di pinggang bangkot itu. Darah membasahi lemak perutnya. Ayu berteriak semakin histeris. Dari luar terdengar langkah-langkah kaki ribut. Aku harus pergi.
Aku lari menuju deretan karang. Aku tidak akan membiarkan antek-antek bangkot itu menangkapku.
Ha...ha! Bangkot itu telah mendapat balasan setimpal.
“Hei, jangan lari! Toro kembali!”
Bangsat! Itu Nurdin! Dia berkhianat. Dia juga ingin menangkapku. Semua orang di sini telah diracuni si Bangkot Budiman!
Debuurr!!
Ya, laut memberi selamat padaku. Memang hanya laut yang tidak berubah. Aku kembali ke kampung halaman dan hanya lautlah yang tersisa.
Aku lelah. Aku akan pulang ke tempat yang bisa menerimaku.
“Toro, kembali!”
Bangsat itu masih mengejarku. Aku harus pulang!
Debuurrr!!!
*
Dari kejauhan terdengar teriakan perempuan, “SEPULUH TAHUN ITU TERLALU LAMA!!”
Terdengar isakan tangis. Samar.
Tidak terdengar apa-apa lagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d757439
d757439 at Membela Pantai (13 years 28 weeks ago)
100

cuma penataannya aja kurang rapi nih...

Writer addang13
addang13 at Membela Pantai (14 years 25 weeks ago)
50

Cerita yang mengharukan... Sungguh mengharukan... Tapi, Toro itu bodoh atau tolol yach. Kalau aku, pasti nusuk Budiman banyak2. Supaya dia pasti mati.

Writer zhi_nduth
zhi_nduth at Membela Pantai (14 years 25 weeks ago)
50

ceritanya bagus,, sekarang banget,, aku jadi kasihan ma laut, hiks,,,

tapi kok Toro nasibnya jelek banget ya??? kasihan,,,